
Kenapa aku harus memberitahu Kantata? tanyanya dalam hati.
Apa aku berharap dia meloncat, menepuk punggungku, dan bilang, "Lu bener, Gen! Kelelawar itu memang Bebegig!"
Kupikir aku harus menceritakan rahasia ini pada seseorang. Tapi sepertinya salah orang.
"Sori," kata Kantata cepat-cepat. "Gue ngerti, kok. Lu pasti ngerasa kayak orang tolol, kan?"
"Nah, iya. Begitulah kira-kira," gumam Magenta.
Seekor kelelawar melayang turun di atas kepala mereka, sebuah bayang-bayang gelap melintasi pantai.
Magenta mendongak kembali dan melihat kelelawar besar melayang-layang di atas bukit pasir berikutnya.
Kantata mengikuti arah pandangnya, "Dalam pelajaran IPA tahun lalu kita kan udah belajar kalo kelelawar itu berguna," katanya tak jelas karena sambil mengunyah rumput. "Mereka diperlukan untuk keseimbangan ekologi. Mereka makan serangga. Dan kotorannya jadi pupuk."
"Kalo gitu kotoran kelelawarnya buat lu," gerutu Magenta ketus. "Makasih lho, buat pelajaran IPA-nya."
"Gue gak bisa nyalahin kalo perasaan lu gak keruan," kata Kantata dengan simpatik. "Gue juga masih ngeri kalo inget Dewa. Ditambah si Yasa ngerebut ceweknya—"
"Gue gak mau ngebahas ini lagi," bentak Magenta, ia sendiri terkejut mendengar suaranya. "Sumpah—"
"Oke, sori!" potong Kantata cepat-cepat. "Jadi si Jingga ini cewek lu apa cewek si Dewa?"
"Udah jangan dibahas!" ketus Magenta.
"Oya—gue pen ke Indomaret, pen ngopi," kata Kantata, jelas sekali ia ingin mengakhiri obrolan itu. "Lu mau ikut gak?"
Magenta menggeleng. "Gue masih pengen jalan-jalan," sahutnya muram. "Ntar gue nyusul, deh."
Kantata melambaikan tangan sambil berlalu. "Udah apa, jangan sedih mulu," katanya. "Ntar lu nyeburin diri lagi." la bahkan menertawakan lelucon konyolnya sendiri sambil bergegas menuju kota.
Dasar goblok, pikir Magenta. Biasanya Kantata bisa menghibur Magenta dengan pengetahuan IPA dan sejarahnya, gurauannya, tapi malam ini tidak.
Magenta berjalan mendaki bukit batu. Lalu melihat sekelompok anak yang dikenalnya di tepi sungai, ia berbalik, tidak ingin berpapasan, dan mulai berjalan cepat-cepat ke arah yang berlawanan. Matanya tertuju pada tebing yang terjal di sekitar air terjun, bayang-bayang hitamnya berlawanan dengan langit malam yang bersih.
la memikirkan bagaimana cara meminta maaf pada Jingga. Tapi tak satu pun tampak benar. Ia tidak dapat membayangkan dirinya mengatakannya.
Sambil berjalan di atas pasir, ia mencoba memikirkan bagaimana cara mengajak Jingga kencan dengannya, bagaimana cara menghentikan Jingga agar tidak menemui Yasa lagi. Tapi itu tampaknya mustahil juga.
Sambil menggeleng-geleng, ia mencoba mengenyahkan semua pikiran itu dari benaknya, mencoba membiarkan gelombang air sungai menyapu bersih semua pikirannya.
la berhenti sejenak saat melihat sesuatu di depannya.
Sesuatu membungkuk rendah dan gelap di atas bukit batu yang rendah.
__ADS_1
Rendah dan gelap dan kaku.
Oh, tidak! pekiknya dalam hati, matanya terbelalak. Apa itu? Mayat lagi?
Sambil memucat dalam ketakutan, Magenta terbelalak memandangi bukit batu yang rendah dan gelap itu. Napasnya terengah-engah. Ia harus memaksa diri berbalik dan lari, tapi tahu ia harus melihat apa yang membungkuk di bebatuan di sana.
Sambil melangkah tak pasti, mencoba mefokuskan matanya dalam kegelapan, ia melangkah menuju ke bukit pasir itu.
Magenta terkejut dan menghentikan langkahnya ketika melihat cewek itu sedang duduk di sana, mengenakan celana ketat hitam dan blus hitam berlengan panjang, kakinya tertekuk di depan dadanya, lengannya memeluk lututnya, kepalanya tertunduk.
"Jingga?"
la tidak menjawab.
"Jingga?" ulangnya lebih keras, sambil melangkah ragu menghampiri cewek itu. Ia berdiri di sampingnya sekarang, menunduk memandangi rambut panjang gadis itu. Baru sekarang ia melihat bahunya gemetar.
Dan ketika akhirnya Jingga mendongak kepadanya, Magenta melihat air mata berlinangan di pipinya, matanya basah, dagunya gemetar, dan sadar bahwa ia sedang menangis.
Magenta menelan ludah dengan susah payah. "Kamu kenapa?" tanyanya khawatir.
Jingga mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Tampaknya ia butuh waktu sesaat untuk mengenali Magenta. Ia tampak kebingungan, seakan tenggelam dalam pikirannya tenggelam dalam kesedihannya, sehingga tidak ada tempat dalam ingatannya untuk seseorang dari dunia luar.
Lalu ia menghela dirinya berdiri dan mengangkat kedua tangannya untuk menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Raut wajahnya berubah dengan cepat.
"Sori," kata Magenta, dan melangkah mundur. la merasa salah tingkah, diserbu rasa malu. "Sori," ulangnya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.
Jingga memicingkan matanya, menghujamkan tatapan tajam. Rahangnya mengetat, hidungnya mendongak dengan angkuh.
Magenta menatap matanya yang menusuk, merasa bersalah dan prihatin, "Kamu baik-baik aja, kan?"
Pertanyaan bodoh! batinnya memaki diri sendiri.
Tentu saja dia tidak baik-baik saja!
Angin malam seperti mengitari mereka, sehingga Magenta bisa mencium parfumnya, tajam dan pedas meskipun dalam udara malam sangat berat.
Magenta merasa pusing yang aneh.
Apa gara gara parfumnya?
Apa gara-gara angin yang berpusar?
Kesedihannya?
"Aku kan udah bilang, jangan coba-coba nyariin aku lagi, jangan pernah tongolin lagi muka kamu yang konyol itu di depan aku!" teriak Jingga sembari menudingkan telunjuknya ke wajah Magenta dengan sengit.
__ADS_1
"Aku—aku gak tau ternyata kamu," Magenta tergagap, mencoba memutuskan apa yang akan dilakukan tangannya. Akhirnya, ia hanya menurunkan kedua tangannya di samping tubuhnya.
Tiba-tiba Jingga menjauh darinya dan mulai berlari kecil menuju ke bukit batu, langkahnya panjang dan mantap.
"Jingga—" Magenta memekik terkejut.
Tanpa memperlambat langkahnya, Jingga menoleh padanya.
"Jingga---tunggu!" ulangnya, dan mulai berlari menyusuri pesisir sungai, mengikuti Jingga mendaki menuju ke bukit batu itu, air mengempas-empas di bawah, empasan itu seperti degup jantungnya, makin keras, makin cepat, makin liar. "Jingga---berhenti!" teriaknya, sekarang ia berlari dengan kecepatan penuh, memandangi rambut Jingga yang berkibar-kibar di belakangnya seperti umbul-umbul.
Sekarang mereka berdua tinggi di atas tebing, berlari melintasi bukit-bukit batu yang basah dan licin.
"Hei---pelan-pelan!" Magenta memperingatkan, napasnya tersengal-sengal.
la melihat ekspresi Jingga berubah saat ia mendekati tepi tebing, melihat mulutnya ternganga lebar ketakutan dan terkejut.
Ia mencoba berhenti.
Tapi sepatu ketsnya tergelincir pada permukaan batu yang licin itu.
Kedua tangannya terangkat seolah berusaha meraih sesuatu. Tapi tidak ada apa pun yang bisa diraihnya.
"JINGGA!" teriak Magenta.
Tapi teriakannya tidak dapat menghentikan Jingga.
Jingga tergelincir jatuh di tepi jurang.
Magenta mendengar jeritan ketakutannya saat ia terlempar jatuh.
Melihat lengannya menggapai-gapai, mengais udara kosong saat ia meluncur ke bawah.
Lalu sunyi.
Magenta sendirian di atas sana.
Benar-benar sendirian.
Tanpa sadar, Magenta juga berada di tepi jurang terjal itu, merangkak, mengintip ke bawah ke dalam kegelapan yang berpusar. Napasnya sesak terimpit rasa takut. Sambil menahan napas, ia memandangi air yang bergulung-gulung, berputar-putar.
Dia juga mati, pikirnya.
Dia terjatuh dan mati.
Membeku karena rasa ngeri, karena tahu apa yang akan ditemukannya.
__ADS_1