
Kaki Jingga menendang-nendang, ia berusaha melepaskan diri. Namun Violet tetap bertahan di tepi dermaga, memegangi kepalanya, menekannya ke bawah.
"Tenang, Sobat!" kata Violet. Masih tenang mengerikan. "Rahasia lu pasti aman di tangan gue. Kita sahabat, kan?"
Jingga mencoba berputar, mengira barangkali ia dapat lolos. Tapi pegangan Violet terlampau kencang.
Paru-paru Jingga serasa akan meledak. Semakin ia panik, paru-parunya semakin terasa akan meledak. Lalu ia memutuskan untuk berpura-pura menyerah. Berhenti memberontak dan melemaskan tubuhnya.
Lalu cengkeraman Violet melonggar.
Tapi sepertinya bukan karena Jingga yang pura-pura menyerah.
Jingga melihat cewek itu menyeringai padanya.
Apa yang terjadi? Violet sudah sepuhnya melepaskan Jingga.
Cewek itu berjongkok dengan sebelah kaki terlipat ke depan di depan dadanya, sementara kaki lainnya terlipat ke belakang di bawah tubuhnya. Sebelah tangannya bertopang pada lututnya, sebelah tangan lainnya bertopang di lantai dermaga.
Jingga mengangkat kepalanya dan menelan air.
Detik berikutnya, Jingga mendengar sesuatu berderak di atas kepalanya.
Sepasang sayap gelap muncul dari punggung Violet dan mengembang di belakang tubuhnya.
Bersamaan dengan itu, sepasang tangan melingkar di pinggang Jingga dan menariknya ke dalam air.
Jingga menjerit tanpa suara.
Sekali lagi ia meronta dan menendang-nendang di dalam air. Rambutnya mengembang dan berkeriap di seputar wajah dan kepalanya di antara gelembung air yang menggeluguk. Mata dan mulutnya membulat dengan wajah pucat. Seluruh warna terkuras dari wajahnya, menyisakan warna abu-abu pucat seperti foto hitam-putih usang dari zaman kolonial.
Lalu tiba-tiba semuanya menjadi terang benderang seperti pada siang hari.
Segala sesuatu dalam air seolah menyala.
Jingga menyentakkan tubuhnya, berputar menghadap si penyerangnya.
Di luar dugaan, lilitan di pinggangnya melonggar, lalu terlepas dengan mudah.
Seorang cewek, mungkin seusia dirinya, cewek itu mengenakan gaun tidur panjang berwarna putih, sedang melotot padanya dengan ekspresi syok.
Rambut dan gaun tidurnya berkibar-kibar dalam gerak lambat tanpa suara. Kedua tangan dan rambutnya mengembang di sisi tubuhnya yang berangsur-angsur menjauh dari hadapan Jingga.
Sepasang tangan menjulur dari belakang tubuh cewek itu, kemudian melingkar di sekeliling bahunya dan menekan leher cewek itu.
__ADS_1
Cewek itu meronta-ronta dalam kebisuan.
Lalu muncullah wajah tampan itu.
Yasa!
Yasa menjepit leher cewek itu dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya membekap mulutnya.
Cewek itu mencoba memberontak, kedua kakinya menendang-nendang. Lalu melemas dan berhenti bergerak.
Yasa menoleh pada Jingga dengan tersentak. Sepasang matanya terbelalak karena terkejut. Lalu tiba-tiba menjadi panik. Serta-merta ia melepaskan cewek itu dan menyeruak ke arah Jingga, meneriakkan sesuatu tanpa suara. Ia menyergap pinggang Jingga dan menariknya ke atas.
Tak lama keduanya muncul di permukaan air dengan terhenyak.
Yasa memanjat ke tepi lebih dulu kemudian membungkuk di atas kepala Jingga, mengulurkan sebelah tangannya ke arah gadis itu. Jingga meraih tangannya dengan napas tersengal dan tubuh gemetar. Yasa menarik gadis itu ke dalam rengkuhannya dan mendekapnya sambil terengah-engah. "Kenapa kamu ikutan nyebur?" tanyanya khawatir.
"Aku—" Jingga tergagap sesaat sebelum bisa menjawab, "Kecebur," katanya ragu-ragu, masih tak yakin dengan apa yang dialaminya. Ia mengedar pandang ke sekeliling tempat namun tak menemukan tanda-tanda keberadaan Violet.
Apa yang tadi cuma halusinasi? pikirnya kebingungan.
Yasa tersenyum sedih sambil mengusap-usap punggung Jingga, kemudian menyusupkan wajahnya di bawah telinga gadis itu. Khawatir setengah mati.
Jingga berdiri sempoyongan. Ia menyibakkan rambutnya yang basah dari matanya sambil menarik napas dalam-dalam, kemudian mengulanginya sekali lagi.
Yasa menarik wajahnya dari leher Jingga, kemudian menatap ke dalam mata gadis itu, "Kamu gak apa-apa, kan?" tanyanya sambil mengusap anak rambut yang melekat di pelipis Jingga.
Yasa melingkarkan sebelah lengannya di pinggang Jingga, kemudian menuntunnya menjauh dari danau.
Jingga menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah dermaga dengan terkejut.
Yasa mengikuti arah pandang gadis itu dan mengerang, "Ah—ya! Ternyata masih ada urusan yang belum aku beresin," katanya lelah.
Sesosok tubuh berkulit abu-abu pucat dibalut gaun tidur panjang berwarna putih terbujur kaku di dermaga itu.
Gadis itu! pikir Jingga terkejut.
Aruna.
Apa itu mayatnya?
Atau hantunya?
Jingga bertanya-tanya dalam hatinya.
__ADS_1
Yasa melonggarkan pelukannya dan melepaskannya, lalu berjalan ke arah dermaga.
Jingga mengikutinya dengan tergopoh-gopoh.
"Kamu mau nunggu, kan?" Yasa menoleh dan terkejut mendapati Jingga berada begitu dekat di belakangnya, melongok ke depan melewati bahunya sambil berjingkat, hingga cuping hidung Yasa nyaris menyentuh dahi gadis itu.
Gadis itu mengerjap dan seketika wajahnya merona menyadari dadanya menempel rapat di punggung Yasa.
Yasa mendesis tertawa sembari memalingkan wajahnya, meluruskan pandangannya ke depan.
Jingga meninju pelan punggung cowok itu sambil menggerutu.
Jauh di tengah danau, dua ekor burung menukik dan menyelam, menangkap ikan untuk makan malam, ketika segumpal kabut tertiup ke tepi danau.
Yasa sudah duduk bersila menghadap sosok pucat bergaun putih itu, tulang pergelangan tangannya saling beradu di depan dada dengan ujung jemari saling berlawanan. Kedua matanya terpejam, mulutnya komat-kamit.
Jingga berdiri membungkuk, mengintip dari belakang cowok itu dengan penasaran, tidak berani lebih dekat lagi. Khawatir sosok yang terbujur kaku itu tiba-tiba melompat dan menyergapnya sementara Yasa menutup mata.
Angin berembus kencang secara mendadak.
Jingga megap-megap, sekonyong-konyong merasa lumpuh karena serangan dingin itu.
Udara terasa lebih dingin dari musim penghujan di kaki gunung. Pepohonan dan semak-semak menghilang di balik sosok kelabu malam, bayang-bayangnya menyelubungi tanah.
Tubuh pucat yang terbujur kaku di lantai dermaga itu mulai bergetar, semakin lama semakin kencang, lalu tiba-tiba matanya terbelalak membuka.
Jingga tersentak melompat ke belakang dan jatuh terjerembab di ujung dermaga.
Tubuh hantu itu melejit seperti terlempar ke udara, lalu melayang sekitar dua kaki dari permukaan dermaga. Kedua tangannya terentang di sisi tubuhnya, rambut dan gaunnya melecut-lecut dalam gerak lambat seperti ketika berada di dalam air. Mata dan mulutnya membulat dengan ekspresi tegang, pucat dan ketakutan. Berteriak tanpa suara.
Jingga memekik tertahan seraya membekap mulutnya dengan sebelah tangan, tanpa sadar menahan napas.
Yasa tetap bergeming dengan posisi duduk bersila, kedua tangannya masih bertautan di depan dadanya, matanya masih terpejam, mulutnya masih komat-kamit.
Hantu itu mengulurkan tangannya ke arah Yasa, mengais-ngais udara kosong sambil terus berteriak tanpa suara. Kakinya menendang-nendang udara kosong, rambut dan gaunnya melecut-lecut semakin cepat seperti ditiup kencang dari belakang.
Yasa memutar telapak tangannya ke arah berlawanan, lalu mendorong ke depan hingga otot-otot tangannya mengencang di balik lapisan kemeja basahnya yang menempel.
Hantu itu terdorong semakin jauh dari permukaan dermaga tanpa Yasa menyentuhnya.
Kelebat cahaya tipis berwarna jingga berpendar dari telapak tangan Yasa membentuk tirai melengkung seperti gelembung raksasa. Sangat tipis, hingga hampir tak tertangkap oleh pandangan mata.
Tapi karena malam begitu gelap, Jingga menyadari cahaya itu.
__ADS_1
Jingga terperangah, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Detik berikutnya, gaun tidur yang dikenakan hantu itu mulai terbakar, lalu berangsur-angsur melalap habis seluruh tubuhnya, menyisakan serpihan debu yang memburai tertiup angin dan lenyap seluruhnya.