
"Saya kecewa sama kamu, Tirta!"
Yasa tertunduk dan tersenyum sedih. Ia baru saja tiba di rumah Jingga, sesaat setelah Magenta undur diri.
Ragnala yang sedang mengurung diri sejak sore menghambur keluar sementara Jingga masih mengurung diri di kamarnya, dan dengan tanpa basa-basi, Ragnala melabrak Yasa, ia bahkan masih di ambang pintu ketika meneriaki Yasa, "Saya bener-bener kecewa!"
"Itu bukan salah dia!" Empu Brajasena menyela dari depan meja makan. Pria itu sedang duduk menikmati kopi dan ubi kayu rebus yang belum sempat disentuhnya sejak tadi sore, sekarang semua sudah dingin.
Hidangan di meja makan mereka juga masih utuh.
Empu Brajasena berusaha menikmatinya untuk menenangkan diri tanpa berniat mengganggu Jingga maupun Ragnala yang tengah berkubang duka di kamarnya masing-masing.
Ragnala memelototi suaminya dengan tatapan menyalahkan, "Bagaimana bisa ini bukan salah Tirta?" desisnya tajam.
Empu Brajasena menyesap kopinya yang sudah dingin, tidak lekas menjawab pertanyaan istrinya.
Yasa mengangkat sekilas tangannya ke arah Empu Brajasena, mengisyaratkan supaya pria itu tak perlu membelanya. "Saya di sini untuk bertanggung jawab," katanya pada Ragnala dengan sopan.
"Saya percaya sama kamu selama ini," sembur Ragnala tak puas. "Lebih percaya sama kamu dibanding Magenta!"
Yasa mengangguk dengan sopan, "Saya tau," katanya rendah hati. "Saya salah."
Empu Brajasena membeliak sebal diam-diam. Anak ini… pikirnya tak berdaya.
Yasa tersenyum samar ke arah pria itu, lalu kembali tertunduk memasang wajah menyesal di depan Ragnala.
"Jingga masih sekolah," ratap Ragnala sambil menjatuhkan dirinya di kursi berseberangan dengan suaminya. Pria itu mengamatinya dengan raut wajah prihatin, lalu melirik Yasa untuk melihat akal bulusnya.
Yasa jelas sudah bertekad untuk tidak tanggung-tanggung menjadikan Jingga sebagai miliknya. Tak peduli bagaimana Ragnala akan menilainya, ia tak akan mundur. Sudah berjalan sejauh ini, pikirnya. Kemenangan sudah di depan mata.
Keberatan Ragnala tidak berarti apa-apa!
Hanya tes kecil yang bisa dikategorikan ke dalam sesi wawancara.
Bahkan jika Ragnala menolak keputusan itu, Yasa tahu Empu Brajasena tidak akan tinggal diam.
Selama penolakan belum terucap dari mulut calon ibu mertuanya, Yasa masih sanggup menghadapinya.
"Saya janji Jingga akan tetap sekolah setelah menikah," tutur Yasa lugas. "Tahun depan, rencananya saya juga mau kuliah di sana. Saya bisa jaga Jingga. Saya janji kami gak buru-buru punya anak."
Ragnala akhirnya mengangkat wajah, menatap Yasa dengan matanya yang sembap.
__ADS_1
"Kami bisa ikut program Keluarga Berencana!" Yasa menambahkan dengan sedikit tersipu.
Ragnala mengerutkan keningnya, "Tapi gimana kalo Jingga udah terlanjur—"
"Saya bisa pastikan tidak!" Yasa memotong ucapan Ragnala tanpa mengurangi rasa hormat.
Ragnala menelan ludah dan melirik ke arah suaminya.
"Ini gak kayak yang kamu pikirin!" Empu Brajasena menimpali. "Papa kan udah bilang ini bukan salahnya."
Ragnala langsung terdiam. Menatap Yasa dan suaminya bergantian, kemudian mendesah pendek dan mengusap dahinya untuk menyingkirkan helai rambutnya yang berantakan.
Beberapa saat kemudian, Yasa sudah berhasil melewati sesi wawancara itu dan merayap naik ke kamar Jingga.
Pintu kamar gadis itu hanya berupa lubang yang ditutup dengan papan. Papan itu sudah terkuak ketika Yasa sampai di puncak tangga.
Gadis itu meringkuk dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala, tubuhnya bergetar di bawah selimut itu.
Yasa berjalan membungkuk ketika mencoba menghampiri Jingga, bisa dibilang setengah merangkak, karena atapnya yang sangat rendah.
Jingga belum menyadari kedatangannya.
Suara isak-tangis gadis itu membuat Yasa terenyuh. Dengan hati-hati, ia berlutut di sisi tempat tidur dan menyingkap selimut yang menutupi kepalanya.
Yasa tersenyum sedih, kemudian duduk membungkuk di tepi tempat tidur Jingga. "Kamu gak siap dengan ini?" tanyanya muram.
"Nggak—bukan!" Jingga menarik duduk tubuhnya, "Bukan gak siap," tukasnya cepat-cepat.
Jantungnya berdebar-debar melihat Yasa, tapi di sisi lain hatinya terasa patah mengingat dirinya harus berpisah dengan Magenta. Bersamaan dengan itu ia juga kecewa mengetahui Magenta tidak setia. Jingga tak yakin yang mana yang membuatnya sedih.
Bahkan rencana pernikahannya membuat Jingga merasa remuk-redam.
Perasaan ini benar-benar membingungkannya.
Aku akan menikah dengan Yasa! katanya dalam hati. Mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia seharusnya gembira. Tapi hatinya tetap saja terasa sakit.
Jingga tertunduk dan tertegun sesaat sebelum akhirnya dapat berkata, "Aku gak tau!" ia mengaku. Lalu menyusupkan wajahnya ke dada Yasa, dan kembali menangis. Yasa membelai punggungnya dengan lembut. Perasaan hangat menyelinap di dalam hati Jingga, kemudian menjalar ke dadanya dan merambat ke seluruh tubuhnya. Tapi hal itu juga membingungkannya.
"Jingga…" Yasa berbisik lirih tanpa melepas pelukannya. "Aku tahu ini mungkin akan terdengar konyol, tapi… will you marry me?"
Jingga menarik wajahnya dari dada Yasa, kemudian mendongak menatap wajah cowok itu seakan mencari tahu apakah dia benar-benar menyukai cowok itu.
__ADS_1
Tapi tentu saja jawabannya akan selalu iya. Pesona pria itu tak dapat dipungkirinya.
Lalu kenapa ia tak mau menikahinya?
Kenapa kata "menikah" itu terasa menyakitinya?
Apa sebenarnya yang terjadi?
Apa yang salah?
Jingga menghela napas dalam-dalam, menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya yang terasa kosong.
Yasa menatap ke dalam mata Jingga, tiba-tiba merasa bimbang. "Gak apa-apa kalo kamu belum siap," katanya sambil mengelus pipi gadis itu dengan buku jarinya. "Aku bisa bantu ngomong sama Papa kamu."
"Jangan!" sergah Jingga cepat-cepat. "Jangan ngomong sama Papa. Aku cuma gak yakin sama perasaan aku. Aku…"
"Kamu gak suka sama aku?" Yasa bertanya dengan mata terpicing.
"Nggak---bukan begitu!" Jingga tergagap dan menatap Yasa.
"Jadi kamu suka sama aku?" Yasa bertanya lagi sembari tersenyum nakal.
Jingga tertunduk dengan wajah tersipu. Tapi tidak menjawab pertanyaan Yasa.
Yasa menarik dagu Jingga dengan buku jarinya, mendongakkan wajah gadis itu untuk mencari kejujuran.
Jingga mengerjap dan tersipu-sipu.
Yasa mendekatkan wajahnya ke wajah Jingga, bibirnya menuju bibir gadis itu dan mendaratkan kecupan ringan untuk meyakinkan dirinya bahwa perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.
Jingga berdebar-debar, kecupan itu seakan menyadarkannya bahwa ia tak bisa menolak pesona Yasa, rasa kebebasan kembali bernyanyi melalui pembuluh darahnya. Tanpa sadar, ia menyambut kecupan itu dan membalasnya, lalu dalam sekejap kecupan itu berubah menjadi ciuman panas yang membuat napas Jingga memburu dan terengah-engah.
Setiap jengkal tubuhnya yang menempel dengan tubuh Yasa, membuat semua keraguan di otaknya mendadak pergi berganti hasrat yang menggelegak.
Perasaan liar, panas, membakar dirinya tanpa kendali.
Yasa tiba-tiba menghentikan ciumannya dan mengerjap, menatap Jingga sekali lagi.
Jingga mengerutkan keningnya, "Kenapa?" tanyanya terkejut. Kekecewaan tersirat melalui tatapannya yang dipenuhi gairah.
Yasa mengulum senyumnya, ia bisa melihat gairah di mata gadis itu, lalu membungkuk mendekatkan mulutnya ke telinga Jingga, "Kentang, ya?" bisiknya menggoda.
__ADS_1
"Ish! Kamu ngeledek!" Jingga memukul dada cowok itu dengan kepalan tangannya.
Yasa terkekeh tipis sambil memeluk gadis itu. "Jadi, gimana?" ia bertanya di antara senyum jahilnya. "Maukah kau menikahi Mbah Dukun?