Bebegig

Bebegig
Chapter 92


__ADS_3

"Mana dia?" Empu Brajasena bertanya sambil berdiri berkacak pinggang di teras rumahnya, ia melongok ke arah pickup merah yang terparkir di pekarangan rumahnya melewati bahu Magenta dan memandangi anak laki-laki itu dengan mata terpicing.


Magenta menghampirinya dengan tergopoh-gopoh dan berhenti di dasar undakan yang menuju teras. "Saya gagal," katanya terengah-engah.


Empu Brajasena mengerutkan keningnya, kemudian mengawasi Magenta dengan teliti. Ada yang salah, pikirnya. Lalu melangkah turun dari teras dan mendekat pada Magenta.


Magenta tertunduk dengan ekspresi kikuk.


Pria paruh baya itu mengangkat wajah Magenta dengan mencengkeram rahang cowok itu.


Magenta meringis kesakitan. Wajahnya dipenuhi luka lebam dan bekas darah yang telah mengering.


"Sial!" umpat Empu Brajasena dengan raut wajah geram. "Ikut saya," katanya pada Magenta sambil berbalik dan bergegas ke pekarangan belakang.


Magenta mengikutinya tanpa bertanya lagi.


Sesampainya di ruangan khusus, Empu Brajasena duduk bersila di depan meja lesehan setinggi lutut, dan memberi Magenta sebotol air mineral.


"Minum separuh, sisanya buat cuci muka," instruksi Empu Brajasena pada Magenta.


Magenta mematuhinya.


Ketika Magenta berjalan ke luar untuk membasuh mukanya, pria paruh baya itu berpindah ke tengah ruangan dan kembali duduk bersila menghadap ke arah pintu keluar.


Setelah Magenta selesai membasuh muka, Empu Brajasena kemudian menginstruksikan supaya cowok itu telanjang dada, kemudian duduk bersila di depannya dan memunggunginya.


Magenta tak ingin bertanya apa yang akan dilakukannya. Sampai sejauh ini, ia hanya mematuhi setiap instruksinya. Tidak ada yang perlu dipertanyakan, pikirnya. Empu Brajasena sepertinya sudah mengetahui apa yang menimpa Magenta.


Aku tak sudi menikahi perempuan semacam ini, kata Magenta dalam hati. Aku tak ingin menjadi korban KDRT.


Jika biasanya wanita yang menjadi korban, dalam kasus Magenta justru prialah yang terancam menjadi korban.


Akhirnya… dendam para wanita terbalaskan!


Hahaha!


Violet betul-betul tak segan-segan menindas Magenta hanya karena hasratnya tak terpuaskan.


Mengerikan!


Empu Brajasena menarik napas dalam-dalam sambil merentangkan kedua tangannya di sisi tubuhnya, lalu menahan napas sambil melipat kedua tangannya, menautkan kedua telapak tangannya tanpa saling menyentuh, memutar jemarinya ke arah berlawanan seperti kebiasaan Yasa saat melakukan ritual khusus yang berkaitan dengan tenaga dalam.


Sejurus kemudian, pria itu menekankan sebelah telapak tangannya ke punggung Magenta sementara tangan lainnya masih terlipat di depan dada dengan telapak tangan menghadap ke samping sementara ujung jari tengahnya menusuk di ulu hatinya. Ia melepaskan napasnya perlahan bersama energi panas api yang mengalir ke tubuh Magenta.


Mula-mula, Magenta merasa punggungnya terasa seperti disetrika, lalu berangsur-angsur sensasi rasa panas itu menjalar ke seluruh tubuhnya melalui peredaran darahnya. Lama kelamaan, tubuhnya serasa disetrum.


"AAAARGH!" Magenta berteriak ketika sekujur tubuhnya seperti terpilin dari bagian dalam. Seperti ada sesuatu bergerak-gerak di bawah kulitnya dan merajam setiap titik sarafnya. Tubuhnya tersentak-sentak, seperti benar-benar sedang disetrum.


Lalu ketika Empu Brajasena menurunkan tangannya, luka lebam maupun lecet di sekujur tubuh Magenta sudah menghilang sepenuhnya. Tapi Magenta tersungkur lemas dan berkeringat dengan napas terengah-engah.


Kok bisa?

__ADS_1


Oh---ho ho ho!


Empu Brajasena kan orang sakti!


.


.


.


Violet meraih tangan Jingga dan menariknya ke arah jendela sambil meletakkan telunjuk di bibirnya.


Jingga terlihat kebingungan, tapi ia mengikuti Violet memanjat jendela, menuruni lereng yang curam berumput menuju danau yang gelap dan sunyi.


Sekarang Jingga duduk di samping Violet, di tepi danau berumput, memandangi cewek itu yang sedang berbaring di rerumputan tinggi.


Lalu ketika ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, dunia di sekitarnya mulai berputar-putar.


Semuanya seakan terjadi dalam gerak lambat. Jingga dapat melihat apa yang sedang terjadi, namun tak ada yang dapat ia perbuat untuk menghentikannya. Bahkan untuk sekadar membuka mulutnya.


Apakah ini nyata? pikirnya semakin bingung.


Kenapa aku bisa di sini?


Bagaimana aku bisa sampai di sini?


Apakah aku mimpi berjalan lagi?


Tiba-tiba Violet menarik tangannya ke bawah, ke sampingnya.


Jingga terpuruk di atas rumput dalam posisi terlentang.


Udara malam terasa seakan menusuk tulang ketika angin kencang berhembus juga secara tiba-tiba.


Violet berusaha memeluknya.


Jingga megap-megap, sekonyong-konyong merasa lumpuh karena serangan rasa dingin yang tiba-tiba itu.


Lalu ia teringat peristiwa itu…


Serangan hawa dingin mengembalikan ingatannya. Dan ketika ia kembali menatap danau, sekonyong-konyong ia ingat semuanya.


Matanya terbelalak dan seluruh tubuhnya mendadak tegang. Ia tersentak duduk sambil mendorong Violet menjauh.


Mulut Violet ternganga dan bulatan merah muda di pipinya berubah menjadi merah tua. Ia mulai beranjak duduk, namun Jingga mendorongnya hingga ia terlentang lagi. Violet tampak terguncang. "Lu kenapa?" tanyanya polos.


Jingga berdiri di hadapannya dengan kemarahan berkobar-kobar.


Semuanya kembali terbayang.


Malam yang mengerikan itu, malam pertama ia menempati kamarnya di rumah Bu Lastmi.

__ADS_1


Violet melompat berdiri dan melangkah mendekati Jingga.


Kedua tangan Jingga mengepal sambil menggertakkan gigi. Ingin sekali rasanya ia menghajar Violet sampai babak belur, tapi ia menahan tangannya supaya tetap berada di samping.


Mata Violet terlihat liar, persis seperti pada malam itu…


Sekonyong-konyong ia bergerak maju dan meringkus kedua tangan Jingga, menahannya di samping tubuh cewek itu.


"Lepasin!" jerit Jingga. Violet ternyata lebih kuat daripada yang ia kira.


Violet menjatuhkan Jingga ke tempat ia berbaring tadi, lalu menindih tubuh Jingga dengan tubuhnya, menduduki kedua paha Jingga, lalu membungkuk, merenggut kerah sweater Jingga dan membuka paksa kancing blus Jingga.


Sama…


Seperti malam itu!


Ketika Violet tak berhasil membujuk Jingga supaya cewek itu memuaskannya.


Malam itu, Violet juga muncul di kamarnya dengan pakaian tidur yang sama seperti yang dikenakannya malam ini. Tengkurap di tempat tidur Jingga sambil membolak-balik halaman sebuah majalah, lalu menarik Jingga ke tempat tidur.


Dan dengan tanpa curiga sedikitpun, Jingga berbaring di sisinya sambil mengobrol seperti biasa.


Tapi lama-kelamaan pembicaraan Violet mulai menjurus ke arah yang lebih vulgar, bisa dikatakan mencoba memancing Jingga yang kemudian berujung pada bujukan ke arah hubungan intim.


Cewek itu mengatakan pada Jingga bahwa ia harus sedikit bergairah supaya terlihat lebih menarik dan bersemangat.


Lalu ia membocorkan rahasianya mengenai daya tariknya, bagaimana caranya menaklukkan semua pria.


Lalu Jingga berdalih bahwa sebagai wanita mereka harus menjaga kehormatan mereka karena jika sekali saja mereka kehilangan kehormatan mereka, selamanya mereka tidak akan dihormati, tidak diragukan pria mana pun akan mencampakkan mereka setelah mereka merasa puas, dan pada akhirnya aib mereka akan tersebar dari mulut pria yang satu ke mulut pria lainnya.


Jika itu terjadi, tentu saja semua pria akan berebut untuk mendapatkan mereka. Lalu nasib mereka selanjutnya tidak ubahnya seperti piala bergilir.


Tapi Violet bersikeras bahwa hal itu tidak akan membuat mereka kehilangan kehormatan. Dan ia mulai menggerayangi Jingga.


Jingga menolak dan di luar dugaannya, Violet berubah brutal, ia merenggut leher Jingga dan membuka paksa pakaian cewek itu.


Jingga memberontak dan berhasil melepaskan diri, kemudian melarikan diri ke arah kamar Bu Lastmi sembari berteriak. Pada saat itulah Violet akhirnya meninggalkan kamar Jingga melalui jendela.


Jingga akhirnya mengurungkan niatnya untuk menggangu istirahat Bu Lastmi.


Dan ketika Jingga kembali ke kamarnya. Semuanya kembali aman.


Tapi ia terbangun di luar rumah.


Bagaimana bisa aku melupakan hal mengerikan seperti itu? pikir Jingga.


Tentu saja!


Hantu orang-orangan sawah memiliki kekuatan itu—menghapus ingatan seseorang.


Rupanya Jingga juga melupakan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2