
"Hah?"
Magenta memejamkan matanya, berusaha menahan rasa mual agar tidak muntah.
Dewa melepaskan cengkeramannya tetapi tidak menjauh.
"Gue datang untuk memperingatkan," ulangnya, kepalanya meneleng hingga menumpang pada bahunya. Magenta membuka mata dan melihat daging leher Dewa yang tercabik-cabik.
"Kade Bebegig," bisik Dewa.
"Ya," sahut Magenta, mengangguk dengan prihatin. Segalanya berputar, berputar cepat sekali. Ia harus memejamkan matanya lagi.
Jika saja ia dapat membebaskan diri dari bau itu, sangat busuk, sangat asam, sangat menjijikkan, sangat memuakkan.
"Yasa, Gen. Si Yasa itu Bebegig," Dewa memperingatkan, mengulurkan tangan kepada Magenta sambil melayang ke belakang.
"Gue tau," Magenta berbisik, matanya terpejam. "Gue udah tau, De."
"Denger," desis Dewa, tiba-tiba suaranya terdengar jauh. "Dengerin gue, Gen. Gue datang untuk memperingatkan. Dia Bebegig."
"Iya. Gue tau, Dewa. Gue tau!" jerit Magenta dengan isakan keras. Matanya terpejam erat. Ia berusaha tidak menarik napas. Bau itu sangat kuat, sangat tak tertahankan.
"Gue udah tau," ulangnya lemah. "Tapi gue capek banget."
Sunyi.
Mata Magenta tetap terpejam.
"Gue capek banget, De. Sumpah. Gue cuma… capek banget."
Sunyi.
"Sori, De. Gue bener-bener minta maaf. Tapi gue capek banget sekarang. Gue cuma… capek."
Dan…
Semuanya menjadi gelap.
Pelan-pelan kesadaran Magenta kembali, dan sebelah matanya mengintip ke jendela. Cahaya pagi yang kelabu memasuki kamar itu.
la mengerang dan mencoba membuka mata yang sebelah lagi, lalu menyerah dan memejamkan keduanya lagi.
la tak ingat jatuh tertidur. Ia tidak ingat tidur.
la hanya ingat mimpi itu.
Apakah mimpi-mimpiku tentang Dewa akan berhenti? tanyanya dalam hati. Ia menguap, meregangkan kakinya.
"Hei—"
la beranjak bangun dan melihat ke bawah sambil mengerjap-ngerjapkan mata.
la masih berpakaian. Masih mengenakan celana pendek jins dan kemeja polo berlengan sepanjang yang sama dengan ketika ia bersama Kantata.
"Ohh," lenguhnya, melihat sepatu ketsnya yang lembap dan berlumuran pasir masih membungkus kakinya.
Pasir bertebaran di seprai. la pasti langsung ambruk ke ranjang, tanpa sadar.
la meraih wekernya, Walkman-nya terdorong dan terjatuh ke lantai diiringi bunyi berisik. Sekarang baru pukul tujuh seperempat. Masih terlalu pagi.
__ADS_1
Bau apa yang memenuhi hidungnya itu?
Bau asam itu?
Ada di dalam lehernya juga. Seakan menempel di kulitnya.
Apakah ia telah muntah tanpa sadar?
Masih sambil mengerjap-ngerjapkan mata dan berjuang bangun, Magenta menghela tubuhnya berdiri sempoyongan dan mengedarkan pandang.
Potongan-potongan mimpi berkelebatan dalam benaknya.
Mimpi yang mengerikan. Sangat nyata.
Sangat nyata hingga aromanya yang memuakkan masih tercium.
la terhuyung-huyung ke cermin di atas lemari dan berpegangan pada puncak lemari itu agar tidak terjatuh.
Meskipun sudah tidur berjam-jam, ia sama sekali tidak merasa sudah beristirahat dan tidak merasa segar.
Ia ingat pertama kali ia mengalaminya ketika ia terjebak dalam kabut dan hanya berputar-putar di tempat yang sama selama semalaman.
Tapi semalam ia tidak terjebak kabut.
Pasti aku sakit, pikirnya, bau memuakkan menyerang hidungnya.
la menyenggol kotak tisu hingga jatuh ke lantai. Tanpa berusaha memungutnya, ia mengamati cermin.
Dan melihat luka-luka memar gelap di pipi dan lehernya.
Dan tahu ini bukan mimpi.
"Dewa ke sini untuk memperingatkan."
la mencondongkan badan ke depan, menekan lemari kayu rendah itu agar bisa melihat dengan lebih jelas.
Luka memar gelap itu terlihat seperti tato akar atau sulur tanaman rambat. Gambar urat. Warnanya hitam kebiruan. Luka memar merambat. Tempat tamparan misterius itu mendarat.
Luka yang sama seperti luka di leher Jingga.
Dan mereka sama-sama sering kelelahan.
Bebegig itu! Magenta menyimpulkan.
Orang-orangan sawah itu!
Hantu orang-orangan sawah itu adalah penyebab semua ini, pikirnya.
Dewa datang untuk memperingatkanku supaya waspada terhadap Yasa.
Sambil mengawasi cermin, Magenta mengangkat dua jari ke lehernya, lalu dengan perlahan-lahan dan ragu-ragu menyentuh luka memar itu.
Tidak sakit.
la kembali menekan luka itu dengan ringan.
Tidak terasa sakit sama sekali.
Dan sekarang apa yang bisa kulakukan? Apa yang sebaiknya kulakukan?
__ADS_1
la menyadari kakinya gemetar. Ia merasa sangat lemah, tidak bertenaga sama sekali.
Kepalanya pusing sekali, ia berjalan kembali ke tempat tidur. Ia duduk di ranjang dan mencoba melepaskan sepatu ketsnya.
Tapi usaha itu terlalu berat baginya.
Aku harus melakukan sesuatu—harus memperingatkan Jingga.
Sambil mendesah ia menjatuhkan tubuhnya menelentang, kedua lengannya bergelantungan dengan lemas di sisi ranjang.
"Aku harus memperingatkan Jingga," bisiknya, berusaha keras membuka matanya. "Harus menyelamatkan kami..."
Lalu ia tertidur lagi. Bukan tidur yang wajar, tapi ketidaksadaran yang dalam. Kegelapan tanpa mimpi.
Beberapa waktu kemudian ia terjaga oleh tangan-tangan yang mengguncang-guncangnya dengan kasar.
"De?" serunya, sambil duduk tegak. "Lu balik lagi?" gumamnya, berusaha keras untuk sadar. Ia merasa seakan berada di dasar lautan, mencoba mendorong dirinya ke atas, menembus gelombang yang berpusar berat .
Bukan Dewa yang mengguncang-guncangnya. Ternyata ayahnya.
"Mau bangun nggak, hah? Dasar gelandangan males!" panggil ayahnya, pura-pura marah.
"Hah? Jam berapa sekarang?" Magenta melihat sinar matahari yang terang keemasan membanjiri kamarnya lewat tirai-tirai yang terbuka.
"Kita orang udah biarin kamu tidur sampe jam sepuluh," kata ayahnya, sambil menunjuk weker. "Sekarang waktunya bangun, kita harus pergi. Ayo. Buru, ganti baju. Kamu sarapan di kali aja nanti."
"Whoa." Magenta mencoba menurunkan kakinya ke lantai."Apa aku lupa sesuatu?" la mengerjap-ngerjapkan matanya pada ayahnya, masih tidak dapat membukanya bersamaan.
"Katanya mau nemenin ayah mancing?" Ayahnya mendorong bahu Magenta dengan bergurau. "Buru, Ngedul." Maksud ayahnya pemalas---ngedul. Ayahnya mulai beranjak ke pintu.
"Aku gak bisa," kata Magenta, ambruk kembali ke bantalnya.
Ayahnya membalik di ambang pintu, ekspresi prihatin terbayang di wajah tampannya yang telah menua. "Kenapa? Kamu sakit?"
"Ya," sahut Magenta cepat-cepat. "Nggak. Maksud aku, aku nggak tahu."
"Kamu kenapa sih?" Ayah Magenta melangkah kembali ke dalam kamar, menarik turun lengan sweter berleher V putihnya.
"Aku cuma capek, Yah. Capek banget," sahut Magenta, tanpa mengangkat kepalanya dari bantal. "Kayaknya aku turun sarapan nanti aja, deh."
"Kamu keliatan pucet banget, kayaknya perlu berjemur," kata ayahnya, sambil mengerjap-ngerjapkan mata. "Terus itu apa? Tato?"
"Tato apa?" tanya Magenta.
"Itu pipi kamu, kok, kayak Jurig Bebegig?"
Magenta akhirnya ingat luka memar berbetuk sulur yang merambat di pipinya.
Ayahnya benar.
Luka lebam itu memang berbentuk seperti bekas luka di wajah orang-orangan sawah yang pernah mereka buat beberapa waktu lalu.
"Aku capek banget," kilah Magenta. "Kayaknya aku pengen tiduran di rumah aja."
Ayahnya melihat jam sekilas. "Ya udah, deh," katanya ragu-ragu. "Ayah juga mendingan ke sawah aja lah, nemenin ibu kamu. Kamu beneran gak apa-apa?"
Magenta mengangguk mengiyakan. "Tolong sampein maafku pada ibu," kelakarnya.
"Heleh," dengus ayahnya sembari mengibaskan tangannya dan berbalik, lalu mulai berjalan pergi. la berhenti lagi di pintu dan mengendus-endus udara.
__ADS_1