Bebegig

Bebegig
Chapter 90


__ADS_3

"Aku udah putus sama pacarku," kata Magenta setengah meratap.


"Hah? Serius?"


Magenta hanya mengangkat bahu.


"Kenapa? Jangan bilang gara-gara aku. Dia gak mungkin tau hubungan kita, kan?"


"Sebenernya, ya!" jawab Magenta muram. "Dia udah liat kita."


"Gak mungkin!"


"Aku juga gak percaya, tapi biar gimana juga dia anak… 'orang pinter' paham kan?"


"Hmmm… temenku juga katanya anak orang pinter, tapi anaknya tetep aja goblok!"


Magenta terkekeh, merasa sedikit terhibur. Tapi mengingat kenyataan yang telah diketahuinya, tak elak membuat hatinya serasa terganjal.


"Dia udah mau nikah," cerita Magenta mencoba mengalihkan pikirannya, tapi hal itu justru membuatnya semakin muram.


"Nah!" Violet tiba-tiba menjentikkan jarinya dan menunjuk wajah Magenta. "Kalo gitu udah jelas!" katanya. "Dia ngaku udah tau hubungan kita cuma modus buat mutusin kamu!"


Magenta mengerutkan keningnya, tiba-tiba merasa pendapat itu sangat masuk akal. Tapi… mereka tetap akan menikah! pikirnya putus asa. Lagi pula aku sudah terlanjur mengakuinya.


"Ah, tapi kayaknya dia jujur, deh!" sergah Magenta kemudian. "Soalnya dia tau siapa yang gebukin aku."


"Serius?" Violet membelalakkan matanya. "Sakti juga tu orang!"


"Katanya dia abis ketemu sama bokin kamu!" Magenta menambahkan.


"Hah?" Violet tersentak dan terperangah. Dahinya kembali berkerut-kerut. Tampak berpikir keras.


Diam-diam Magenta terus mengawasi gadis itu dengan isi kepalanya yang berkecamuk. Tidak ada yang mencurigakan dari sikapnya, katanya dalam hati. Atau memang begini kalau seseorang dirasuki Jurig Bebegig?


Ah, benar juga! batinnya. Dulu waktu Yasa dirasuki Jurig Bebegig juga tidak kentara, kenangnya masam.


Sulit dipercaya, pikirnya sinis. Jingga benar-benar akan menikah dengan Jurig Bebegig…


Dan aku juga.


Sial!


Tapi bagaimana caranya aku mengajak monster ini menikah?


Bahkan jika ia tidak dirasuki entitas lain, Magenta tak yakin bisa membawa perempuan ini ke arah hubungan yang lebih baik.


Haruskah aku menikahinya?


Hubungan kami selama ini tak pernah serius.

__ADS_1


Tidak ada komitmen. Tidak pernah ada pembicaraan mengenai ungkapan perasaan kecuali… posisi.


Bolehkah aku tidak menikahinya saja?


Ketika Violet mulai menunjukkan tanda-tanda siap menerkam, Magenta akhirnya memiliki keberanian untuk mulai melancarkan rencana terselubung yang menjadi tujuannya datang ke sini, sekaligus untuk mengalihkan perhatian cewek itu untuk mengurangi sedikit gelora dalam diri cewek barbar itu.


"Vi!" katanya dengan ekspresi wajah serius. "Besok… kamu mau nggak ikut aku ke rumah?"


Violet yang sudah hampir merayap di sisi tempat tidur langsung terdiam. "Mau ngapain?" tanyanya tak senang.


Magenta mendesah pendek dan menarik duduk tubuhnya. Bersandar di kepala tempat tidur. "Orang tua aku pengen ketemu kamu," katanya beralasan.


"Hah? Emang kamu cerita sama orang tua kamu soal aku?" Violet mulai melotot. "Genta—inget, hubungan kita gak seserius itu!"


"Ya, mau gimana lagi?" Magenta berkilah. "Orang tua aku sama orang tua dia, udah sama-sama tau soal hubungan kami. Jadi… begitu masalah ini terungkap…"


Violet menyela dengan erangan bosan. "Aku kan udah bilang aku gak mau terikat!"


"Ngerti…" sanggah Magenta tak mau menyerah. "Tapi kan cuma ketemu, paling ditanya-tanya. Terserah kamu mau jawab apa. Bukan mau dilamar atau gimana!"


"Tetep aja ini namanya kebawa-bawa. Kebawa-bawa artinya terkait—TERIKAT! Paham?"


Jadi tak mau terikat itu maksudnya tak mau ambil risiko? pikir Magenta merasa konyol. Kekasih yang baik ternyata hanya perempuan bodoh! rutuknya dalam hati.


Tiba-tiba ia menyesal telah menyia-nyiakan Jingga demi pemuas semacam ini. Tapi lalu ia teringat pada kenyataannya, bahwa Jingga sudah kehilangan kesuciannya.


Wajahnya kembali muram. Sebetulnya aku tidak keberatan dengan hal itu. Aku bisa menerima perempuan semacam ini, kenapa aku tidak bisa menerima Jingga.


Sekiranya Yasa tak sudi bertanggung jawab, Magenta bisa menerima ketidaksempurnaan Jingga asalkan Jingga mau memaafkannya.


Tentu saja dia akan memaafkanku, batin Magenta sedih. Dia selalu mengalah dan memaafkanku selama ini.


Kecuali…


Ada Yasa di antara mereka.


Selalu ada Yasa yang setia merangkulnya dengan suka rela setiap kali mereka dalam masalah.


Selalu ada Yasa yang setia mengisi kekosongannya setiap kali Magenta tidak memedulikan Jingga.


Selalu ada Yasa di antara mereka.


Magenta memejamkan matanya lekat-lekat mencoba menekan semua hal yang bisa mengingatkannya pada Jingga dan Tirtayasa.


Sementara Violet yang sudah bergairah mulai membuka paksa ritsleting celana Magenta, Magenta hanya bergeming tanpa selera.


Pertama karena dia sudah tahu perempuan ini bukan manusia, kedua karena harga dirinya sebagai laki-laki merasa terhina.


Mungkin sebaiknya aku melupakan saja rencana ini dan menyerah pada Empu Brajasena.

__ADS_1


Bagaimanapun pria itu tak mungkin mencelakainya seperti monster ini, pikirnya.


Aku tak yakin bisa melakukan ini.


Mungkin sebaiknya aku pulang saja, dan memberikan alamat ini pada Empu Brajasena, biar dia sendiri yang datang ke sini. Toh, dia sekarang sudah punya sopir pribadi! batinnya sedikit jengkel.


Peduli setan dengan apa yang dikatakannya soal menjadi satu daging!


Perempuan ini jelas-jelas tidak khawatir.


Jadi untuk apa aku harus khawatir?


Orang-orang di desa tak akan tahu soal aibku kecuali keluarga mereka. Kalau sampai ada yang tahu, sudah jelas asalnya dari mana.


Sudah cukup buruk harus kehilangan kekasih, dan sekarang aku juga dipaksa menikahi perempuan iblis yang tak mau repot-repot ambil risiko.


Lupakan saja!


Aku mau pulang!


Violet tiba-tiba membeku, sebelah alisnya terangkat tinggi. Merasa ada yang aneh dengan "vitalitas" Magenta.


Magenta tidak peduli, "Aku mau pulang," katanya dingin. Lalu menarik naik ritsleting celananya seraya menarik bangkit tubuhnya.


Violet mengetatkan rahangnya dan memelototinya. "Jadi apa tepatnya tujuan kamu dateng ke sini?" geramnya.


"Yang aku bilang tadi," Magenta melangkah turun dari sisi lain tempat tidur. "Aku ke sini cuma mau ngajak kamu ketemu keluarga aku. Tapi karena kamu gak mau, ya udah. Ngapain lagi aku di sini? Aku masih banyak kerjaan!"


Violet tiba-tiba menyambar lengan T-shirt Magenta dan menahannya. "Mau ngapain lagi, kamu bilang? Biasanya kamu ke sini ngapain? Kamu pikir enak ya, dibikin kentang?"


Magenta mendesah pendek dan mengerang diam-diam sembari memutar-mutar bola matanya.


Violet memiliki kecenderungan melakukan kekerasan saat hasratnya tak tersalurkan.


Mungkin karena pengaruh Jurig Bebegig, pikirnya. Seperti inikah Jingga kehilangan kesuciannya? Ia bertanya-tanya dalam hatinya yang secara otomatis membuat hatinya serasa dicabik.


Lupakan dia! perintahnya pada diri sendiri. Lalu memaksa dirinya untuk melayani kemauan Violet.


Tapi ternyata tak bisa.


Sementara Violet sudah melucuti semua pakaiannya, mencumbuinya dengan sentuhan-sentuhan liar, memagutnya, menjilatinya, menyesapnya, mengaduk-aduknya sedemikian rupa…


Dia tetap tak mau bangun!


Violet mulai curiga sesuatu telah terjadi pada Magenta.


Ini pasti bukan sekadar kecewa karena aku menolak diajak pulang ke rumahnya, pikir Violet.


Bahkan lebih dari sekadar patah hati.

__ADS_1


__ADS_2