Bebegig

Bebegig
Chapter 51


__ADS_3

"Kamu sama Genta?" tanya Yasa setelah diam sejenak, ia berhenti di depan Mini Market, menjauhi lampu, kembali ke tempat gelap dekat dinding gedung. Matanya mencari-cari mata Jingga.


"Jangan tanya ah," gerutu Jingga.


"Hah?" Mata Yasa tampak bersinar-sinar.


Jingga menyadari Yasa terus menatap matanya sementara mereka berbicara. Apakah dia tak pernah berkedip? tanya Jingga dalam hati.


Lalu pikirnya: Matanya tampak sangat... dalam. Seperti terowongan. Seperti terowongan yang menarikmu semakin dalam, semakin dalam.


Karena pusing, ia mengulurkan tangan ke dinding gedung agar tidak jatuh. "Nggak, aku nggak sama Genta," sahut Jingga, menyadari kemarahannya belum menghilang.


"Pasar malem itu baru buka hari ini," kata Yasa. "Mau ke sana?"


"Ya," sahut Jingga, tanpa berpikir lagi. Kemudian ia teringat pada Magenta. Dan berpikir, Magenta takkan suka ini.


Aku akan pergi ke pasar malam itu dengan cowok lain.


Lalu ia berpikir: Aku tak peduli. Dia kan lebih suka menghabiskan waktunya dengan Kantata dan cowok-cowok itu dengan menonton film konyol.


Ini adalah akhir pekan. Aku pulang ke rumah untuk berakhir pekan.


Aku juga punya hak untuk bersenang-senang.


Kenapa aku harus menunggunya sepanjang waktu?


Kenapa aku harus selalu mengalah?


Dia tak peduli apa yang kulakukan.


Kemarahannya meletup lagi, lalu memudar saat ia menatap ke dalam mata Yasa.


Cowok itu tersenyum hangat padanya. "Ayo!" ajaknya.


Mereka berjalan-jalan, melihat-lihat wahana-wahana itu. Banyak yang masih kosong, menunggu penumpang. Pasar malam itu baru dibuka satu jam yang lalu, dan belum banyak orang yang datang.


Angin gunung terasa sejuk dan lembut.


Jingga senang telah memutuskan pergi dengan Yasa. Cowok itu menyenangkan dan ramah meski gayanya sedikit kuno.


Sangat berlawanan dengan Magenta, pikirnya kesal.


Kemarahannya telah hilang, tapi ia ingin tahu apakah Magenta akan peduli bahwa Jingga pergi dengan cowok lain.


Mereka berjalan di deretan kios permainan. Seorang anak kecil sedang berdiri di atas meja salah satu stand permainan, akan melempar ke dinding yang penuh balon. Gadis petugas yang berada di balik meja sedang menunduk menghindar, sekitar tiga meter jaraknya.

__ADS_1


Dua jam kemudian mereka kembali berada di luar lapangan.


Udara berbau segar dan basah. Gumpalan awan tipis gelap melayang melewati bulan purnama yang tergantung rendah di langit, begitu rendah hingga seakan melayang di atas atap sirap tempat pangkas rambut yang gelap di seberang jalan.


Di sampingnya, kios martabak langganan Magenta dan teman-temannya, penuh dengan orang-orang muda. Di luar jendela layan ada antrean, orang-orang berdiri berkelompok-kelompok, berdua atau berempat, mengobrol dan tertawa sambil menunggu pesanan mereka.


"Mau beli sesuatu?" Yasa bertanya sambil menunjuk antrean itu.


Jingga menggeleng. "Nggak ah, makasih."


Tiba-tiba Yasa meraih tangan Jingga dan menariknya.


Jingga balas menarik ragu-ragu.


Ditariknya lagi lengan gadis itu kuat-kuat, dan dengan ragu-ragu Jingga membiarkan dirinya diseret ke depan kios martabak itu dan bergabung dalam antrean.


"Aku bilang kan nggak!" Jingga berhenti melangkah.


Yasa tidak melepaskannya. Dia tetap membeli martabak itu, kemudian mengantarkan Jingga pulang. "Aku titip ini buat Empu Brajasena," katanya.


Arah menuju desanya dengan arah menuju desa tempat tinggal Jingga berlawanan dari alun-alun. Dan itu sama artinya dengan dua kali bolak-balik. Tapi Yasa sama sekali tidak merasa keberatan. Bagaimanapun tak pantas membiarkan anak perempuan pulang sendirian malam-malam, pikirnya.


Cara berpikir Yasa jelas bertolak belakang dengan Magenta yang sejak awal lebih memilih janjian ketemu di depan kantor pos di luar desa meski rumah kami bertetangga, pikir Jingga masam.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah berjalan di sepanjang jalan setapak berpasir, yang berkelok-kelok dari kota melintasi bukit pasir berumput, menanjak ke desa tempat tinggal Jingga.


Saat mulai memasuki kegelapan, sekilas Yasa melihat sesuatu di semak-semak, sesuatu yang tidak asing lagi baginya sejak dua tahun terakhir.


Seorang wanita tua berkebaya putih dengan caping, membungkuk di tengah semak-semak seraya terus bergumam, "Lamun hujan ngagelebug, komo wanci sambekala… Kade Bebegig, Anaking! Kade Bebegig! Bebegig mawa dodoja."


Yasa tahu sosok itu merupakan manifestasi dari penampakan mendiang nenek Jingga, tapi karena tak ingin membuat Jingga ketakutan, ia tidak mengatakan apa-apa.


Tapi Jingga bisa merasakan bahwa pria itu sedang berusaha untuk tidak membuatnya takut.


Ia tahu persis cowok itu bisa melihat sesuatu yang tak kasatmata.


Mata yang gelap dan tajam itu sangat intens, sangat menghipnotis. Mata itu mengatakan segalanya.


Jingga menatap ke dalam mata cowok itu dan sekali lagi merasa seperti tersihir.


Bulan, yang semula bagai piring putih pucat, semakin jelas, mulai bersinar keemasan.


Kenapa rasanya dia seperti Yasa yang kutemui di trotoar yang sama dua tahun lalu? pikir Jingga.


Tapi tentu saja ia tahu pria ini berbeda dengan Jurig Bebegig yang waktu itu.

__ADS_1


Bulan bersinar terang dengan gumpalan-gumpalan awan yang membayang seakan bergerak mengikuti, menuntun mereka.


Yasa tampak sangat tampan dalam sinar bulan yang melayang rendah.


Ini adalah dirinya yang asli! Jingga menyimpulkan seraya mencoba menyingkirkan gelombang kenangan yang menyakitkan yang tetap mengusik pikirannya, terus-menerus kembali seperti arus pasang laut.


Yasa sedang tidak dirasuki.


Ini adalah dirinya yang asli yang telah ditempa pelatihan spiritual. Sisi dirinya yang sopan penuh pengendalian diri.


Benarkah ini hasil tempaan ayahku? Jingga bertanya-tanya dalam hatinya. Atau sifat dasarnya memang sudah begini?


Dia berbeda dari waktu ke waktu.


Ketika deretan rumah-rumah putih berakhir dan berganti dengan lapangan luas berumput sebelum memasuki desa, seekor serigala berwarna putih meloncat keluar dari semak-semak dan menghadang mereka di jalan setapak itu.


Jingga memekik hingga terhuyung karena terkejut.


Yasa menangkap bahu gadis itu dan menahan tubuhnya supaya tidak jatuh.


Napas hangat pria itu menggelitik di leher Jingga, membuatnya merinding. Mengingatkan Jingga pada kedekatan mereka dua tahun lalu, mengingatkan gadis itu pada ciuman-ciuman itu, dan tanpa sadar ia mendambakannya lagi, seluruh naluri kewanitaannya berdesir sementara cowok itu masih menahan tubuhnya, begitu dekat di belakangnya, dan gairahnya yang menggebu-gebu muncul lagi.


Tapi suara Yasa kemudian menyentakkan Jingga dari lamunan. "Dikiranya dia yang punya jalan," rutuknya bergurau.


Jingga menelan ludah dan mendadak salah tingkah menyadari imajinasi liarnya yang tak pantas. Ia tergagap sesaat sebelum akhirnya menyadari, "Gardapati!"


Yasa menurunkan tangannya dari kedua bahu Jingga setelah gadis itu meluruskan kembali tubuhnya.


Ia mengusap rambut panjangnya di atas bahunya, membiarkan angin lembut yang berembus dari gunung mengacak-acaknya, membayangkan Yasa menyibak rambutnya seperti ketika mereka berada di air terjun.


Lembut sekali.


Serigala putih itu mengacungkan ekornya dan menggerak-gerakkannya seakan mengisyaratkan supaya mereka mengikutinya.


Jingga dan Yasa terkekeh sembari mengikuti serigala itu.


Mereka berjalan lagi dalam keheningan sampai di pekarangan rumah Jingga.


Setelah memastikan gadis itu memasuki rumah dengan aman, Yasa berbalik dan bergegas pulang, kembali menyusur jalan setapak berpasir menuju alun-alun.


Gardapati mengikutinya.


Saat Yasa kembali melewati bukit pasir berumput, ia melirik ke semak-semak tempat di mana ia melihat penampakan mendiang nenek Jingga.


Perempuan tua itu sudah tidak berada di sana.

__ADS_1


Sebagai gantinya, ia melihat orang-orangan sawah berjubah gelap dengan tudung kepala tertancap miring dan berkeriat-keriut tertiup angin.


__ADS_2