Bebegig

Bebegig
Chapter 63


__ADS_3

Bu Lastmi bergegas ke pintu depan dengan tergopoh-gopoh, bertopang pada tongkatnya, dengan wajah takut dan kaget ketika melihat Jingga dan polisi berwajah serius itu. la membawa Jingga ke dapur, erat memeluk pinggang gadis itu.


Mata mereka mengerjap oleh tajamnya sinar lampu dapur.


Bu Lastmi menjerang air untuk membuat cokelat panas.


Jingga bercerita tentang mimpinya dan tentang bagaimana ia terjaga di tepi danau. "Gak ada lagi yang saya inget. Gak ada lagi yang bisa saya jelasin," kata Jingga, lalu pecahlah tangisnya.


Bu Lastmi mendekat ke sampingnya dan memeluknya. "Ssshhh. Sekarang kamu udah aman."


"Tapi apa sebenernya yang terjadi sama saya? Kenapa saya berjalan dalam tidur?" tanya Jingga tak senang.


"Saya juga gak tahu," sahut Bu Lastmi sambil menuangkan sebungkus bubuk cokelat ke dalam cangkir. "Saya gak tahu apa-apa soal fenomena berjalan dalam tidur. Tapi yang penting kamu jangan cemas, jangan terlalu kuatir."


"Terlalu kuatir?" jerit Jingga. Ia tahu Bu Lastmi berbicara dengan sangat pelan supaya ia tenang, namun hal itu malah membuatnya marah. Sekujur tubuhnya gemetaran. "Gimana saya gak kuatir? Saya jalan ke danau sambil tidur!"


"Saya tahu, Sayang," kata Bu Lastmi. Ia menuangkan air mendidih ke dalam cangkir dan menggeser cangkir itu ke dekat Jingga.


"Saya gak pernah ngalamin tidur berjalan sebelum tinggal di sini," Jingga berusaha agar suaranya tidak terdengar gemetar. Ia tahu, ia kedengaran kalap. Tapi ia tak bisa mencegahnya.


Bu Lastmi tiba-tiba kelihatan sangat letih.


Jingga tak tahan lagi melihat tingkah Bu Lastmi yang sok lugu. Diteguknya cokelat panas itu sedikit dan lidahnya langsung serasa terbakar.


"Mungkin kita bisa cari tau penjelasan soal penyakit berjalan dalam tidur ini. Maksud saya, apa penyebabnya."


"Gila. Itulah penyebabnya," gerutu Jingga, ia menangkupkan kedua tangannya di sekeliling cangkir hangat. "Saya udah sinting."


Perasaan Jingga campur aduk. Takut. Malu. Marah. Tertekan.


Perasaan campur aduk itu semakin menggunung, sampai ia tidak bisa menahannya lagi. Akhirnya pertahanannya jebol, dan tangisnya meledak lagi.


Jingga membungkuk, menutupi wajahnya dengan tangan, dan membiarkan air matanya membanjir.


Bu Lastmi mengusap-usap bahunya, "Kamu gak sinting. Cuma ada sesuatu yang kita gak mengerti, itu aja."


Jingga mengangkat wajahnya dan tersenyum pahit, kemudian kembali menyesap cokelat di cangkirnya.


"Mungkin ada sesuatu yang sangat menggangu. Sesuatu yang sangat mengguncang. Sesuatu yang sulit kamu atasi dalam keadaan bangun."


Jingga mengerjap dan menatap wajah Bu Lastmi, memikirkan apa maksudnya. "Sesuatu yang sulit diatasi dalam keadaan bangun?"

__ADS_1


"Ya," Bu Lastmi mengangguk. "Kamu mencoba mengatasi sesuatu dalam keadaan tidur karena kamu tahu kamu gak bisa mengatasinya dalam keadaan sadar. Alam bawah sadar kamu berusaha mengatasinya."


"Tapi kalo masalah ini sangat mengguncang, bukannya saya pasti inget?"


"Kamu sama sekali gak punya ide kira-kira masalah apa ini?"


Jingga menggeleng. "Nggak. Saya gak tau apa yang sedemikian mengguncang saya. Saya gak betah tinggal di luar kota, jauh dari orang tua. Tapi itu bukan masalah besar."


Bu Lastmi melirik jam dinding di atas pintu yang menghubungkan dapur dan ruang tengah. "Udah dini hari," katanya. Lalu menoleh pada Jingga. "Saya harus berangkat pagi-pagi," katanya mengingatkan.


Jingga mendesah pendek dan memaksakan senyum. "Maaf, saya udah ganggu istirahat Ibu."


"Gak perlu sungkan, Sayang!" Bu Lastmi mengusap-usap punggung tangan Jingga. "Tidurlah lagi. Kamu juga ke kampus pagi, kan?"


Jingga mengangguk.


Bu Lastmi beranjak dari tempat duduknya dengan bertopang pada tongkatnya. Ia menoleh pada Jingga sekali lagi. "Saya sebenernya kuatir ninggalin kamu," katanya.


"Gak apa-apa!" tukas Jingga cepat-cepat. "Saya gak mau gara-gara saya, Ibu jadi batal pulang kampung."


"Gini aja," kata Bu Lastmi. "Selama saya pergi, kamu boleh nginep atau bawa temen ke sini. Yang penting saya titip Cakra, itu aja."


Jingga memaksakan senyumnya sekali lagi.


Setiap akan terlelap, ia memaksakan diri untuk kembali terjaga.


Tidak, tidak bisa, pikirnya. Aku tak bisa membiarkan diriku bermimpi lagi.


la memelototi langit-langit, merasa semakin ketakutan. Aku tak boleh tertidur lagi, pikirnya.


.


.


.


Kehadiran hantu wanita dalam mobilnya membuat Yasa merasa lemas dan sulit bernapas. Tubuhnya terasa berat sekaligus ringan dalam waktu bersamaan. Seperti sedang tenggelam di dalam air.


Jaket Jingga yang dikenakannya semakin lama semakin terasa mencekik. Seperti dicengkeram seseorang di bagian lehernya.


Merasa tak nyaman dengan situasi itu, Yasa akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak. Ia mencari warung kopi yang buka 24 jam, kemudian menyisikan kendaraannya dan keluar dari mobil itu dengan terhuyung.

__ADS_1


Ia memasuki salah satu warung yang berderet di seberang jalan dan memesan secangkir kopi. Lalu menjatuhkan dirinya di balai bambu dengan napas tersengal.


Si pemilik warung, seorang pria paruh baya, menatapnya dengan dahi berkerut-kerut. Lalu memandang ke seberang jalan. Ia baru turun dari mobil, pikirnya. Kenapa terlihat seperti habis berlari.


"Maaf, Pak!" ungkap Yasa ketika pemilik warung itu mengantarkan pesanannya. "Saya numpang rebahan sebentar."


"Silahkan!" jawab si pemilik warung itu dengan senyuman ramah. "Mau tidur dulu juga gak apa-apa."


Hari masih gelap ketika Yasa keluar dari mobilnya, tapi ia tahu waktu sudah hampir pagi. Barangkali sebentar lagi hantu itu akan segera pergi, pikirnya sinis.


"Makasih, Pak!" Yasa menarik duduk tubuhnya dan bersandar pada tiang penyangga atap. Kedua bahunya menggantung lemas di sisi tubuhnya.


"Emang dari mana, De?" tanya si pemilik warung sembari duduk tak jauh di samping Yasa. "Kayaknya capek banget. Emang mobilnya habis mogok?"


"Ah, ya. Tadi sempet selip, jadi saya harus dorong sedikit," jawab Yasa berbohong. Ia tahu pemilik warung itu memperhatikan napasnya yang masih tersengal. "Saya dari Cipagenggang."


"Cipangenggang itu di daerah mana, ya?" Si pemilik warung mengerutkan keningnya sekali lagi.


"Itu daerah Gunung kendeng, Pak!"


"Gunung Kendeng," ulang si pemilik warung semakin mengerutkan keningnya, seperti coba mengingat-ingat di mana tepatnya letak Gunung Kendeng.


"Pokoknya di selatan jauh sana," jawab Yasa sambil tersenyum dan menyesap kopinya.


"Berapa jam dari sana ke sini?"


"Cuma dua jam, sebenernya. Tapi karena saya belum tau jalan, jadi ya… paham lah!"


"Emang mau ke mana?"


"Mau ke tempat temen, kebetulan dia kuliah di sini." Yasa tersenyum sekali lagi, kemudian mengedar pandang. Mencoba membaca situasi seluruh tempat dan menyesuaikan dengan visinya. Lalu tatapannya terhenti pada sebuah danau di seberang jalan. Tak jauh dari tempat mobilnya terparkir.


Pemilik warung itu masih mengawasi Yasa dengan mata terpicing. Barangkali tak habis pikir kenapa seseorang mencari temannya yang kuliah pada dini hari.


Yasa memegangi dadanya dan terengah-engah. Dadanya mendadak terasa seperti diinjak.


Si pemilik warung terperangah, "Kamu gak apa-apa, De?" ia bertanya cemas sambil menyentuh bahu Yasa.


Yasa terhenyak, seperti ditarik keluar dari air, lalu mengangkat sebelah tangannya. "Saya gak apa-apa," jawabnya cepat-cepat. Napasnya masih terengah-engah. Sebelah tangannya masih memegangi dadanya. Ia menurunkan ritsleting jaket Jingga dan melepaskannya dari tubuhnya.


Perasaannya menjadi lebih baik.

__ADS_1


Sial! pikirnya. Takkan kubiarkan Jingga mengenakan jaket ini lagi!


__ADS_2