Bebegig

Bebegig
Chapter 75


__ADS_3

"Ish! Kamu ngeledek, ya?" gerutu Jingga sambil mencubit paha Yasa.


Yasa kembali mendesis menahan tawanya. Tatapannya tidak beralih dari jalan.


Jingga mengerucutkan bibirnya sambil memalingkan wajahnya, meluruskan pandangannya ke depan.


Melewati rumah sakit, Jingga tiba-tiba teringat pada Violet. "Eh, Sa!" pekiknya mengejutkan, dan secara spontan menyergap pergelangan tangan Yasa. "Kita ke rumah sakit dulu, yuk!"


Yasa menoleh dengan terkejut.


"Temen aku…" Jingga menggantung kalimatnya dengan ragu-ragu. "Temen aku yang pendaki itu lagi dirawat di rumah sakit," katanya.


Yasa memicingkan matanya dengan sorot bertanya.


"Aku mau kamu liat dia," Jingga menambahkan. "Kamu nyaranin aku buat jauhin dia, kan? Aku juga udah curiga ada sesuatu…" Jingga tidak melanjutkan perkataannya.


Yasa kembali berpikir keras, sebelum akhirnya menjawab, "Oke," katanya. Lalu memutar mobilnya ke arah pintu masuk rumah sakit.


Sesampainya di pekarangan parkir rumah sakit, kucing Bu Lastmi ditinggal dalam mobil sementara Yasa dan Jingga bergegas ke ruang Dr. Dradjat.


Menurut perkiraan Jingga, Violet seharusnya sudah dipindahkan dari ICU ke ruang rawat inap. Jingga tak ingin membuang waktu dengan bertanya pada resepsionis. Mereka lebih tertarik untuk ngobrol sendiri daripada melayani orang-orang yang datang menanyakan arah serta informasi. Jadi ia memutuskan untuk bertanya langsung pada dokter yang menanganinya.


Tapi dokter itu mengatakan bahwa Violet sudah tidak berada di rumah sakit. Katanya gadis itu melarikan diri setelah dipindahkan ke ruang rawat inap!


Melarikan diri?


Bagaimana bisa seorang pasien dengan luka patah tulang bisa melarikan diri? Jingga bertanya-tanya dalam hatinya.


Seseorang mungkin telah melarikannya!


Pendaki itu! pikir Jingga. Mungkinkah pria yang keluar dari sekretariat pecinta alam itu adalah kekasihnya?


Apakah sebaiknya aku ke sekretariat pecinta alam untuk mencari tahu kebenarannya?


Bagaimana kalau pria itu sedang berada di sana?


Jingga melirik Yasa secara diam-diam melalui sudut matanya.


Tenang! katanya dalam hati. Yasa akan melindungiku. Sebersit rasa bersalah kembali menggelayuti dirinya lagi. Entah kenapa rasanya ia seperti memanfaatkan Yasa.


Tapi tak ada cara lain untuk memecahkan kecurigaannya. Yasa adalah satu-satunya orang yang bisa diandalkan di dalam hal ini.


Yah, Jingga mengakui. Ini memang tidak ada bedanya dengan memanfaatkan cowok itu. Tapi mumpung dia sini! pikir Jingga.


"Kita ke sekretariat pecinta alam dulu ya, Sa?" pinta Jingga ragu-ragu.


"Oke," jawab Yasa tanpa ragu. "Di mana tempatnya?"

__ADS_1


Jingga tersenyum getir menyadari ketulusan cowok itu. "Di depan nanti belok kiri," instruksi Jingga sambil menunjuk lampu merah di perempatan jalan di depan mereka. "Sekretariat pecinta alam ada di seberang kampus aku."


"Wah! Kebetulan!" seru Yasa. "Aku emang pengen tau di mana kampus kamu!"


Jingga melirik Yasa dengan mata terpicing.


Cowok itu tersenyum tanpa menoleh.


"Mau ngapain?" tanya Jingga curiga.


"Gak boleh?" Yasa balas bertanya.


"Boleh!" tukas Jingga. "Cuma maksud aku, kenapa kamu mau tau kampusku? Kamu ada niat kuliah di sana?"


"Yups!" jawab Yasa antusias.


Wajah Jingga spontan berbinar. "Serius, Sa?"


"Serius!" Yasa meyakinkan Jingga.


"Yeay!" Jingga bersorak gembira.


"Biar kamu ada temen pulang-pergi," timpal Yasa.


Senyum Jingga semakin melebar. Entah kenapa hatinya terasa berbunga-bunga.


"Oke, oke!" Yasa menanggapinya dengan riang.


Hari ini indah, pikir Jingga tak bisa menutupi perasaan senangnya. Kehadiran Yasa di sisinya di kota asing membuat Jingga merasa aman.


Mendengar Yasa berencana akan kuliah di kampusnya membuat Jingga merasa mendapat jaminan keselamatan. Belum apa-apa dia sudah membayangkan keseruan hari-harinya bersama Yasa di kampus.


Aku tak akan kesepian lagi di kampus, pikirnya. Aku tak akan seperti anak ayam hilang induknya lagi seperti selama ini.


Selain Violet, Jingga memang tidak memiliki teman dekat lagi.


Sekarang Yasa menyarankan Jingga untuk menjauhinya juga.


Tak terbayangkan hari-harinya di kampus akan seperti apa jika ia benar-benar menjauh dari Violet.


Entah karena kemampuannya, atau karena perasaannya, tapi rencana Yasa untuk masuk kuliah di kampusnya, terasa seperti kompensasi.


Yasa memarkir mobilnya di pekarangan sekretariat pecinta alam dan melangkah keluar bersamaan dengan Jingga.


Cakra meringkuk dalam dekapan Jingga dengan tatapan waspada.


Seorang pria seusia mereka, melongok dari pintu masuk. Tubuhnya tinggi berisi dan berkulit coklat gelap seperti Magenta. Rambutnya pendek model spike—potongan rambut favorit Kantata sampai sekarang, mengingatkan keduanya pada cowok itu.

__ADS_1


Jingga tersenyum dan mengangguk ke arah cowok itu.


Cowok itu akhirnya keluar menghampiri mereka di teras. "Kalian anggota komunitas atau—"


"Nggak---bukan!" potong Jingga cepat-cepat. "Saya cuma mau tanya, Mas kenal sama Violet nggak?"


"Violet?" Cowok itu mengerutkan dahinya, mencoba mengingat-ingat. Lalu melongok ke dalam. "Woy! Ada yang tau Violet nggak?"


"Tetow! Ungu!" seloroh seorang pria di dalam ruangan, disambut gelak tawa banyak orang.


Jingga dan Yasa bertukar pandang.


Cowok itu kembali menoleh pada Jingga. "Sori. Gue baru gabung di sini," katanya.


"Coba tanya sama yang di dalem, ada yang kenal Vivi nggak gitu!" Jingga tak mau menyerah.


Cowok itu kembali melongok ke dalam, "Ada yang kenal Vivi nggak?"


"Kenapa?" seseorang akhirnya merespon.


"Ada yang nyariin Vivi!" cowok di depan pintu memberitahu.


Lalu seorang pria berambut panjang keriting melongok ke luar.


Jingga hampir menjerit ketika wajah pria itu muncul di ambang pintu.


Tapi lalu segera sadar pria itu bukan pria tinggi besar yang mengejarnya waktu itu. Pria ini sedikit lebih kurus dan sedikit lebih pendek. Ukuran tubuhnya sama persis dengan Magenta, tapi rambutnya seperti Yasa. Ini baru benar-benar perpaduan Yasa dan Magenta.


Tapi wajahnya… forget it!


"Maaf, Mas! Ganggu waktunya sebentar," kata Jingga. "Saya temen kuliahnya Vivi!" Jingga memperkenalkan diri sambil mengerling melewati bahunya, menunjuk ke seberang jalan.


"Oh," pria itu mengangguk. "Silahkan masuk!" katanya seraya membukakan pintu lebih lebar. "Ngobrol di dalem aja."


Jingga tersenyum dan mengangguk. Lalu berjalan memasuki sekretariat diikuti Yasa di belakangnya.


Tiga orang pria di dalam segera beranjak dan mengangguk pada mereka, kemudian berpencar meninggalkan ruangan setelah pria berambut panjang tadi memberi isyarat pada mereka supaya mereka bubar.


"Saya Haris!" pria itu memperkenalkan diri. "Silahkan duduk!" ia mengangguk ke arah sofa.


Jingga dan Yasa menyelinap ke sela-sela antara meja dan sofa, kemudian duduk menghadap ke arah pria bernama Haris tadi.


"Saya Jingga," kata Jingga setelah mereka semua duduk. "Saya cuma mau tanya alamat cowoknya Vivi. Vivi kemaren kecelakaan. Sempet dirawat di ICU, tapi kata dokter, Vivi kabur dari rumah sakit setelah dipindahin ke ruang rawat inap," cerita Jingga. "Saya cuma mau cek, barangkali Vivi ada di tempat cowoknya."


"Maksudnya Rogan?" Haris mengerutkan keningnya.


Jadi namanya Rogan? pikir Jingga.

__ADS_1


Nama warna lagi aja, pikir pembaca!


__ADS_2