
"Dewa—kenapa kamu masih ada di luar?" seru Jingga. "Sekarang kan udah malem banget!"
Dewa tidak menyahut. Napasnya terengah-engah.
Jingga melihat dadanya mengembang dan mengempis di balik mantelnya.
Cowok itu menatap Jingga dengan curiga. "Dia udah cerita, ya?" tanyanya dengan napas tersengal-sengal.
"Apa?" Mereka pindah ke balik pohon besar untuk berlindung dari terpaan angin. "Dewa—ada apa, sih?" Jingga balik bertanya
"Magenta udah cerita, kan?" Dewa mengulangi pertanyaannya. "Dia udah cerita soal si orang-orangan sawah?" la menunjuk ke puncak gunung.
"Ehm... ya," jawab Jingga ragu-ragu. Tetesan air jatuh dari pohon dan menimpa bagian depan mantel gadis itu. Ia segera menepisnya. "Aduh, Dewa, kamu udah gila, ya? Di sini kan dingin banget! Mantel kamu ditutup, kek!" Jingga memarahinya.
"Magenta gak tau apa-apa," Dewa kembali angkat bicara, tanpa menghiraukan teguran Jingga. Napasnya masih tersengal-sengal. "Dia gak tau aku pernah ketemu. Dia gak tau kalo aku pernah liat sendiri orang-orangan sawah itu."
Jingga menatap Dewa dengan mata terbelalak. "Maksudnya, kamu pernah liat si orang-orangan sawah yang idup?"
Dewa mengangguk. "Iya. Aku pernah liat dia. Tapi bukan itu yang paling serem."
"Bukan? Aduh, Dewa---emang ada ya, yang lebih serem lagi dari itu?"
Dewa menatap Jingga dengan tajam. Rambutnya yang gelap berkibar-kibar tertiup angin. Tapi matanya tidak berkedip.
"Emang ada yang lebih mengerikan dari itu?" Jingga mengulangi pertanyaannya.
"Yang paling mengerikan," sahut Dewa, "adalah orang-orangan sawah itu udah liat aku!"
Angin menderu-deru di antara pohon-pohon.
Jingga menyeret Dewa ke samping salah satu rumah di dekat mereka. Mereka sama-sama merapat ke dinding.
Sambil menggigil, Dewa akhirnya memasang ritsleting mantelnya.
__ADS_1
"Dewa—maaf! Tapi cerita itu gak masuk akal, " Jingga berkeras. "Mana mungkin..."
"Tunggu sampe kamu denger apa yang terjadi," Dewa memohon. "Setelah itu kamu boleh menentukan sendiri apa bener cerita aku gak masuk akal." la kembali gemetaran. "Dia udah liat aku, Jingga. Orang-orangan sawah itu liat aku. Dia tau siapa aku. Dia tau kalo aku liat dia. Makanya aku ngeri."
"Tapi, Dewa..." Jingga hendak membantah.
Tapi Dewa segera mengangkat sebelah tangan, menyuruh Jingga diam. "Tunggu." la menarik napas dalam-dalam. "Kejadiannya beberapa minggu lalu. Aku bertiga sama temen aku, kita naik ke puncak gunung. Kita mau liat gua keramat. Jadi kita nyusup lewat pondok milik Empu Brajasena."
"Tunggu dulu," Jingga menyela. "Apa hubungannya Empu Brajasena sama semua ini?"
"Dia selalu nyegah semua orang yang mau ke gua keramat," jawab Dewa. "Dia gak pernah ngizinin siapa pun ngedeketin tempat itu. Orangnya aneh banget. Kata orang, dia ngabdi sama si orang-orangan sawah. Dia ngelindungi si orang-orangan sawah dengan cara ngehalau para penduduk desa."
"Tapi kalian berhasil ngelewatin Empu Brajasena?" tanya Jingga.
Dewa mengangguk. "Yah. Aku sama temen-temen berhasil nerobos penjagaan Empu Brajasena. Kita berhasil naik sampe ke mulut gua keramat. Baru kali itu aku liat gua keramat."
"Kayak apa guanya?" Jingga bertanya.
Dewa menggerakkan kedua tangan untuk menggambarkan bentuk gua itu. "Guanya besar, di sisi gunung," ujarnya. "Semuanya dari batu item licin berkilau. Persis kayak batu akik warna item. Mulut guanya lebar dan gelap gulita. Dan di bagian atasnya tergantung tonjolon-tonjolan batu yang panjang, mirip gigi taring. Ujung-ujungnya runcing, tajem kayak pisau."
"Yah, emang," Dewa membenarkan. "Tapi menurut kami gak indah lagi setelah si orang-orangan sawah itu muncul."
Jingga menatap Dewa dan mengamati wajahnya. "Jadi kamu beneran liat orang-orangan sawah yang idup?"
Dewa mengangguk. "Tiba-tiba kita denger suara gemuruh. Dan tanah mulai begeter. Aku sama temen-temen langsung ketakutan. Kita pikir ada gempa bumi, longsor, atau jangan-jangan gunungnya mau meletus, pokoknya semacam itu, lah! Temen-temen aku lari ke bawah. Tapi aku tetep di atas. Terus aku liat dia. Si orang-orangan sawah itu ngelongokin kepalanya di mulut gua. Di mukanya ada bekas luka yang panjang. Dia noleh kiri-kanan. Terus dia ngeraung keras-keras. Dan---akhirnya aku juga lari,"
Jingga mengerutkan dahinya, mencoba membayangkan bentuk si orang-orangan sawah berdasarkan penjelasan Dewa.
Dewa melanjutkan. Napasnya terengah-engah. "Aku lari ngelewatin pondok Empu Brajasena. Terus lari sampe ke kaki gunung. Gak berani noleh ke belakang."
"Terus, temen-temen kamu gimana?" tanya Jingga pada Dewa.
"Mereka nungguin di bawah," sahut Dewa. "Abis itu, kita langsung pulang ke rumah masing-masing. Dan kejadian ini gak pernah kita omongin lagi."
__ADS_1
"Kenapa?" Jingga ingin tahu.
"Mungkin karena kita terlalu ngeri," ujar Dewa sambil menundukkan kepala. "Kita gak pernah lagi ngobrolin soal itu. Magenta juga gak pernah aku kasih tau." la kembali menatap Jingga. "Tapi akhir-akhir ini aku jadi sering mimpi," ia mengaku. "Aku sering mimpi buruk tentang si orang-orangan sawah. Malah ampir tiap malem."
Jingga membalas tatapan cowok itu tanpa tahu harus berkata apa. Seluruh tubuhnya gemetaran. Apakah karena udara dingin? Jingga bertanya-tanya. Atau karena ketakutan?
Tampaknya Dewa menunggu Jingga mengatakan sesuatu.
"Dewa, kejadian ini gak pernah kamu ceritain sama Magenta. Kenapa malah aku yang kamu kasih tau?" tanya Jingga.
"Biar kamu percaya," Dewa menjawab dengan nada serius. "Kamu masih baru di sini, Jingga. Kamu pasti mikir ini cuma omong kosong. Tapi pokoknya kamu gak boleh datengin gua keramat."
"Tapi, Dewa..." kata Jingga.
"Kamu gak percaya sama cerita Magenta, kan?" Dewa bertanya setengah menuduh. "Kamu gak percaya apa yang dibilang Magenta."
"Ehm..." Jingga terdiam.
"Jadi aku nunggu kamu," Dewa menjelaskan. "Aku sengaja nunggu kamu biar bisa nyeritain pengalaman aku sama kamu. Kamu percaya kan sama aku, Jingga? Kamu percaya kan kalo aku liat si orang-orangan sawah?"
"E---entahlah," sahut Jingga ragu-ragu.
Angin tetap bertiup kencang.
Jingga meraba-raba hidung dan pipinya. Seluruh wajahnya seperti mati rasa. "Aku harus pulang," katanya pada Dewa.
Cowok itu meraih lengan mantel Jingga. "Jingga, jangan pergi ke gua keramat," ia memohon. "Kamu harus percaya sama aku, Jingga. Aku gak bohong!"
Jingga menyentakkan lengannya. Lalu ia segera berlari ke arah teras rumahnya, melintasi pekarangan. "Pulang, Dewa!" Ia berseru pada Dewa. "Masuk ke rumah sebelum kamu beku di luar sini!"
Jingga berlari sampai ke rumah. Rasanya nikmat sekali berlari tanpa memikirkan apa pun, pikirnya. Tapi berlari melintasi angin kencang yang disertai kabut tebal ternyata cukup sulit. Setiap beberapa langkah ia merasa seperti kehilangan arah.
Kakinya terasa sangat pegal ketika Jingga sampai di rumah. Tersengal-sengal gadis itu membuka pintu depan. Di luar dugaannya, seluruh rumah gelap gulita.
__ADS_1
Jingga melepaskan sarung tangan dan melirik arlojinya.
Baru pukul sembilan. Masa sih Mama udah tidur? pikirnya. Biasanya Mama baru tidur setelah tengah malam.