Bebegig

Bebegig
Chapter 7


__ADS_3

Jingga merinding dan memandang ke puncak gunung.


Apakah si serigala putih ada di atas sana?


Apakah binatang itu melolong-lolong seperti ini setiap malam?


Kenapa suaranya begitu mirip suara manusia?


Jingga menarik napas dalam-dalam dan menahannya sebentar. Kemudian gadis itu menyusuri jalan. Sepatu botnya berdecak-decak di atas lapisan lumpur yang basah.


Ia melewati beberapa rumah dan terus melangkah maju. Sampai sebuah bayangan melintas di hadapannya. Dan ia terpaku tak bergerak.


Jingga menahan napas.


Mula-mula ia mengira ada yang mengikutinya. Tapi kemudian gadis itu sadar yang ia lihat cuma bayangan panjang orang-orangan sawah. Bayangannya membentang sampai ke jalan. Kedua lengan dahannya satu terangkat, satu menjulur ke samping tampak panjang dan seakan-akan mengancam Jingga.


Jingga melangkahi bayangan itu dan menyeberang jalan. Tapi sekali lagi ia dihadang bayangan.


Orang-orangan sawah lagi. Serupa dengan yang tadi. Bayangan kedua orang-orangan sawah itu tumpang tindih.


Tiba-tiba Jingga serasa berada di dunia hitam-putih berisi kepala-kepala yang gelap, jubah-jubah yang berkibar-kibar, dan lengan-lengan yang kurus kering.


Kenapa begitu banyak orang-orangan sawah di sini? Dan kenapa semua warga desa membuat orang-orangan sawah yang serupa?


Lolongan panjang membuat Jingga mengalihkan pandangan dari bayangan-bayangan orang-orangan sawah.


Lolongan ini terdengar lebih dekat. Dan kedengarannya seperti suara manusia!


Jingga merinding.


Cepat-cepat ia berbalik. Sudah waktunya pulang, katanya mengingatkan diri sendiri.


Jantungnya berdegup kencang. Lolongan itu—kedengarannya begitu dekat—telah membangkitkan ketakutan dalam dirinya.


Jingga mulai mempercepat langkahnya sambil mencondongkan badan menentang angin. Lengannya berayun-ayun. Tapi ia langsung berhenti ketika ia melihat orang-orangan sawah dengan wajah terluka di halaman di depan sebuah rumah. Dan ia memekik tertahan sewaktu orang-orangan sawah itu menganggukkan kepala padanya.


"Ahhhh!"


Ia mengangguk. Orang-orangan sawah itu mengangguk!


Lalu kepalanya berguling ke samping dan jatuh. Kepalanya terbelah begitu menghantam sebongkah batu yang menyembul di permukaan tanah.


Baru beberapa saat kemudian Jingga sadar bahwa anginlah yang menyebabkan kepala orang-orangan sawah itu mengangguk.


Anginlah yang meniup kepala batok itu sampai terlepas dari rantingnya.


Kenapa aku ada di luar sini? Jingga bertanya dalam hati. Sekarang kan sudah malam, dan udaranya sangat dingin.


Suasananya seram.


Dan di sekitar sini ada makhluk yang melolong keras-keras.


Jingga menatap orang-orangan sawah tanpa kepala di halaman rumah tadi.


Yang tersisa dari kepalanya hanyalah batang kayu yang mencuat, sementara batok kelapa yang pernah menjadi kepalanya teronggok di tanah. Tapi kain selubungnya yang berwarna hitam tetap melilit di tempat semula, dan kini ujungnya melambai-lambai seperti bendera tertiup angin dingin.


Jingga merinding lagi. Serta-merta gadis itu berbalik dan berlari pulang.

__ADS_1


Jingga berlari melintasi bayangan orang-orangan sawah. Sepatu botnya menginjak-injak bayangan lengan dan kepala mereka.


Di setiap halaman rumah ada orang-orangan sawah. Mereka berderet di sepanjang jalan, bagaikan petugas jaga malam.


Seharusnya aku tetap di rumah saja, pikir Jingga. Dadanya mulai sesak karena dicengkeram perasaan panik.


Seharusnya aku jangan keluar malam-malam begini. Seharusnya aku tetap di rumah baruku yang aman.


Sesosok orang-orangan sawah melambaikan tangan dan menatapnya sambil menyeringai ketika Jingga berlari melewatinya.


Jingga kembali teringat sajak dari masa kanak- kanaknya....


Jika hujan menderu keras, terutama saat senja…


Awas orang-orangan sawah, Anakku!


Awas orang-orangan sawah!


Orang-orangan sawah membawa teror.


Rumah Jingga mulai tampak di ujung jalan. Ia menarik napas dalam-dalam dan berlari lebih cepat lagi.


Sajak lama itu menghantuinya sejak ia tiba di sini. Sajak lama itu mengikutinya dari masa kanak-kanak, mengikutinya ke tempat tinggal barunya yang aneh ini.


Kenapa aku tiba-tiba teringat lagi?


Apa arti semua ini?


Kenapa sajak itu muncul kembali dalam benakku, setelah terbenam selama sekian tahun?


Lolongan mengerikan yang melengking bagaikan sirene ambulans terdengar persis di belakangnya. Jingga langsung berbalik.


Ia mengamati jalanan dan halaman-halaman yang membeku terselubung serpihan kuning bunga-bunga akasia. Tak ada siapa-siapa. Tak ada serigala. Tak ada orang.


Lolongan berikutnya terdengar lebih dekat lagi.


Apakah ada yang membuntutiku?


Jingga menutup telinga dengan kedua tangan untuk menghalau suara-suara mengerikan itu.


Begitu kencangnya langkah gadis itu, sampai-sampai ia seakan-akan terbang melintasi hamparan kuning bunga-bunga akasia, terbang sampai ke rumahnya.


Jingga sampai di depan pintu tepat ketika keheningan malam kembali dibelah lolongan mengerikan. Ia sadar, suara itu semakin dekat.


Rupanya memang ada yang membuntutiku!


Jingga meraih pegangan pintu. Memutarnya. Lalu mendorong.


Aduh!


Pintunya tidak bergerak.


Jingga kembali memutar pegangan pintu itu. Kali ini ke arah berlawanan.


Ia mendorong-dorong pintu itu sekuat tenaga. Menarik-nariknya.


Tapi sia-sia.

__ADS_1


Aku terkunci di luar!


Untuk kesekian kali terdengar lolongan menakutkan.


Begitu dekat. Seakan dari sisi rumah Jingga!


Seluruh tubuh gadis itu gemetaran. Lehernya serasa dicekik oleh perasaan panik. Ia mundur terhuyung-huyung, menjauhi pintu.


Dan ia melihat bahwa jendela depan rumahnya—satu-satunya jendela yang menghadap ke jalan tidak tertutup rapat.


Jingga mengamati celah sempit di bagian bawah. Ia menarik napas dalam-dalam dan menerjang ke arah jendela geser itu.


Cepat-cepat ia meraih bingkai jendela. Dengan satu erangan keras, Jingga mendorong kaca jendela sekuat tenaga.


Di luar dugaan, jendela itu bisa dibuka dengan mudah.


Jingga mendorongnya hingga terbuka penuh. Lalu dipegangnya ambang jendela dengan kedua tangan dan menarik badannya ke atas. Pada saat itu kembali terdengar lolongan panjang.


Begitu dekat.


Begitu dekat dan begitu mengerikan.


Jingga menjatuhkan diri ke dalam rumah. Siku dan lututnya membentur lantai kayu yang keras.


Jingga bangkit sambil menahan sakit. Diraihnya bingkai jendela, dan ditariknya kaca jendela itu hingga menutup. Kemudian ia bangkit.


Jingga bersandar ke dinding dan pasang telinga. Sekaligus berusaha mengatur napas.


Apakah Mama terbangun?


Tidak. Rumahnya tetap gelap dan sunyi. Satu-satunya suara yang terdengar adalah suara napasnya yang terengah-engah.


Sekali lagi terdengar lolongan, tapi kali ini dari jauh.


Apakah ada yang membuntutiku?


Atau itu cuma khayalanku saja?


Apakah lolongan mengerikan itu cuma terbawa angin dari puncak gunung?


Napas Jingga masih tersengal-sengal ketika ia melangkah menjauhi dinding. Perlahan-lahan ia berjalan menembus kegelapan, menuju ke ruangan kecil di belakang, tempat mereka menumpuk kardus-kardus.


Buku-bukunya masih tersimpan di salah satu kardus. Ia yakin ia juga memasukkan buku puisi lama yang suka dibacakan neneknya dulu.


Sinar bulan yang putih masuk melalui jendela di dinding belakang. Kardus yang dicarinya ternyata ada di bagian atas tumpukan kardus, dan ia segera menariknya ke bawah.


Tangannya gemetaran ketika ia berusaha melepaskan pita perekat dan membuka penutupnya. Aku harus menemukan sajak itu, katanya dalam hati. Aku harus tahu bagaimana bait keduanya.


Jingga membuka kardus dan mulai mengeluarkan buku-buku. Paling atas ada tumpukan buku cerita. Di bawahnya ia menemukan buku pelajaran yang dipakainya di sekolah.


Tiba-tiba terdengar suara orang batuk. Disusul suara langkah kaki.


Ada orang di sini! Jingga menyadari.


"Ma?" Jingga memanggil pelan. Tapi suara yang menyahut bukan suara ibunya.


"Lagi ngapain kamu di sini?" tanya sebuah suara parau yang tidak dikenali Jingga.

__ADS_1


__ADS_2