Bebegig

Bebegig
Chapter 15


__ADS_3

"Ohhhh!" Jingga mengerang ketika monster hitam itu berusaha meraihnya dengan lengan dahannya.


Jingga langsung menggigil. Ia merasakan terpaan hawa dingin yang belum pernah ia rasakan. Ia bisa melihat gelombang-gelombang beku yang terpancar dari tubuh si monster orang-orangan sawah.


Kemudian makhluk itu memiringkan kepalanya yang besar dan bundar. Matanya membelalak lebih lebar lagi. Suaranya menggelegar ketika ia berseru, "SIAPA KAU?"


Jingga gemetaran di tengah gelombang udara dingin yang menerpa.


Ya, ampun! Makhluk itu bisa bicara!


Sekarang dia baru percaya.


Cerita Dewa dan Magenta ternyata benar. Semuanya benar.


Monster orang-orangan sawah itu bergerak mendekat, semakin dekat. Pandangannya seperti terpaku pada mata Jingga.


Sebenarnya Jingga ingin berdiri. Sebenarnya ia ingin berlari saat itu juga. Tapi gelombang hawa dingin yang terpancar dari makhluk itu telah membuatnya beku. Gadis itu tidak bisa bangkit. Ia tak bisa mundur. Tak bisa bergerak.


"SIAPA KAU?" Orang-orangan sawah itu kembali menghardik, suaranya membahana. Seluruh gunung ikut bergetar.


"A---a..." Suara Jingga gemetar, melengking nyaring. "J–jangan..." ujarnya dengan susah-payah. "Aku gak ada maksud buruk. Aku..."


"SIAPA KAU?" orang-orangan sawah raksasa itu bertanya untuk ketiga kalinya.


"Namaku?" Jingga memekik. "Namaku Jingga. Jingga Arsena."


Orang-orangan sawah itu langsung membelalakkan mata. Mulutnya yang gelap menganga lebar. "COBA ULANGI LAGI," ia memerintahkan.


Jingga menggigil tak terkendali.


"Jingga Arsena," Jingga mengulangi dengan suara bergetar ketakutan. Selama beberapa saat Jurig Bebegig itu menatapnya sambil membisu. "KAU TAHU SIAPA AKU?" ia bertanya.


Jingga menelan ludah. Pertanyaan itu sama sekali di luar dugaannya. Ia membuka mulut untuk menjawab, tapi suaranya seperti tersangkut di tenggorokan.


"KAU TAHU SIAPA AKU?" Jurig Bebegig itu bertanya lagi. Nadanya mendesak.


"Enggak," jawab Jingga. "Memangnya siapa kamu?"


"AKU AYAHMU!" seru si monster orang-orangan sawah.

__ADS_1


"GAK MUNGKIN!" teriak Jingga. Mana mungkin ayahku Jurig Bebegig! pikirnya tak senang.


Jingga ingin segera pergi dari situ. Ia ingin lari jauh-jauh. Merosot lewat lereng gunung. Atau malah terbang sekalian!


Tapi ia tak bisa bergerak. Ia berada dalam cengkeraman si monster orang-orangan sawah. Ia tertahan di pelataran. Sementara tubuhnya menggigil kedinginan.


"Jingga, aku ayahmu---Lingga Arsena," orang-orangan sawah itu kembali berkata sambil merendahkan suaranya. Ia menatap Jingga dengan matanya yang menakutkan. "Percayalah padaku. Aku Lingga Arsena."


"Ng---gak mungkin!" Jingga tergagap-gagap. Ia merangkul dirinya sendiri, agar tubuhnya berhenti gemetaran. "Kamu orang-orangan sawah. Mana mungkin kamu ayahku! Kamu Jurig Bebegig!"


"Dengarkan aku!" si orang-orangan sawah meraung. "Aku memang ayahmu. Nenekmu tukang sihir. Begitu juga ibumu. Ibumu menekuni segala macam jenis sihir."


"Bohong...!" Jingga memprotes. Cerita bohong itu justru membangkitkan keberaniannya. Ia segera berdiri. "Itu gak bener!" serunya marah. "Aku gak pernah liat Mama praktekin apa pun yang berbau sihir. Kamu pembohong!"


Si orang-orangan sawah tampak berayun-ayun dari kiri ke kanan. Batu karang yang dipijak Jingga ikut bergoyang-goyang. Gadis itu hampir kehilangan keseimbangan.


"Aku tak bohong, Jingga. Lingga Arsena bukan pembohong!" mahkluk itu bersikeras. Ia mengangkat kedua tangannya, seakan-akan memohon agar Jingga percaya. "Memang begitulah kenyataannya."


"Tapi---tapi..." Jingga tergagap-gagap.


"Aku jadi seperti ini karena perbuatan nenekmu," kata si orang-orangan sawah. "Dia menggunakan kekuatan gaibnya untuk mengubahku jadi orang-orangan sawah. Waktu itu kau baru berumur dua tahun. Dia sempat berusaha mengembalikanku ke wujud yang asli. Tapi dia gagal. Lalu dia kabur dari desa ini bersama ibumu. Kau juga di bawa."


"Ibumu punya alasan kuat untuk kembali," si orang-orangan sawah menjelaskan. "Dia tahu bahwa pengaruh sihirnya akan lenyap setelah tujuh belas tahun."


"A---aku gak ngerti," Jingga tergagap-gagap lagi. Kepalanya serasa beku. Ia tak bisa berpikir. Ia berusaha keras untuk memahami cerita si monster orang-orangan sawah.


"Setelah tujuh belas tahun, kekuatan mantranya mulai berkurang," si orang-orangan sawah menegaskan. "Ibumu kembali untuk memperbarui mantra itu. Dia ingin aku tetap jadi orang-orangan sawah. Dia ingin aku selama-lamanya menjadi tawanan di atas sini. Dia ingin memastikan tak seorang pun mengetahui nasib yang menimpaku. Dia tidak rela aku merebut dirimu dari sisinya!"


"Mama bukan tukang sihir!" Jingga memprotes. "Seumur hidup aku tinggal sama Mama. Aku gak pernah liat Mama mempraktekkan hal-hal berbau sihir. Mama gak pernah..."


"TUNGGU DULU!" si orang -orangan sawah berseru lantang. Ia mengangkat tangan agar Jingga diam. "Waktu kita gak banyak. Aku memang ayahmu, Jingga. Ayah kandungmu. Kau harus percaya padaku."


"Tapi—" Jingga tergagap. Mana mungkin ayahku Jurig Bebegig, pikirnya. Jingga tak tahu harus berkata apa. Gadis itu tak bisa berpikir dengan jernih. Semuanya terlalu… freak.


"Kau bisa membebaskanku," si orang-orangan sawah itu berkata dengan nada memohon. "Asal kau tidak buang-buang waktu. Tidak lama lagi ibumu akan memperbarui mantranya. Kalau kau tidak menyelamatkanku, aku harus jadi orang-orangan sawah selama tujuh belas tahun lagi."


"Tapi… kenapa Mama harus mengutuk suaminya sendiri?" Jingga masih sangsi.


"Kami sudah berpisah," kata si orang-orangan sawah. "Seperti kubilang tadi, dia tak rela aku merebut dirimu dari sisinya!"

__ADS_1


"Terus sekarang aku harus gimana?" seru Jingga setengah menjerit. "Aku bukan tukang sihir. Aku gak punya kekuatan gaib. Apanya yang bisa menyelamatkan?"


"Kau bisa membantuku," orang-orangan sawah raksasa itu bersikeras. "Tapi aku tidak bisa memberitahumu bagaimana caranya." Ia mendesah dengan pahit. "Kalau aku memberitahukan caranya, mantranya justru akan semakin kuat," ia melanjutkan. "Kau harus memikirkannya sendiri."


"Hah? Tapi mana mungkin?" Jingga mengerang.


"Aku bisa memberimu petunjuk," sahut si orang-orangan sawah. "Aku memang tidak bisa memberitahumu caranya. Tapi aku bisa memberi petunjuk."


"Oke," ujar Jingga pelan. Ia semakin erat memeluk dirinya sendiri.


Dan kemudian, dengan suaranya yang berat dan menggemuruh, si orang-orangan sawah mengucapkan sajak yang sangat dikenal Jingga!


"Lamun hujan ngagelebug, komo wanci sambekala… Kade Bebegig, Anaking! Kade Bebegig! Bebegig mawa dodoja."


Jingga menatapnya dengan mata terbelalak. " Ka—kamu tahu sajak itu!" pekiknya tergagap-gagap.


"Tentu saja aku tahu!" sergah si orang-orangan sawah. "Sudah kubilang aku ayahmu!"


"Tapi—" Jingga kembali tergagap.


"Itulah petunjuk yang kumaksud!" tandas si orang-orangan sawah.


Jingga masih bergeming.


"Hanya itu satu-satunya petunjuk yang bisa kuberikan. Sekarang kau harus memikirkan cara untuk menyelamatkanku."


Jingga sudah tahu bagaimana caranya. Ia langsung tahu begitu ia mendengar sajak lama itu.


Bait kedua.


Penangkal mantra itu pasti ada di bait kedua. Bait yang tidak bisa diingatnya sampai sekarang.


"Tolonglah aku, Jingga." Si orang-orangan sawah menatap Jingga dengan pandangan memohon. "Tolonglah aku. Aku ayahmu, Jingga. Aku ayahmu."


Jingga membalas tatapan si orang-orangan sawah sambil berpikir keras. Sambil berusaha mengambil keputusan.


Haruskah aku percaya padanya?


Haruskah aku menolongnya?

__ADS_1


__ADS_2