
Jingga melirik pintu perpustakaan itu ketika ia melewatinya.
Tertutup.
Ia membuka pintu itu dan melongok ke dalam perpustakaan berpanel hitam dengan rak buku memenuhi lantai sampai langit-langit di keempat dindingnya. Perabot lain yang mengisi ruangan itu hanya berupa satu meja mahoni tua dan satu kursi kulit berwarna gelap.
Tidak ada siapa-siapa---tentu saja.
Tiba-tiba bulu kuduknya meremang. Rasanya seram, kata Jingga dalam hati sembari memegangi tengkuknya.
Jingga baru sekali dua kali masuk ke ruangan ini untuk mengambil buku yang akan dibacakannya untuk Bu Lastmi. Ia belum pernah sempat menjelajahinya.
Beberapa buku kelihatan sudah sangat kuno, matanya menelusuri rak-rak itu. Ia mulai memeriksa judulnya. Di satu dinding terdapat rak berisi novel-novel klasik, satu set karya Shakespeare, koleksi sandiwara Yunani.
Aku ingin tahu apakah dia membaca semua ini? pikirnya.
Ia memaksakan diri untuk berbalik lagi ke arah buku-buku itu. Melihat-lihat judulnya. Semuanya tentang ilmu sihir.
Jingga membaca beberapa judul keras-keras. Lalu ia menarik keluar buku yang tampaknya kuno sekali. Sampulnya yang tebal telah robek dan pudar. Dibukanya buku itu. Halamannya yang kuning berkerut-kerut. Judulnya Pemujaan Sejati. Pada halaman pertama terdapat foto patung berbentuk setan yang tersenyum, dipahat dengan cermat.
Berapa umur buku ini? tanya Jingga dalam hati. Tidak ada tanggalnya. Tapi kelihatannya benar-benar tua.
Buku itu berisi kumpulan mantra dan resep aneh.
Jingga mengembalikan buku itu ke rak.
Seluruh dinding ini berisi buku tentang ilmu gaib, pikirnya.
Tiba-tiba si kucing mengeong, mengagetkan Jingga. la berbalik dan melihat kucing itu sedang berdiri di pintu masuk, memandanginya dengan mata hijau berkilauan.
"Berisik lu, Cakra," tegur Jingga. "Gue kan cuma liat-liat."
Ia kembali meneliti rak yang lebih rendah, matanya menangkap sebuah judul. Psikologi Berjalan dalam Tidur. Ia berlutut supaya dapat mengamati rak itu dengan lebih teliti. Orang yang Berjalan dalam Tidur. Kasus Berjalan dalam tidur.
Ini buku-buku tentang berjalan dalam tidur, pikir Jingga. Ternyata dia punya serak penuh buku tentang berjalan dalam tidur.
Aku mulai menduga kecurigaanku benar, Bu Lastmi pasti penyihir.
Ia melihat salah satu buku tentang berjalan dalam tidur yang kuning, Buku Harian Orang yang Berjalan dalam Tidur. Ia melihat cara menaruhnya. Menonjol keluar.
Buku itu kelihatan baru saja dipakai akhir-akhir ini, Jingga menyimpulkan.
Jingga menarik keluar buku itu dan meletakkannya di meja. Mungkin aku akan meminjam yang ini dan membacanya, katanya dalam hati. Mungkin aku akan meminjam beberapa dan memperlihatkannya pada Yasa.
Ia hampir sampai di pintu ketika ia menemukan sebuah buku yang sampulnya tampak tak asing di atas meja di tengah ruangan.
Oh, tidak! jeritnya dalam hati, sambil melotot ke arah buku itu. Aku tak percaya ini!
__ADS_1
Kucing itu mengeong dengan marah dan meloncat ke atas meja. Jingga tidak menghiraukannya. Ia meraih bingkai ganda itu dan mengangkatnya hingga ia dapat melihatnya dengan jelas.
Itu buku puisinya!
Buku puisi peninggalan neneknya.
Kenapa buku ini bisa ada di meja Bu Lastmi? tanya Jingga dalam hati, sambil terpana memandangi jilid buku itu seakan ia bisa mendapat jawaban dari sana.
Kucing itu akan mengayunkan cakar ke lengan Jingga, namun terluput.
"Cakra, lu kenapa sih?" tanya Jingga setengah menghardik. "Lu gak mau gue ngambil buku ini? Lu minta diperatiin, gitu?"
Kucing itu menatapnya dengan pandangan kosong. Jingga mengembalikan buku tentang berjalan dalam tidur ke tempatnya semula. Sebagai gantinya ia membawa buku puisi tadi.
Aku akan meminjam yang ini saja, pikirnya.
Jingga nyaris tersandung kucing ketika ia bergegas keluar dari perpustakaan.
Jingga berlari menuju kamarnya, Cakra mengikuti di belakangnya sambil mengeong-ngeong keras seolah memprotes.
"Cakra... awas. Gue gak mau kesandung lagi."
Kemudian ia berlari sepanjang koridor, dan masuk ke kamar tidurnya. Tak lama kemudian ia menghambur keluar membawa ransel.
Setelah ia memastikan semua pintu dan jendela telah terkunci, ia menyelinap keluar cepat-cepat sebelum Cakra mengikutinya. Lalu menutup pintu dan menguncinya.
Ketika ia berbalik…
Ia menabrak seseorang.
Jingga tersentak dan mendongak untuk melihat wajah orang yang ditabraknya.
Tapi wajahnya tersamarkan oleh bias cahaya karena sosok itu berdiri membelakangi sinar matahari sore.
Matahari berwarna kuning tua, tampak rendah di langit. Udara sore terasa dingin dan kering.
Jingga melangkah mundur dengan sikap waspada, tapi kedua bahunya dicengkeram sepasang tangan orang yang ditabraknya.
Jingga hampir menjerit ketika orang itu semakin mendekat.
"Jingga, kamu gak apa-apa?"
Suara itu terdengar tak asing.
Jingga mengerjap dan memicingkan matanya untuk mempertajam penglihatannya.
"Yasa?" Jingga terkejut. "Kamu—"
__ADS_1
"Kamu baik-baik aja, kan?" potong Yasa.
"Ini beneran kamu, Sa?" tanya Jingga tak yakin.
"Aku nyariin kamu dari semalem," cerita Yasa seraya tersenyum sedih. Wajahnya terlihat jelas sekarang.
"Kamu tau dari mana tempat tinggal aku?" Jingga mengerutkan keningnya, melontarkan tatapan ngeri pada Yasa.
Yasa kembali tersenyum sedih, lalu tertunduk seraya menurunkan ritsleting jaket Jingga yang dikenakannya, kemudian melepas jaket itu dan memberikannya pada Jingga. "Dari ini," katanya.
Jingga mengerutkan keningnya semakin dalam. Tak mengerti arah pembicaraan Yasa.
"Jaket ini yang ngasih tau," tutur Yasa tanpa berani menatap Jingga. Ia tak yakin Jingga akan percaya.
Tapi pertanyaan Jingga berikutnya membuat Yasa akhirnya menatap ke dalam mata Jingga.
"Kamu ke sini cuma ngikutin petunjuk visi?" Jingga bertanya dengan ekspresi takjub.
"Ya," jawab Yasa sambil tersenyum.
"Ya, ampun! Yasa, kamu luar biasa!" pekik Jingga gembira. Tanpa sadar langsung menubruk Yasa dan memeluknya.
Yasa langsung tergagap. Jantungnya berdebar-debar. Sebuah visi kembali berkelebat.
Yasa menarik Jingga mendekat dengan sangat lembut, memutar tubuhnya dan mendekatkan wajah gadis itu pada wajahnya sendiri, lalu menunduk padanya.
Bibirnya. Bibirnya gelap, sangat gelap. Menekan bibir Jingga dengan lembut.
Mula-mula lembut. Dan lalu semakin kuat.
Sial! batin Yasa seraya menarik tubuhnya menjauh dari dekapan Jingga hingga membuat gadis itu tersentak dan tersipu malu.
"Maaf," kata Jingga merasa rendah diri.
"Maaf," kata Yasa nyaris bersamaan.
Lalu keduanya terdiam seraya tertunduk.
"Aku—" Yasa mengerjap dan kembali tergagap. Tak tahu harus mengatakan apa.
Kamu udah punya pacar! Jingga menyimpulkan.
Tiba-tiba saja Yasa kembali mendekat dan menyambarnya, menarik Jingga ke dalam dekapannya. Lalu membungkuk menyusupkan wajahnya di bahu Jingga.
Jingga spontan membeku.
"Maaf, Jingga. Aku bener-bener bingung," Yasa berbisik lirih.
__ADS_1
Jingga menelan ludah dan membalas pelukan cowok itu dengan ragu. Tapi akhirnya menyerah pada getaran dalam dirinya. Perasaan nyaman terpancar dari dekapan hangat Yasa. Membuat Jingga tak rela melepaskannya.
Aku tahu ini tak benar, pikirnya. Aku sekarang dengan Magenta. Yasa mungkin tak enak karena hal itu. Kenapa aku begitu gegabah menyimpulkan sikap Yasa?