Bebegig

Bebegig
Chapter 65


__ADS_3

Kedua resepsionis rumah sakit itu, yang duduk di dalam lingkaran meja di tengah tengah lobi, lebih tertarik untuk ngobrol sendiri daripada melayani orang-orang yang datang menanyakan arah serta informasi. "Saya gak tau, Nenty. Beneran, saya gak tahu," ucap wanita yang lebih kecil berulang-ulang kepada yang lebih besar, yang berulang kali menggeleng.


Jingga, mengenakan celana pendek dan T shirt kuning berlengan panjang, menunggu dengan sabar, bersandar ke meja resepsionis. Setelah beberapa saat ia merasa harus menyela jika tak ingin terlambat sampai di ruangan Violet. "Boleh saya tahu di mana ruangan ICU?"


"Lantai empat," sahut resepsionis yang bernama Nenty tadi, hanya memandangnya sekilas.


"Pakai lift sebelah kiri," tambah temannya, yang ternyata punya perhatian juga.


Jingga mengucapkan terima kasih dan melangkah ke lift sebelah kiri. Meskipun belum pukul sembilan pagi, orang-orang sudah berkerumun menunggu di depan pintu lift.


"Oh. Maaf!" Jingga menabrak seorang wanita yang kakinya digips.


"Hati-hati." Wanita itu memelototi Jingga dan menjauh, bersandar pada kruk logamnya.


Aku begitu gelisah, sampai tak memperhatikan apa-apa lagi, pikir Jingga. Aku tak ingin berada di sini. Kenapa di sini panas sekali? Disibakkannya rambut ke belakang bahu. Seandainya saja ia membawa jepit rambut.


Akhirnya pintu lift membuka dan semua orang berdesakan masuk, kelihatan sama sekali tidak nyaman.


Di lantai dua masuk lagi dua dokter yang memakai seragam bedah lengkap dengan topinya, mereka sedang membicarakan pasien dengan suara rendah.


Ketika lift mencapai lantai empat, Jingga mendesak dari belakang. "Mau keluar!" teriaknya. Tapi kelihatannya tak seorang pun mendengar. "Tolong... saya mau keluar." Pintu mulai menutup ketika ia mendorong orang-orang di kiri-kanannya dan mendekati pintu lift. Ia nekat meloncat dan akhirnya berhasil keluar tepat saat pintu menutup.


Sekarang aku di mana? tanyanya pada diri sendiri. Ia menyusuri dinding berwarna hijau pucat sampai menemukan papan bertulisan ICU. Ada anak panah di samping tulisan itu, menunjuk ke arah kanan, jadi Jingga berjalan ke kanan, melewati dua pintu ayun, dan masih terus berjalan.


Kamar-kamar pasien berderet di sepanjang kedua sisi lorong sempit itu. Lewat pintu-pintu yang setengah menutup Jingga dapat melihat para pasien berbaring di ranjang mereka. Beberapa sedang tidur. Beberapa memandang pesawat TV yang tampaknya di gantung di langit-langit. Lalu terdengar gema pertandingan olahraga. Mungkin aku salah belok, pikir Jingga.


"Bisa saya bantu?" Seorang mantri bertubuh besar yang sedang membawa setumpuk nampan muncul di depannya.


"Oh. Ya. Saya lagi nyari ruangan ICU."


"Putar balik lagi, lewatin pintu-pintu itu, nanti belok ke kanan."


"Oke. Terima kasih banyak." Ia berbalik dengan tak yakin dan mencoba mengikuti petunjuk mantri itu.


Setelah melewati pintu-pintu itu ia membelok ke kanan dan melewati lorong yang sejenis, hanya kali ini berdinding biru pucat. "Aku harus keluar dari sini," kata Jingga keras-keras.

__ADS_1


la berbalik lagi dan dengan cepat melewati sederetan pintu ayun yang lainnya. Ada lagi papan bertulisan ICU. Sebuah anak panah menunjuk lurus ke depan. Seorang perawat yang mendorong sekereta nampan sarapan tersenyum tenang padanya ketika berpapasan.


Merasa jadi sedikit berani, Jingga melanjutkan berjalan, membaca papan-papan nama di samping setiap pintu. Ia sampai di ruang jaga tempat seorang perawat yang tampaknya kecapekan terkulai di balik meja, matanya terpejam.


Ketika baru akan menanyakan letak ruangan ICU, Jingga terhenti—dan tersentak.


Cowok di sana itu…


Si Gondrong.


la mengenali rambut ikalnya yang diikat kencang ke belakang membentuk sanggul. Jaket parkanya. Celana gunung. Badannya yang tinggi besar.


Cowok itu mula-mula tidak melihat Jingga. la sedang duduk di sofa di dekat ruangan perawat, matanya sedang memandangi papan penunjuk yang bertulisan PSIKIATRI.


Namun kemudian ia menengok dan melihat Jingga, dan pandangan mereka bertemu.


Jingga langsung mengalihkan pandangannya ke bawah, lalu melihat gelang nama di lengan orang itu.


Oh, tidak! Ia segera menyadari mengapa cowok itu ada di situ. Dia pasien sakit jiwa!


Jingga memutar badannya, mencari jalan untuk lari.


Muka cowok itu memerah. Ekspresinya berubah dari terkejut menjadi marah. "Hei... berhenti!" Teriakannya membangunkan perawat itu, yang langsung melonjak dari kursinya.


Antara Jingga dan cowok itu ada meja perawat itu. Jingga cepat-cepat melangkah menjauh.


"Hei... berhenti!" cowok itu mengejar Jingga, mukanya merah padam, matanya melotot marah.


Jingga mulai berlari. Hampir saja ia menabrak kereta yang penuh dengan nampan-nampan makan siang.


"Hei... kalau jalan lihat-lihat!" seru seorang mantri memperingatkan.


Jingga menoleh ke belakang.


Cowok itu sedang mendekatinya, melangkah terseok-seok dan melambai-lambaikan tangan ke arah Jingga dengan kacau. "Berhenti kamu! Tahan cewek itu!" teriak cowok itu.

__ADS_1


Jingga berbelok di sudut, mencari-cari tempat persembunyian. la menyelinap ke dalam sebuah kamar.


"Halo? Bisa saya bantu?" Seorang wanita muda cepat-cepat bangun, duduk di tempat tidurnya di dekat jendela.


"Oh. Maaf. Saya salah masuk kamar," kata Jingga. la menyelinap keluar kembali ke koridor.


"Nah, sekarang!" cowok itu bersorak, muncul dari belokan. "Berhenti. Kamu gak bisa ke mana-mana sekarang."


"Kamu mau apa? Pergi!" jerit Jingga.


Cowok itu menyerbu ke depan dengan canggung, berusaha mati-matian menangkap Jingga. Tiba-tiba muncul dua perawat di kiri-kanan cowok itu, menyergapnya, menahan tubuhnya. "Tolol! Lepasin gue!" serunya.


Lalu Jingga melihat papan penunjuk di dekat sebuah pintu yang terbuka: DR. DRADJAT. Seorang laki-laki muda berambut keriting yang dipangkas rapi berdiri di depan pintu. la mengenakan setelan berwarna putih dan sedang membolak-balik kertas pada clipboard.


Mendengar cowok itu ribut memberontak dari pegangan para perawat tadi, Jingga melesat ke belakang orang itu dan menyerbu masuk ke dalam ruangan kantor yang kosong. Ia akan menutup pintu di belakangnya, tapi orang itu menahan daun pintu dengan clipboard-nya. "Maaf, Nona," ia berkata, tampak terkejut sekali. "Anda sedang apa?"


"Saya... uh… Ada orang ngejar saya," Jingga tergagap-gagap. "Salah satu pasien sakit jiwa."


"Pasien sakit jiwa?" Dr. Dradjat melangkah keluar ke koridor dan menengok ke kiri-kanan.


"Dia tinggi besar dan gondrong."


"Gondrong?" tanya Dr. Dradjat dari koridor. "Nenda? Kamu lihat orang tinggi besar berambut gondrong di luar sini?"


Seorang perawat berbadan tinggi kurus, berambut hitam lurus, serta berkacamata dengan gagang tanduk hitam, muncul di koridor di samping Dr. Dradjat. Ia bukan perawat yang telah menolong Jingga membebaskan diri dari sergapan cowok gondrong itu.


"Nggak ada, saya gak liat siapa-siapa," sahut perawat itu. "Apa dia pasien Anda?"


"Bukan. Bukan. Terima kasih," Dr. Dradjat menjawab sambil menggaruk dagu. Ia kembali masuk ke kantornya, lalu memandang Jingga dengan sorot tidak percaya.


"Dia beneran ada di sana," kata Jingga. "Dia udah pernah ngejar saya sebelumnya."


"Si gondrong itu?"


"Ya. Dia pernah buntutin saya. Dan sekarang saya baru tahu dia pasien sakit jiwa di sini dan..."

__ADS_1


Dr. Dradjat mengangkat kedua tangannya. "Tenang. Biar saya perjelas dulu. Kamu bilang orang itu buntutin kamu di luar sana padahal dia pasien di rumah sakit ini?"


__ADS_2