Bebegig

Bebegig
Chapter 85


__ADS_3

Apakah Yasa siap menjadi seorang suami?


Tidak!


Yasa tak siap.


Tapi nasi sudah menjadi bubur. Empu Brajasena melihat putri semata wayangnya telah kehilangan kesuciannya.


Bukan setelah Yasa bermalam di rumah Bu Lastmi. Tapi sejak dua tahun lalu.


Di pulau terpencil itu…


Yasa menyergap musuhnya yang lemah, mendorong Jingga keras-keras ke tempat tidurnya, memegangi dagu gadis itu dengan satu tangan, mengoyak pakaian Jingga dengan tangan lainnya, menahan tubuh gadis itu dengan tubuhnya.


Jingga menjerit saat Yasa menyelipkan tangan ke dalam celananya, mencoba mengoyak mahkota kehormatan Jingga dengan jarinya, sementara mulutnya memagut leher gadis itu.


Malam itu…


Yasa berhasil!


Yah, memang bukan dia yang melakukannya.


Tapi Yasa tak ingin mengatakan yang sebenarnya pada Nada.


Secara spiritual, dia memang tidak bersalah. Tapi secara fisik… seutuhnya adalah dirinya.


Lagi pula Nada tak tahu apa-apa soal Jurig Bebegig.


Bisa saja Yasa mengelak dari tanggung jawab!


Empu Brajasena juga tidak menyalahkannya.


Empu Brajasena menawarkan pilihan bijak atas pertimbangan spiritual.


Tapi sisi nakal Yasa melihat ini sebagai peluang. Kapan lagi dia bisa merebut Jingga dari Magenta?


Jingga takkan pernah jadi miliknya sampai ia putus dengan Magenta.


Tapi tentu saja kemungkinan mereka putus begitu tipis.


Jingga sangat menjaga perasaan Magenta meski hati dan dirinya telah menyerah sepenuhnya pada Yasa. Meski pada akhirnya gadis itu mungkin akan tetap patah hati mengingat kesuciannya telah terenggut.


Magenta takkan menyukainya!


Lagi pula… ada hal lain…


Yasa tak ingin menunggu sampai Jingga ditendang secara tidak terhormat dan dicampakkan.


Sebelum hal itu terjadi…


Sebelum gadis yang dicintainya patah hati…


Yasa memutuskan untuk merebut Jingga.


.


.


.

__ADS_1


"Tapi Jingga sama Magenta," desis Ragnala dalam gumaman lirih.


"Emang kamu mau punya menantu Magenta?" seloroh Empu Brajasena dengan ekspresi mencemooh.


"Kalau jodoh apa boleh buat," tukas Ragnala terdengar enggan.


Empu Brajasena terkekeh masam, "Mama jujur, ya. Mama sebenernya gak suka kan sama Magenta?"


Ragnala mengerjap gelisah dan menatap ragu ke arah Jingga. Khawatir jawabannya akan melukai putrinya.


Tapi senyuman penuh pemahaman Jingga akhirnya menenangkannya.


"Sebenernya bukan gak suka," kata Ragnala. "Mama cuma gak yakin sama kepribadiannya."


"Maksud Mama rumah pribadi, mobil pribadi?" kelakar Empu Brajasena tanpa selera humor. Cenderung terdengar sinis.


"Pa!" Ragnala memelototi suaminya. Lalu melirik Jingga sekali lagi.


Gadis itu tertunduk dengan raut wajah terluka. Bagaimanapun ia tak rela orang tuanya mengungkit soal materi. Itu adalah kekurangan Magenta.


Setidaknya untuk saat ini.


Siapa yang tahu rezeki orang?


Bahkan Empu Brajasena!


Meski dianugerahi segudang bakat istimewa, perkara rezeki sudah ada yang mengatur!


"Mama cuma ngerasa gak tenang aja kalo Jingga pergi sama Genta," Ragnala mengaku.


Dalam hatinya, Jingga membenarkan argumen ibunya. Dia sendiri sering merasa tak aman berada di sisi Magenta. Tapi ia masih belum tahu apa sebabnya.


Segala sesuatu dalam diri Magenta terasa seperti todongan senjata, di mana Jingga selalu tak berkutik menghadapinya.


"Mama cuma ngerasa… Magenta gegabah dan kekanak-kanakan!" Ragnala menyimpulkan.


Gegabah?


Kekanak-kanakan?


Istilah itu memang cukup tepat, Jingga mengakui dalam hatinya.


"Tapi biar gimana juga kita gak boleh nyakitin perasaan orang lain," ibu Jingga menambahkan. "Papa harus pertimbangkan dulu hal ini mateng-mateng!"


"Anak kita udah gak perawan!" tukas Empu Brajasena terus terang.


Ragnala dan Jingga tersentak bersamaan.


Apa katanya? pekik Jingga dalam hati.


Cangkir di tangan Ragnala terlepas dan pecah di lantai.


Benarkah…


Jingga membeku dengan wajah pucat. Lututnya seketika goyah, telapak tangan dan kakinya mendadak terasa dingin. Sebutir keringat dingin menggelinding di pelipisnya. Tubuhnya bergetar hebat. Mata dan mulutnya membulat antara tak yakin dengan apa yang didengarnya, dan tak yakin dengan kebenarannya.


Satu kata yang mondar-mandir dalam kepalanya hanyalah: Benarkah? Benarkah? Benarkah?


.

__ADS_1


.


.


Yasa baru saja akan menyendok nasi ketika sekonyong-konyong bel pintu depan berbunyi. Ia melirik jam tangannya.


Nada menatap curiga dari seberang meja.


Yasa menaruh kembali piringnya dan beranjak dari tempat duduknya, lalu bergegas melewati koridor depan dan membuka pintu. "Genta!"


Magenta menyelipkan kedua tangannya di saku jaketnya, menatap dingin dengan mulut terkatup.


Yasa membuka pintu kasa dan mempersilahkan cowok itu masuk.


"Gue gak lama," tukas Magenta sedikit ketus. "Gue ke sini cuma pengen kasih peringatan sama lu. Jingga itu bokin gue. Jadi, tolong jangan seenaknya anter-jemput dia tanpa sepengetahuan gue. Gue tau lu murid kesayangan Empu Brajasena—"


"Lebih tepatnya gue satu-satunya murid Empu!" ralat Yasa.


"Gue tau lu punya mobil keren!" Magenta tak menggubrisnya. "Gue tau duit lu gak bakal abis sampe tujuh turunan. Di dalam segala hal, lu udah menang banyak, Yasa! Kenapa lu gak mau ngalah soal Jingga?"


"Jadi, apa tepatnya yang lagi lu bahas?" sanggah Yasa, dengan tenang ia melipat kedua tangannya di depan dada dan memandang Magenta dengan ekspresi datar.


"Gak usah belaga pilon!" teriak Magenta mulai terpancing emosi. "Lu tau maksud gue!"


"Nggak! Gue gak ngerti," sergah Yasa tetap tenang.


"Gue gak suka lu anter-jemput Jingga," geram Magenta seraya mencengkeram kerah kemeja Yasa.


"Gue gak pernah anter-jemput Jingga," jawab Yasa tidak terlihat gentar meski Magenta nyaris mencekiknya. "Baru hari ini aja gue jemput dia."


"Jangan bohong lu!" gertak Magenta.


Yasa tersenyum dan merogoh sakunya, kemudian mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan kontak Jingga, "Gue punya kontaknya," katanya mengandung retorika. "Kalo dia gak nangis-nangis…"


"Apa lu bilang—nangis?" Magenta mengetatkan cengkeramannya.


"Ya," jawab Yasa tanpa beban. "Dia udah tau rahasia lu," katanya dipenuhi modus terselubung.


Cengkeraman tangan Magenta spontan melonggar, raut wajahnya berubah syok.


"Dia liat elu," bisik Yasa.


Magenta menelan ludah dan tergagap.


"Pikir lu kenapa dia tadi gak mau disentuh sama lu?" Yasa memprovokasi. "Dia tau rahasia lu," bisiknya lagi sambil tersenyum samar. Diam-diam ia melirik luka lebam di sudut bibir Magenta. Sial! pikirnya. Kenapa lebam itu membuatku tak nyaman?


Magenta tersentak selangkah ke belakang, wajahnya tampak sedikit linglung. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.


Yasa membungkuk mencondongkan tubuhnya ke arah Magenta dan berbisik sekali lagi, "Lu mau tau, dia ketemu siapa sebelum pulang?"


Magenta tidak menjawab, ia mengerjap menatap Yasa, seakan baru melihat cowok itu ada di situ.


"Cowok yang gebukin lu!" tandas Yasa.


Magenta menelan ludah dan melompat mundur, menjauhi Yasa dengan raut wajah gusar, lalu berbalik dan berlari ke arah mobil pickup yang terparkir di pekarangan, menyelinap ke belakang kemudi dengan buru-buru dan membanting pintu tanpa menoleh lagi.


Tak lama kemudian, mobil itu menderum dan menggelinding meninggalkan rumah Yasa.


Yasa menatap nanar kepergiannya.

__ADS_1


Sori, Gen! katanya dalam hati. Aku terpaksa berbohong karena kau juga pembohong.


Anggap saja itu pembalasan dari Jingga!


__ADS_2