Bebegig

Bebegig
Chapter 55


__ADS_3

"Papa kamu pernah bilang, ada banyak jenis sihir. Salah satunya jenis tenung tadi," jelasnya hati-hati. "Tapi yang jadi pertanyaan, kenapa? Maksud aku apa alasan orang melakukan itu sama kamu?"


"Aku juga gak tau. Niatnya aku mau cerita sama Papa," kata Jingga setelah ia selesai bercerita. "Tapi Papa gak ada di rumah."


"Ya," sahut Yasa. "Empu Brajasena lagi ngelakon."


"Ngelakon itu apa?" tanya Jingga.


"Ngelakon itu berakting," jawab Yasa berkelakar.


Jingga terkekeh menanggapinya. Tapi lalu ia menyimpulkan bahwa 'ngelakon' itu berkaitan dengan perjalanan spiritual.


Butir air hujan mulai turun.


Yasa menawarkan pada Jingga untuk berteduh di rumahnya. "Tapi maaf," katanya. "Di dalem gak ada siapa-siapa. Gak apa-apa, kan?"


Jingga tersenyum dan mengangkat bahu. "Yang penting kan kita gak ngapa-ngapain," katanya bercanda.


Yasa hanya tersenyum tipis. Lalu mempersilahkan gadis itu masuk.


Jingga melangkah ke dalam melewati pintu dan berhenti, memandang berkeliling dengan tatapan takjub.


Rumah itu tidak terlihat seperti milik keluarga petani.


Semuanya berbahan kayu yang dipelitur, lantai papannya berwarna cokelat gelap mengkilap dengan karpet beludru berwarna krem di tengah ruang tamu. Kertas dindingnya hitam pekat bercorak aesthetic, sofa hitam berbantal putih dengan bingkai kayu berwarna krem, serasi dengan bingkai jendela yang juga berwarna krem.


Mereka berjalan bersisian menyusuri koridor menuju ruang makan, sesekali bahu mereka bergesekan tanpa sengaja, mengingatkan Jingga pada malam pertama bertemu Yasa.


Apa yang kupikirkan? Jingga menegur dirinya.


Pria yang ditemuinya malam itu bukan Yasa.


Kenapa aku tidak bisa melupakan pria itu? pikirnya sedih.


Apa aku tertarik pada Yasa?


Atau Jurig Bebegig?


Aku pasti sudah gila!


"Mau teh… atau cokelat panas?" Yasa menawarkan setelah mereka sampai di dapur yang menjadi satu dengan ruang makan. Cowok itu menjerang air untuk membuat minuman panas.


"Cokelat," jawab Jingga seraya menoleh pada Yasa dan tersenyum. Ia melepas jaketnya dan menyampirkannya pada sandaran salah satu bangku kayu di depan meja makan yang lagi-lagi bernilai aesthetic, kemudian duduk di bangku itu.


Ia menebak salah satu dari orang tua Yasa tidak berasal dari kampung ini, mungkin berasal dari kota besar atau bahkan dari luar negeri. Seleranya berbau Eropa klasik.


Keluarga ini jelas tak sederhana, pikirnya.


Tidak seperti orang desa.


"Papa kamu pernah ngajarin cara nerawang," cerita Yasa dengan nada santai dan tenang. "Tapi kalo aku praktekin ke kamu sekarang, nanti dikira modus," lanjutnya seraya tersenyum dan meletakkan dua cangkir minuman panas di meja.

__ADS_1


Jingga mengambil cangkir yang disodorkan ke arahnya. "Makasih," katanya. "Emang cara nerawangnya agak gombal?" tanyanya sembari tertawa.


Yasa menarik salah satu kursi dan duduk di samping Jingga. "Sedikit," katanya seraya menoleh pada Jingga dan tersenyum tipis.


"Gombalnya?" Jingga makin penasaran.


"Kita harus pegangan tangan," jawab Yasa seraya berpaling pada cangkirnya dan menyesap minumannya sedikit.


"Yaelah gitu doang?" tukas Jingga.


"Mau coba?" Yasa menawarkan seraya mengulurkan telapak tangannya.


"Hmmm…" Jingga pura-pura mempertimbangkan. Tapi lalu menangkupkan telapak tangannya di atas telapak tangan Yasa, sambil saling menempelkan jari.


Jemari Yasa beberapa senti lebih panjang, dan Jingga terkejut telapak tangan itu begitu lembut, kukunya panjang dan putih bersih, tidak seperti anak-anak petani pada umumnya.


"Taroan, kamu pasti gak pernah megang cangkul!" komentar Jingga untuk menutupi perasaan gugupnya. Jantungnya berdebar-debar ketika tangan mereka bersentuhan.


Yasa hanya tersenyum tipis seperti biasa, tidak menjawab pertanyaan Jingga. "Bisa dimulai?" Ia balas bertanya.


"Oke," tanggap Jingga cepat-cepat.


"Tutup mata kamu," perintah Yasa.


Jingga berdeham dan menutup matanya, sedikit salah tingkah karena debaran jantungnya.


Yasa mengamati wajah gadis itu beberapa saat, kemudian tersenyum simpul. Cantik sekali, pikirnya. Ia menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, lalu menutup matanya.


Bibirnya. Bibirnya yang gelap, sangat gelap. Menekan bibir Jingga dengan lembut.


Mula-mula Yasa mencium bibir Jingga, menatap mata gadis itu dengan penuh gairah. Lalu mulai terengah-engah saat mulutnya mendarat ke leher gadis itu.


Mula-mula lembut. Dan lalu semakin kuat.


Mencium bibirnya.


Pipinya.


Lehernya.


Mencium lehernya sementara awan merendah dan kabut berputar-putar. Mencium lehernya sementara tanah di bawahnya miring.


Yasa memegangi kepalanya dan mencium lehernya dengan kuat, makin kuat.


Panas dan lapar.


la memejamkan mata dengan perasaan melayang dan akan merayap makin turun…


Yasa tersentak dan menepiskan tangan Jingga sambil melompat berdiri dan terhuyung.


Jingga ikut tersentak, membuka mata dan terperangah mendapati Yasa yang terengah-engah.

__ADS_1


"Sa—Kenapa?" tanya Jingga cemas.


Yasa menelan ludah dengan susah payah, "Ng---nggak! Gak apa-apa!" jawabnya tergagap-gagap. Ia menopangkan sebelah tangannya pada tepi meja, seraya membungkuk, mengusap-usap dadanya, berusaha memulihkan napas dan meredakan debaran jantungnya yang meletup-letup.


Apa yang kupikirkan? Yasa merutuk dalam hatinya.


Kenapa aku malah berkhayal?


Dan… kenapa khayalan itu begitu spesifik?


"So—sori!" kata Yasa, masih sedikit tergagap. Ia mengusap wajahnya dan mendesah kasar. Lalu melayangkan pandang ke luar jendela. "Hujannya udah reda," katanya cepat-cepat. "Aku anter pulang, ya?"


Jingga mengerutkan keningnya, merasa sedikit kecewa. "Sa—"


Yasa memutar tubuhnya membelakangi Jingga, ia bergegas ke koridor dan menghilang beberapa saat, lalu kembali seraya mengenakan jaket.


Jingga masih mematung dengan alis bertautan. "Sa, sebenernya ada apa?" tanya Jingga.


"Gak ada apa-apa," jawab Yasa cepat-cepat. Ia meneguk minuman di cangkirnya sampai habis, kemudian menutup ritsleting jaketnya. "Abisin dulu cokelatnya!"


"Kamu ngusir aku, Sa?" Jingga bertanya sembari cemberut.


"Ah—sori," Yasa berusaha memaksakan senyum. "Aku cuma takut kamu pulang kemaleman," katanya seraya menunjuk keluar jendela. "Mumpung hujannya reda," ia beralasan. "Kita lanjut ngobrol sambil jalan. Kalo nggak kita ngobrol di rumah kamu. Di sini gak ada orang, takut jadi… fitnah," tuturnya panjang lebar dan sedikit terlalu cepat. Takut terjadi hal-hal yang 'diinginkan', ia menambahkan dalam hati.


Dia gugup! Jingga menyimpulkan.


Ada apa sebenarnya?


Apa yang dia lihat dalam penerawangan spiritualnya?


Apa betul-betul gawat?


Atau… ada sesuatu di rumah ini?


Kenapa dia ngotot supaya aku keluar dari rumahnya?


Seolah takut dipergoki oleh seseorang!


Apa dia sudah punya istri?


Pikiran Jingga semakin melantur.


"Kamu gak mau cerita, Sa?" selidik Jingga sambil menatap mata Yasa yang gelap dan dalam. Jingga kecewa karena Yasa tampak salah tingkah.


Ketika mereka sampai di persimpangan dekat kios martabak langganan Magenta dan teman-temannya, Yasa berusaha mencairkan suasana. "Kita makan dulu, yuk!" ajaknya sambil menarik Jingga ke dalam kios bakmie di samping kios martabak itu.


Jingga bisa merasakan tangan Yasa di punggungnya saat mereka masuk ke dalam kios. Lagi-lagi Jingga teringat pada pertemuan mereka.


"Pesen bakso sama…" Yasa menoleh pada Jingga dengan tatapan bertanya.


"Aku mie ayam aja!" kata Jingga tanpa minat.

__ADS_1


Selesai memesan, ia menuntun Jingga ke tengah ruangan untuk mencari tempat duduk dan memilih meja paling pojok yang hanya memiliki dua bangku.


__ADS_2