
"Kita semua sedih karena... apa yang menimpa Dewa. Tapi kamu jadi bener-bener kacau atau gimana. Kamu bener-bener butuh pertolongan."
"Nggak, aku gak butuh pertolongan," Magenta tetap ngotot, tidak dapat menjaga agar suaranya tidak terdengar frustrasi. "Aku tahu aku gak keliru, Jingga. Kedengerannya emang gila—"
"Ya, itu emang gila," kata Jingga, mengangguk, matanya terpaku pada Magenta seolah mencoba memastikan sudah seberapa gila dirinya.
"Tapi aku tau aku bener, Jingga. Kalau kamu mau dengerin aku sedikit aja," Magenta memohon."
"Sekarang aku gak bisa," katanya pelan. "Aku lagi nyariin sesuatu—"
"Nyariin apa, sih? Mau aku bantu?" tanya Magenta.
Jingga kembali menunduk dan mulai berjalan pelan-pelan, melangkahkan kakinya yang mengenakan sandal di atas pasir, matanya menelusuri tanah. "Anting-anting aku ilang. Semalem aku jalan-jalan sama Yasa, kayaknya kaitannya lepas. Aku lagi nyoba nyusurin jejak kami semalem."
"Jejak semalem?" tanya Magenta terkejut. "Semalem kamu di sini?"
Semalam aku tertidur di semak-semak di sekitar sini dan entah kenapa, pikirnya.
Sekarang aku tahu kenapa aku bisa berada di sini sepanjang malam tanpa sadarkan diri.
Karena Yasa ada di sini.
Yasa dan Jingga.
Berada di sini semalam.
Itulah sebabnya aku tidak ingat apa-apa.
Yasa telah menghapus ingatanku.
Magenta berpindah ke depan. "Aku semalem tidur di sini," katanya seraya menunjuk semak-semak tempat ia tergeletak tadi malam.
Jingga memicingkan matanya, menatap Magenta dan mengikuti arah pandangnya.
"Aku pingsan di sini dan gak inget apa-apa setelah aku bangun," cerita Magenta.
Jingga, mengamati wajahnya, tak sabar menunggu Magenta menyelesaikan perkataannya.
"Aku gak inget ngapain aja di sini sebelum pingsan, dan aku gak tau kenapa aku bisa pingsan. Sekarang aku tau kenapa. Karena Yasa ada di sini."
"Kenapa sih kelakuan kamu makin ke sini jadi makin nyebelin?" Jingga cemberut. "Aku juga gak inget semalem pernah liat kamu."
"Itu karena ingatan kamu dihapus. Yasa punya kekuatan yang bisa menghapus ingatan kita."
Sesaat mereka berpandangan, matahari terbenam, langit semakin gelap menjadi berwarna lembayung.
"Begitu?" tukas Jingga ketus. "Begitu doang teori kamu?"
__ADS_1
"Bukan," desak Magenta, mengikuti di belakang Jingga sementara cewek itu meneruskan pencariannya. "Apa belakangan ini kamu juga sering capek, lemes?"
"Aku gak mau lagi jawab pertanyaan-pertanyaan konyol kamu," sahut Jingga tanpa menoleh.
"Sekarang aku tanya, pernah gak kamu ketemu Yasa siang-siang? Pernah gak dia ngasih tau ngapain aja dia kalo siang? Pernah gak kamu nanya apa dia masih sekolah?"
"Dia temen sekolah kalian, kan?" Jingga balas bertanya.
"Ya. Dia masih sekolah!" sergah Magenta. "Apa kamu gak heran kenapa anak sekolah rambutnya gondrong?"
Itu bisa jadi bukti! pikir Magenta.
Akhirnya ia akan mendapatkan beberapa bukti untuk mendukung dugaannya tentang Yasa.
Jingga berpaling dengan marah, mengepalkan kedua tangannya erat-erat di samping tubuhnya. "Gen, kamu bener-bener udah gak beres."
"Jawab dulu pertanyaan aku, Jingga," desaknya.
"Kamu bodoh dan kekanak-kanakan. Aku mau kamu segera menyingkir."
"Nggak. Aku gak mau. Aku gak mau pergi sampe kamu mau dengerin aku."
"Aku udah dengerin kamu dari tadi!" tukas Jingga. "Pergi! Pergi dari sini, Genta!" ulangnya lebih keras, lalu kehilangan kesabaran dan berteriak, "Pergi! Aku serius! Pergi!"
Magenta tak mau menyerah, diraihnya pundak Jingga.
Jingga mengelak.
"Hei—" seru Magenta terkejut saat Yasa melangkah ke samping Jingga, matanya tertuju pada Magenta.
Yasa memakai jins hitam dan pullover lengan panjang, meskipun malam itu panas. "Ada apa?" ia bertanya pelan pada Jingga, sambil tetap mengawasi Magenta. "Apa ada masalah?"
Magenta membalas tatapan Yasa. Rasa takut mulai memilin perutnya, rasa dingin menyergap sekujur tubuhnya.
"Nggak. Nggak ada apa-apa," sahut Jingga ragu.
Magenta melangkah mundur, menurunkan lengannya. Ia merasakan kekuatan mata Yasa, membakar ke dalam matanya, menembus seperti sinar laser.
"Gak apa-apa," ulang Jingga sementara Yasa terus menantang Magenta dengan matanya, "Kita cuma ngobrol."
Yasa akhirnya mengalihkan tatapannya dari Magenta dan berpaling pada Jingga, senyum menghiasi wajahnya. "Kalian lagi ngobrolin aku, ya? Kuping aku panas."
"Terus terang, ya," sahut Jingga, sambil menggandeng Yasa. Mereka mulai berjalan menjauh, sambil bercakap-cakap dengan santai.
Magenta berdiri bergeming, memandangi mereka pergi, masih merasakan panasnya tatapan Yasa.
Jingga menoleh ke belakang untuk melihat apakah Magenta mengikuti. Yasa tak pernah menoleh.
__ADS_1
Aku tahu aku benar, kata Magenta pada diri sendiri, sambil mengawasi sampai mereka menghilang di tikungan jalan.
Aku akan membuktikannya pada Jingga.
Aku harus menyelamatkan hidupnya.
Dan tiba-tiba, sebuah gagasan melintas di benaknya.
Ia tahu caranya.
.
.
.
"Yuk, naik Twister," ajak Jingga, sambil memandangi mobil-mobil logam yang maju tiba tiba dan berputar-putar. Pekik para penumpangnya menembus kelembutan udara malam.
Yasa menudungi matanya dari sorot lampu warna-warni di sepanjang tepi atas wahana itu. "Nggak ah," ia menolak, sambil menggeleng dan tetap menggandeng Jingga. "Aku suka beberapa wahana, tapi bukan yang bikin pusing kayak gitu."
"Aku juga," Jingga setuju. Ia mengitarkan pandangannya ke seputar lapangan pasar malam itu, ke sorot lampu beraneka warna, dan ke deretan panjang stand permainan yang dinding latarnya ditutupi dengan banyak sekali hadiah berupa boneka binatang.
"Kamu pernah naik Gravitron?" tanya Jingga.
"Apaan, tuh?" tanya Yasa heran, masih sambil menudungi matanya.
"Berarti kamu belum pernah," kata Jingga menggodanya.
Mereka berjalan-jalan, melihat-lihat wahana-wahana itu. Banyak yang sepi dan kosong, menunggu penumpang. Pasar malam itu baru dibuka sejam yang lalu, dan belum banyak orang yang datang.
Embusan angin laut terasa hangat dan lembut. Jingga senang telah memutuskan pergi dengan Yasa. Cowok itu menyenangkan dan ramah meski dengan gayanya yang kuno. Sangat berlawanan dengan Magenta, pikir Jingga kesal.
Kemarahannya telah hilang, tapi ia tak bisa berhenti memikirkan Magenta.
"Kamu suka carousel?" Yasa bertanya ketika mereka berjalan mendekati wahana itu. "Ini membosankan, ya? Coba liat—bagian kepala kudanya udah copot."
"Emang," Jingga setuju. " Carousel terlalu pelan dan kekanakan."
"Malem ini kayaknya kamu lagi nggak mood, ya?" tanya Yasa sembari menatap Jingga.
"Kayaknya," sahut Jingga malu-malu, merasakan daya tarik mata yang gelap itu.
Mereka berjalan di sepanjang deretan kios permainan. Seorang anak kecil sedang berdiri di atas meja salah satu stand, akan melempar ke dinding yang penuh balon. Gadis petugas yang berada di balik meja sedang merunduk menghindar, sekitar tiga meter jaraknya.
Tiba-tiba Jingga meraih tangan Yasa dan menariknya. "Aku tau apa yang asyik."
Yasa balas menarik, ragu-ragu. "Apaan?"
__ADS_1
"Ntar juga kamu tau," sahut Jingga. Ditariknya lengan cowok itu kuat-kuat, dan dengan ragu Yasa membiarkan dirinya diseret melintasi rumput, melewati stand-stand permainan ke bangunan tinggi di belakang lapangan.
"Ayo..." desak Jingga tak sabar. "Kita ke Rumah Kaca!"