Bebegig

Bebegig
Chapter 80


__ADS_3

Yasa membantu Jingga berjalan meninggalkan danau, memasuki hutan, melintasi rerumputan tinggi, pakaiannya yang basah kuyup terasa membebani langkahnya.


Sepatu karetnya tergelincir di rumput, tapi dengan cepat Yasa menahan tubuhnya, mengencangkan pegangannya, menarik Jingga ke arahnya, merapatkan tubuh mereka.


Ketika sampai di rumah Bu Lastmi, Jingga tak ingat lagi perjalanan itu. Rasanya sudah berjam-jam, padahal kurang dari lima menit kemudian, mereka sudah berada di ruang makan. Ia bahkan tak ingat menaiki undakan menuju teras, mengganti pakaiannya, kemudian terpuruk di kursi di ruang makan.


Bu Lastmi membuatkan mereka minuman panas.


Yasa muncul dalam balutan jubah mandi milik mendiang suami Bu Lastmi karena pakaiannya basah kuyup.


Bu Lastmi juga langsung menggiling pakaian mereka dan mengeringkannya dalam mesin pengering, lalu menggantung pakaian mereka di teras belakang supaya cepat kering.


Yasa tak membawa pakaian ganti karena tidak berniat menginap sekian malam.


"Tau gitu, kemaren sekalian beli baju waktu nyari konstan," kata Yasa pada Jingga, yang secara otomatis membuat Bu Lastmi langsung menoleh pada anak laki-laki itu.


"Cari kostan?" tanyanya ingin tahu. "Kamu lagi nyari kostan?"


Yasa dan Jingga langsung terdiam.


Bu Lastmi mengawasi mereka dengan mata terpicing.


Yasa berdeham dan menarik bangku di dekat Jingga, lalu duduk menghadap ke arah Bu Lastmi yang berdiri di depan meja racik sambil bertopang pada tongkatnya. "Tadinya, kita berdua niat nyari kostan baru buat Jingga," tutur Yasa memulai penjelasannya. "Saya…" Yasa menggantung kalimatnya dengan rasa bersalah. "Saya cuma khawatir sama keadaan Jingga kalo ditinggal sendirian di sini. Saya gak tau kapan Ibu pulang, dan… saya juga gak enak kalo harus nginep lagi di sini," Yasa mengangkat bahunya sebagai isyarat ketidakberdayaannya.


"Jadi kamu ada rencana pindah, Ga?" Bu Lastmi berpaling pada Jingga.


"Ya," Jingga mengaku. "Tadinya!" Ia menambahkan sambil tersenyum. "Tapi sekarang kan rumah Ibu udah aman!"


Yasa mengangguk pada Bu Lastmi, "Betul," katanya. "Saya udah ngobrol tadi sama Jingga waktu pulang dari danau. Jingga bakal lanjut tinggal di sini, nemenin Ibu."


"Ah, syukurlah!" seru Bu Lastmi sambil mendekat ke arah Jingga dan mengguncang lembut sebelah bahu gadis itu dengan sebelah tangannya, sebelah tangan lainnya masih memegangi tongkat. "Ibu udah khawatir kamu bakal ninggalin Ibu," katanya sedih.


Jingga tersenyum seraya menepuk-nepuk lembut punggung tangan wanita tua itu. "Sekarang udah aman. Tapi besok pagi, saya harus pulang dulu ke rumah. Masih ada hal lain yang belum Yasa selesaikan. Kami harus konsultasi dulu sama Papa."


Yasa mengangguk lagi sambil tersenyum, membenarkan ucapan Jingga.


"Tapi kamu pulang ke sini lagi kan?" tanya Bu Lastmi dengan tatapan memohon.


"Iya," jawab Jingga meyakinkan wanita tua itu. "Saya pasti balik ke sini. Kalo boleh, taun depan Yasa juga mau gabung di sini."

__ADS_1


"Oh!" Bu Lastmi memekik terkejut, wajahnya berbinar-binar karena gembira. "Kamu juga mau ngekost di rumah Ibu?" tanyanya tak yakin.


Yasa mengangguk lagi, senyumnya bertambah lebar. Bertambah tampan saja, pikir Jingga.


"Syukurlah!" Bu Lastmi tersenyum penuh syukur. "Akhirnya rumah Ibu gak bakal sepi lagi."


Yasa dan Jingga bertukar senyum.


Keesokan harinya, Yasa dan Jingga menyempatkan diri untuk menemui pemilik rumah kontrakan yang telah dipesan itu.


Yasa mengembalikan kunci dan mengatakan pada si pemilik rumah untuk tidak mengosongkan tempat itu dengan cara paksa. Yasa juga tidak menuntut uangnya dikembalikan. Hanya mengembalikan kunci cadangan dan memastikan supaya si pemilik rumah tidak menyingkirkan barang-barang milik penyewa sebelumnya meski mereka tidak mengambilnya tepat waktu.


"Anggap aja uang ini uang sewa mereka," kata Yasa. "Sampai sebulan ke depan, saya harap ibu gak langsung kasih ke orang lain kalo barang-barangnya belum diambil."


Si pemilik rumah mengangguk sungkan pada Yasa dan berterima kasih.


Bersamaan dengan itu, sebuah mobil pickup memasuki pekarangan kontrakan.


"Ah, itu dia!" seru si pemilik kontrakan. "Orangnya udah dateng, uangnya—"


"Gak apa-apa!" potong Yasa cepat-cepat. "Anggap aja kompensasi karena kita udah ngasih harapan palsu," katanya setengah berkelakar.


"Nggak ah, Mas! Saya gak enak!" Si pemilik kontrakan bersikeras.


Gadis itu memekik dan memucat.


Yasa mengikuti arah pandang Jingga.


Seorang pria tinggi besar berambut panjang berjalan ke arah mereka, bersamaan dengan itu Jingga menegang dengan ketakutan.


Tangannya mencengkram lengan kemeja Yasa, mata dan mulutnya membulat.


"Jingga, kamu kenapa?" Yasa bertanya khawatir.


Jingga beringsut ke belakang Yasa, bersembunyi sambil mengintip si pendatang baru itu melalui bahu Yasa.


Detik berikutnya, cowok itu menoleh pada Jingga dan tersentak. "Kamu—" ia menerjang ke arah Jingga dan seketika Jingga menjerit hingga si pemilik kontrakan terlonjak menatap mereka dengan kebingungan.


Yasa merenggut lengan cowok itu dan menahannya.

__ADS_1


Cowok itu menyentakkan tangannya dari cengkeraman Yasa, "Gue pen ngomong sama dia!" Cowok itu menghardik seraya menunjuk ke arah Jingga.


"Rogan!" Si pemilik kontrakan menengahi mereka. "Tolong jangan ribut di sini, ya?" bujuknya sambil menggamit lengan pendaki itu.


Rogan menoleh pada si pemilik rumah seraya mendesah pendek. "Saya cuma mau ngomong sama dia," sergahnya.


Yasa menoleh pada Jingga.


Gadis itu sudah semakin pucat sekarang.


Yasa mendekap bahu gadis itu seraya mengusap-usap pangkal lengannya, "Gak apa-apa," bisiknya. "Dia cuma mau ngomong. Mungkin penting."


"Aku gak kenal dia," tukas Jingga sambil tergagap-gagap.


"Lu temen si Vivi, kan?" Rogan mendekat ke arah Jingga.


Jingga mengkerut, merapatkan tubuhnya ke punggung Yasa.


"Jadi lu cowoknya Vivi?" Yasa menyela dengan sikap tenang.


"Ya," Rogan menoleh pada Yasa. "Beberapa hari yang lalu!" Ia menambahkan.


"Oke, ngobrol sama gue aja. Gak apa-apa, kan?" Yasa mencoba bernegosiasi.


"Gue perlunya sama dia!" Rogan berkeras. Lalu tiba-tiba cowok itu mendesah kasar. "Oke, sori," katanya berusaha melembut, tapi malah terdengar seperti orang menggeram. "Tampang gue emang begini. Lu gak usah takut, gua cuma pengen titip pesen sama si Vivi," katanya pada Jingga seperti orang sedang menantang.


Si pemilik kontrakan mengangguk cepat-cepat ke arah Yasa, membenarkan ucapan Rogan.


Yasa mendesah pendek dan menoleh pada Jingga.


Jingga masih tergagap menatap Rogan dengan gelisah, tapi wajahnya sudah tidak sepucat tadi.


"Ayo, aku temenin," kata Yasa lembut.


Jingga menelan ludah dengan susah payah, lalu mengangguk ragu ke arah Rogan. "So—sori," katanya terbata-bata.


"Gue yang minta maaf," kata Rogan masih dengan nada keras menghardik. "Gue udah bikin lu takut."


"Kalian ngobrolnya di kontrakan bekas Rogan aja," saran si pemilik kontrakan. Lalu bergegas ke salah satu kamar dan membukakan pintu.

__ADS_1


Rogan bergegas ke kamar itu, diikuti Yasa dan Jingga di belakangnya.


Jingga masih mengkerut dalam dekapan Yasa, ketika cowok itu menyalami Rogan dan memperkenalkan diri.


__ADS_2