
Malam itu Jingga bermimpi tentang danau di belakang rumah Bu Lastmi.
Dalam mimpinya, ia sedang berdiri di tepi danau. Airnya biru terang, seperti langit. Ia dikelilingi warna biru. Sekonyong-konyong ia melangkah ke dalam danau. Ia tidak tenggelam. la mulai berjalan. Ia sedang berjalan di permukaan air yang biru, menengadah memandang langit biru, sama sekali tidak terkejut ketika menyadari ia dapat berjalan di atas air.
la maju beberapa langkah, lalu beberapa langkah lagi. Air terasa sangat dingin di bawah telapak kakinya yang telanjang.
Tiba-tiba ia merasa sedang diawasi. Seseorang sedang mengawasinya dari tepi danau. Membuatnya merasa tidak enak. Siapa itu di sana? Siapa yang sedang mengawasinya?
la mencoba melihatnya, namun tidak bisa. Dengan sangat gelisah, merasa ada yang tidak beres, ia terus melangkah, dan melangkah lagi. Angin bertiup kencang sekali. Pakaiannya melambai-lambai di sekelilingnya. Air danau menepuk-nepuk pergelangan kakinya.
Siapa itu di sana? Siapa yang sedang mengawasinya?
Jingga membuka matanya dan ternyata ia dilingkupi kegelapan.
Ini bukan kegelapan kamarnya.
la sudah terjaga sekarang. Mimpinya sudah berakhir.
Jadi mengapa ia tidak kembali berada di kamarnya?
Kakinya yang telanjang terasa sangat dingin, sangat basah. Ia menunduk, ternyata ia sedang berdiri di atas rumput yang tinggi dan basah. Pakaian tidurnya berkibar-kibar di sekeliling tubuhnya, tertiup angin. Bayangan bagian depan rumah Bu Lastmi tampak menjulang bagai makhluk raksasa yang membisu.
Di manakah aku?
Bagaimana aku bisa sampai di sini?
la memeluk badannya sendiri dan memandangi bangunan rumah. Betulkah itu rumah Bu Lastmi? Mengapa kelihatan sangat lain?
Sangat gelap, sangat dingin dan sangat ganjil.
Kenapa aku berdiri di sini?
Pepohonan bergoyang dan seakan berbisik Tanah seolah miring. Jingga mengembangkan kedua lengannya untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
Kemudian ia melihat pintu depan rumah itu terpentang lebar.
Aku berjalan ke sini? Aku berjalan keluar ke sini dalam tidurku?
Ada yang salah, pikirnya. Ada yang salah dan mengerikan.
.
.
.
__ADS_1
Sinar matahari menerobos tirai jendela dapur di atas bak cuci piring ketika Jingga tergesa-gesa menyelesaikan pekerjaannya mencuci piring. Setelah menyirami tanaman nanti, ia ingin segera mandi, lalu buru-buru berangkat ke kampus.
Mungkin bertemu dengan teman-temannya di kampus bisa membuat Jingga melupakan pengalamannya yang menakutkan—berjalan dalam tidur tadi malam.
Kalau saja ia dapat berbagi cerita dengan seseorang. Mungkin ketakutannya akan berkurang.
Waktu itu perasaannya lebih baik, ketika ia berbagi cerita dengan Yasa.
Sayangnya pembicaraan mereka harus terpotong karena kedatangan Magenta.
Pagi tadi hal pertama yang dilakukannya ialah menelepon Violet, tapi malah ibunya yang menerima panggilan, kata ibunya ia belum bangun.
Jadi tak ada seorang pun yang dapat diajak bicara.
Benarkah dia berjalan dalam tidur? Menuruni tangga, membuka pintu depan, dan melintasi halaman depan sampai nyaris ke jalan dengan mata terpejam dan lengan terjulur seperti dalam film horor?
Pikiran Jingga dipenuhi pertanyaan yang harus segera dijawab. la belum pernah berjalan dalam tidur sampai ia tinggal di rumah Bu Lastmi. Mengapa ia mengalaminya lagi tadi malam? la akan ke mana? Apa yang akan terjadi jika ia tidak terbangun? Apakah ia akan terus berjalan?
Jingga merenungkan mimpinya, mencoba mengulangnya berkali-kali dalam benaknya, la masih tidak mengerti juga. Mengapa ia menyeberangi danau itu? Untuk menemui seseorang? Untuk melarikan diri dari seseorang? Dan siapa yang mengawasinya dari tepi danau?
Bu Lastmi?
Benarkah dia menenungku?
Tapi benar kata Yasa. Kenapa dia melakukannya?
Atau dirinya sendiri yang tak beres?
Apakah mimpinya yang menyebabkan ia berjalan dalam tidur? Apakah ada hubungan di antara keduanya?
la harus membicarakannya dengan seseorang.
Harus!
Tapi siapa?
Jingga menoleh pada Bu Lastmi. "Bu! Apa Ibu tau sesuatu soal tidur berjalan?"
Mereka baru saja selesai sarapan bersama. Wanita tua itu sekarang sedang duduk di sofa, mengelus-elus kucing hitamnya. Kelihatannya ia tidak mendengar pertanyaan Jingga. Tapi akhirnya ia mengangkat kepala. Kucingnya juga. "Maaf, Jingga. Kamu nanya saya?"
Ya, iyalah! Nanya siapa lagi? Nanya kucing? tukas Jingga, tapi tentu saja hanya di dalam hati. "Ya," katanya ragu-ragu. "Saya tanya… soal tidur berjalan."
Bu Lastmi tidak tampak terkejut mendengarnya. "Berjalan dalam tidur? Ya. Ya," sahutnya sambil menunduk memandang Cakra. "Itu kasus misterius menurut saya." Ia mengangkat kucingnya dan mulai mengajaknya bermain-main.
Jingga mengeringkan tangannya dengan lap bermotif garis-garis. Ia memutuskan untuk tidak menceritakan apa yang dialaminya pada Bu Lastmi.
__ADS_1
Apakah sebaiknya ia pulang lagi ke rumah orang tuanya?
Barangkali ayahnya sudah pulang sekarang.
Tapi Bu Lastmi tiba-tiba berkata, "Mudah-mudahan saya gak perlu sampe ngunciin kamu ntar malem."
Jingga terbelalak menoleh ke arah wanita tua itu.
Wanita tua itu balas menatapnya dengan tatapan prihatin.
Cakra mengeong dan meloncat turun ke lantai. Badannya melingkar seperti bola di depan sofa dengan nyaman, seolah bersiap-siap mendengarkan Jingga bercerita.
.
.
.
Seusai kuliah hari itu, Jingga bergegas mencari Violet, tak sabar untuk menceritakan apa yang dialami Pak Rusman. Apa yang dialaminya sejak ia tinggal di rumah Bu Lastmi. Tapi beberapa temannya mengatakan hari ini Violet tidak masuk kuliah.
Sekarang matahari sore berwarna jingga tenggelam di balik gedung-gedung dan pepohonan. Udara terasa segar dan dingin. Jingga berjalan keluar menuju halte yang paling dekat dengan kampusnya. Halte itu terlihat sepi.
Jingga menyeberang jalan dan menoleh ke sana kemari, jalan itu juga terlihat lengang.
Seseorang baru saja keluar dari sekretariat pecinta alam di seberang jalan, lalu menutup pintu gerbang di belakangnya dengan membantingnya. Ia berbelok ke arah halte dan berhenti—satu langkah dari lantai halte, memandang ke arah Jingga.
Dia memandangiku, kata Jingga dalam hati.
Dia memandangku seakan mengenalku!
Orang itu tampak sangat terkejut melihatnya.
Dia sangat besar, batin Jingga, balas memandang orang itu.
Laki-laki itu kira-kira seratus delapan puluh tingginya, badannya tegap. Ia mengenakan celana dan sepatu gunung berwarna hitam dan T-shirt ketat sewarna yang mempertontonkan dadanya yang bidang dan otot-ototnya yang bertonjolan di balik jaket parka loreng army yang dibiarkan terbuka.
Tingginya setara dengan Yasa namun badannya berisi seperti Magenta. Warna kulitnya juga agak gelap seperti Magenta. Tapi rambutnya panjang dan ikal seperti Yasa. Ia juga mengikat rambut ikalnya ke belakang menyerupai sanggul seperti kebiasaan Yasa.
Bisa dikatakan pria itu perpaduan dari Yasa dan Magenta.
Lihat apa, Gondrong? pikir Jingga.
Jingga menoleh ke belakang untuk meyakinkan dirinya bahwa tidak ada orang lain yang barangkali sedang dipandangi pria itu.
Tidak ada.
__ADS_1
Halaman kampusnya sedang sepi. Tidak ada orang lain di sekitarnya.