
Larut malam, di malam yang sama, Magenta baru pulang dari Wisata Curug. Ia berhenti di balik pintu, memejamkan mata, dan menekankan keningnya yang panas ke kaca yang dingin.
Aku capek sekali, pikirnya.
Capek sekali, hingga rasanya ia tidak mungkin sanggup membuka pintu dan masuk ke kamarnya.
Tak mungkin selarut ini, pikirnya, ia membuka matanya dan berusaha keras memaksa diri beranjak dari pintu itu. Bulan masih tinggi di langit. Udara dingin dan berat karena embun.
la terbatuk.
Lehernya sakit. Wajahnya panas. Tubuhnya serasa remuk.
Moga-moga aku tak jatuh sakit.
Herannya, malam yang dilaluinya di air terjun sudah samar-samar dalam ingatannya.
Ke mana ia pergi? Apa yang ia lakukan?
la ingat pada air terjun yang gelap itu. Tapi tak ingat pada Jingga.
la ingat pada rasa sakit itu. Rasa sakit yang menamparnya. Rasa panas di wajahnya. Tapi tak ingat apa yang terjadi.
Ia ingat saat terbangun dan mendapati dirinya berbaring di semak-semak, tapi tak ingat tubuhnya pernah terlempar.
Tidur di semak-semak?
Tidak.
Tak mungkin aku tidur di semak-semak.
Aku terlalu capek untuk mengingatnya, katanya pada diri sendiri.
Aku cuma... sangat... lelah.
Akhirnya ia berhasil membuka pintu. Diam-diam ia melintasi lantai papan yang berkeretak menuju ke dapur yang gelap, melewati lorong pendek yang sempit, melewati kamar orang tuanya.
Sunyi.
Ke kamarnya.
Lelah sekali. Capek sekali. Butuh usaha keras untuk mendorong pintu hingga membuka.
Tubuhnya terasa berat sekali. Pakaiannya terasa berat sekali.
Rambutnya terasa berat sekali di kepalanya.
Napasnya menderu-deru karena mengerahkan tenaga untuk berjalan.
la harus melepaskan pakaiannya, sebelum pakaian yang berat itu menindihnya.
la harus ke tempat tidur, untuk tidur.
Harus tidur untuk menghilangkan rasa lelah ini.
Untuk menghilangkan rasa sakit di tenggorokannya.
Tapi ia ada di mana?
Mengapa semuanya miring dan berayun-ayun?
Cuma lelah. Cuma... lelah... sekali.
Kantata, batinnya. Ia ingat ia pergi dengan Kantata, sebelum ia mendapati dirinya terbaring di semak-semak.
__ADS_1
Apa yang dia lakukan padaku?
Kenapa aku sangat lelah?
la memaksa diri untuk tidak memikirkannya. Jika ia memikirkannya sekarang, ia takkan pernah bisa tertidur.
Pertama-tama, aku harus melepas pakaianku, putusnya, berjuang menjernihkan pikirannya.
Perabotan di dalam kamarnya terlihat hanya seperti bayang-bayang buram.
Buram. Buram di antara keburaman-keburaman.
Tapi tiba-tiba, salah satu di antara keburaman itu menjadi semakin jelas.
Magenta mengedipkan mata. Sekali. Dua kali.
Seseorang sedang duduk di tempat tidurnya, sedang duduk di kamar yang gelap, membelakangi Magenta.
Magenta mengedip lagi, ingin menyingkirkan pemandangan itu. Tapi ternyata tidak berhasil.
Yang dilihatnya itu memang benar-benar ada di sana.
Seseorang berada di ranjangnya.
Tercekam rasa takut, Magenta memandangi sosok yang tidak bergerak itu.
Siapa itu?
Siapa yang berada di kamarnya pada jam begini?
Bagaimana caranya dia masuk?
"Hei—" bisik Magenta. "Hei—"
Begitu Magenta menyentuhnya, sosok gelap itu pelan-pelan berbalik.
Wajahnya mulai kelihatan.
Dan Magenta mulai menjerit.
Sambil membekap mulut dengan kedua tangannya untuk meredam jeritannya, Magenta mundur menjauhi ranjang.
Ia menabrak lemari rendahnya, rasa nyeri menusuk punggungnya.
Tanpa memedulikannya, ia ternganga ngeri menatap sosok berwajah gelap, membungkuk di atas ranjangnya, balas menatapnya di seberang kamar.
Pelan-pelan Magenta menurunkan kedua tangannya, untuk menghirup udara.
"De—" serunya, yang terdengar hanya bisikan serak. "Dewa—lu udah mati!"
Dengan kedua tangan tertumpang di atas lutut celana hitamnya, sosok itu membungkuk ke depan pelan-pelan, wajahnya keluar dari kegelapan dan masuk ke sorot cahaya bulan yang pucat yang menembus lewat jendela.
"De---" ulang Magenta, punggungnya menekan keras lemari rendah itu.
Wajah Dewa tampak jelas dalam terang, hijau dan bengkak. Matanya terbuka tetapi kembali melesak ke dalam kepalanya. Pupilnya putih sekali, dilingkari nanah.
Salah satu pipinya tercabik dan kulitnya menggelantung seperti kantong. Ketika akhirnya Dewa membuka mulut untuk bicara, rahangnya berderit seperti bunyi engsel pintu yang sudah berkarat, Magenta melihat beberapa giginya telah lenyap.
"Hai, Gen."
Suaranya seperti angin, embusan udara.
"Nggak!" Gelombang rasa takut melemaskan lutut Magenta hingga ia nyaris terjatuh. Ia berbalik dan mencengkeram tepi lemari untuk menopang tubuhnya agar tetap berdiri.
__ADS_1
"Nggak!"
"Yaaaaaaaa," desis makhluk di tempat tidur itu.
Gorden jendela tersingkap seakan menanggapi.
"Yaaaaaa," ulang Dewa seolah mencoba suaranya yang mengerikan itu. Dan gorden-gorden kembali terkepak-kepak menjawabnya.
Ini bukan mimpi, pikir Magenta. Kenop laci lemari terasa menusuk punggungnya.
Sudah berapa kali ia bermimpi tentang Dewangga sejak pagi yang mengerikan itu ketika ia menemukan saudara kembarnya itu terapung-apung di air, tercabik-cabik dan tak bernyawa?
Sudah berapa kali Dewangga kembali untuk mengacaukan mimpi-mimpi Magenta?
Tapi ini bukan mimpi.
Yang ini bukan mimpi!
Magenta sangat yakin kali ini bukan mimpi.
Dewangga—mendiang Dewangga---duduk di ranjang Magenta, matanya yang melesak putih kekuningan mengawasi Magenta, wajahnya yang tercabik-cabik dan kulitnya yang bergelantungan membuktikan kematiannya.
"De---lu udah mati," ulang Magenta. Gagasan itu menyumbat otaknya untuk menemukan kata-kata lainnya. Ia tidak dapat menjernihkan pikirannya.
"Lu udah mati."
"Kalo malem gue gak mati," bisik Dewangga, membungkuk mendekat agar suaranya terdengar.
Gorden-gorden tertiup ke luar jendela, seolah terisap ke luar oleh kekuatan yang tak kasatmata.
"Kalo malem gue gak mati," ulang Dewangga dengan mengerikan. "Kalo malem gue ada di antara hidup dan mati."
Kepala Dewangga miring ke satu sisi, hampir terjatuh ke bahunya, seolah terikat dengan tali.
"Nggak!" teriak Magenta. Ia memejamkan mata, tak sanggup terus-menerus memandangi wujud saudara kembarnya yang rusak dan menyeramkan itu.
Saat membuka mata lagi, ia tersentak ketakutan.
Dewangga telah beranjak berdiri dari tempat tidurnya.
"Nggak---jangan!" Magenta berteriak, mencoba mundur menjauh, tapi terperangkap lemari itu.
Dewangga maju dengan cepat, seolah melayang melintasi kamar. Tangannya terulur dan menyambar bahu Magenta.
Cengkeramannya keras seperti tulang.
Mata yang putih kosong, tertanam di dalam cekung mata yang merah dan bernanah itu memandangi Magenta seakan menuduhnya.
"De—nggak!"
Tapi cengkeraman Dewangga semakin kuat.
Bau busuk menusuk indra penciuman Magenta.
la mencoba menahan napas, tetapi dadanya kembang-kempis.
Bau memuakkan melingkupinya, menyesakkan napasnya, mencekiknya hingga ia menjerit. la nyaris mati lemas karena sengatan bau busuk itu.
Dewangga masih mencengkeram bahunya, mata putihnya menatap mata Magenta, tubuhnya membungkuk di atas Magenta, melayang-layang di atasnya di dalam kamar yang gelap, menahan Magenta, menyudutkannya, menghukumnya dengan bau busuk, bau kematian.
"Dewa—lu mau ngapain?" Magenta menjerit-jerit dengan suara ngeri yang tak dikenalinya sendiri. "Ngapain lu di sini?"
"Gue—gue di sini untuk memperingatkan," Dewangga berbisik, kata-kata itu meluncur tersendat-sendat dari antara napasnya yang bau busuk.
__ADS_1