Bebegig

Bebegig
Chapter 73


__ADS_3

"Anak itu maksudnya aku, kan?" desak Yasa lembut.


"Kamu udah inget?" tanya Jingga sedikit terlalu bersemangat.


Yasa menggeleng.


Jingga terdiam lagi. Sirat kekecewaan tergambar jelas pada wajahnya.


Yasa tersenyum samar dan menurunkan kucing Bu Lastmi dari pangkuannya, kemudian beranjak dari kursi dan mendekat ke arah Jingga.


Jingga tertunduk dengan mulut terkatup.


Yasa berjongkok di depan Jingga, lalu menatap ke dalam mata gadis itu. "Nggak apa-apa, Jingga," bujuknya sambil menggenggam kedua tangan Jingga dengan kedua tangannya. "Aku malah seneng visiku ternyata bukan halusinasi."


"Visi apa?" Jingga bertanya terkejut.


Yasa tersenyum tipis dan tertunduk. "Kamu masih inget waktu aku coba nerawang kamu di rumah aku?" tanyanya sambil mendongak lagi menatap Jingga.


Jingga mengangguk. "Waktu itu kamu keliatan syok," katanya.


"Ya," jawab Yasa muram. "Waktu itu sebenernya aku liat kita…" ia menggantung kalimatnya dan kembali tertunduk.


"Kita?" Jingga menaikkan sebelah alisnya, menuntut kejelasan.


Yasa tersenyum masam, "Kurang-lebih adegan yang…"


"Panas?" Jingga memotong perkataan Yasa yang terbata-bata.


"Ya," jawab Yasa setengah terkekeh.


Jingga mengulum senyumnya sambil memalingkan wajahnya sedikit. "Kita memang pernah sedekat itu," kata Jingga dengan wajah tersipu.


Yasa menelan ludah dan menegang. "Aku gak nodain kamu, kan?" tanyanya ragu-ragu.


Jingga tersenyum sedih dan menggeleng. Tak yakin.


Yasa menghela napas berat dan mengembuskannya perlahan. Sirat kebimbangan terukir melalui senyuman tipisnya. "Maafin aku, ya?" bisiknya lirih.


"Itu bukan salah kamu, kok," tukas Jingga.

__ADS_1


"Itu jelas salahku," Yasa berkilah. "Aku yang baca bait kedua sajak itu."


"Itu karena kamu gak tau," sergah Jingga.


Yasa menghela napas berat sekali lagi, kali ini mengembuskannya sekaligus. Lalu mendongak menatap Jingga, menurunkan kedua lututnya dan meluruskan tubuhnya, berdiri di atas lututnya hingga posisi wajah mereka hampir sejajar.


Jingga membeku di antara hasrat dan kebimbangannya. Mengikuti naluri wanitanya, Jingga akhirnya menyerah dan membiarkan pria itu merengkuh wajahnya dengan kedua tangan.


Sekarang Yasa membenamkan mulutnya di mulut Jingga, memagut mulut gadis itu dengan mulutnya. Dan seketika ciuman itu mengaburkan batas antara keraguan masa lalu mereka dan kerinduan keduanya pada kelembutan kasih sayang.


Sekujur tubuh gadis itu menggelenyar. Seluruh naluri wanitanya bereaksi pada sentuhan Yasa dan daya tariknya.


Rasa bahagia mengetuk setiap ujung sarafnya, membuat ia tersadar untuk pertama kalinya. Kebebasan seolah bernyanyi melalui pembuluh darahnya. Darahnya berdesir memompa detak jantungnya semakin cepat.


Dengan lembut tangan Yasa menyentuh tengkuknya, begitu cekatan dan terasa menenangkan. Lidah pria itu sekarang menekan lembut dengan bujukan tegas yang membuat Jingga memiringkan kepala dengan suka rela dan membuka mulutnya.


Denyut nadi gadis itu bergerak cepat ketika tanpa sadar ia menggelayut pada Yasa dan merasakan debar jantung pria itu di dadanya.


Gelombang hasrat menguasai Jingga ketika Yasa berhasil menjarah mulutnya, mendorong gadis itu pada kenikmatan yang membingungkan.


Dan ketika tangan Yasa bergerak naik dan jemarinya merayap ke punggungnya, Jingga membelai pangkal tangan Yasa, tak yakin apakah ia coba menghentikan atau mendesak pria itu untuk terus.


Jingga benar-benar menginginkan ciuman ini meski sebenarnya ia tahu seharusnya ia tidak melakukannya. Saat ia merasakan lidah Yasa yang hangat dan lembut menggodanya, hasratnya bergemuruh dan debar jantungnya menjadi liar. Keinginan mendesak yang bangkit dari dalam dirinya membuatnya benar-benar tak berdaya.


Tubuh Yasa berdenyut seperti akan meledak saat ia menarik Jingga ke arah tempat tidur.


Jingga mencengkeram bahu Yasa dan rintihan terdengar dari mulutnya saat Yasa mengangkat tubuhnya tanpa peringatan dan mendudukkannya di tempat tidur.


Yasa menenggelamkan lututnya di depan Jingga, nyaris menggigil ingin menyentuhnya, tapi erangan gadis itu seperti menegaskan kebutuhannya pada Yasa, dan dengan lembut Yasa menyingkap rok tipis gaun tidur Jingga sambil membelai paha dan pinggul gadis itu.


Jingga terlihat sangat bergairah. Cara Yasa yang lembut dalam menyentuh tubuhnya membuat Jingga seperti ingin merobek pria itu.


Terpesona oleh hasrat Jingga, Yasa membiarkan gadis itu berbuat sesuka hatinya.


Yasa menginginkan gadis ini dengan cara yang tak pernah dirasakannya pada gadis lain. Terpikat oleh daya tarik s e n s u a l terbesar yang pernah dirasakannya, terhanyut oleh tatapan merayu sepasang mata cokelat Jingga, tersengat oleh panas memikat tubuh ramping gadis itu, terbakar oleh gairahnya sendiri.


Yasa tak pernah begitu menginginkan seorang gadis seperti saat ini seumur hidupnya. Gairah ini tak pernah dirasakannya.


Jingga menjatuhkan tangannya di atas sprei yang lembut, memperhatikannya saat Yasa menciumi dadanya sambil memeluk tubuhnya.

__ADS_1


Merasa pusing oleh kenikmatan yang ia rasakan, Jingga melentikkan tubuhnya sedikit dan mendorong wajah Yasa semakin dalam ke dadanya.


Semakin lama ciuman itu semakin memanas dan dengan cepat melampaui apa yang diperkirakan keduanya. Tapi baik Jingga maupun Yasa tak bisa memaksa dirinya untuk berhenti.


Jingga menyusupkan jemarinya ke rambut Yasa yang ikal namun lembut, membuat rambut yang diikat kencang ke belakang membentuk sanggul itu mulai berantakan. Tapi Yasa sepertinya tidak keberatan. Pria itu terlalu sibuk memusatkan perhatiannya pada puncak dada Jingga.


Dan ketika Yasa berusaha merebahkan tubuh Jingga secara perlahan, bagian bawah tubuh mereka yang bergesekan membuat Yasa tergetar. Kedua lututnya mendadak terasa goyah.


Tak sanggup menahan gejolak hasratnya yang kian meradang, Yasa membenamkan mulutnya lagi ke mulut Jingga, kali ini sedikit terlalu kasar dan terburu-buru, menekankan tubuhnya semakin dalam ke tubuh Jingga hingga tanpa sadar keduanya tahu-tahu sudah saling melucuti pakaian satu sama lain, hingga tak ada yang tersisa.


Ketika gairah keduanya kian memuncak, pintu kamar Jingga tiba-tiba berderak membuka. Kucing Bu Lastmi mengeong keras dan menerjang ke arah mereka.


Yasa tersentak dan terbelalak, tatapannya yang panik menyapu ruangan dengan terkejut.


Kucing Bu Lastmi menggeram di meja makan sambil melengkungkan punggungnya membentuk punuk, bulu-bulunya berdiri. Memelototi mereka seakan coba menghardik keduanya.


Mereka ternyata masih berada di dapur!


Kenapa aku merasa kami pergi ke kamar? pikir Yasa kebingungan.


Jingga menyusupkan wajahnya di bahu Yasa dengan napas tersengal. Masih berdebar-debar akibat gejolak hasrat dan kekagetannya.


Yasa mendesah kasar namun masih terengah-engah. Sekarang aku mengerti, pikirnya sambil menatap ke dalam mata Cakra.


Apa yang dilihatnya dalam visinya tadi adalah apa yang terjadi antara mereka tadi malam.


Tapi tampaknya baik Jingga maupun Yasa tidak menyadari apa yang mereka lakukan.


Apakah mereka dirasuki entitas lain?


Yasa merasa visi tadi berbeda dengan visi yang biasanya mengenai adegan-adegan panas mereka. Visi yang tadi tidak terasa seperti kenangan di mana Yasa merasa pernah mengalaminya.


Visi yang tadi terasa seperti kenyataan yang sedang terjadi, terlalu mendesak dan menarik Yasa sedalam-dalamnya.


Visi yang biasanya dapat dikendalikan.


Visi yang tadi tidak!


Tiba-tiba Yasa merasa tak yakin kehormatan Jingga tidak ternoda.

__ADS_1


"Kita harus pulang, Jingga," bisik Yasa di antara napasnya yang tersengal. "Kita harus pergi dari sini!"


__ADS_2