
Tidak! Jingga mencoba memberontak dan berteriak.
Lalu terhenyak dan terbangun dengan ketakutan. Matanya yang panik menyapu sekeliling. Tidak ada siapa-siapa di sana.
Tapi ia masih berada di rumah Magenta.
Ke mana perginya semua orang? pikirnya panik, lalu memanggil Magenta dan ibunya. Memanggil Dewa juga.
Tak ada yang menyahut.
Ia berlari ke sana kemari di seluruh rumah untuk mencari pemiliknya. Tapi tak ada siapa-siapa. Membuat Jingga semakin ketakutan.
Ia memberanikan diri untuk melihat kamar Magenta, membuka pintu kamar cowok itu dan mengintip ke dalam.
"Ya, Tuhan!" pekiknya terkejut.
Cowok itu ternyata ada di kamarnya. Melanjutkan tidur.
Kenapa dia terus-terusan molor? pikirnya heran.
Apakah dia terus-terusan mengantuk?
Seperti aku! pikir Jingga.
Ini aneh, katanya dalam hati. Lalu bergegas ke dalam kamar Magenta dan membangunkan cowok itu.
Cowok itu menggumam dan menggeliat. Tapi tidak membuka matanya.
"Genta---bangun!" Jingga mengguncang tubuh cowok itu. "Udah sore, tau!"
Cowok itu mengerjap dan membuka matanya. Menatap Jingga dengan terkejut. Tapi kemudian mendesah pendek dan memaksakan senyum. "Kamu belum pulang?" tanyanya serak.
"Aku ketiduran di sofa sampe sore," gerutu Jingga. "Bukannya bangunin malah ditinggal tidur juga."
"Aku gak enak badan. Ngantuk banget," kata Magenta seraya menarik duduk tubuhnya dengan susah payah. "Gak tau. Badan rasanya lemes banget kayak gak ada tulangnya."
Sama, pikir Jingga. Aku juga merasa begitu seharian ini.
Apa yang terjadi pada kami sebenarnya?
Aku harus bertanya pada ayahku! ia memutuskan.
"Aku pulang, ya?" Jingga akhirnya berpamitan.
Tiba-tiba Magenta menyambar pergelangan tangannya, tapi lalu tergagap.
Jingga juga tergagap.
Tatapan mereka bertemu dalam waktu yang lama. Saling memandang tanpa saling bicara.
__ADS_1
Magenta menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur, kemudian mendongak seraya menarik Jingga mendekat, sebelah tangannya melingkar di pinggang gadis itu. Jantungnya berdebar-debar ingin memeluk gadis itu. Tapi kemudian hanya tergagap, mendadak kehilangan keberaniannya. Wajahnya tersipu-sipu ketika ia coba tersenyum dan berkata, "Mmm… ntar malem kita ke pasar malem, yuk!" ajaknya.
Jingga balas tersenyum dan mengangguk.
"Kita ketemu setengah delapan," Magenta menambahkan.
Jingga mengangguk lagi, lalu berbalik menjauhi kamar Magenta, kembali ke ruang tamu, kemudian berlari pulang dengan terengah-engah.
Dia hampir memelukku, batinnya berdebar-debar.
Sayang sekali, pikirnya. Padahal sedang tidak ada Dewa. Padahal kami cuma berduaan selama sehari penuh. Dan kami cuma tidur selama seharian. Membosankan.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat ketika ia sampai di rumah, disambut tatapan tajam kedua orangtuanya.
Jingga menelan ludah dan tertunduk.
Pada akhirnya, jangankan bertanya perihal apa yang menimpanya, berani menatap wajah ayahnya saja tidak.
Mereka melewati makan malam bersama tanpa bicara dan Jingga berpamitan tanpa berani mengangkat wajah.
Ia bergegas ke kamarnya dan berganti pakaian, kemudian buru-buru pergi.
"Mau ke mana lagi?" tanya ayahnya setengah menghardik.
"Aku mau ke pasar malem," sahut Jingga tanpa menoleh.
.
.
.
Jingga berjalan melalui lorong-lorong ruwet di antara dentuman-dentuman, tembakan-tembakan senjata otomatis, perang angkasa luar, dan balapan mobil yang meraung-raung di ruangan remang-remang itu.
la merasa melihat cowok kembar itu di dekat belakang deretan mesin pinball yang kelap-kelip, sedang mencoba menjejalkan uang seribu rupiah ke dalam mesin tukar koin permainan.
Keping rupiah itu baru masuk setengah ke celah, lalu menggelinding keluar lagi. Cowok itu mencoba lagi.
"Gen—" panggil Jingga tak yakin.
Magenta?
Atau Dewangga?
Ketika cowok itu akhirnya berhasil mendapatkan koin permainan dan berbalik, Jingga menyadari bahwa cowok itu bukan Magenta---juga bukan Dewangga, meskipun sama-sama berbahu besar, berwajah lancip, dan berambut ikal bakung.
Mereka tidak ada di sini.
Jingga kembali ke jalan, dibukanya gulungan lengan sweter hijau pudarnya dan disibakkannya rambut panjangnya ke belakang, yang terasa basah dan berat akibat udara lembap.
__ADS_1
Kabut melayang dan mengendap turun dari gunung, membentuk bayangan-bayangan bergerak yang ganjil di bawah lampu-lampu jalan.
Sambil mencari-cari si kembar, Jingga mengalihkan pandangannya ke alun-alun, penuh dengan pengunjung yang keluar-masuk restoran dan toko. Mereka muncul dari balik kabut, tiba-tiba tampak jelas, lalu dengan cepat pula menghilang kembali ke dalam kabut, seolah melangkah melewati tirai tebal.
Di mana sih mereka? Jingga penasaran, melirik jam tangannya untuk keseribu kalinya.
Lenyap dalam kabut? la melongok ke dalam kerumunan, dengan cepat matanya memeriksa lapak-lapak pedagang yang terang benderang, lalu menepi untuk memberi jalan pasangan setengah baya yang akan masuk. Di sana pun Magenta tidak ada.
Seharusnya cowok itu menemuinya dua puluh menit yang lalu. Rencananya mereka bertemu di depan kantor pos seperti biasa, kemudian pergi ke air terjun lagi dan bergabung kembali dengan teman-temannya.
"Hei—Jingga!"
Jingga berputar dengan penuh harap. "Magenta?"
Ternyata bukan.
Itu cowok-cowok yang waktu itu dijumpainya di api unggun di dekat air terjun. Anes dan Reksa.
Jingga melambai ke arah mereka.
"Kamu cantik deh, hari ini!" kata salah satu dari mereka. Lalu mereka menghilang ke dalam kabut yang merendah.
Aku kelihatan cantik, pikir Jingga. la dan Magenta telah melewatkan sepanjang siang itu di dalam rumah, ia bahkan lupa mandi sebelum pergi. Apanya yang cantik?
Sekarang ia berkeringat, merasa kepanasan walaupun malam itu berkabut dan dingin.
Jadi di mana Magenta? Dia benar-benar tak memedulikanku, putusnya. Setiap kali aku selalu harus menunggunya. Dan lalu ia muncul tanpa meminta maaf sedikit pun.
Biasanya ia hanya berkata, "Sori aku telat. Ada urusan sedikit." Dan itu tentunya tidak apa-apa.
Secercah rasa panas yang dirasakannya sekarang bukan karena tak sempat mandi---tapi karena kemarahan.
Magenta memang sedikit lebih kalem dibanding Dewangga, pikirnya. Tapi barangkali sifat mereka sebenarnya tidak ada bedanya. Mungkin keduanya sama-sama kurang dewasa.
Jingga melangkah ke pojok dan mengintip ke bawah, salah satu dari dua persimpangan jalan di kota kecil itu.
Aku tak mau menunggu Magenta sepanjang liburan ini, pikirnya.
Sambil memandangi kegelapan di jalan di bawah lampu perempatan yang diciptakan oleh gumpalan-gumpalan kabut, tiba-tiba Jingga merasa dirinya sedang diawasi. la berbalik dan melihat seorang cowok tinggi kurus dengan kaus lengan panjang hitam dan jins berpipa lurus berwarna gelap.
Cowok itu sedang berdiri di pojok yang berlawanan di depan warung rokok.
Tirai kabut seakan tersibak di depannya, dan ketika ia melangkah di bawah cahaya putih lampu jalan, Jingga dapat melihatnya hampir jelas sekali.
la tampak sangat tampan, rambutnya ikal sebahu, kulitnya putih, wajahnya lancip dan serius, matanya hitam. la mengalihkan tatapannya ketika menyadari Jingga balas menatapnya.
Dia kelihatan seperti aktor atau model, pikir Jingga. Dia nyaris terlalu cakep. Jingga penasaran apakah cowok itu sedang menunggu seseorang.
Kemudian kabut itu tampak dekat di sekelilingnya, dan ia menjadi sendirian, kegelapan yang diam di antara kegelapan-kegelapan yang bergerak.
__ADS_1