
"Jingga!" Magenta menjerit keras, dan menguak semak-semak ilalang, berlari tersaruk-saruk, menyentakkan kedua kakinya kuat-kuat, lari sekuat tenaga. Napasnya tersengal-sengal, matanya tertuju ke arah bukit batu yang menjorok ke air terjun seolah mencoba meraih sungai berhutan yang gelap di seberangnya.
Botol cuka dan buku yang ditemukannya berjatuhan saat Magenta berlari.
la ragu-ragu sejenak, lalu meneruskan larinya.
Tak ada waktu untuk membaca buku sekarang, pikirnya.
Tak ada waktu untuk tuduhan dan bukti.
Pada ketinggian bukit batu hitam, yang licin karena embun tebal dan lembap, dalam bayang-bayang bukit batu yang kokoh itu, terasing dan sunyi, kecuali hanya ada empasan air terjun ke sungai yang tak kenal kasihan, Yasa sedang mendaki bersama Jingga.
Yasa sedang membawa Jingga ke pulau misterius berhutan lebat yang dihuni.
Tak ada waktu.
Tak ada waktu untuk semua kekonyolan yang belum terbukti bisa menyelamatkan Jingga.
Magenta berlari ke tepi sungai dan tidak berhenti hingga sampai di ujungnya. "Jingga!" panggilnya, sambil menangkupkan kedua tangannya ke mulutnya, berusaha berteriak mengatasi deru angin dan riak air sungai. "Jingga!" serunya.
Jingga tidak menoleh.
Jingga tidak mendengarnya.
Kini kedua sosok itu hanya berupa bayang-bayang gelap, berkelip-kelip mirip hantu yang memasuki kegelapan.
"Aku terlambat," bisik Magenta pada diri sendiri.
Berdetik-detik.
Membutuhkan berdetik-detik yang berharga untuk mencapai kaki tebing.
Lalu berdetik-detik yang berharga lagi untuk mendaki salah satu tebing berlereng sempit.
Tik tik tik. Detik-detik berlalu.
Sekarang ia bisa mendengar riak air dan deru air terjun di dinding tebing, semakin dekat di depannya, memanggilnya, memintanya mendekat, terdengar lamat-lamat tertutup deru angin.
Arus sungai lebih kuat daripada yang di bayangkan Magenta.
Ketika ia mencapai kaki tebing, bungkuk ke depan dan menarik lengannya ke belakang dengan segenap kekuatannya, arus sungai di tempat ia berpijak terasa seperti mengisapnya semakin dalam.
Ayunan langkahnya terasa seperti hanya meluncur maju sejauh satu kaki, dan mundur lagi dua kaki. Air yang tergenang di bawah kakinya merendam sepatunya, membasahi kaus kakinya. Semburan air dari atas tebing membuat matanya terpaksa memejam.
Ia mendongak sesaat dan melihat kedua sosok itu telah menghilang. Tapi pada detik berikutnya, Magenta mulai memanjat, menarik tubuhnya ke atas batu pijakan, menghela kakinya berlari di lereng yang sempit itu.
__ADS_1
Aku terlambat, pikirnya. Terlambat.
Tapi ia tahu ia tak boleh menyerah.
Di mana mereka sekarang?
Mungkin sudah sampai di pulau itu.
Magenta mengedip-ngedipkan mata ke arah bayang-bayang hitam pulau di depannya, tampak di dalam air seperti makhluk laut raksasa yang menunggu menelannya.
Ia tidak bisa melihat sosok Jingga.
Ketika mendongak ke langit, ia melihat kelelawar-kelelawar melayang-layang di atas pulau itu. Dan waktu ia semakin dekat, bunyi kepakan sayap mereka mengatasi deru air, angin, dan semua bunyi lainnya, bahkan napasnya sendiri.
Beratus-ratus kelelawar terbang dengan gaduh, melayang di antara pepohonan, memenuhi langit, berdengung dan mencicit-cicit, nyaris setebal kerumunan lebah.
Saat semakin mendekati pulau itu, sekilas Magenta melihat dermaga kecil yang menempel di tepi pantai yang ditumbuhi pepohonan.
Di akhir pendakiannya, ia melihat ke sekeliling.
Sebuah jalan setapak sempit dan berumput tinggi berkelok menembus pepohonan.
Magenta mulai menyusuri jalan setapak itu, lalu tiba-tiba sadar bahwa secarik kertas dari robekan buku tua milik wanita misterius itu terbawa olehnya. Satu-satunya senjataku, pikirnya getir saat kengerian menjalari tulang punggungnya. Ia membungkuk bergegas menerobos pepohonan itu, menghindari sayap-sayap yang mengepak-ngepak di atas kepalanya, bunyi cicitan yang menggema di dalam hutan.
Gubuk kecil beratap rumbia di ujung jalan setapak itu sangat gelap. Ketika semakin dekat, Magenta melihat jendela-jendela rumah itu berlubang tanpa kaca.
Magenta mengintip ke dalam jendela. Di dalam suasana gelap bagai dalam sumur, lebih gelap daripada malam hari. Ia tidak dapat melihat apa pun.
Karena tak ada pilihan lain, ia mengantongi robekan buku itu, mengangkat kakinya ke atas ambang jendela, dan merunduk memasuki rumah itu.
Bau di dalam sangat lembap, meskipun semua jendelanya terbuka.
Lembap dan... berbau kematian.
la tersentak mencium bau busuk itu, lalu memaksa diri bernapas dengan normal.
Sambil menunggu matanya menyesuaikan diri dengan kegelapan, ia berdiri diam, kepakan sayap kelelawar-kelelawar dari luar mengikutinya ke dalam rumah itu.
Sedikit demi sedikit pandangannya terfokus dan dapat melihat ruangan tempat ia sedang berada. Ruangan yang panjang dan sempit. Sebuah kamar tidur dengan ranjang kuno berkelambu hitam pekat, sewarna dengan sprei dan selimut, sarung bantal, dan tirai.
Lalu ia melihat Jingga.
Berbaring terlentang di atas tempat tidur itu berselimut kain hitam.
Dia sudah mati, pikirnya, sambil bergegas menghampiri, membungkuk di sisi tempat tidur itu.
__ADS_1
Yasa sudah membunuhnya.
Tapi, tidak. la mendengar napas lembut Jingga, berembus pelan, bibirnya terbuka.
Masih hidup.
Masih hidup—tapi apa yang telah dilakukan Yasa padanya?
Di luar, kepakan sayap kelelawar terdengar semakin keras, semakin dekat. Ruangan itu semakin gelap seolah makhluk-makhluk itu menutupi jendela, menghalangi semua sinar bulan masuk.
Dan apa itu yang berada di dinding seberang, jauh dari jendela?
Orang-orangan sawah?
Magenta berbalik menjauhi Jingga, mengerjap-ngerjapkan mata dalam kegelapan, mencoba berpikir di antara kepakan sayap kelelawar yang semakin gaduh dan kedap-kedip cahaya remang-remang—lalu sadar bahwa ia sedang memandangi kedua temannya.
Anes dan Reksa.
"Oh!"
Sekujur tubuh Magenta gemetaran. Kedua lututnya terasa goyah. Gelombang rasa mual kembali menyergapnya.
Ia mengangkat tangannya yang gemetar, memberanikan diri untuk menyentuh—entah apa namanya, seperti patung akar berserat berwarna hitam namun berwajah mirip temannya, memakai jubah dengan tudung kepala seperti orang-orangan sawah yang sering dibuatnya beberapa waktu lalu.
Permukaannya kasar seperti batang pohon.
Cuma kayu! pikirnya.
Tapi kenapa mirip sekali dengan temannya?
Wajahnya, rambutnya, tinggi badannya, semuanya sama persis seperti Anes dan Reksa. Hanya seluruh tubuhnya berwarna hitam legam.
Sebut saja Anes dan Reksa yang gosong.
Bunyi kepakan sayap tampaknya mereda, lalu semakin keras. Ia membayangkan kelelawar kelelawar melayang-layang di langit di atas rumah, bersiap-siap menyerbu lewat jendela jendela tanpa panel itu.
"Jingga, kita harus keluar dari sini," katanya dengan suara gemetar yang nyaris tidak keluar dari tenggorokannya.
la cepat-cepat melintasi kamar kembali ke pada Jingga dan mengguncang-guncang kedua bahunya. "Jingga? Jingga?"
Jingga bergerak-gerak sebentar tapi matanya tidak membuka.
"Jingga?" Magenta mengguncangnya agak lebih keras.
Kembali la bergerak, namun kepalanya kembali terkulai ke lengan kursi.
__ADS_1
Magenta mengangkat kepalanya, mencoba membuka matanya, mengguncang-guncang bahunya lagi.