
"Whoa! Pelan-pelan," tukas Violet. "Kalo lu ngomong secepet ini, biar kata gak dibius, gue juga gak bakal ngerti cerita lu."
Jingga terkejut melihat keadaan Violet. Ia tak bermaksud menampakkan kekagetannya waktu melangkah masuk ke kamar itu. Tapi ia tak siap melihat temannya memakai gips, sama sekali tak dapat bergerak, dengan slang bertempelan di lengannya.
Tapi paling tidak Violet masih terdengar seperti biasanya. Ia berusaha melucu dengan mencela makanan rumah sakit dan mengeluh tentang salah satu perawat, yang tak sengaja menduduki lengannya ketika sedang memberi obat!
Meskipun biasanya kedua cewek itu tidak pernah mendapat masalah mencari topik pembicaraan, Jingga segera merasa salah tingkah waktu mencoba bercakap-cakap.
Dengan canggung ia duduk di kursi lipat di samping tempat tidur Violet, berusaha mencari topik dari dunia luar untuk diceritakan pada temannya.
Akhirnya ia tidak dapat menahannya lagi. la menceritakan apa yang dialami Pak Rusman. Apa yang dialaminya sejak ia tinggal di rumah Bu Lastmi, bagaimana ia telah membuktikan bahwa wanita tua itu adalah penyihir.
"Gue tau. Emang sih, banyak kok orang yang suka terlalu cepet ngambil kesimpulan," kata Violet sinis, "tapi ini udah keterlaluan."
"Maksud lu apa?"
"Maksud gue, apa sih sebenernya yang udah lu buktiin? Karena Bu Lastmi tertarik sama barang-barang berbau mistis dan sejenisnya? Dan apa lagi yang udah lu buktiin? Karena dia kepergok lagi kayak kesurupan sembari megangin saputangan tetangganya, dan besoknya tetangganya kena musibah? Cuma berdasarkan kecurigaan pribadi yang didukung kebetulan dan lu anggap hal itu sebagai kebenaran! Oh, helloooow…. Jingga, lu sekolah tinggi buat apa kalo observasi lu masih dangkal!"
"Tapi semuanya cocok," Jingga berkeras, tidak sabar dengan sikap tidak percaya Violet. "Gue gak pernah tidur berjalan sampe gue mulai tinggal di rumah Bu Lastmi."
"Ohh," Violet mengerang.
"Kenapa? Lu pikir gue tolol, ya?"
"Nggak. Perut gue gatel, gue gak bisa ngegaruk."
Jingga tertawa. Ia membungkuk di atas tempat tidur dan menyingkap atasan Violet untuk menggaruk perut temannya. Tapi ia memekik tertahan mendapati luka memar berserat yang menggambarkan urat-urat berwarna hitam, seperti tato akar.
"Jingga... ada apa?" Violet bertanya sambil mengerutkan dahi.
"Memar itu..." Jari telunjuk Jingga menunjuk.
Violet tertawa. "Kenapa? Lu gak pernah liat luka lebam?"
Luka lebam? Kenapa rasanya begitu familier?
"Jangan khawatir," kata Violet. "Ini nggak sakit, kok."
__ADS_1
Nah, kan? pikir Jingga. Memar itu…
"Udah buru garukin perut gue!" erang Violet. "Jangan bilang lu geli!"
"Nggak—" Jingga akhirnya kembali membungkuk dan menggaruk perut Violet sembari memperhatikan luka memar bergambar tato akar itu.
Tidak salah lagi, pikirnya. Ini adalah gejala yang sama seperti ketika Yasa berada di bawah pengaruh hantu orang-orangan sawah. Tapi Jingga mengurungkan niatnya untuk mengutarakan hal itu.
Violet takkan percaya!
"Nah, lu senang kan gue jenguk elu?" katanya berbasa-basi.
"Denger, Jingga. Gue tau lu bener-bener jengkel soal kasus tidur berjalan yang lu alami dan yang lain-lainnya," Violet kembali pada pembicaraan semula. "Tapi jangan sampe lu kehilangan akal sehat. Inget, sekarang udah abab berapa? Udah gak ada lagi yang namanya tenung, santet, sihir dan sebagainya."
"Kata bokap gue masih ada. Katanya sekarang paranormal malah lebih sering mengadakan pertemuan dibandingkan sama di abad ketujuh belas."
Violet kembali mengerang.
"Gatel lagi?"
"Nggak. Gue cuma ngantuk. Sori. Pasti akibat pil-pil itu. Gue harus tidur sekarang. Gue gak sanggup buka mata lagi. Kita ngobrol lagi kapan-kapan, ya? Gue masih punya banyak waktu buat mikirin hal itu. Gue yakin kita berdua bisa memecahkan masalah-masalah lu." Violet menguap. "Makasih udah mau dateng."
"Lu juga harus tidur," kata Violet kemudian.
"Ya. Kalau gue bisa tidur," gumam Jingga.
Tiba-tiba saja ia merasa sangat tertekan. Ia melangkah keluar dari ruang rawat inap dan bergegas menelusuri koridor rumah sakit.
Ketika Jingga sedang dalam perjalanan pulang ke rumah kostnya, ia duduk dalam angkot yang penuh sesak. Dahinya sedang ia tempelkan di jendela ketika tiba-tiba di benaknya muncul gagasan pergi ke rumah Yasa dan langsung menanyainya.
Diliriknya jam tangannya. Hampir pukul lima.
Masih sisa satu bus terakhir untuk pulang ke kampungnya.
Ayahnya juga mungkin sudah berada di rumah sekarang.
Dan pasar malam itu pasti masih buka. Tidak akan terlalu sepi meski ia turun dari bus kemalaman.
__ADS_1
Lagi pula Bu Lastmi sedang tak ada di rumah.
Waktu yang tepat untuk pulang ke rumah orang tuanya.
la mengetuk-ngetuk kaca dengan uang koin, menunggu angkot berhenti, lalu turun di depan gang menuju rumah Bu Lastmi.
Jingga bergegas ke rumah Bu Lastmi untuk mengunci semua pintu dan jendela, dan memastikan kucing peliharaan Bu Lastmi tak akan kelaparan selama ia pergi.
Aku tak akan lama, katanya dalam hati. Kucing itu tak akan mati hanya karena ditinggal sehari.
Begitu ia membuka pintu, kucing itu segera menyambutnya. Jingga melangkah masuk dan menutup pintu kasa cepat-cepat, supaya kucing itu tak sampai keluar.
"Tumben lu, girang betul?" gumamnya sembari memandangi kucing di bawahnya. "Lu belum pernah segirang ini liat gue."
Kucing itu menggosokkan tubuhnya ke pergelangan kaki Jingga dan mengeong keras.
"Pasti lu laper, kan?" Ia berkata sambil melangkah melewati kucing itu menuju ruang tamu.
Ruangan itu segelap waktu malam hari. Tirai tebalnya tertutup, menghalangi sinar cerah matahari sore.
Jingga mendekati tirai dan menyibakkannya. Sinar matahari langsung menerobos masuk ke ruangan berantakan itu.
la berjalan ke dapur, namun kucing itu tidak mengikutinya, malahan memandangi jendela yang baru dibuka dengan curiga.
"Sini, Cakra. Lu gak mau makan, ya?"
Kucing itu mengeong lagi dengan keras seolah memperingatkan Jingga untuk menutup kembali tirai jendela, dan kemudian dengan enggan mengikuti Jingga ke dapur.
Ia mulai melahap makanannya dengan rakus begitu Jingga menaruh piring khusunya di lantai, dan gadis itu lalu bergegas ke koridor.
Rasanya aneh berada di situ tanpa kehadiran Bu Lastmi.
Langit-langit berderik seakan ada orang yang berjalan di lantai atas. Ruangan itu berdebu dan pengap. Berbau lapuk, bau yang tidak pernah tercium Jingga bila wanita tua itu ada di rumah.
Ketika ia mengamati rak-rak yang penuh ukiran dan pahatan antik—pajangan berbentuk hewan serta bunga-bunga langka yang dikeringkan, Jingga merasa seseorang sedang mengawasinya.
Ia berpaling beberapa kali, mengira akan melihat Bu Lastmi di belakangnya. Tapi tentu saja tak ada orang lain di situ.
__ADS_1
Ish, serem, kata Jingga dalam hati. Namun perasaan ganjil itu tidak mau hilang juga.
Suara berkeriut dari perpustakaan menarik perhatian Jingga.