Bebegig

Bebegig
Chapter 50


__ADS_3

Dua tahun kemudian…


Jingga berjalan di antara keramaian di sepanjang trotoar untuk menemui Magenta.


Toko-toko kecil dan kios-kios makanan sederhana yang dilewatinya terang benderang dan di penuhi pengunjung.


Malam ini hangat dan cerah. Bulan merendah dikelilingi bintang-bintang yang berkerlap-kerlip.


Sama seperti dua tahun yang lalu…


Ada pasar malam lagi di alun-alun.


Dan ia baru tiba di rumah untuk berlibur, setelah hari demi hari ia lewati di luar kota untuk mengenyam pendidikan perguruan tinggi.


Setelah kuliah, ia biasa pulang seminggu sekali hanya untuk melewatkan malam akhir pekan bersama Magenta.


Ia berjalan berkeliling-keliling untuk melihat-lihat lapak-lapak para pedagang di emperan-emperan toko dan di sepanjang trotoar.


Orang-orang di sekitarnya berwajah berseri-seri merah terbakar matahari, dan penuh senyum, mereka mengenakan baju berwarna warni dan celana pendek atau rok.


Suasana kota kecil itu sekarang terlihat jauh lebih ramai dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.


Setelah melewati setengah blok, Jingga dapat melihat sudut jalan di depan kios martabak langganan mereka tapi tidak melihat Magenta. Padahal di sanalah tempat mereka janjian ketemu.


Semoga dia tak terlambat lagi, pikirnya, melihat jam tangannya sekilas sambil menyeberang jalan.


Pasar malam itu sudah buka belum ya, pikir Jingga sambil menyusup di antara kerumunan kembali mencari-cari Magenta.


Jingga suka pasar malam. Ia suka wahana-wahana dan permainan-permainan konyolnya, serta aroma popcorn dan harum manisnya.


Mungkin Magenta mau jalan-jalan ke sana, pikirnya.


la melongok ke tempat game—dan melihat cowok itu di bagian agak belakang. Magenta dan Kantata sedang membungkuk di atas salah satu game, memandangi layarnya dengan serius sementara Reksa memutar-mutar kemudinya dengan seru.


"Hai, Gen! Gen—" Jingga sendiri tidak dapat mendengar suaranya di antara bunyi ledakan, tembakan, lengkingan peluit, lengkingan sirene, dan bunyi tabrakan yang bergema di lorong panjang itu.


Ketika akhirnya Magenta menoleh ke pintu, ia tampak terkejut melihat Jingga.


Apakah dia lupa sudah janjian ketemu? pikir Jingga.


Magenta bergegas meninggalkan game itu dan menghampiri Jingga, wajahnya menunjukkan rasa bersalah. "Oh. Hai." Magenta mengikuti Jingga keluar ke trotoar. "Kamu baru sampe, ya?"


"Ya." Jingga mengangguk.

__ADS_1


"Kamu kelihatan cakep. Itu kaos baru, ya?" Jingga sedang mengenakan kaus biru pucat dengan leher V yang sudah kira-kira seribu kali dipakainya.


"Bukan. Kenapa kamu di sini?"


"Uh ... aku ketemu baru Kantata. Terus kita maen beberapa game bareng Reksa. Iseng-iseng aja sih, kayak biasanya."


"Jadi malem ini kamu mau ngapain?" tanya Jingga.


Magenta mengangkat bahu.


"Mau nggak liat ke sana?" tanya Jingga, sambil menengok ke arah lapangan pasar malam. Sorot cahaya kuning menerangi langit di arah itu, lampu-lampu sorot menandakan bahwa pasar malam itu telah dibuka.


"Yah..." Magenta ragu-ragu. "Malem ini ada film kanibal terbaru." la menunjuk ke gedung bioskop baru di seberang jalan, di mana sudah ada antrean, sebagian besar remaja, menunggu loket karcis dibuka. "Aku sama Kantata mau nonton. Kamu mau ikut nggak?"


Jingga menggerung marah. "Kamu kan tau aku gak suka film-film begituan! Kenapa aku mesti nonton seonggok cewek cantik dipotong dan diiris-iris? Itu cuma sampah yang melecehkan perempuan!"


"Ya, aku tau," sahut Magenta, matanya tetap tertuju pada antrean yang makin panjang itu.


Benar-benar nggak masuk akall pikir Jingga, kemarahannya menjadi-jadi. Sepanjang waktu Magenta bersama Kantata dan gerombolan cowok itu. Dia bersemangat sekali nonton film-film konyol ini, dia bahkan tak ingat sudah janjian denganku!


"Yakin nih kamu gak mau ikut?" tanya cowok itu, sambil menghindari tatapan Jingga. Dengan gugup ia mengusap rambutnya ke belakang sambil melirik ke tempat game, mencari teman-temannya.


"Ya, aku yakin," sahut Jingga, tanpa menyembunyikan marahnya lagi. "Kamu nggak bosen ya sama cerita horor begituan?"


"Nggak," sahut Magenta cepat, sambil nyengir.


la berharap cowok itu akan mencegahnya pergi. la berharap Magenta mengubah rencananya, memberitahu Kantata dan anak-anak lainnya bahwa ia batal nonton.


"Yah, lusa kan masih libur. Besok malem kita baru pergi berdua," Magenta malah berkata demikian. "Besok kita ke pasar malem atau ke Curug, terserah kamu."


Jingga berbalik menjauhi Magenta. "Ya. Oke," gumamnya dan mulai melangkah.


"Besok aku jemput di rumah!" seru Magenta.


Kenapa aku tak memberitahunya betapa hebat kemarahanku? Jingga bertanya pada diri sendiri, sambil menyusupkan tangannya ke saku parkanya dan cepat-cepat menjauhi tempat game itu.


Kenapa aku tak memberitahunya aku marah sekali padanya?


Kenapa aku cuma bilang, "Ya, oke," dan berjalan pergi?


la sadar bahwa ia marah pada diri sendiri seperti pada Magenta.


Mungkin sebaiknya aku nonton film dengannya, pikirnya.

__ADS_1


Nggak. Nggak usah ya. Cepat-cepat dihapusnya pikiran itu.


Aku yang selalu mengalah, yang selalu berkompromi. Dikiranya dia bisa melakukan apa pun yang diinginkannya.


Liburan ini berubah jadi menyebalkan, pikir Jingga, kemarahannya memuncak.


Setiap Sabtu dan Minggu, ia selalu berusaha berada di rumah hanya supaya ia bisa melewatkan malam akhir pekan bersama Magenta. Dan setiap pekannya Magenta lebih suka bepergian dengan cowok-cowok itu daripada melewatkan waktu dengannya.


Entah kenapa ia merasa, semakin ke sini, Magenta semakin mirip dengan Dewa.


Jingga mulai menyeberangi perempatan dekat Mini Market, berjalan cepat. la sibuk dengan kemarahannya sendiri hingga menabrak seseorang yang menyeberang dari arah yang berlawanan.


"Oh!"


la terkejut, terhuyung-huyung mundur, berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya.


Mula-mula ia melihat pullover merah marun, lalu jins hitam.


Lalu ia melihat wajah lancip, putih mulus, ekspresinya sekaget dirinya.


Kemudian ia mengenali wajah itu. "Yasa!"


"Ah—hai!" seru cowok itu, masih tampak terkejut. "Aku gak liat kamu."


"Aku juga nggak liat kamu," sahut Jingga tersipu-sipu. "Kamu gak apa-apa, kan?"


"Gak apa-apa." Yasa mengusap rambut ikal sebahunya ke belakang dan melontarkan seulas senyum yang meyakinkan. "Kamu buru-buru banget. Mau ke mana?"


"Nggak ke mana-mana," aku Jingga. "Aku buru-buru entah ke mana." Jingga bermaksud bercanda, tapi kelihatannya Yasa tidak menangkap maksudnya.


Terdengar klakson.


Mereka berdua meloncat dan sadar sedang berdiri di tengah jalan.


"Ayo," ajak Yasa. Jingga mengikutinya ke trotoar sementara mobil itu meluncur pergi, sambil membunyikan klaksonnya lagi.


Yasa melangkah ke bawah lampu jalan, memberi jalan pada wanita yang baru saja keluar dari toko bahan pangan, kerepotan membawa tiga tas penuh makanan.


"Kamu sekarang tinggi banget!" kata Jingga sambil tertawa.


Sekali lagi Yasa tidak tersenyum. Sebenarnya, sesaat ia sempat tampak tersinggung mendengar komentar Jingga. Tapi cepat-cepat ia mengoreksi diri dan kembali tersenyum hangat.


Setelah lulus sekolah, ia tidak segera melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi dan lebih memilih mengabdikan dirinya untuk menjalani pelatihan spiritual dibawah bimbingan ayah Jingga. Dan hasilnya ternyata berpengaruh cukup besar pada perubahan fisiknya.

__ADS_1


Tentu saja!


Karena tidak ada pelatihan spiritual yang tidak melibatkan pelatihan fisik


__ADS_2