
"Ini gak mungkin berhasil," gumam Dewa sambil memandang ke arah pondok.
"Apalagi sekarang udah mulai gelap," Magenta mengomel. "Mungkin sebaiknya kita balik lagi aja besok pagi."
"Lebih baik lagi kalo kita lupain semua ini," Dewa mengusulkan. Jingga melihat dagunya kembali bergetar. Seluruh tubuhnya juga gemetaran.
"Hei–-kalian kan udah janji!" seru Jingga. "Yang namanya janji harus ditepati!" katanya—menyindir diri sendiri.
Apa dia lupa, dia sendiri baru saja melanggar janjinya?
Cowok kembar itu tidak menyahut. Keduanya memandang ke pondok gelap di hadapan mereka.
"Udah tanggung, nih," kata Jingga ketus. "Kalian jadi bantu apa enggak?"
Jingga memekik tertahan ketika mendengar suara menggeram dari arah pondok.
Rupanya serigala putih itu telah mendengar atau mencium keberadaan mereka.
Dan Jingga sangat yakin makhluk itu akan segera menghambur keluar.
"Ayo!" Jingga berbisik dengan nada mendesak. Kemudian gadis itu segera melompat ke semak-semak. Ia menghilang dari pandangan tepat ketika Empu Brajasena dan serigalanya keluar dari pondok.
"Punten!" seru Magenta pada Empu Brajasena.
"Sampurasun!" Dewa menambahkan.
Jingga memperhatikan mereka bergegas menghampiri Empu Brajasena dan mencium punggung tangannya. Serigala itu merundukkan kepala dan mengawasi setiap gerak-gerik si kembar.
Dewa dan Magenta mengatakan sesuatu kepada pemilik pondok itu. Saking gugupnya, mereka sampai bicara berbarengan. Tapi suara mereka tidak terdengar oleh Jingga.
Mereka menepati janji! kata Jingga dalam hati. Jantungnya berdegup kencang. Mereka berhasil mengalihkan perhatian Empu Brajasena.
Sekarang giliran Jingga untuk bergerak. Waktunya untuk melaksana rencana yang telah ia susun. Ia mendengar Magenta bicara pada Empu Brajasena.
Dengan hati-hati Jingga mengintip dari balik semak-semak.
Si serigala putih berdiri membelakangi Jingga. Empu Brajasena sedang menggaruk-garuk kepala sambil mendengarkan Magenta.
Jingga tak bisa melihat wajahnya. Tapi ia bisa membayangkan ia sangat bingung dan kaget. Jingga tahu pria itu tidak pernah kedatangan tamu. la pasti terheran-heran kenapa Dewa dan Magenta ada di puncak gunung!
Semua pikiran itu disingkirkan Jingga dari benaknya. Sekarang gilirannya untuk bertindak. Ia menarik napas dalam-dalam. Lalu mulai berlari sambil membungkuk. Kakinya seakan-akan terbuat dari agar-agar. Lembek banget. Sepatu botnya terbenam dalam lumpur.
Sambil menundukkan kepala, gadis itu bergegas menaiki lereng gunung yang terjal.
Naik, naik.
__ADS_1
Ia baru saja melewati semak-semak ketika ia mendengar Empu Brajasena berseru marah, "Hei, tunggu!"
Jingga berhenti begitu mendadak sehingga ia terjatuh ke belakang. Ia terempas keras. Lumpur beterbangan di sekelilingnya, menyelubunginya, menguburnya.
Semuanya jadi serbacokelat.
Wah, gagal, katanya dalam hati. Rencanaku tidak berhasil.
Jingga bangkit dan berpaling ke arah Empu Brajasena. Tapi ternyata bukan dirinya yang diteriaki pria itu. Empu Brajasena dan serigalanya berlari menuruni gunung. Mereka mengejar Dewa dan Magenta. Serigala itu menggeram keras-keras. Kemudian keduanya menghilang dari pandangan karena jalanan yang membelok.
Jingga berdiri seperti patung.
Apa yang akan dilakukan Empu Brajasena pada Dewa dan Magenta?
Haruskah aku kembali dan berusaha menolong mereka?
Tidak. Aku tidak boleh mundur sekarang. Sejauh ini semuanya berjalan sesuai rencana. Dan kesempatan ini tidak boleh kusia-siakan.
Jingga menarik napas dalam-dalam, lalu mulai berlari menuju ke puncak. Lerengnya terjal sekali. Saking terjalnya, gadis itu sempat tak yakin apakah ia kuat naik sampai ke atas. Tapi akhirnya lereng gunung menjadi landai lagi.
Jingga berdiri di semacam lereng yang tertutup kabut. Berulang kali sepatunya tergelincir. Ia merapatkan punggung ke tebing. Dan memandang ke arah gua.
Yes!
Gua keramat itu berada di atasnya. Sebesar gedung. Lapisan kabutnya tebal bagai awan, dan menyatu dengan bayangan awan-awan di langit.
Jingga berjalan pelan-pelan, langkah demi langkah sambil terus merapatkan punggung ke dinding karang.
"Jangan lihat ke bawah!" ia bergumam. Tapi begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, ia seperti dipaksa menoleh.
Astaga!
Dasar jurang tampak jauh sekali di bawahnya.
Kalau aku sampai terpeleset dan jatuh…
Hei, jangan takut! Kamu takkan terpeleset dan jatuh! ujarnya dalam hati, berusaha memberanikan diri.
Tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh. Dan gadis itu pun tersentak kaget. Ia berpegangan dengan kedua tangan supaya tidak sampai jatuh. Batu di bawah kakinya bergetar.
Bunyi gemuruh tadi terdengar lagi.
Jingga memekik ketakutan. Rasanya seluruh gunung berguncang!
Bunyi itu berasal dari dalam gua. Tampaknya memang ada sesuatu yang bergerak di atas sana, pikirnya.
__ADS_1
Ataukah puncak gunung memang biasa berbunyi seperti ini kalau angin sedang bertiup kencang?
Jingga mengerahkan segenap keberanian, dan kembali merayap maju. Selangkah demi selangkah.
Aku sudah terlalu jauh untuk mundur tanpa membawa hasil, tekadnya.
Pelataran yang ia lewati semakin sempit, semakin licin, semakin gelap.
Sekali lagi terdengar bunyi gemuruh. Jingga kembali mencengkeram dinding batu yang dingin dan basah.
Setelah bunyinya mereda, ia kembali maju beringsut-ingsut. Rasanya ia tak sampai-sampai. Tapi akhirnya mulut gua muncul di hadapannya.
Dan setelah itu, ia melihat makhluk paling mengerikan yang pernah ia lihat seumur hidupnya.
Mula-mula Jingga tidak melihatnya.
Mula-mula ia cuma melihat lapisan kabut yang menyelubungi lereng. Dan gua bagaikan kaca yang menjulang di belakangnya. Mulut gua itu menganga lebar, dan kelihatan lebih gelap dari malam yang paling gelap.
Jingga memandang ke dalam kegelapan. Ia berusaha mengatur napas. Dan menunggu detak jantungnya kembali normal.
Awan-awan yang tercermin pada permukaan gua tampak bergerak ke kanan. Kesannya seakan-akan gua itu yang bergerak. Tonjolan-tonjolan batu yang runcing tampak menggantung dari bagian atas mulut gua.
Jingga langsung membayangkan gigi tajam yang siap menggigit. Ia terus menatap mulut gua yang gelap gulita itu dan menunggu. Menunggu apakah ada sesuatu yang akan muncul.
Ia tidak perlu menunggu lama-lama.
Bunyi gemuruh sekeras guntur menggetarkan lereng tempat ia berdiri.
Karena takut jatuh, Jingga langsung berlutut.
Gemuruh itu semakin keras.
Dan berikutnya ia melihat sosok hitam yang muncul dari kegelapan mulut gua. Orang-orangan sawah berukuran raksasa!
Jurig Bebegig.
Jingga menahan napas dan membelalakkan mata ketika makhluk itu bergerak ke arahnya.
"Ahhhh!" Jingga menjerit. Ia sampai lupa di mana ia berada. Ia lupa bahwa ia sedang berdiri di lereng yang licin dan sempit.
Jingga bergerak mundur, menjauhi makhluk itu. Dan tiba-tiba ia terpeleset. Kakinya kehilangan tempat berpijak. Dan ia pun melayang-layang di udara.
Secara refleks ia menjulurkan tangan ke atas. Dan mencengkeram pinggiran lereng tempat ia berdiri tadi.
Lalu, sambil mengerang, gadis itu memanjat ke tempat yang aman.
__ADS_1
Seluruh tubuh gadis itu gemetaran. Napasnya terengah-engah.
Jingga berlutut di sisi tebing yang tertutup kabut, dan menatap orang-orangan sawah yang mendelik ke arahnya. Jubah dan kain selubung hitamnya berkibar-kibar tertiup angin. Matanya yang bulat dan hitam kira-kira seukuran tombol pintu. Mulutnya menyeringai. Belum lagi bekas lukanya. Bekas luka itu tampak meliuk-liuk di pipinya, bagaikan seekor ular hitam.