
Sambil tetap berada dalam kegelapan, Yasa mendesah sementara matanya terpaku pada pintu keluar yang dilewatinya tadi, mengawasi Jingga yang berjalan keluar dari Rumah Kaca.
Sementara bibirnya membentuk seulas senyuman, ia melangkah keluar dari kegelapan dan menghampiri Jingga. "Akhirnya kamu keluar juga. Anak itu gak apa-apa, kan?"
"Ya, dia baik-baik aja," sahut Jingga, bergegas mendekati Yasa.
Mereka mulai berjalan melintasi lapangan pasar malam, menghindari anak-anak yang berlarian ke sana kemari, melewati kelompok-kelompok remaja dari kota dan curug yang tertarik setelah tahu pasar malam itu sudah buka.
Mereka berjalan melewati stand-stand permainan. Jingga menarik Yasa untuk berhenti di depan kios minuman dan makanan. "Aku mau Sno Cone," kata Jingga. "Yang biru. Kamu mau yang mana?"
Wajah Yasa tampak jijik. "Nggak, aku gak mau. Gak mau apa-apa." Aku maunya kamu, katanya dalam hati.
Jingga menarik keluar uang sepuluh ribu dari tasnya, menghampiri antrean. "Pernah nggak kamu heran kenapa tak ada makanan biru?" tanyanya. "Aku selalu makan Sno Cone biru," lanjutnya, tidak memberi Yasa kesempatan untuk menjawab, "karena ini satu-satunya makanan biru asli yang ditemukan di alam kehidupan."
la menunggu Yasa tertawa. Tapi karena cowok itu tidak menanggapi, Jingga akhirnya mengatakan ia hanya bercanda.
Tiba-tiba Yasa terlihat bingung, seakan ia memang tidak mendengar apa pun yang diucapkan Jingga.
Mereka berjalan melewati wahana-wahana anak-anak, sebuah kereta api kecil berputar-putar dalam lingkaran kecil, pesawat-pesawat jet yang melesat hampir dua meter dari atas tanah sambil berputar, dan tawa anak-anak kecil yang gembira.
Jingga sedang menikmati Sno Cone-nya. "Rasanya nggak biru," katanya, menawari Yasa agar mencicipinya.
Yasa menolak, lalu tersenyum lebar sambil menatap wajah Jingga. Bibir biru. Es itu membuat bibir Jingga jadi biru.
Dia kelihatan seperti mati, pikirnya. Sudah mati, dan aku bahkan belum sempat menciumnya hari ini.
Bibir biru Jingga mengejeknya, menggodanya, menyiksanya.
Aku harus membawanya ke tempat sepi, pikirnya, mulutnya sangat kering, kering dan bersisik, kering seperti mati.
Aku harus mencoba lagi.
Dan kali ini aku harus berhasil.
.
.
.
"Ngapain kamu malem-malem bawa-bawa cuka?" tanya ayah Magenta dari ruang tamu.
Magenta berhenti di pintu, sedikit tersentak. "Ah—Yah. Belum tidur?" ia balas bertanya---basa-basi, dengan gugup ia mencengkram botol yang tengah digenggamnya.
__ADS_1
Ia sebenarnya sudah tak sabar ingin bergegas ke pasar malam itu, tapi ia tak bisa berlari keluar begitu saja. Ia berdiri dengan sabar sementara ayahnya mengawasinya dengan mata terpicing sambil menurunkan buku yang sedang dibacanya ke pangkuannya.
"Buat apaan bawa-bawa cuka?" ulang ayahnya.
"Buat… membasmi gulma yang pasti," katanya sembari nyengir kuda.
"Malem-malem gini?" timpal ayahnya dengan nada menyindir.
"Ng—nggak, itu… ada temen yang minta." Magenta berbohong.
"Temen dari desa sebelah, barusan ketemu di pasar malem—"
la merasa tak enak membohongi ayahnya. Tetapi tak mungkin ia mengatakan hal yang sebenarnya, "Aku akan membasmi cowok yang sedang pacaran dengan Jingga." Tak mungkin ayahnya akan mempercayainya.
Siapa yang akan percaya?
Ayahnya memberi isyarat dengan tangannya---lupakan saja!
Magenta mengangkat bahunya sekilas.
"Jangan begadang!" Ayahnya memperingatkan saat Magenta buru-buru membuka pintu dan mengucapkan selamat malam sambil berjalan.
Pintu menutup di belakangnya.
"Aku tak percaya aku melakukan ini," gumamnya pada diri sendiri.
Ia ingat Yasa pernah mengatakan bahwa ia alergi cuka.
Sekarang Magenta mulai mengerti kenapa ia menghindari cuka.
Bukan alergi, pikirnya. Tapi kelemahannya.
Cuka adalah kelemahannya. Ia tidak tahu bagaimana cuka itu akan bekerja. Tapi ia yakin cuka itu akan membuktikan sesuatu.
Dengan begitu, Jingga akan mempercayainya.
.
.
.
"Gimana kalo kita naik kincir angin ria?" tanya Jingga, melemparkan cangkir kertas bekas es ke dalam keranjang sampah, mengusap bibir birunya dengan punggung tangannya.
__ADS_1
"Oke!" seru Yasa. Terlalu cepat. Terlalu antusias.
Jingga tertawa, tercengang melihat reaksi Yasa. "Kamu suka kincir angin ria? Apa yang ini gak bikin kamu pusing?"
"Enggak," sahut Yasa, berjalan mendului ke arah kincir angin ria yang sedang berputar di bagian depan lapangan dekat tempat parkir. Antreannya pendek. Mereka tidak perlu lama menunggu. "Aku suka berada di tempat tinggi, rasanya kayak terbang."
"Kita bisa liat curug dari puncaknya," kata Jingga, menanggapi antusiasme Yasa. "Dan semua bagian kota."
"Waktu masih kecil, aku suka pura-pura bisa terbang," kata Yasa, jarinya mempermainkan karcis. Antrean itu bergerak maju. "Aku bentangin tangan terus terjun di atas pohon-pohon. Anak-anak lain ngetawain aku, tapi aku tak peduli. Aku pura-pura bisa terbang ngejauhin mereka."
"Lucu," kata Jingga, "aku bisa bayangin waktu anak-anak."
Sebenarnya ia tidak bermaksud serius, tapi Yasa tampak tersentak mendengar ucapan itu. Hanya sesaat ia mengerutkan kening, tapi cukup lama bagi Jingga untuk bisa melihat perasaan terluka di matanya.
Setengah berlari, setengah berjalan, Magenta menuju ke lapangan tempat pasar malam itu diselenggarakan.
Begitu melangkah ke dalam sorot cahaya putih lampu-lampu pijar berkekuatan penuh, matanya memperhatikan wahana-wahana yang meliuk-liuk, berputar-putar, berjungkir balik, teriakan dan pekikan menyerbu telinganya.
Pasar malam itu tampak melebur dalam kabut cahaya putih.
la berpegangan pada sebatang tiang untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
Setelah mencari-cari lagi sebentar, sekilas ia pemelihat Jingga dan Yasa yang sedang bergandengan, antre di tempat kincir ria.
Dengan tangan gemetar karena tegang, cepat-cepat Magenta menyelipkan botol cuka itu di belakang tubuhnya, menyembunyikannya ke dalam jaketnya, melangkah penuh semangat melalui kincir ria, matanya mencari-cari di antara kerumunan.
Sekelompok anak kecil berlari cepat mendahuluinya, berebut mencapai wahana berikutnya, dan nyaris menabraknya hingga jatuh.
Seseorang melangkah di depannya, menghalangi pemandangan saat ia mencoba memfokuskan pandangannya ke arah Jingga.
"Maaf," kata suara seorang wanita setelah beberapa meter darinya.
Sambil tetap berada di samping kios makanan, Magenta bergerak agak mendekat dan mencari-cari lagi. Dan lagi. la memfokus ulang pandangan, bergerak agak mendekat, memastikan Jingga dan Yasa belum menghilang.
Jingga tiba-tiba mendongak. Magenta kembali merunduk ke samping kios.
Apakah Jingga melihatnya?
Dengan ragu-ragu kepalanya melongok ke luar dari samping kios, mengamati Jingga.
Tidak. Jingga berpaling kepada Yasa.
la akan mengatakan sesuatu, untuk minta maaf, tapi operator kincir angin ria, seorang laki-laki gemuk dengan rambut gondrong berminyak, mengenakan kaus lengan panjang yang hanya menutupi separo perutnya, menyuruh mereka naik ke wahana yang telah menunggu itu.
__ADS_1
Jingga meloncat ke dalam kereta yang terayun-ayun itu, lalu berbalik dan menolong Yasa naik dengan menariknya. Yasa menatapnya tak yakin, lalu duduk bersandar di tempat duduk plastik, yang masih hangat bekas penumpang sebelumnya. Sabuk pengaman tersilang pada paha mereka.
Magenta tidak ingin sampai terlihat. Ia tahu Yasa akan segera menebak apa maksud Magenta. Magenta gemetar. Tak ada yang bisa mengatakan apa yang mungkin akan dilakukan Yasa untuk mencegah Magenta memperoleh bukti tentang dirinya.