
Yasa mendesah pendek, dan merogoh saku celananya, kemudian mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada Rogan. "Gue minta nomor lu," katanya. "Kita lanjut nanti!"
"Oh, oke!" Rogan meraih ponsel Yasa dan mengetikkan nomornya, lalu mengembalikan ponsel itu pada Yasa. "Thanks ya, Sa," katanya tampak terharu. "Gue ngerasa beruntung ketemu elu!"
"Ah, lebay ente, Bang!" kelakar Yasa.
Rogan terkekeh menanggapinya. "Tapi gue serius. Berkat lu, rasa bersalah gue sama Aruna sedikit berkurang. Gue jadi trauma setelah itu. Itu pertama dan terakhir kalinya gue nyentuh cewek."
Yasa dan Jingga bertukar pandang, dahi mereka berkerut-kerut.
Seolah bisa membaca pikiran keduanya, Rogan tiba-tiba menoleh pada mereka sambil terkekeh, "Oke," katanya seraya mengangkat kedua tangan ke arah Yasa dan Jingga. "Gue emang tinggal bareng sama si Vivi, tapi boleh percaya boleh nggak, gue gak pernah ngapa-ngapain dia!"
Jingga dan Yasa masih bergeming, masih terlihat sangsi.
"Gue sering menghindar kalo gelagat si Vivi mulai gak kontrol," cerita Rogan. "Dan… gue gak nyangka hal itu bakal jadi bumerang. Dia bawa cowok lain ke kontrakan, seolah ngasi contoh, 'begini baru laki!' sampe pintu aja kayaknya sengaja gak dikunci."
"Hah?" Jingga dan Yasa serempak terperangah.
Rogan langsung tertunduk dengan raut wajah murung. "Sori, Ga!" katanya sambil menoleh pada Jingga. Ia menyesap kopinya dan mengelap mulutnya dengan punggung tangannya. "Gue gak maksud ngumbar aib temen lu," sesalnya. "Gue juga gak niat ngelecehin cewek."
"Gak apa-apa," tukas Jingga sedikit kikuk. Tidak mengira Violet seperti itu. Pantas saja Rogan jadi rada sinting, pikirnya. Sekarang aku mengerti kenapa Yasa menyarankanku untuk menjauhinya.
Lebih dari itu, sepertinya ada sesuatu yang dirasa Jingga cukup khas.
Tuntutan pelepasan yang sangat mendesak!
Itu seperti Yasa dua tahun lalu. Jingga melirik cowok itu dengan berdebar-debar. Sial! pikirnya. Kenapa kenangan itu membuatku bergairah?
"Sebagai cowok gue nyesel gak pernah ngerti kebutuhan Vivi—gue ngerasa payah, tapi di samping itu, gue gak nyesel akhirnya lepas dari belenggu Vivi," Rogan melanjutkan keluh-kesahnya. "Kek gue bilang tadi, gue kek kebo dicocok idung!"
Yasa membungkuk mencondongkan badannya ke arah Rogan, kemudian menepuk-nepuk punggung tangan cowok itu untuk memberi motivasi. "Jantan itu bukan tentang kemampuan," bisiknya penuh arti. "Tapi tentang prinsip."
Rogan mengerjap dan terkesiap. Siapa orang ini? pikirnya sedikit ngeri.
Setelah berbasa-basi sebentar, mereka akhirnya keluar dari rumah makan itu dan berpisah di parkiran.
__ADS_1
Rogan melambaikan tangannya setelah menyalakan mesin, lalu menjalankan mobilnya sambil tersenyum lebar. Tampangnya sudah jauh lebih enak dipandang sekarang.
Yasa dan Jingga bertukar pandang. Tangan mereka saling menggenggam.
"Jadi waktu itu kamu tenggelem karena visi?" tanya Yasa hati-hati.
"Jadi itu beneran visi?" Jingga balas bertanya sambil tertunduk.
Yasa mengelus punggung tangan Jingga dengan ibu jarinya. "Bisa dibilang kamu kena tenung," katanya lembut.
"Hah?" Jingga menoleh pada Yasa dengan mata dan mulut membulat. "Jadi itu bukan visi?"
"Ya, itu visi!" sanggah Yasa. "Tapi lebih condong ke pengalaman daripada penglihatan. Yang dimaksud dengan visi artinya berkaitan dengan visual—penglihatan. Apa yang kamu alami udah menyangkut semua indera. Aku gak tau istilah tepatnya. Mungkin merayan, kerasukan dan sejenisnya. Itu sama halnya kayak pengalaman berjalan dalam tidur yang kamu alami selama ini."
Jingga menyimak penjelasan Yasa dengan tatapan kagum.
"Hantu Aruna tercipta dari energi negatif yang mengandung zat halusinogen karena semasa hidupnya dia memakai aroma tertentu sebagai media untuk menenung. Aroma itu mungkin masih tertinggal waktu kamu nempatin kamar itu."
"Kamu kok pinter banget, sih?" puji Jingga setengah menggoda.
Jingga tergelak menanggapinya.
Yasa hanya tersenyum tipis seperti biasa, lalu mulai menyalakan mesin dan beranjak pergi, melanjutkan perjalanan pulang dan begitu sampai di rumah Jingga, Empu Brajasena menyambut mereka di pekarangan.
Pria paruh baya berambut panjang itu sedang memangkas rumput di pekarangan ketika Yasa memarkir mobilnya, belum menyadari siapa pemilik mobil itu.
Jingga keluar lebih dulu dan menghambur ke dalam pelukan ayahnya.
Empu Brajasena memelototi pintu kemudi dengan ekspresi waspada, dan begitu mengetahui siapa yang mengantar putrinya pulang, hal pertama yang dilakukannya adalah menyambar pergelangan tangan Yasa dan membuka paksa telapak tangannya.
Yasa dan Jingga spontan menegang dan menahan napas.
"Ikut saya!" perintah Empu Brajasena pada Yasa setengah menggeram. Kemudian menghela Yasa ke halaman belakang, tempat di mana bangunan baru yang bersebelahan dengan dapur menjadi ruang khusus untuk kegiatan spiritualnya.
Dan aku sungguh celaka! pikir Yasa getir. Ia melirik sekilas pada Jingga yang secara otomatis dibalas tatapan panik yang sama.
__ADS_1
"Jingga!" Ragnala menghambur keluar menyongsong putrinya dengan raut wajah cemas. Lalu menoleh ke arah Yasa. "Ada apa?" tanyanya khawatir.
"Ah—" Jingga tergagap. Tak yakin harus menjawab apa.
"Kenapa kamu udah pulang lagi?" Ragnala bertanya lagi. "Belum seminggu, tapi kamu udah pulang dua kali."
"Cuma masalah…" Jingga menggantung kalimatnya sesaat sebelum menambahkan, "Spiritual!" tandasnya sambil mengedikkan sebelah bahunya, menunjuk sekilas pada ayahnya yang sudah menghilang di sudut pekarangan belakang rumah mereka.
Ibunya langsung terkekeh dan mengusap kepala Jingga. Lalu memeluknya dan menarik gadis itu ke dalam rumah.
Langkah mereka terhenti ketika langkah seseorang terdengar ribut di belakang mereka.
"Jingga!" Seseorang memanggil dengan napas tersengal.
Jingga dan ibunya menoleh serempak dan mendapati Magenta sedang terengah-engah.
Diam-diam Ragnala mendesah pendek dan membeliak sebal. "Jangan ke mana-mana, sebentar lagi makan malam," pesannya pada Jingga. Kemudian berlalu meninggalkan mereka.
Jingga berbalik ke arah Magenta dan memaksakan senyum.
Cowok itu sedang mengawasi mobil Yasa dengan rahang mengetat, lalu ketika ia menoleh ke arah Jingga, gadis itu memekik tertahan seraya membekap mulutnya.
"Muka kamu kenapa?" tanya Jingga terkejut.
Ia melihat luka lebam di seputar mata dan sudut bibir cowok itu.
"Biasalah!" Cowok itu tertunduk sesaat dan tersenyum masam, kedua tangannya terselip di saku jaketnya. "Namanya orang jalan," tuturnya ambigu. "Kamu pulang sama siapa?" tanyanya sambil menatap ke dalam mata Jingga. Sebelah alisnya terangkat tinggi.
"Kamu abis berantem, ya?" Jingga balas bertanya setengah mengomel.
Magenta tersenyum masam sekali lagi, menghindari tatapan Jingga. "Aku lupa bawa surat jalan waktu nganter barang," katanya muram. "Petugas gak mau tau, akhirnya emosiku kepancing, dan…" ia mengedikkan bahunya sedikit dan dengan sengaja menggantung kalimatnya.
Jingga menatap mata Magenta, berusaha mencari kebenaran di situ.
Senyum Magenta lenyap. Matanya yang gelap menatap tajam ke dalam mata Jingga. "Siapa yang nganter kamu?" ia mengulang pertanyaannya.
__ADS_1
Jingga tidak menjawab. Tatapannya terpaku pada luka lebam di sudut bibir Magenta. Luka memar berwarna hitam yang memanjang ke pipinya membentuk sulur seperti tato akar.