
Magenta menunduk menatap ke dalam air, yang mengempas-empas ke dinding batu.
Dan ia melihat Jingga sedang berdiri di tepi kolam, berendam hingga ke pinggangnya, rambutnya disinari cahaya bulan.
"Hah? Jingga—" Ia berusaha bicara, tapi terkejut karena tidak ada suara yang keluar.
Jingga melambai padanya seraya tersenyum, menyibakkan rambutnya ke belakang. Lalu ia memberi isyarat padanya agar turun, bergabung dengannya.
Dia tersenyum!
"Kamu gak apa-apa?" seru Magenta.
Jingga tidak dapat mendengarnya di sana. la kembali memberi isyarat padanya agar turun.
Tapi Magenta tidak henti-hentinya tercengang padanya.
Bagaimana dia dapat selamat sesudah jatuh seperti itu? Ia heran. Degup jantungnya terasa kembali normal. Kengeriannya telah tersingkir.
Bagaimana dia bisa menghindari tumbukan dengan batu-batu itu?
Bagaimana dia melakukannya?
Sekarang Magenta berdiri, balas melambai pada Jingga. la sangat gembira karena Jingga masih hidup. la sangat gembira hingga rasanya ingin merentangkan kedua lengannya dan tinggal landas, meluncur dari tepi karang itu, dan melayang turun ke cewek itu.
Tapi ia berbalik dan dengan hati-hati berjalan melintasi langkan batu rata itu. Jalan setapak turun yang berbatu itu curam dan licin, tapi ia berlari penuh semangat, terantuk-antuk, batu-batu berlontaran dan berlongsoran.
"Jingga—kamu beneran gak apa-apa!"
Jingga masih tidak dapat mendengarnya karena deru angin dan deburan air.
Sambil berdiri di tepi pantai yang berkerikil sekarang, ia tersenyum, rambutnya berkilauan dalam cahaya bulan, kedua lengannya lurus di samping seakan menunggu Magenta dengan sabar.
"Bikin takut aja!" teriak Magenta, sepatu ketsnya memercikkan air yang menggenangi batu-batu retak yang bertebaran di pantai.
Jingga tidak menjawab.
Ia masih mendongak dan tersenyum ke puncak bukit batu di atas di mana Magenta berdiri tadi, melambai-lambaikan tangannya sekali lagi.
__ADS_1
Magenta menelan ludah dan terperangah, lalu mendongak ke puncak bukit batu itu mengikuti arah pandang Jingga dan tergagap.
Siluet seseorang berdiri di tempat itu—di tempat Magenta berdiri tadi.
Detik berikutnya, sosok di atas itu melompat ke arah Jingga.
Bersamaan dengan itu Magenta mendengar kepakan sayap dan sesuatu yang lembut seperti helai kain melecut menampar dirinya. Membuat tubuhnya terpental ke belakang.
Sebelum Magenta bisa menghela napas, bahkan sebelum ia menyadari apa yang terjadi, kegelapan menelan dirinya.
Tentu saja Magenta tidak tahu bahwa Jingga sebenarnya sudah berada di kolam air terjun itu sejak awal. Gadis itu tidak pernah melompat. Apa yang dilihatnya hanyalah ilusi yang dibuat Yasa supaya Magenta ikut melompat ke air terjun.
Kontrol kesadarannya lumayan juga, pikir Yasa sedikit sinis. Aku sedikit salut padamu, Magenta. Ia melirik ke semak-semak di mana Magenta terkapar sekarang. Mari kita lihat apakah setelah ini kau masih sadar?
Yasa mengulurkan lengan ke sekeliling bahu Jingga dan menarik wajahnya mendekat.
Aroma parfum pria itu seolah melayang di sekeliling Jingga, menahannya, menariknya mendekat. la terasa hangat dan sekaligus dingin, basah karena air terjun, tapi bibirnya sangat kering, panas dan kering.
Yasa mencium bibirnya, mencium matanya mencium dagunya. Menciuminya dengan gairah yang begitu mengejutkan. Sangat panas dan sekaligus sangat dingin.
Ciumannya.
Jingga berusaha menanggapi. Tapi dirinya tenggelam---dengan sukarela tanpa dipaksa—ke dalam kegelapan yang berputar memusingkan.
Air di sungai itu dingin, namun ciuman yang diberikan Yasa terasa panas, kulit Yasa terasa licin saat Jingga merangkulnya. Menikmati ciuman Yasa, tangan Jingga menjelajahi lekukan halus dan tangan yang berotot itu. Yasa melenguh lembut menikmati sentuhannya. Sambil memeluk Jingga dengan satu tangan Yasa bergerak ke bagian belakang tubuh Jingga, tubuh basah mereka saling menempel, panasnya tubuh berpadu dengan dinginnya air. Jingga merasa teramat mabuk sekaligus merasa sangat gembira.
Yasa berhenti sejenak menatapnya. Rambut Yasa terlihat lebih pekat dari malam, terjuntai jatuh dari atas keningnya. Bola mata gelapnya menatap Jingga dengan pandangan lapar. Jingga melihat ke dalam mata Yasa penuh kerinduan dan lelaki itu tersenyum.
Membungkuk lebih dekat lagi, Yasa mulai mencium seluruh pipi, dahi serta kelopak mata Jingga. Ia menggigit dagu, pipi dan bibir bawah gadis itu dengan lembut.
Bahu Jingga bergetar. Beberapa kancing kemeja Yasa terbuka di bagian dadanya. Jemari Jingga menjelajahi dada Yasa yang terbuka.
Yasa turun menciumi leher Jingga. Menyingkap ujung blusnya ke atas. Pusat dada gadis itu mengeras, Yasa mengelusnya dan memagutnya.
Jingga melengkungkan tubuhnya di dalam air. Yasa menjilati dan meminum tetesan air yang berada di atas kulit Jingga. Mulut Yasa menari di sepanjang tubuhnya.
Kemudian seringai Yasa memudar berganti dengan tatapan nikmat seiring dengan meningkatnya intensitas belaian Jingga.
__ADS_1
Tangan Jingga menjelajahi tubuh Yasa yang berkilau dengan kulit putih dan halus, menyusuri otot di seputar lengan dan bahunya di atas kemeja yang basah dan menempel.
Yasa melihat ke dalam mata Jingga, pandangannya menggelap berselimutkan hasrat. Yasa memandang Jingga dengan tatapan membara.
Jingga bisa merasakan Yasa bergetar hebat. Jingga memberikan ciuman terdalamnya, ia bahagia menerima respons Yasa hingga dihentikan oleh suara erangan dan tarikan yang membuatnya mendekat.
Yasa menyapukan pipinya pada pipi Jingga dengan lapar. Kemudian ia mengangkat wajah Jingga dengan kedua belah tangannya sebentar dan menciumnya lagi dan lagi.
Yasa mengaitkan kedua kaki Jingga di pinggangnya, menggendongnya, kemudian bergerak perlahan ke tepi sungai. Di sana, ia menemukan tempat yang lebih tinggi dan merebahkan Jingga di atas permukaan rumput yang lembut bagai beludru. Yasa berbaring di atas Jingga, bertumpu pada kedua tangannya. Jingga merengkuhnya. Yasa kemudian memenuhi dirinya.
Dengan napas tersengal Jingga mencakar otot Yasa. Yasa menjilat bibirnya dan merunduk mencium Jingga.
Jingga meraih tengkuk Yasa, bagian tubuh Yasa kini berada di dalam tubuhnya. Tangan Yasa yang begitu hangat menggenggam puncak dadanya. la ingin Yasa memberinya lebih banyak lagi, cowok tampan ini, adalah cinta sejatinya---setidaknya itulah yang diyakininya.
Pinggang Yasa terbungkus dua belah paha Jingga, ia menguncinya dan melengkung di bawahnya.
Ah, kau ternyata gadis nakal? pikir Yasa sambil menunjukkan persetujuannya atas tindakan Jingga.
Tidak ada kata-kata terucap dari bibir keduanya, hanya erangan dan embusan napas memburu.
Aku ingin memberimu kenikmatan, pikir Yasa bergairah. Aku tahu kau adalah gadis yang sangat bergairah tapi aku tidak pernah menyangka seperti ini.
Ketika Yasa kembali merunduk dan menciumnya, Jingga menyusuri sisi tubuh Yasa kemudian menekan pangkal pahanya yang licin.
Yasa menyusupkan tangannya ke dalam celana Jingga. Gadis itu dalam keadaan menggila. Merasakan sisi terliar dari hasratnya, Yasa tanpa ampun membawanya menikmati gairah yang ada dalam dirinya. Hingga mencapai nirwana.
Yasa menaruh ibu jarinya di dekat pusat kenikmatan Jingga sementara ia membawanya terbang. Yasa membuatnya merasakan berbagai jenis sensasi kenikmatan. Tangannya terlepas dari leher Yasa. Ia mengangkat panggulnya lebih tinggi dan membiarkan Yasa melakukan apa yang diinginkan lelaki itu, seluruh tubuhnya adalah tempat untuk memenuhi setiap hasrat Yasa.
Yasa kemudian menangkup bokong Jingga, menekankan tubuhnya ke tubuh Jingga, merasakan gelombang kenikmatan. Tubuhnya bergetar hebat oleh gairah. Menggigil saat mencoba mengisi dunia Jingga.
Jingga tidak melakukan protes sedikit pun saat Yasa menurunkan celananya, mencoba melepaskannya.
Tiba-tiba sebuah bayangan melayang jatuh dari puncak tebing. Lalu suara mengepak dan berderak-derak.
Sial!
Yasa menggeram dalam hatinya.
__ADS_1