Bebegig

Bebegig
Chapter 82


__ADS_3

"Cerita dong, Sa!" desak Rogan menggebu-gebu. "Gue penasaran."


"Tapi lu janji ya, bakal bicara jujur?!" tantang Yasa.


"Tau lu punya indera keenam, apa lu pikir gue masih berani boong?" Rogan berkilah sambil terkekeh gelisah. Tampangnya mulai enak dilihat sekarang.


Jingga tersenyum samar menyadarinya. Cowok ini sebetulnya lumayan tampan, katanya dalam hatinya. Apakah tampang seramnya selama ini akibat frustrasi setelah putus dari Violet?


Tapi tidak, pikir Jingga. Pemilik kontrakan tadi mengiyakan bahwa tampangnya sudah begitu sejak semula.


"Gue gak sesakti itu," tukas Yasa halus. Kemudian melanjutkan interogasinya. "Dia juga pernah ngekost di rumah nenek lu, kan?" Ia bertanya dengan ekspresi tenang.


"Ya," jawab Rogan sedikit tercengang.


"Kamarnya sekarang ditempati Jingga," Yasa memberitahu.


Rogan spontan melirik ke arah Jingga.


Gadis itu menelan ludah dan tergagap. Tidak mengira Yasa mengetahui kebenarannya sampai sejauh itu hanya dengan mengandalkan visi. Jingga bahkan tidak mengira kamarnya bekas orang mati.


Padahal papanya kan orang sakti?!


Benarkah Yasa mengetahui semuanya hanya berdasarkan visi?


Atau Bu Lastmi yang menceritakannya?


Tapi tidak!


Seingat Jingga, Bu Lastmi dan Yasa terus mengobrol di depan batang hidungnya. Bu Lastmi memang bercerita mengenai anak kost yang mati. Tapi tak pernah mengungkit soal kamarnya.


Ya, Jingga menyimpulkan. Yasa mengetahui semuanya hanya dari penglihatan spiritualnya.


Kemampuannya memang benar-benar mengerikan!


"Cewek itu punya… semacam tenung," cerita Yasa.


Jingga dan Rogan mengerjap bersama.


"Kalo gak salah tebak, dulu lu tinggal sama nenek lu. Ya, kan?" Yasa menambahkan.


"Fix! Lu orang sakti!" Rogan menjetikkan jari dan menunjuk ke arah Yasa. Lalu berdecak kagum dan menggeleng-geleng.


"Dia pernah narik lu ke kamarnya, bener apa bener?" terka Yasa.


Rogan langsung tergagap. Tak jadi menyesap kopinya. Sepasang alisnya yang tebal saling bertautan membentuk kerutan dalam pada dahinya.

__ADS_1


"Gue udah bilang kan, ini agak pribadi?" tukas Yasa membela diri.


"Ini sih pribadi banget, Sa! Bukan agak pribadi," sergah Rogan setengah menggerutu.


Yasa hanya tersenyum tipis menanggapinya. "Sori," katanya enteng seraya mengedikkan bahunya sekilas.


"Oke, itu dosa terbesar gue sama si Vivi!" Rogan akhirnya mengaku. Raut wajahnya berubah muram. "Itu sebabnya gue jadi kek kebo dicocok idung," katanya lirih. Lalu tiba-tiba mengerutkan dahinya dan menatap Yasa sekali lagi. "Jadi waktu itu gue ditenung, Sa?"


Yasa mengangguk.


Rogan terdiam. Dahinya masih berkerut-kerut, seperti sedang mencoba mengingat-ingat. "Sebenernya… gue juga ngerasa kejadian itu terlalu janggal. Gue bener-bener ilang kontrol waktu itu, kayak bukan diri gue."


"Ya, ilmu tenung emang sehalus itu, seseorang bisa mengendalikan orang lain dari jarak jauh hanya dengan mempengaruhi alam bawah sadar orang terkait!" Yasa menimpali.


"Tapi…" Rogan kembali terlihat ragu. "Kalo dia yang nenung gue, terus kenapa dia bunuh diri?" Ia mengerang sembari mengepalkan tangan di sisi cangkir kopinya. Terlihat sangat menyesal. "Kenapa dia nyiksa gue dengan rasa bersalah?"


"Sebenernya dia dibunuh," kata Yasa.


"Hah?" Jingga dan Rogan terperangah bersamaan.


"Siapa?" tanya Rogan.


"Gue gak berani jawab bagian ini," tukas Yasa sambil tersenyum samar. "Untuk menjawab hal ini gue perlu saksi dan bukti. Terlalu berisiko!"


Rogan mendesah berat dan melemas. "Iya juga, ya," gumamnya. "Tapi lu tau?" tanyanya penasaran.


"Ah—bener juga!" Rogan mengerang sembari meninju telapak tangannya sendiri. Turut menyayangkan situasinya.


"Lu belum denger bagian gawatnya," Yasa menambahkan sembari bersedekap.


"Hah?" Rogan menurunkan cangkir yang baru diangkatnya. "Masih ada yang lebih gawat?"


"Pelaku punya alibi yang cukup kuat," kata Yasa. "Pelaku terbaring koma di rumah sakit."


Jingga tersedak tehnya dan terbatuk-batuk.


Violet! pikirnya spontan.


Violet yang telah membunuh Aruna!


Halusinasinya waktu di danau…


Itukah yang terjadi pada Aruna?


Jingga menatap Yasa dengan tatapan ngeri.

__ADS_1


Yasa menepuk-nepuk lembut tengkuk Jingga seraya tersenyum samar.


Rogan bahkan belum berkedip di seberang meja. Hanya mematung menatap Yasa. Tertegun antara takjub dan tak percaya. "Gue tau," bisiknya setelah lama terdiam. Suaranya terdengar parau dan agak tercekat. "Gue tau!" ulangnya seakan mencoba meyakinkan dirinya. Tapi bersamaan dengan itu ia juga tak yakin pada kesimpulannya. "Gue tau!"


Jingga tak ingin tahu. Kemampuan Yasa sudah cukup membuatnya ketakutan setengah mati. Ia tak siap mendengar yang lebih mengerikan lagi.


Tapi bagaimana Violet bisa koma, Jingga masih belum tahu ceritanya. Yasa belum mengatakannya.


"Tapi gimana caranya orang koma bisa…"


"Yang jadi pertanyaan gue…" Yasa mencoba menyela Rogan. Ia tak akan bisa menjawab pertanyaan yang sedang coba diajukan Rogan. Masih ada misteri yang belum terpecahkan. "Gimana caranya dia bisa koma?"


Itu adalah bagian yang belum terpecahkan, pikir Yasa. Visinya terputus akibat dia kehabisan napas.


Barangkali cerita Rogan bisa membantunya mengurai misteri bangkitnya Violet dari kondisi koma.


"Apa lu masih inget?" Yasa bertanya lagi.


Rogan langsung tertunduk. "Itu juga gue lepas kontrol," tuturnya muram. "Gue refleks aja tau-tau nimpa si Vivi pake guci. Gue… bahkan gak inget kapan guci itu bisa ada di tangan gue."


Jingga menelan ludah dan terkesiap. Perkataan Violet melintas dalam benaknya.


"Lu udah ngerebut bokin gue, melakukan percobaan pembunuhan…"


Violet tidak menyalahkan Rogan.


"Lu yakin, lu yang mukul Vivi?"


Pertanyaan Jingga membuat Rogan tersentak.


Bahkan Yasa mengerutkan dahi. Dari mana Jingga tahu yang koma itu Violet? pikirnya terkejut.


"Lu…" Rogan terbata-bata. "Tau dari mana kalo itu Vivi?"


Pertanyaan Rogan menggemakan pikiran Yasa.


Jingga langsung tergagap menyadarinya. Tiba-tiba menjadi ragu mengenai apa yang dialaminya sewaktu di danau yang kemudian ia simpulkan sebagai visi.


Siapa yang tahu itu cuma halusinasi? sesalnya dalam hati.


Kenapa aku bisa begitu gegabah mengambil kesimpulan?


Yasa menyentuh bahunya lagi sambil tersenyum, "Tebakan kamu gak salah, kok," katanya menenangkan.


"Tebakan?" Jingga terlihat tersinggung. "Enggak---bukan!" sergahnya cepat-cepat. Tiba-tiba emosinya menjadi tak stabil. "Itu bukan tebakan. Aku… ngalamin, maksud aku---kayak ngalamin apa yang dialamin Aruna waktu kita ke danau. Aku kira itu semacam visi atau apalah. Aku—"

__ADS_1


Yasa mengusap-usap bagian belakang kepala gadis itu dengan prihatin, "Oke, cukup!" pungkasnya. Menyela dengan halus.


Rogan masih membuka mulutnya, menatap Yasa dan Jingga dari seberang meja, tapi suaranya sudah menghilang ditelan kebisuan yang membingungkan.


__ADS_2