Bebegig

Bebegig
Chapter 76


__ADS_3

"Si Vivi kecelakaan di mana?" Haris mengalihkan topik pembicaraan.


"Saya juga gak tau, Mas!" kata Jingga. "Tapi kondisinya lumayan parah. Makanya saya gak percaya dia kabur dari rumah sakit."


"Lu curiga si Rogan bawa kabur dia?" Haris bertanya sinis.


"Saya cuma khawatir sama keadaan Vivi," Jingga berkilah. "Saya yakin dalam keadaan begini dia gak bakal berani pulang ke rumah. Makanya saya langsung ke sini!"


Haris mendesah pendek, "Masalahnya si Rogan baru kemaren doang cerita udah putus sama si Vivi!"


"Hah?" Jingga tak bisa menutupi keterkejutannya.


"Gue gak yakin tu anak lagi bareng si Rogan," kata Haris. "Lagi pula gue belum tau kostan mereka yang baru."


Kostan mereka yang baru? pikir Jingga terkejut.


"Dulu sih, mereka ngekost di belakang kampus," cerita Haris. "Tapi setelah mereka putus, si Rogan pindah kostan. Tapi gue gak tau pindah ke mana!"


Jingga mendesah pendek dan memaksakan senyum. "Ya udah deh," katanya muram. Lalu memohon diri. "Makasih informasinya."


"Sekarang ke mana?" Yasa bertanya pada Jingga setelah mereka kembali berada di dalam mobil.


"Kita ke rumah Violet," kata Jingga.


"Oke," kata Yasa berusaha bersikap ceria. "Di mana dia rumahnya?"


"Masih satu gang sama kostan aku," jawab Jingga. "Sekalian kita ambil barang-barang aku."


"Siap!" respon Yasa di antara senyum hangatnya. Jingga meliriknya sembari mengulum senyum. Tiba-tiba tak tahan ingin mengecup pipinya.


Dia cakep banget hari ini, pikir Jingga gemas.


Yasa jarang sekali bercanda. Hari ini dia terlihat seperti orang sedang kasmaran. Membuat Jingga menjadi terlalu percaya diri. Begitu percaya diri sampai lupa pada Magenta.


Begitu sampai di rumah Violet, Jingga akhirnya memutuskan untuk memberitahu orang tuanya. Tapi ibu Violet tampak tidak terkejut mendengar cerita Jingga.


Lalu ibu Violet tersenyum masam dan tertunduk, "Lagi diurus," katanya. "Ayah Violet sekarang lagi ke rumah sakit."


"Ibu udah ketemu Vivi?" Jingga bertanya terkejut.


Ibu Violet mengangguk dan memaksakan senyum. "Dia udah pulang tadi, di anter temennya," katanya.


"Hah?" Jingga terperangah. "Di mana dia sekarang?" Jingga bertanya seraya mengedar pandang.


"Udah pergi," kata ibu Violet.

__ADS_1


"Ke mana?" Jingga bertanya lagi, masih dengan ekspresi terkejut.


"Katanya dia mau ngekost sama temen di deket-deket kampus biar gak perlu ngongkos bolak-balik ke rumah setiap hari karena motornya rusak parah," cerita ibu Violet. "Ibu kira ngekost sama kamu!"


"Ah—saya belum ketemu dia dua hari ini," jawab Jingga sedikit kikuk. "Siapa yang nganter dia pulang?"


Ibu Violet mengerutkan dahi, mencoba mengingat-ingat. "Ibu lupa siapa namanya," gumamnya kemudian. "Katanya sih orang itu yang nganter Vivi ke rumah sakit waktu kecelakaan, dia juga yang ngangkut motor Vivi ke bengkel. Kedengarannya orang baik."


Siapa ya? pikir Jingga sambil mengerutkan keningnya. Berpikir keras. "Terus, keadaan dia gimana?" tanyanya kemudian.


"Dia udah gak apa-apa!" jawab Ibu Violet sambil tersenyum lembut.


Jingga menaikkan sebelah alisnya. Dia patah tulang. Apanya tidak apa-apa?


"Maksud saya—tangannya masih digips?" Jingga meralat pertanyaannya.


"Digips?" Giliran ibu Violet sekarang yang menautkan alisnya.


"Ya---dia masuk ICU, dan…"


"Dia masuk ICU karena pingsan aja katanya," potong ibu Violet sambil terkekeh. "Ditambah ada luka di kepala, orang yang nemuin dia pasti panik."


"Tapi…"


"Gak usah kuatir," potong ibu Violet sambil menyentuh bahu Jingga dan tersenyum lembut. "Dia udah gak apa-apa. Lecet aja nggak!"


Jingga menelan ludah. Kemudian melirik Yasa.


Yasa balas meliriknya dan menepuk pelan punggung tangannya. Seulas senyum samar di sudut bibirnya menenangkan Jingga.


Ada bagusnya juga dia di sini, pikir Jingga.


"Dia ngasih tau ibu di mana kostannya?" Yasa mengambil alih interogasi.


"Ah—" ibu Violet langsung tertunduk. "Dia cuma bilang di deket-deket kampus. Tapi gak bilang di mana tepatnya."


"Oh, ya udah kalo gitu…" Yasa menarik tangan Jingga. "Biar kami cari sendiri aja!"


Jingga dan Yasa akhirnya memohon diri, lalu bergegas ke mobil Yasa dengan terburu-buru.


"Sa! Ada apa?" Jingga bertanya setelah mereka berada di dalam mobil. Dia bisa merasakan gelagat kecemasan ketika Yasa terburu-buru menariknya.


"Nanti aja ngobrolnya," pungkas Yasa tanpa menoleh. Ia menyalakan mesin dan menggelindingkan mobil itu keluar dari pekarangan rumah Violet, lalu meluncur pelan di gang perumahan menuju rumah Bu Lastmi. Dan selama itu Yasa tidak bicara.


Sesampainya di rumah Bu Lastmi, Jingga melihat pintu gerbang tidak terkunci. Apa aku lupa menguncinya tadi? pikir Jingga.

__ADS_1


Tidak! Jingga merasa yakin dia telah menguncinya.


Jingga mendorong gerbang itu dengan dahi berkerut-kerut.


Yasa memarkir mobilnya di pekarangan, sementara Jingga menutup gerbang.


Yasa melangkah keluar dan terperangah menatap rumah itu.


Jingga menoleh pada Yasa dengan mata terpicing. Lalu mengikuti arah pandang cowok itu dan memekik tertahan.


Pintu depan rumah Bu Lastmi terbuka.


Jingga bergegas ke serambi dan memeriksa pintu itu.


Yasa mengikutinya dengan langkah-langkah pelan sembari menggendong Cakra. Tapi ketika Jingga melangkahkan sebelah kakinya ke dalam, Yasa menahan bahu gadis itu dan mendahuluinya masuk ke dalam.


Kucing Bu Lastmi mengeong keras dan memberontak dalam dekapan Yasa, kemudian melompat turun dan berlari ke koridor.


Yasa dan Jingga mengikutinya.


Bayangan seseorang berkelebat dalam kegelapan rumah, dari perpustakaan ke arah dapur.


Jingga menyalakan lampu koridor.


Tidak ada siapa-siapa!


Yasa mempercepat langkahnya dan bergegas menuju dapur, lalu berhenti mendadak di depan pintu.


Jingga menerjang ke arah pintu dan melongok melewati bahu cowok itu dan terkesiap.


Seseorang sedang membungkuk di lantai di samping meja makan dan ketika Cakra melompat ke meja makan, orang itu tersentak dan mendongak menatap kucing itu. Lalu menarik bangkit tubuhnya dari lantai dan menerjang ke arah Cakra.


Jingga spontan menyeruak melewati Yasa dan melompat ke dalam ruangan. Lalu membeku dan terkesiap. "Bu Lastmi!" pekiknya terkejut.


Wanita tua itu memicingkan matanya, menatap Yasa dengan terkejut. "Kamu bawa cowok?" Bu Lastmi mendesis tajam pada Jingga.


"Ah—" Jingga langsung tergagap. "Maaf," ungkapnya sedikit tercekat.


Yasa melangkah pelan ke arah mereka dan tersenyum tipis. Lalu mengangguk pada Bu Lastmi. "Ini bukan salah Jingga," katanya. "Saya yang datang sendiri. Bukan Jingga yang bawa saya ke sini. Jingga malah gak pernah ngasih tau alamatnya."


Bu Lastmi memelototinya dengan dahi berkerut-kerut. Sebelah alisnya terangkat tinggi.


Tiba-tiba Cakra mengeong dan melompat dari dekapan Bu Lastmi, kemudian menggosok-gosokkan badannya ke pergelangan kaki Yasa.


Bu Lastmi memandangi kucing itu dengan terkejut, lalu menatap Yasa dengan tergagap.

__ADS_1


Yasa kembali tersenyum dan mengangguk pada Bu Lastmi.


Bu Lastmi menelan ludah. Raut wajahnya berubah dengan cepat.


__ADS_2