Bebegig

Bebegig
Chapter 86


__ADS_3

Jingga cepat-cepat menyeka air matanya ketika Magenta masuk ke ruang makan.


Cowok itu kelihatan bingung. Kedua pipinya memerah. Ia mengenakan celana pendek tenis berwarna putih dan T-shirt tanpa lengan yang juga putih.


Jingga hampir tak bisa menahan dirinya untuk tidak melompat dari kursi dan menubruk cowok itu untuk kemudian menangis dan meminta maaf.


Tapi luka lebam di pipi Magenta membuat Jingga kembali waspada.


Magenta menelan ludah dan mengerjap melihat mata sembap Jingga, yang kemudian ia simpulkan sebagai tangisan patah hati.


Sejauh mana sebenarnya dia melihat apa yang kulakukan? Ia bertanya-tanya dalam hatinya.


Sepertinya terlalu banyak!


Jingga beringsut ketika cowok itu melangkah semakin dekat.


"Kata Papa kamu, aku boleh masuk," kata Magenta agak tercekat, tiba-tiba merasa telah mengganggu gadis itu.


"Gak apa-apa," Jingga menyahut tanpa mengangkat wajah.


Magenta mendekat dan berlutut di depan Jingga, "Aku bener-bener minta maaf, Jingga. Aku gak tau harus ngomong apa lagi."


Jingga mengerutkan keningnya, nyaris melompat dan menghambur dari tempat duduknya untuk menghindari sentuhan lembut cowok itu.


Magenta merenggut tangan Jingga dan menggenggamnya dengan kedua tangan. "Aku bener-bener nyesel," katanya dengan suara gemetar.


Jingga tetap bergeming.


Jadi, apa tepatnya yang sedang dia bicarakan? tanyanya dalam hati. Kenapa jadi dia yang meminta maaf?


Sebenarnya apa yang terjadi?


"Aku salah, Jingga," desis Magenta semakin parau. Bersamaan dengan itu, Jingga masih belum mengerti apa yang sedang dibicarakannya. "Sejak aku kerja di toko… sebenernya aku udah sering jalan sama dia."


Jingga tersentak, ia menarik tangannya dari genggaman Magenta.


"Maaf," ulang Magenta, tidak berani mengangkat wajah. "Tapi boleh percaya boleh nggak, aku sama dia cuma… saling mengisi---maksud aku… cuma sama-sama cari kepuasan. Gak ada komitmen!"


Jingga memicingkan matanya. Ia memundurkan kursinya dan beranjak dengan limbung.


Magenta mengangkat wajahnya dan menatap Jingga dengan tergagap. "Biar gimana juga aku lelaki," katanya membela diri. "Aku butuh itu, dan… kamu gak paham kebutuhan lelaki. Lagi pula aku gak mau nodain kamu!"


Jingga menelan ludah. Aku sudah ternoda, batinnya getir. Dan aku bahkan tidak menyadarinya. Tapi apa maksudnya kebutuhan lelaki?


Apa tepatnya yang sedang dia bicarakan? pikir Jingga frustrasi. Tapi entah kenapa mulutnya seolah terkunci.


Butuh waktu cukup lama bagi Jingga untuk bisa memahami bahwa Magenta sedang membongkar rahasia pengkhianatannya.


"Oke," kata Magenta. "Aku salah. Aku pasrah!"


"Bawa pacar kamu ke sini!"


Suara itu menyentakkan mereka.


Empu Brajasena berdiri miring menyandarkan sebelah bahunya ke bingkai pintu dan bersedekap.


Jingga memekik tanpa suara dan membekap mulutnya dengan kedua tangan.

__ADS_1


Pacar kamu? pikir Jingga terkejut.


Pacar Magenta?


Magenta langsung gemetar.


Sudah berapa lama dia berdiri di situ? pikirnya.


Apa dia mendengar semua pengakuanku?


Apa ini semacam jebakan?


Itukah sebabnya Empu Brajasena menyuruhku masuk dan mengizinkan aku bicara pada Jingga?


Aku benar-benar tak tertolong, ratap Magenta dalam hatinya. Tubuhnya terasa limbung dan sulit untuk digerakkan, ia masih berlutut di depan meja makan, memunggungi pintu.


Empu Brajasena berbalik ke pintu kamar dan menghilang beberapa saat, lalu kembali dengan membawa cermin dan mengulurkannya pada Magenta. "Coba liat muka kamu!" perintahnya.


Magenta menerimanya dengan tangan gemetar. Ia mengarahkan cermin tadi ke wajahnya dan tergagap.


"Kamu masih inget tanda itu, kan?" tanya Empu Brajasena.


Magenta masih membeku dalam kebisuan.


"Kamu tau itu pertanda apa?" Empu Brajasena bertanya lagi.


Magenta menelan ludah dengan susah payah, "Tapi—" katanya parau.


"Jangan kuatir, saya gak ada urusan sama masalah pribadi kalian," tukas Empu Brajasena. "Tapi urusan Jurig Bebegig tetap jadi tanggung jawab saya. Saya yang udah nyiptain makhluk itu."


"Tapi… bukannya waktu itu… udah—"


Jingga membeku dengan berderai air mata. Masih tak yakin dengan apa yang didengarnya. Magenta punya pacar? batinnya tak habis pikir.


Jadi selama ini aku siapa?


"Jingga?" Empu Brajasena menyipitkan matanya, menatap Jingga dengan isyarat peringatan.


"Aku janji!" kata Jingga cepat-cepat, suaranya tersangkut di tenggorokan.


"Nah! Jadi gimana, Gen?" Empu Brajasena beralih pada Magenta.


Magenta masih tampak terguncang. Ia tetap bergeming dengan wajah pucat.


Empu Brajasena mendesah pendek dan membungkuk, menekan bahu Magenta. "Gak usah merasa rendah diri," katanya. "Yasa dan Jingga gak lebih baik dari kalian."


Jingga dan Magenta kembali tersentak, lalu bertukar pandang.


Empu Brajasena menepuk-nepuk bahu Magenta dan menariknya bangkit dari lantai.


Jingga membekap mulutnya menahan ledakan tangis, lalu menghambur dari dapur dan bergegas ke kamarnya. Mengurung diri dan meratap.


Kenapa Papa bicara begitu pada Magenta? batin Jingga merasa tercela.


Jingga tidak mengerti, tujuan ayahnya mengatakan itu supaya Magenta merelakan Jingga dan berdamai dengan penyesalannya.


Dengan begitu, masing-masing mereka bisa menjalani apa yang seharusnya mereka jalani sejak awal---menjalin hubungan dengan pasangan masing-masing tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


Dengan begitu, rasa bersalahnya pada Magenta juga bisa sedikit berkurang.


Empu Brajasena memang terlihat semaunya, tapi bukan berarti dia tidak punya belas kasih.


Bagaimanapun Empu Brajasena menyadari keputusannya tak adil bagi Magenta.


Meski juga tak adil bagi Yasa.


Tapi bukankah akan menjadi lebih tidak adil jika aib putrinya terkuak di kemudian hari dan mendatangkan penyesalan bagi lebih banyak orang lagi?


Cepat atau lambat, Magenta akan tetap kecewa!


Bahkan pria lainnya.


Pria mana yang mau menerima ketidaksempurnaan putrinya?


Tentu saja ia tidak menyalahkan Jingga, apalagi menyalahkan Yasa.


Makhluk itu adalah ciptaannya!


Empu Brajasena mengakui hal itu sebagai kesalahannya.


Lebih dari itu, Empu Brajasena juga merasa keji. Sejak awal dialah penyebab semua bencana ini, menciptakan monster, mengacau-balaukan desa, mendatangkan masalah bagi semua orang yang dicintainya.


Sekarang dia memanfaatkan empati Yasa dan mematahkan sayap Magenta.


Menjadikan Yasa sebagai muridnya hanyalah salah satu dari siasat Empu Brajasena.


Sudah lama ia merahasiakan siasat ini.


Sejak awal ia sudah mengetahui bahwa putrinya telah kehilangan kehormatannya di pondok itu.


Itu sebabnya ia mengikat Yasa. Mendidiknya dengan baik, membentuknya menjadi seorang pria, menjadikannya layak bagi putrinya.


Perasaan Yasa yang besar pada Jingga hanyalah keberuntungan.


Skandal Magenta adalah peluang.


Alam semesta masih mengampuninya!


Ini adalah peluang terakhirnya untuk menebus semua dosanya.


"Gadis itu harus dibawa ke sini, bagaimanapun caranya," kata Empu Brajasena pada Magenta.


Magenta kian memucat mengingat kenyataan yang dihadapinya. Ia menelan ludah dengan susah payah sebelum akhirnya dapat menjawab, "Baik," desisnya, tercekik oleh kengeriannya.


"Apa perlu saya temenin?" Empu Brajasena menawarkan.


Magenta menggeleng cepat-cepat, berusaha menguatkan diri.


Empu Brajasena menghela napas berat dan mengusap-usap kedua bahu Magenta sekali lagi, berusaha menguatkannya. "Saya tau ini terlalu berat buat kalian," katanya penuh rasa bersalah. "Tapi masing-masing kalian udah jadi satu daging dengan yang lain."


Magenta mengerjap dan memberanikan diri untuk menatap wajah Empu Brajasena, melontarkan tatapan bertanya.


"Menikahlah dengan gadis itu," bujuk Empu Brajasena. "Jingga harus menikah dengan Yasa."


Magenta terhenyak antara penyesalan dan patah arang.

__ADS_1


Itukah yang dimaksud dengan tak lebih baik?


__ADS_2