
"Jangan..." Ragnala memohon sambil mengulurkan tangan hendak memeluk putrinya.
Tapi gadis itu langsung mundur sampai ke dinding gua, dan mengucapkan bait kedua sajak itu di luar kepala:
"Sanggeus raat cihujan… mangsana halimun midang… kuniang aleut-aleutan, ngariung 'na raga gunung. Kade Bebegig, Anaking! Kade Bebegig leupas!"
Setelah hujan reda… saatnya kabut tampil, beranjak berarak-arak, berkerumun di tubuh gunung. Awas orang-orangan sawah, Anakku! Awas orang-orangan sawah bebas!
"Aduh, Jingga! Jangan! Jangan! Jangan!" Ragnala meratap. Ia menempelkan kedua tangan ke pipi, dan kembali memekik. "Aduh, jangan! Jangan!"
Jingga menoleh ke arah si orang-orangan sawah, dan melihat wajahnya yang bulat mulai retak.
Sulur-sulur merayap keluar di wajah dan lengan jubahnya, bagaikan tanaman rambat yang tumbuh dalam sekejap. Matanya yang hitam menyala seperti kertas terbakar dari bagian tengah, kemudian melebar membentuk lubang api.
Tubuh kayunya berdenyut-denyut membentuk jaringan otot dan rangkaian urat. Kepala batoknya terbelah dan jatuh di lantai gua. Lengan rantingnya pun terlepas, berganti sulur hitam yang merambat keluar seperti tunas baru yang terus mengembang menjadi dahan berotot.
Perlahan-lahan wajahnya yang asli mulai tampak di bawah kain selubung yang menudungi kepalanya. Perlahan-lahan tubuhnya mulai terbentuk dengan sempurna seperti tubuh manusia.
Jingga menatapnya tanpa berkedip. Dan menjerit sekeras-kerasnya.
Sesosok monster!
Monster akar yang mengerikan.
Ternyata Mama tidak berbohong. Yang terperangkap di dalam orang-orangan sawah itu memang monster. Bukan ayahku. Bukan ayahku. Tapi monster... monster mengerikan!
Kepala dan tubuhnya terbentuk dari akar dan sulur tanaman berwarna hitam. Matanya yang merah tampak menyala-nyala di kepalanya yang menyerupai kepala Medusa---kepala manusia berambut ular, bedanya rambut si monster akar itu terbentuk dari sulur tanaman. Dan lidahnya yang bercabang menjulur-julur dari mulutnya yang penuh gigi runcing.
"Aduh! Aduh! Aduh!" Ragnala masih memekik-mekik sambil menempelkan tangan ke pipi. Air mata membasahi pipinya.
Astaga, apa yang kulakukan? Jingga meratap dalam hatinya.
Monster itu mendongak dan tertawa terbahak-bahak. Ia memungut buku puisi kuno peninggalan nenek Jingga dengan tangannya yang berjari hitam mirip cakar ayam cemani, bersisik tebal dan berkuku tajam. Lalu ia melemparkan buku tersebut ke jurang. "Sekarang giliranmu!" serunya dengan suara menggelegar.
"Jangan---jangan!" Jingga memohon. Ia meraih pundak ibunya dan menariknya menjauh dari tepi jurang.
Mereka bergerak mundur sampai merapat ke dinding gua.
"Selamat terjun," si monster akar menggeram.
__ADS_1
"Tapi aku kan udah nyelametin kamu!" Jingga berseru. "Jadi ini yang aku dapet sebagai balas budi? Dilempar ke jurang?"
Monster akar itu mengangguk. Lalu meringis lebar, sehingga giginya yang runcing tampak semakin jelas. "Ya. Inilah imbalanmu." Ia mengangkat tubuh Jingga dengan sebelah tangan dan meremas pinggang gadis itu. Cengkeramannya begitu erat, hingga Jingga tidak bisa bernapas.
Dengan tangannya yang satu lagi ia mengangkat ibunya. Mereka berdua diangkatnya tinggi-tinggi. Monster itu mengerang keras. Meluruskan tangannya kedepan. Dan membiarkan kedua wanita dalam cengkeramannya menggelantung di atas jurang yang menganga jauh di bawah.
Monster itu mencengkeram mereka dengan tangannya yang kuat.
Jingga memandang ke bawah. Dasar jurang yang terselubung kabut tampak begitu curam.
Tapi di luar dugaan Jingga, monster itu tidak melemparkan mereka. la malah menarik tangannya dan melepaskan kedua wanita itu di pelataran.
"Hah?" Jingga memekik terkejut.
Monster itu memandang ke lereng gunung.
Ragnala dan Jingga tak lagi dipedulikannya.
Jingga berusaha mengatur napas, lalu mengikuti arah pandangnya. Dan ia melihat apa yang membuat monster itu terkejut. Melihat apa yang telah menyelamatkan nyawa mereka.
Sebuah iring-iringan!
Iring-iringan orang-orangan sawah. Semua orang-orangan sawah dari desa. Semua berbaris dan berjalan menuju gua keramat. Jubah dan kain selubung merah mereka berkibar-kibar tertiup angin. Lengan mereka yang kurus kering tampak berayun ayun sementara mereka mendaki lereng gunung.
"A—apa-apaan ini?" Jingga tergagap-gagap. Serta merta gadis itu meraih tangan ibunya.
Tanpa berkedip mereka menyaksikan barisan itu mendekat.
"Mereka datang untuk membantu si monster," bisik Ragnala. "Kita bakal celaka, Jingga. Kita bakal celaka."
Barisan orang-orangan sawah itu menyusuri pelataran yang terselubung kabut tipis. Derap langkah mereka semakin nyaring ketika mereka mendekat. Bertalu-talu seperti pentungan. Terdengar seperti kelompok besar orang yang sedang berlomba menumbuk padi dengan alu dalam lesung. Suara itu memantul-mantul dari puncak gunung, hingga menimbulkan kesan ada seribu orang-orangan sawah yang siap menyerang mereka.
Jingga dan Ragnala beringsut mundur sampai ke dinding gua. Mereka tak bisa lari ke mana pun. Mereka terjebak.
Barisan orang-orangan sawah itu semakin dekat.
Semakin dekat.
Jingga bisa melihat kemarahan yang tercermin di mata mereka yang bulat dan hitam. Goresan yang meliuk-liuk bagaikan ular di pipi mereka pun kelihatan jelas.
__ADS_1
Jingga dan Ragnala benar-benar terperangkap.
Mereka mengangkat tangan sebagai perisai. Tapi kemudian mereka terheran-heran, karena barisan itu ternyata lewat begitu saja di hadapan mereka.
Semua orang-orangan sawah terus bergerak maju, menghampiri si monster akar.
Lengan mereka berayun-ayun, mata mereka menyala-nyala.
Mereka mendesak-desak si monster yang tampak kaget. Dan mendorongnya.
Mendorongnya ke tepi jurang.
Si monster akar meraung-raung sambil mendongakkan kepala. Tapi raungan itu terputus ketika satu orang-orangan sawah melejit ke arah si monster dan menerjangnya.
Jingga dan Ragnala tercengang ketika monster itu dikerumuni orang-orangan sawah.
Monster akar itu sekarang terdesak ke tepi jurang.
Jingga dan Ragnala melihat tangannya melambai-lambai tak berdaya. Dan kemudian ia lenyap dari pandangan mereka.
Monster akar itu menghilang di balik barisan orang-orangan sawah yang menerjangnya bagaikan air bah. Semua orang-orangan sawah itu merangsek dan mendesaknya. Tanpa bersuara. Bagaikan sekawanan kelelawar yang hening.
Dan ketika mereka akhirnya mundur, si monster berdiri beku dengan tangan terentang, seakan-akan hendak menyerang.
Tapi ia tidak bergerak.
Ia terjengkang ke mulut jurang. Melayang jatuh dengan jubah berkibar-kibar, seperti kelelawar terkena sambaran petir. Barisan orang-orangan sawah telah mendorongnya ke dalam ngarai.
Jingga dan Ragnala masih berdiri di samping mulut gua. Keduanya gemetaran, dan berpegangan tangan. Kaki mereka serasa terbuat dari karet karena lemasnya.
Tiba-tiba semuanya mendadak terlihat terang.
"Siapa yang bawa semua orang-orangan sawah itu kemari?" Jingga bertanya pada ibunya. "Mama ya, yang manggil mereka?"
Ragnala menggelengkan kepala. Matanya masih terbelalak lebar karena terkejut. "Bukan Mama yang bawa mereka kemari, Jingga," katanya pelan. "Apa yang Mama bilang tadi emang beneran. Mama gak punya kekuatan gaib. Ayah sama nenek kamu memang penyihir. Tapi Mama bukan."
"Kalo gitu, siapa yang nyuruh mereka naik gunung buat nyelametin kita?" tanya Jingga.
"Aku!" sebuah suara menjawab pertanyaan Jingga.
__ADS_1
Jingga berpaling ke arah pelataran dan melihat Empu Brajasena berdiri di situ dengan sebelah tangan menenteng lampu petromax. Rambutnya yang kelabu berantakan oleh angin yang bertiup kencang. Serigala putihnya berdiri di sampingnya.
Ragnala menatap Empu Brajasena sambil memicingkan mata. Tiba-tiba ia terkejut. "Kamu!"