
Lampu di langit-langit mendadak menyala.
Jingga mengedip-ngedipkan mata. Dan menelan ludah.
Jingga berhadapan dengan ibunya.
"Kamu bikin Mama takut aja, Jingga! " Ragnala berkata dengan suara parau.
Jingga langsung bangkit. "Aku juga ketakutan!" sahutnya sambil menenangkan jantungnya yang berdebar-debar. "Suara Mama kenapa?"
Ragnala menggosok-gosok lehernya. "Kayaknya Mama kena radang tenggorokan," ujarnya. "Pasti karena udara dingin. Mama belum terbiasa sama udara dingin di desa ini." Rambutnya yang lurus dan pirang dibiarkan terurai. Ia menyibakkannya ke belakang. "Kamu lagi ngapain di sini? Kenapa kamu bongkar-bongkar gudang malem-malem begini?"
"Sajak lama itu," kata Jingga. "Aku lagi nyari buku sajak itu. Buku sajaknya harus ketemu. Aku memerlukannya. Aku gak bisa mengingat bait kedua. Aku..."
"Besok kan masih banyak waktu," Ragnala menyela. la menguap. "Mama bener-bener capek. Tenggorokan Mama gatel banget. Sebaiknya kita tidur dulu."
Tiba-tiba saja Ragnala terkesan begitu kecil dan lemah.
"Maaf," ujar Jingga sambil mengikutinya keluar gudang. "Aku gak ada maksud bangunin Mama. Aku gak bisa tidur, jadi..."
Ragnala melihat mantel Jingga, yang ditaruh di salah satu kursi di ruang tamu.
"Kamu habis dari luar, ya?" Ragnala berseru seraya berpaling pada putrinya. Matanya terbelalak lebar karena kaget.
"Ehm... ya ," Jingga mengaku. "Aku cuma jalan-jalan sebentar biar..."
"Harusnya kamu jangan keluar rumah di tengah malam buta," Ragnala berkata dengan gusar. Sekali lagi ia menggosok-gosok lehernya. Kemudian menatap Jingga sambil memicingkan mata.
"Sori," Jingga bergumam. "Tapi memangnya kenapa, sih? Kenapa aku gak boleh jalan-jalan barang sebentar?"
Ragnala terdiam sejenak sambil menggigit-gigit bibirnya. Ia selalu berbuat begitu kalau sedang berpikir keras. "Karena berbahaya," ia akhirnya berbisik. "Ini daerah pegunungan. Di mana-mana ada jurang. Gimana kalo kamu jatoh ke jurang? Gimana kalo kaki kamu sampe patah? Di luar gak ada siapa-siapa, Jingga! Siapa yang bakal nolong kamu kalo ada apa-apa? Ini bukan Jakarta. Masih sore aja di sini udah sepi."
"Kalau gitu, aku pulangnya ngegelinding!" tukas Jingga bergurau. Ia tertawa, tapi ibunya diam saja. Dan Jingga mendapat kesan ada hal lain yang membuat ibunya cemas.
Ia tidak kuatir aku jatuh. Ia mengkhawatirkan soal lain. Tapi ia tidak mau berterus terang.
Apakah ada hubungannya dengan lolongan binatang yang sempat kudengar tadi?
Atau ada hubungannya dengan hantu orang-orangan sawah di atas gunung yang diceritakan Empu Brajasena?
Hantu orang-orangan sawah yang menurut Mama cuma takhayul saja?
Jingga menguap. Akhirnya ia mengantuk. Ia terlalu mengantuk untuk memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu. Ia merangkul pundak ibunya dan mengajaknya ke kamarnya.
__ADS_1
"Maaf aku udah bangunin Mama," bisik Jingga. Kemudian ia mengucapkan selamat malam dan menaiki tangga ke kamarnya di bawah atap.
Sambil menguap Jingga membuka celana jeans dan sweater, kemudian melemparkan keduanya ke lantai. Lalu gadis itu melompat ke tempat tidurnya dan menarik selimut sampai ke dagu.
Cahaya bulan yang pucat masuk melalui jendela bundar di ujung kamar.
Jingga memejamkan mata.
Tak ada suara melolong di luar. Tak ada suara sama sekali.
Jingga mengatur posisi kepala di bantalnya yang empuk. Tempat tidur barunya masih terasa keras. Tapi ia terlalu capek untuk mempedulikannya. Ia masih antara sadar dan tidak ketika ia mendengar sebuah suara berbisik pelan…
"Kade, Bebegig, Jingga… Kade, Jurig Bebegig..."
Jingga langsung duduk tegak.
"Hah? Siapa itu?" tanya Jingga dengan terkantuk-kantuk. Ia memandang ke arah jendela. Seluruh benda di kamarnya tampak keperakan karena cahaya bulan yang pucat.
"Awas, orang-orangan sawah..." bisikan itu berulang kembali. "Jingga, awas, hantu orang-orangan sawah."
"Siapa itu?" seru Jingga. "Dari mana kamu tahu namaku?"
Jingga duduk tegak di tempat tidur dan menggenggam ujung selimut erat-erat dengan kedua tangan. Dan pasang telinga.
Sunyi.
Sunyi.
"Siapa itu?"
Sunyi…
Jingga tak tahu berapa lama ia duduk sambil menunggu jawaban. Tapi akhirnya ia tertidur lagi.
Keesokan pagi Jingga menceritakan pengalamannya pada ibunya.
Ragnala menghirup kopinya dulu sebelum menanggapi cerita putrinya. Ia meraih tangan gadis itu dan meremasnya, "Mama juga mimpi buruk semalem," ujarnya. Ia terpaksa berbisik-bisik karena tenggorokannya yang masih sakit.
"Mimpi?" sahut Jingga. "Jadi menurut Mama, aku cuma mimpi?"
Ibunya mengangguk dan kembali menghirup kopinya. "Pastinya," jawab Ragnala dengan suara parau.
Sehabis sarapan, Jingga dan Ragnala kembali membongkar kardus dan menata rumah mereka yang baru.
__ADS_1
Jingga mencari buku puisinya di setiap kardus yang mereka bongkar, tapi ia tetap tidak berhasil menemukannya.
Baru sekarang gadis itu sadar betapa banyaknya barang-barang yang mereka bawa dari Jakarta. Dan rumah mereka yang baru begitu kecil. Sungguh sulit menempatkan semua barang.
Sambil bekerja, Jingga terus teringat pada Magenta. la berjanji hendak menemuinya di depan kantor pos desa setelah makan malam.
Cowok itu berjanji hendak mengungkapkan cerita sebenarnya tentang si orang-orangan sawah.
Cerita sebenarnya…
Jingga teringat raut muka Dewangga yang ketakutan ketika ia mengawasi Jingga dan Magenta dari depan rumah mereka.
Dan Jingga juga teringat betapa ngerinya mereka ketika ia mengatakan ia mau naik ke puncak gunung. Seolah desa ini benar-benar dikuasai perasaan takut.
Masa sih, begitu banyak orang ketakutan gara-gara takhayul konyol?
Sehabis mencuci dan mengeringkan piring, Jingga mengenakan mantel dan sepatu bot, lalu bersiap-siap untuk menemui Magenta.
Kali ini ia berterus terang pada ibunya. Ia mengatakan pada ibunya ia ingin menemui anak cowok yang berkenalan dengannya sewaktu ia jalan-jalan kemarin.
"Hujannya lagi deres banget," bisik Ragnala dengan suaranya yang parau. "Jangan pulang terlalu malem, Jingga."
Jingga berjanji ia akan pulang sebelum pukul sembilan. Kemudian ia memasang tudung mantelnya, menyelipkan tangan ke dalam sarung tangan, dan melangkah keluar.
Apakah di sini memang setiap hari turun hujan? Jingga bertanya dalam hati sambil menggelengkan kepala.
Itukah sebabnya desa ini disebut Desa Hujan?
Sebenarnya gadis itu suka hujan.
Tapi ini sih keterlaluan! pikirnya.
Hujannya lebat sekali, dan anginnya juga kencang.
Jingga menundukkan kepala dan menyusuri jalan ke arah kantor pos di bawah.
Wajah dan matanya diterpa butiran air hujan. Jingga hampir tak bisa melihat apa-apa.
Ini benar-benar hujan badai!
Jingga mendadak sangsi apakah Magenta akan memenuhi janjinya.
Kantor pos kecil yang hendak ia datangi terletak di tepi jalan raya di kaki gunung terbawah. Jaraknya lumayan jauh dari rumah Jingga. Dan di tengah hujan badai yang menderu, jarak itu terasa puluhan kali lebih jauh.
__ADS_1
Jingga berjalan sambil merunduk. Tanpa sadar ia melangkah ke selokan yang meluap. Kakinya terbenam sampai ke lutut. Air dingin masuk ke sepatu botnya, membasahi kaus kakinya.
"Ohhh, ya ampun." Jingga mengerang sambil menggigil. "Aku bakal beku kalau begini!" serunya. Tak ada seorang pun yang bisa mendengarnya.