
Seperti sebagian besar toko di kota kecil mereka, kios martabak itu sudah akan tutup pukul sepuluh.
Magenta bergegas meninggalkan pelataran kios yang nyaris sunyi itu, tangannya masih menggenggam botol cuka di punggungnya.
Ia tidak berhenti untuk melihat ke arah mana Yasa membawa Jingga. Ia tetap berjalan mengikuti jalan setapak yang mengarah ke air terjun dengan tak sabar, memeriksa jam tangannya setiap beberapa detik.
Karena baru pukul setengah sepuluh, Magenta merasa yakin Jingga dan Yasa pergi air terjun.
Sementara ia berjalan tergopoh-gopoh di sepanjang jalan setapak itu, ia khawatir kalau-kalau Yasa tiba-tiba muncul, memojokkannya ke semak-semak, dan merampas botol cuka itu darinya untuk menyingkirkan bukti.
Tapi, tentu saja, itu tak mungkin. Yasa takkan pernah muncul di saat ia sedang bersama Jingga.
Matanya terpancang ke air terjun yang mulai terpampang tak jauh di depannya.
Kabut turun semakin rendah, membentuk awan kelabu tebal yang melayang-layang di atas permukaan sungai, sehingga kolam air terjun terlihat gelap dan tidak ada orang yang berani mendekat.
Jingga juga tidak berada di sana.
Sebagian besar pengunjung mulai beranjak meninggalkan wisata air terjun itu karena kabut yang semakin tebal.
Pada saat itulah Magenta menyadari bahwa Jingga dan Yasa tidak berada di sana.
la mencari-cari cewek itu di sepanjang pesisir sungai, mengamati wajah orang-orang yang sedang berkerumun di dekat api unggun, lalu menyeberangi bukit-bukit batu. Jingga juga tak ada di puncak tebing di mana gadis itu pernah terjun bebas.
la berjalan ke ujung pesisir hingga kaki tebing, menyeberang, dan bergegas di sepanjang tepian sungai di sisi lain, melongok ke dalam tempat-tempat gelap, matanya meneliti setiap pasangan, setiap orang, setiap kelompok orang yang lewat.
Di mana dia?
la mencari-cari di area wisata air terjun selama hampir sejam tanpa hasil.
Ia memeriksa jam tangannya. Hampir pukul 22:30. Namun ia belum menemukan Jingga.
Sambil bergegas menuruni bukit-bukit batu, tiba-tiba ia teringat pada wanita tua misterius yang ditemuinya di tengah sawah.
"Cik cukcruk ka belah kidul!"
Lalu Magenta memutuskan akan mencoba mencari ke selatan---ke tempat tinggal Yasa.
"Cuckruk ka belah kidul!" gumamnya mengulang-ulang pesan wanita tua misterius itu.
Seharusnya ia tahu jalan di belakang kios martabak itu bercabang. Satunya ke wisata air terjun. Satunya lagi ke desa di selatan gunung.
Yasa membawa gadis itu ke rumahnya.
Menjelang tengah malam?
Apakah itu wajar?
Tidak, pikir Magenta mulai waswas.
__ADS_1
Seorang pria membawa kekasihnya ke rumahnya sendiri memang wajar, tapi membawa seorang gadis menyelinap ke rumahnya saat larut malam sama sekali tidak wajar.
Sambil berlari-lari kecil di sepanjang tepian sungai, angin basah bertiup ke mukanya, ia dapat merasakan otot-ototnya semakin menegang, merasakan kengerian memuntir perutnya. Keringat dingin bermunculan dan mengalir di pipinya. Kakinya seolah berbobot lima ratus kuintal.
Air sungai tampak berkilauan biru keperakan dalam remang-remang yang semakin gelap. Riak arusnya menggapai bebatuan saat-saat akhir cahaya bulan, tampak garis-garis kelabu pada permukaan kolam air terjun yang hijau tua dan bergulung-gulung.
Jalan menuju desa dipadati orang-orang yang sedang berjalan pulang dari pasar malam.
la merasa melihat Jingga dua kali.
Cewek-cewek itu berambut panjang dan kurus serta punya gaya seperti Jingga.
Tapi mereka bukan Jingga.
Mereka berbalik menatapnya, terkejut melihat intensitas tatapannya, pandangan putusasanya, napasnya yang terengah-engah sementara ia tetap meneruskan pencariannya dengan panik.
Ketika Magenta melangkah melintasi bukit-bukit landai menuju ke area persawahan keluarga Yasa, tiba-tiba udara menjadi lebih dingin, langit menggelap seolah ada yang memadamkan lampu.
Di ujung pematang sawah itu adalah rumah Yasa. Untuk mencapai area persawahan itu ia harus melewati jalan setapak di tepi tebing, di mana hanya sedikit sekali orang di sana.
Ia tahu sebaiknya ia berbalik kembali. la terengah-engah, berpikir keras, sepatu ketsnya menggilas jalan tanah yang berkerikil.
Dan sebelum ia menyadarinya, kakinya tergelincir ke sisi tebing, dan ia kehilangan keseimbangan. Lengannya menggapai-gapai. Mencari sesuatu, apa pun untuk menahannya supaya tidak jatuh. Tapi yang dapat ia pegang hanya udara kosong, dan seketika itu juga tubuhnya terlempar ke lembah, meluncur cepat dalam kegelapan. dan terempas di ladang ilalang di kaki tebing.
Udara berdesir tajam di wajahnya. Isi perutnya seolah terlontar sampai ke tenggorokan. Paru-parunya terasa kosong. Jantungnya berdegup kencang di dada.
Rasa panas merayap naik di punggungnya. Pandangannya yang berkunang-kunang menyilaukannya. Ia mendengar suara dering keras di gendang telinganya.
Ia menepuk tempat di sekelilingnya. Tangannya menyentuh semak-semak ilalang.
Oh, tidak! erang Magenta frustrasi. Kumohon jangan ladang ilalang lagi.
Sejak ia terjebak dalam kabut aneh yang membuatnya hanya berputar-putar di tempat yang sama, ia membenci ladang ilalang di kaki tebing, terutama pada malam hari.
Gelombang rasa mual menyelimutinya. Keringat dingin menggelinding di dahinya.
Perlahan-lahan ia berguling, kemudian menarik bangkit tubuhnya dan membungkuk, menumpukan kedua tangannya pada lutut, berjuang memulihkan napasnya, lalu mendengar suara itu…
CRUK!
CRUK!
CRUK!
Seperti ujung sekop yang menusuk-nusuk tanah.
Magenta menegakkan tubuhnya dan mengedar pandang.
Seorang wanita tua berkebaya putih, mengenakan caping sedang membungkuk tak jauh dari tempatnya.
__ADS_1
Bulu kuduk Magenta serentak meremang.
Perempuan tua itu lagi! pikirnya.
Tiba-tiba wanita itu mengangkat wajahnya.
Tatapannya beradu dengan tatapan Magenta.
Tatapannya seperti menarik Magenta mendekat, menghela Magenta kepadanya.
Wanita tua misterius itu semakin dekat.
Tatapannya tetap terarah pada mata Magenta, membuatnya terpaku seakan tersihir, menahannya sementara ia semakin mendekatkan diri.
Magenta menegakkan badan, napasnya masih erengah-engah. Dan lalu ia melihat sesuatu melewati bahu wanita itu.
Matanya terbebas dari sihir itu dan ia melihat seseorang.
Seseorang di tepi sungai di ujung ladang ilalang. Seseorang yang sedang menaiki tebing batu.
Seseorang sedang membantu seseorang naik ke bukit batu curam di atas riak arus air sungai yang bergulung-gulung.
Jingga!
Yasa sedang membantu Jingga naik ke lereng yang sempit itu.
Tidak!
Magenta tersentak dan tersandung sesuatu. Ia jatuh tersungkur dengan kedua lutut mendarat lebih dulu.
Ia menarik bangkit tubuhnya dan menemukan sebuah buku yang tampak tua dan sudah terkoyak.
Buku Ambu!
Ia ingat malam itu wanita tua misterius itu membacanya di tengah sawah.
Ia memungut buku itu dan menoleh ke belakang.
Wanita tua misterius itu sudah menghilang.
Sekali lagi bulu kuduknya kembali meremang.
Pada saat yang sama, Jingga dan Yasa juga menghilang ke dalam kegelapan, menuju ke pulau kecil misterius di seberang sana sungai.
Jingga! Magenta tersadar.
Jingga dan Yasa.
Pergi menyeberang.
__ADS_1
Pergi menyeberang untuk selamanya.