
"Mana Bu Lastmi?" orang itu langsung bertanya tanpa basi-basi.
"Ya, ya, ini saya," kata Bu Lastmi dari belakang Jingga.
Walaupun hari sudah mulai panas oleh matahari pagi, orang itu mengenakan setelan wol abu-abu tua. Dengan memakai saputangan yang sudah basah laki-laki itu mengelap keningnya yang lebar.
Jingga melihat orang itu memegang buah jambu air.
"Apa itu kamu lagi, Rusman?"
"Rustam bukan Rusman!" sahut orang itu marah. Wajahnya makin memerah.
"Apa lagi maksud kedatangan kamu kali ini, Rusman?" tanya Bu Lastmi, ia muncul di sebelah Jingga di pintu.
Rustam memutar matanya dan mengangkat buah jambu air itu. "Menurut Ibu apa lagi?" tanyanya dengan nada tidak menyenangkan.
"Oh, jangan perkara buah jambu lagi. Kan saya udah bilang saya gak bisa berbuat apa-apa dalam hal ini."
Jingga mundur selangkah.
Rusman atau Rustam, atau siapa pun dia, semakin kelihatan tidak senang. "Ibu harus berbuat sesuatu!" katanya. "Saya udah minta enam kali. Saya gak akan minta lagi. Buah-buah jambu Ibu pada jatoh menuhin halaman belakang saya."
"Yah, nikmatilah," kata Bu Lastmi dengan keras. "Jingga, tutup pintunya."
"Saya gak bisa mangkas rumput! Gak bisa jalan-jalan di halaman rumah sendiri gara-gara jambu-jambu Ibu!" teriak tetangga itu.
"Saya gak bisa nyuruh jambu-jambu itu tetep diem di pohon," balas Bu Lastmi.
Jingga melihat matanya bersinar-sinar. Dia benar-benar menikmati keributan ini, kata Jingga dalam hati.
Pak Rustam berbalik dan menuruni teras depan. "Saya tebang ntar pohonnya. Secepetnya." la melempar jambu itu dengan marah. Buah itu membentur bingkai pintu kasa.
"Hati-hati, Rusman," Bu Lastmi memperingatkan dengan lembut. "Jangan begitu. Jangan terlalu emosi. Cuacanya lagi panas. Ntar celaka."
Pak Rustam memaki-maki dan berteriak-teriak dalam perjalanan kembali ke rumahnya.
"Orang itu cerewet banget," Bu Lastmi menggerutu, lebih ditujukan pada dirinya sendiri daripada pada Jingga, "Cerewetnya gak ketulungan." la berpaling pada Jingga dan tersenyum. "Tolong tutup pintunya."
Jingga mulai menutup pintu, kemudian berhenti. "Liat itu. Saputangannya jatoh," katanya. la membuka pintu kasa, membungkuk, dan memungut benda itu dari lantai teras. Apa saya kejar aja kali orangnya ya?"
Mata Bu Lastmi bersinar-sinar dan bibirnya yang gelap membentuk senyum senang. "Jangan. Jangan, Sayang. Gak usah dibalikin. Biarin aja. Sini, sini!" la meraih saputangan lembap itu dari tangan Jingga dan memasukkannya ke kantong rok. Lalu ia kembali ke sofa. "Kalau dia mau, dia bisa datang kemari. Habisin sarapannya. Saya udah kenyang."
Jingga kembali ke meja makan, sementara Bu Lastmi menaiki tangga menuju kamar tidurnya.
Jingga juga sudah tidak berselera melanjutkan sarapannya, jadi ia kembali ke meja makan untuk merapikan meja dan mencuci piring.
Selesai mencuci piring, Jingga bergegas ke kamar Bu Lastmi, bermaksud untuk berpamitan.
Ia hampir sampai di puncak tangga ketika kucing hitam milik Bu Lastmi muncul di atasnya. Mata kuning kehijauan kucing itu berkilat-kilat. Punggungnya melengkung, dan kucing itu mendesis.
__ADS_1
"Ish! Lu kenapa, sih?" Jingga memarahi kucing itu. "Ini kan cuma gue."
Jingga naik beberapa langkah lagi.
Kucing itu memandanginya, punggungnya masih tetap melengkung.
"Gak boleh gitu sama customer," kata Jingga. "Harus sopan, oke?"
Kucing itu kembali mendesis-desis, makin garang.
Seolah-olah dia melarangku ke atas, batin Jingga. Tetapi kemudian ia menyadari kekonyolan pikirannya. Cuma karena kucing ini hitam, lalu aku mulai membayangkan dia berbeda dari kucing-kucing lainnya, Jingga memarahi dirinya sendiri. Mungkin dia sedang menggertak kutu, atau tikus, atau sesuatu yang lain.
Jingga bergegas melewati kucing itu, yang terus memandanginya, mungkin terkejut karena ternyata Jingga tidak takut.
Jingga bergegas ke kamar tidur Bu Lastmi. Pintunya setengah terbuka. Ruangan itu gelap, hanya ada seberkas kecil sinar yang berasal dari jendela.
Bu Lastmi duduk kaku di tempat tidurnya, tubuhnya menghadap dinding. Kelihatannya matanya terpejam.
Jingga ragu-ragu di pintu masuk. "Bu Lastmi?" panggilnya pelan.
Wanita tua itu tidak menjawab.
Jingga melihat Bu Lastmi memegang sapu tangan putih milik Pak Rustam. "Bu Lastmi?"
Masih tidak ada jawaban.
Jingga maju selangkah ke dalam kamar.
Mendadak kucing hitam Bu Lastmi menggosokkan tubuh ke kakinya. Ia terkejut.
Kamar itu terasa dingin, lebih dingin daripada di lorong.
Bu Lastmi tidak bergerak.
Lebih baik aku keluar dari sini, kata Jingga dalam hati. Lalu berbalik dan berlari turun ke lantai bawah tanpa menoleh.
.
.
.
"Ah, lu gila! Hari gini masih ada penyihir? Yang bener aja lu!"
"Dia punya kucing item. Terus, rumahnya juga penuh sama benda-benda aneh, segala ada kaki binatang, sama rongsokan aneh lainnya. Laci di kamarnya penuh sama lilin item. Barusan gue liat dia lagi kesurupan di kamarnya—maksud gue, mirip orang lagi kesurupan—sambil megangin saputangan tetangganya. Menurut lu itu apa?"
"Menurut gue sih, jelas lu halu!"
Jingga menelepon Violet, sahabatnya, ketika dalam perjalanan pulang, dan menceritakan apa yang dialaminya tadi malam.
__ADS_1
Hari itu Senin pagi, tapi Jingga memutuskan untuk bolos kuliah dan pulang ke rumah orang tuanya.
"Harus ada penjelasan logisnya," kata Violet.
"Ya itu dia penjelasan logisnya," kata Jingga. "Bu Lastmi itu penyihir! Barang-barang aneh di rumahnya perangkat perdukunan semua."
"Wah! Kebanyakan maen dukun ni anak!" seloroh Violet.
"Bokap gue dukun, Bego!" sembur Jingga dari seberang panggilan.
"Hmmh…" Violet berbicara sambil berpikir, "Gue sih gak percaya sama gitu-gituan. Kenapa lu gak tanya langsung aja sih?"
"Hah? Gimana caranya? 'Bu Lastmi, Ibu penyihir ya?' gitu?"
Violet meledak tertawa.
"Itu kan terlalu pribadi!"
"Iya juga, ya."
"Gue harusnya malah gak boleh tahu soal koleksi pribadinya, atau soal dia yang lagi kerasukan. Mungkin dia bakal marah kalau tau gue liat dia lagi kerasukan."
"Bisa jadi."
"Bu Lastmi itu baik banget sama gue," sambung Jingga.
"Na, terus ngapa lu kabur?"
"Gue mau ketemu Bokap, gue mau tanya dia soal ini. Gue ngeri."
"Kalo gitu sebaiknya lu jangan bikin Bu Lastmi marah," saran Violet.
"Kok lu malah nambahin sih?" gerutu Jingga.
Violet kembali tergelak. "Terus gue harus gimana, dong? Gue bilang gak percaya, lu bilang bokap lu dukun. Salah-salah malah gue lagi ntar yang kena santet."
"Bokap gue bukan dukun santet!" protes Jingga.
"Oke, oke!" tukas Violet. "Jadi sekarang mau lu gimana? Lu mau pindah kost lagi?"
"Nah, itu dia makanya gue mau pulang dulu, tanya bokap gue dulu. Abis itu baru gue bisa ambil keputusan apa gue harus pindah apa nggak!"
"Terus sekarang lu di mana?"
"Gue udah di bis!"
"Lu gak masuk kuliah hari ini?" tanya Violet meski jawabannya sudah pasti.
Tiba-tiba sinyal mereka mulai terganggu. Kedua gadis itu terpaksa mengakhiri panggilan.
__ADS_1