Bebegig

Bebegig
Chapter 20


__ADS_3

Jingga menghabiskan sisa siang itu dengan menolong orangtuanya. Banyak sekali yang harus dikerjakan di rumah baru mereka—terutama setelah ayahnya turun gunung dan memutuskan untuk tinggal bersama.


Ketika matahari turun ke balik gunung, Ragnala mulai membuat makan malam. Beberapa ekor ikan hasil tangkapan Empu Brajasena mendesis-desis di panggangan, asap mengepul ke atas ilalang tinggi yang melengkung diembus angin.


Empu Brajasena hidup untuk bertani dan mencari ikan. Hanya itulah satu-satunya yang ia lakukan untuk bertahan hidup di desa kecilnya. Sesekali ia pergi berburu bersama serigala peliharaannya.


Berbeda dengan gaya hidup ibunya di kota, gaya hidup ayahnya sedikit primitif.


Sepertinya mulai sekarang Jingga harus menyesuaikan diri dengan gaya hidup barunya di desa.


Sesudah makan malam gadis itu berpamitan dan bergegas ke lantai atas untuk bertukar pakaian. Sambil sekilas melihat jam di atas meja rias antiknya, ia menyadari dirinya sudah terlambat.


Ia janji bertemu dengan Dewa dan Magenta di depan kantor pos di bawah pukul setengah delapan, untuk kemudian pergi jalan-jalan ke alun-alun. Lebih baik mereka yang menungguku, katanya dalam hati, sambil melepaskan celana pendeknya dan melemparkannya ke lantai. Lalu ia mencari celana panjang denimnya di lemari.


Meski masalah teror si orang-orangan sawah sudah teratasi dan kengerian di desa telah berakhir, tapi menunggu sendirian di depan kantor pos yang sudah tutup di tepi jalanan sepi bukanlah salah satu dari kegiatan favoritnya.


la menyisir rambutnya yang panjang, sepasang matanya menatap dirinya dari cermin meja rias yang coreng-moreng itu, mengamati wajahnya di cermin yang penuh bercak. Ia menyukai apa yang dilihatnya–-sebagian besar. Ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya-tanya apakah ia cukup menarik untuk memikat perhatian cowok-cowok.


la melambaikan tangan berpamitan pada orangtuanya, yang masih di meja makan, mengobrol dan bernostalgia.


Ragnala telah mengubah penampilan suaminya meski tak sampai memangkas rambutnya. Pria itu mengenakan celana jeans dan kemeja flanel berlapis t-shirt putih polos. Janggutnya juga telah dicukur dengan licin, dan rambutnya yang panjang sebahu diikat seluruhnya ke belakang. Sekarang Empu Brajasena tampak sepuluh tahun lebih muda dari penampilan sebelumnya.


Jingga berjalan memutar ke depan rumah, kemudian setengah berjalan dan setengah berlari di sepanjang jalan setapak yang tidak beraspal dan sempit, ia bergegas menuju kota kecil di bawah desa mereka.


Kira-kira membutuhkan waktu sepuluh menit untuk berjalan melewati jalan berpasir yang di tumbuhi ilalang tinggi, lalu lapangan berumput yang kadang-kadang ditumbuhi pohon pinus dan akasia, sebelum akhirnya sampai di jalan aspal menuju ke kota kecil itu.


Baru sekitar lima menit Jingga meninggalkan rumah menyusuri jalan itu ketika seseorang meloncat keluar dari bayang-bayang ilalang tinggi dan merenggutnya dengan kasar dari belakang.


"Dewa!" teriak Jingga tanpa menoleh ke arah si penyerang.

__ADS_1


Ia tahu cowok itu selalu mengagetkan dan menakut-nakutinya.


Dewa mendorong Jingga, lalu berlari ke jalan, sambil cengar-cengir mengejek, matanya yang hitam menantang Jingga agar membalas.


Jingga mengelak ke samping dan berbalik ke arah Magenta.


Cowok itu muncul dari ilalang mengikuti kembarannya. Ia menyusupkan tangannya ke saku parkanya seraya tersenyum. Meski tidak sedang turun hujan, ia tetap memakai tudung jaketnya. Ekspresinya yang serius diperjelas dengan tatapan mata gelapnya yang tajam. Ia jarang tertawa. Ia pendiam dan pemalu, terutama bila dibandingkan dengan Dewa.


Meskipun mereka bertiga selalu bersama ke mana-mana, Magenta sering tampak merasa tak enak, ragu-ragu mengikuti keduanya. Ia selalu terlihat malu dan merasa tersiksa berada di antara mereka, meski jelas-jelas Jingga menunjukkan sikap bahwa ia lebih nyaman berada di dekat Magenta.


Dewa masih tetap cengar-cengir sembari berdiri di depan Jingga. Penampilannya benar-benar kontras dengan kembarannya meski wajah mereka sangat identik.


Jingga tak pernah merasa nyaman berada di dekat Dewa karena sikapnya yang kekanak-kanakan.


Tapi Dewa terlalu posesif menempel pada Jingga dan mengikutinya ke mana-mana seperti anak anjing. Sikap itulah yang membuat Magenta kerap merasa bahwa kehadirannya di tengah-tengah mereka seperti pengganggu.


"Eh—kamu denger lolongan nggak tadi malem?" tanya Dewa, sambil memeluk bahu Jingga dengan posesif.


"Hei—aku bisa bedain suara serigala asli sama serigala jadi-jadian!" tukas Dewa bersikeras, lalu kembali memeluk bahu Jingga dan mereka melanjutkan langkah menyusuri jalanan setapak yang berkelok melalui lapangan berumput, menapaki jalan aspal, melewati kumpulan rumah-rumah bercat putih, melewati kantor pos di mana mereka janjian dan akhirnya sampai di alun-alun.


Kota kecil itu berakhir di sana, menuju lapangan bujur sangkar beraspal yang digunakan untuk lahan parkir, lalu lapangan luas berumput yang dipakai untuk tempat rekreasi dan berbagai macam kegiatan olahraga.


Malam itu, lapangan terang benderang disinari beberapa lampu sorot dan bayangan gelap beberapa wahana.


Sebuah kincir ria berdiri di lapangan, mirip raksasa hitam yang membisu. Lampu-lampu warna-warni tergantung di tiang-tiang, menghiasi kincir ria dan roller coaster, serta stand permainan.


Rupanya sedang ada pasar malam.


Jingga mengulurkan tangan dan menurunkan lengan Dewa dari bahunya. Lalu menoleh ke belakang.

__ADS_1


Magenta tertinggal beberapa langkah di belakang mereka.


Udara terasa hangat ketika mereka melangkah di trotoar di sepanjang alun-alun dan berhenti untuk cuci mata.


Mereka bergerombol di tepi lapangan, menyaksikan pemandangan yang seperti mimpi itu.


Ribuan lampu aneka warna membuat alun-alun kecil itu tampak berkilau dalam kegelapan.


Lampu-lampu sorot yang diarahkan ke langit, lebih banyak menghasilkan bayang-bayang daripada cahaya. Para pekerja keluar-masuk bayangan dengan sibuk.


Musik pasar malam terdengar di mana-mana. Bel terdengar berbunyi setiap kali seseorang memenangkan permainan.


"Woy---Gen, lihat deh!" Dewa menunjuk barisan stand permainan. "Lu bawa uang gak?" la berbalik pada Magenta.


Magenta merogoh saku jinsnya tapi hanya mengeluarkan pemantik gas plastik berwarna biru yang selalu dibawanya dan mengangkat bahu.


Dewa berbalik pada Jingga.


"Nggak," kata Jingga, matanya yang cokelat membelalak. "Aku gak mau jalan-jalan di tempat orang desek-desekan itu malam ini. Katanya kita mau jalan-jalan keliling kota, liat-liat apa aja yang ada di sini."


"Ah—ya," gumam Dewa, sambil sekali lagi memandang ke arah stand permainan dengan penuh kerinduan.


Pelan-pelan mereka berjalan-jalan di sepanjang trotoar sambil menyeret Dewa. Sekali-sekali mereka berhenti untuk melihat lapak-lapak para pedagang sebelum menyeberang ke sisi lain.


Jalanan di depan alun-alun dipadati kendaraan yang berlalu-lalang dan melaju pelan, trotoar dipenuhi lapak para pedagang dan hilir-mudik para pendatang yang mengobrol, saling menyapa, mondar-mandir tanpa tujuan, berdua-dua atau dalam kelompok-kelompok kecil.


Jingga dan kedua temannya mempercepat langkah ketika mereka melintasi area parkir.


Dewa merenggut tangan Jingga, "Kita ke curug aja, yuk!" ajaknya. "Di sini gak asyik!"

__ADS_1


Magenta mengerjap dan tertunduk, kemudian mengikuti mereka tanpa bicara.


__ADS_2