
"Sebenernya apa sih yang kamu liat, Sa?" Jingga bertanya setengah menuntut.
Mereka duduk berhadapan sementara Yasa terus-terusan mengedar pandang dengan raut wajah gelisah.
"Kamu gak bakal selera makan kalo aku cerita," kata Yasa sembari menoleh pada Jingga dan tersenyum. Ia melipat kedua siku tangannya di meja, menautkan jemari tangannya di depan wajah.
"Maksud aku, waktu kamu nerawang aku!" tukas Jingga.
Senyum Yasa langsung lenyap.
"Apa yang kamu liat?" Jingga bertanya lagi.
"Gak ada," jawab Yasa. "Aku sebenernya gak liat apa-apa tadi. Mungkin visiku gak bisa nembus kamu."
Jingga mengerutkan keningnya. "Kok bisa?"
"Gak semua orang bisa aku terawang!" kata Yasa.
"Tapi—" Jingga langsung terdiam.
Pelayan mengantarkan pesanan mereka.
Yasa tersenyum tipis pada pelayan itu.
Jingga masih mengawasi Yasa. Dia berbohong! Ia menyimpulkan. Entah apa yang sedang coba ia tutupi, tapi aku tahu dia sedang berbohong. Mungkin khawatir aku ketakutan atau apa. Dan itu hanya berarti satu hal---gawat.
Keheningan menyergap mereka beberapa saat. Masing-masing sibuk dengan makanannya. Bukan karena betul-betul lapar, tapi karena bingung bagaimana harus memulainya lagi.
Pembicaraan mereka semakin kaku, mengingat mereka sedang berada di tempat umum, ditambah kendali Yasa atas apa yang tengah berseliweran di kepalanya.
Yasa tak dapat memungkiri ketertarikannya pada Jingga. Dan ia tidak menyesali apa yang disimpulkannya sebagai khayalan. Bagaimanapun hal itu cukup normal untuk pria seusianya. Tapi yang paling mengganggunya adalah penglihatan yang menurutnya hanya semata khayalan itu terlalu spesifik---seperti bukan khayalan.
Penglihatan itu terasa seperti kenangan di mana ia bahkan bisa merasakan hal itu pernah terjadi.
Itu tak pernah terjadi selama ia melakukan penerawangan.
Visiku mungkin tidak bekerja jika perasaanku ikut terlibat, pikirnya. Dengan kata lain, hasrat bisa menghalangi visi.
Setelah menghabiskan makanannya, Yasa meneguk air mineral botol dan mengelap mulutnya dengan tisu, sementara Jingga masih jauh dari selesai.
"Tunggu sebentar ya," katanya pada Jingga seraya bangkit dari tempat duduknya, mendorong kursi di belakangnya, kemudian berjalan keluar kios dan berbelok ke kios martabak di sebelahnya.
Beberapa menit kemudian, Yasa kembali dengan menenteng sekotak martabak. Ia menoleh ke arah Jingga untuk memastikan apakah gadis itu sudah selesai, kemudian membayar makanan mereka.
"Kamu mau ke sana?" Yasa menunjuk ke arah pasar malam ketika mereka akhirnya keluar dari kios mie ayam.
Jingga menggeleng. "Kamu kan udah janji mau cerita sambil jalan atau lanjut di rumah," protesnya. "Kamu belum cerita semua, kan?"
Yasa tersenyum dan menyerah.
__ADS_1
"Jaket kamu mana?" Yasa bertanya terkejut setelah mereka berjalan setengah blok dari kios mie ayam.
"Ah—" Jingga terperangah mengamati dirinya, lalu berbalik dan berlari kembali ke kios mie ayam tadi.
Yasa menunggu di trotoar.
Tak berapa lama, gadis itu kembali dengan tangan kosong. "Kayaknya jaket aku ketinggalan di rumah kamu deh, Sa!" kata Jingga terengah-engah. Ia berlari ke arah Yasa meski jarak dari kios tadi tak seberapa jauh.
Yasa bergeming sesaat sebelum akhirnya menanggapi, "Yakin jaketnya ketinggalan di rumah aku?"
"Kayaknya," jawab Jingga ragu. "Aku lupa!"
"Aku juga baru sadar waktu kita keluar kios tadi," timpal Yasa. "Ya udah nanti aku liat di rumah, kalo ada besok aku anterin!"
"Besok aku balik ke Serang," kata Jingga. "Titip aja dulu kalo ada di sana, nanti kalo aku balik, aku ambil ke sana. Gak apa-apa, kan?" tanyanya, sebenarnya setengah menguji. Ia ingin tahu apakah Yasa akan panik jika ia mengatakan bahwa ia akan kembali ke rumahnya. Dalam hatinya ia masih curiga bahwa Yasa masih menyembunyikan sesuatu di rumahnya.
Tapi dengan sikap tenang Yasa menjawab, "Ya, udah. Terserah kamu kalo gak capek!" Lalu tanpa sadar ia menggamit bahu Jingga dan menuntunnya ke arah jalan setapak menuju rumah gadis itu.
Sebuah visi—kepingan gambar hitam-putih seperti cuplikan film, mendadak berkelebat dalam penglihatannya.
"Aku bahagia banget bisa pergi berdua sama kamu," bisik Yasa.
"Aku juga," Jingga balas berbisik.
"Aku bahagia jadi pacar kamu," Yasa menambahkan, masih dengan berbisik sembari mengusap-usap leher Jingga dengan bibirnya.
Yasa tersentak dan menarik tangannya dari bahu Jingga.
"Gak apa-apa!" jawab Yasa cepat-cepat. Ia memegangi kepalanya sembari mengernyit. Merasa sedikit pusing.
"Yakin, Sa, gak apa-apa?" tanya Jingga tak yakin.
"Cuma sedikit pusing," Yasa akhirnya mengaku.
"Kalo gitu aku pulang sendiri aja, deh!" kata Jingga.
"Nggak—" Yasa menyela setengah memekik. "Aku beneran gak apa-apa!"
Jingga terdiam sesaat, mengawasi wajah Yasa dengan pandangan skeptis.
"Ayo," kata Yasa seraya melanjutkan langkahnya mendahului Jingga. Tidak berani menyentuh gadis itu lagi.
Jingga mengekor di belakangnya dengan raut wajah bingung. Dia kenapa sih? tanyanya dalam hati.
Sesampainya di rumah Jingga, Ragnala melongok di ambang pintu dan tersenyum.
Yasa menyalaminya dan menyerahkan kotak martabak itu ke tangan Ragnala.
"Aduh, Tirta! Kamu ngapain sih, pake bawa oleh-oleh segala?" sergah Ragnala. "Waktu itu juga makasih, ya! Kamu juga nitipin ini kan, sama Jingga?"
__ADS_1
Yasa menanggapinya dengan tersenyum simpul. "Cuma makanan murah kok, Bu! Tapi cuma itu yang paling spesial di kampung kita."
Ragnala tersenyum dan menggeleng-geleng. Lalu mempersilahkan Yasa duduk.
Yasa mengangguk sekilas pada Ragnala, kemudian memilih duduk di bangku teras.
Ragnala muncul kembali beberapa saat kemudian, membawa nampan berisi minuman panas dan sepiring martabak yang dibawa Yasa. Lalu kembali ke dalam setelah berbasa-basi sedikit.
Yasa dan Jingga melanjutkan obrolan kosong mereka mengenai permasalahan tidur berjalan yang dialami Jingga.
Yasa lebih banyak mendengarkan daripada menanggapi. Isi kepalanya dipenuhi adegan-adegan mesra mereka yang sulit dienyahkan dari benaknya.
Hati kecilnya mulai tak sabar untuk segera pergi dari rumah Jingga dan melakukan meditasi untuk menguak misteri penglihatannya.
Ini bukan khayalan! Yasa menyimpulkan.
Apa hasratku sebesar itu sampai-sampai menyentuh bahunya saja mengalami halusinasi.
Tidak, pikir Yasa.
Ia memang mengagumi Jingga, tapi ia tersengat rasa hormat, bukan saja karena Jingga merupakan putri dari gurunya. Tapi lebih kepada kekaguman itu sendiri.
Menit-menit terakhir pembicaraan mereka tak masuk di otak Yasa.
Suara Jingga timbul-tenggelam dalam fokusnya.
Sampai…
Suara langkah kaki mendekat ke arah mereka di pekarangan dan mengalihkan perhatian mereka.
Langkah itu lalu terhenti di bawah pohon akasia di halaman rumah Jingga.
Magenta berdiri kikuk memandang mereka dengan raut wajah masam.
"Gen," sapa Yasa dengan tenang.
Magenta tidak menggubrisnya. Tatapannya terpaku pada Jingga, sementara gadis itu tertunduk menghindari tatapannya.
"Aku nyariin kamu dari sore," kata Magenta dalam gumaman parau.
Jingga tidak menanggapinya.
"Dia abis dari tempat gue tadi," Yasa mengambil alih jawaban.
"Gue gak nanya lu!" sergah Magenta ketus.
"Genta!" Jingga spontan merongos.
Yasa tersenyum simpul sembari menepuk lembut punggung tangan Jingga. "Gak apa-apa," katanya pada Jingga. Lalu beranjak dan menghampiri Magenta.
__ADS_1
Magenta mendengus sinis ke arah Yasa. "Lu tau kan, dia bokin gue?" katanya ketus.
"Gue tau," jawab Yasa. Ia menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku jinsnya dan tersenyum tipis. Lalu membungkuk ke arah Magenta seraya berbisik, "Tapi kalo sikap lu kayak gini, bisa jadi besok atau lusa dia jadi mantan lu!"