
"Tadinya aku mau pulang," bisik Jingga tanpa menarik wajahnya dari dada cowok itu. "Aku mau ke rumah kamu."
Yasa menarik wajahnya menjauh dan melepaskan pelukannya, tapi tak melepaskan tangannya dari pinggang Jingga. "Kamu gak kenapa-napa, kan?" tanyanya khawatir.
"Aku—" Jingga terdiam sesaat sebelum melanjutkan, "Aku berjalan dalam tidur, kali ini lebih jauh!"
"Kamu jalan sampe ke danau?" tebak Yasa.
Dia tahu! batin Jingga terkejut. Perasaan takjub bercampur ngeri membuat bulu kuduknya seketika meremang. "Jangan bilang jaket ini juga yang ngasih tau," desisnya sedikit tercekat.
Yasa tersenyum tipis. "Sayangnya, ya," jawabnya.
Jingga spontan membeku. Kemampuannya terasa mengerikan, pikirnya. Apa ini benar-benar dirinya?
Jingga menelan ludah dan mengangkat wajahnya dengan ragu. Menatap Yasa sedikit takut-takut.
Yasa langsung tertunduk.
Ya, pikir Jingga. Yasa yang pemalu adalah Yasa yang asli.
"Banyak yang—" Jingga dan Yasa bicara bersamaan, lalu keduanya terdiam juga dengan bersamaan.
Jingga menatap Yasa dengan mata membulat dan tidak berkedip.
Yasa memalingkan pandangannya sedikit dari mata gadis itu.
Jingga terkekeh gelisah dan berpaling, lalu kembali mendongak menatap Yasa. "Kamu pasti capek banget," katanya.
Yasa hanya tersenyum tipis menanggapinya. Tentu saja dia capek. Sejak pagi sampai malam ia belum beristirahat.
Setelah meninggalkan warung itu, Yasa kembali diganggu oleh hantu gadis yang mati tenggelam di danau. Hantu itu terus-menerus mengarahkan Yasa ke danau dari berbagai sisi. Ke mana pun Yasa mengambil arah, perjalanannya selalu sampai di danau yang sama namun di sisi yang berbeda-beda.
Kalau ada yang bilang hantu menghilang pada siang hari, Yasa tak akan percaya. Selama dua tahun terakhir, ia melihat hantu sepanjang waktu, bahkan pada siang hari. Tapi ini yang paling parah dan paling menguras energi.
Mungkin benar cara teraman menyikapi hantu adalah mengabaikannya. Sekali saja ia melakukan interaksi, selamanya ia tak bisa melepaskan diri.
Sekarang, mau tak mau, Yasa harus menyelesaikan masalah hantu ini hingga tuntas. Baru ia akan terbebas.
Jingga membimbing Yasa ke meja kopi di teras rumah itu, "Duduk, Sa!" ia mempersilakan.
Yasa tersenyum lagi, lalu menarik salah satu bangku rotan di seputar meja kopi itu untuk kemudian duduk.
Jingga mengerling ke arah pintu, kemudian menoleh ke arah matahari.
Hari sudah mulai gelap.
Jingga menimang-nimang, apakah sebaiknya ia pulang dengan Yasa, atau mengizinkan cowok itu menginap di rumah Bu Lastmi. Mengingat cowok itu sudah mencarinya sejak tadi malam, Jingga merasa tak tega untuk mengajaknya pulang. Lagi pula Bu Lastmi sudah mengizinkan Jingga membawa teman untuk menginap. Tapi apakah tidak apa-apa kalau teman yang menginap itu laki-laki? pikirnya.
__ADS_1
"Jaket itu…" Yasa membuka suara dengan ragu-ragu. "Pemberian seseorang?"
"Dikasih temen," jawab Jingga. "Kenapa?"
"Cowok?"
"Cewek."
Pendaki wanita itu! Yasa menyimpulkan.
"Kenapa?" ulang Jingga.
Yasa terdiam sesaat sebelum melanjutkan, "Kalo kamu gak keberatan, aku saranin jaketnya jangan dipake lagi."
Jingga terdiam menatap Yasa.
"Kalo gak salah tebak, jaket ini yang bikin kamu tidur berjalan," lanjut Yasa dengan tenang.
Jingga masih terdiam. Jaket itu pemberian dari Violet. Jingga tak yakin Violet berniat mencelakainya. "Tapi tadi malem aku kan gak pake jaket ini," tukasnya dalam gumaman pelan.
Yasa terkekeh tipis. "Waktu pertama kamu ngalamin mimpi berjalan juga gak lagi pake jaket ini, kan?"
Jingga mengerutkan keningnya.
"Jangan tanya aku tau dari mana," kata Yasa sambil tersenyum. "Orang tidur jarang pake jaket kecuali petugas jaga malem."
Senyuman penuh pemahaman Jingga melebar di sudut bibirnya.
Dia bicara banyak hari ini, pikir Jingga. Dia kelihatan lebih keren.
"Aku juga berjalan dalam tidur ke danau selama seharian," kelakar Yasa sambil tersenyum.
Jingga tersenyum sambil tertunduk. Dia cakep, pikirnya kagum. Kepribadian Yasa tidak bercela di matanya. Bahkan ketika Yasa bertubuh kecil dua tahun lalu.
Meski sangat pemalu, Yasa memiliki sisi manis yang misterius. Meskipun ia sering di-bully di sekolah, pancaran matanya tidak pernah menunjukkan bahwa ia gentar.
Sikap mengalah Yasa di mata Jingga tidak terlihat seperti pecundang. Tapi seperti analis yang rela menceburkan dirinya ke mana saja demi totalitas sebuah progres observasi.
Seperti hari ini, untuk sebagian orang barangkali tindakan Yasa terdengar konyol. Tapi tidak bagi Jingga.
Dari pancaran matanya, Jingga bisa melihat kecerdasan Yasa.
Hanya dengan menatap, Yasa sudah menyampaikan lebih banyak hal dibanding mereka yang banyak bicara. Itulah sebabnya Yasa lebih banyak menghindari kontak mata.
Matanya tak hanya bisa melihat lebih banyak, tapi juga bisa berbicara lebih banyak.
Dibandingkan dengan Magenta, Jingga lebih percaya pada Yasa.
__ADS_1
Selama Jingga menjalin hubungan dengan Magenta, tidak pernah sekali pun ia merasa nyaman. Tapi lebih tak nyaman lagi ketika ia meminta putus.
Jingga selalu merasa terancam selama berpacaran dengan Magenta, tapi lebih merasa terancam ketika ia berpikir untuk meninggalkannya.
Perasaan takut itu mengikatnya seperti kutukan.
Begitu Magenta mengutarakan perasaannya, Jingga sudah merasa terancam. Tapi Jingga tak bisa menolak. Penolakan hanya membuatnya semakin merasa terancam.
Dan Jingga tidak pernah mengerti kenapa ia merasa terancam.
Magenta tak pernah bersikap kasar padanya, tapi segala sesuatu dalam dirinya terasa seperti ancaman. Semakin cowok itu bersikap baik, Jingga semakin merasa terancam.
Sekarang ketidaknyamanan itu terasa lekat ketika ia berpikir untuk menampung Yasa menginap di rumah Bu Lastmi.
Anehnya itu bukan rasa bersalah!
Tapi rasa terancam.
Apa yang salah dengan hubungan kami? pikir Jingga tak mengerti.
"Gak usah pikirin aku," kelakar Yasa. "Aku datang ke sini atas kemauan sendiri."
Jingga tertunduk dan tersenyum. Ia tahu Yasa hanya bergurau. Tapi mengena.
Yang penting Yasa sudah di sini, katanya dalam hati. Ini bukan kebetulan. Bu Lastmi menitipkan Cakra padanya, dan hanya memberi dua pilihan. Menginap atau membawa teman. Pulang tidak termasuk pilihan yang ditawarkan oleh Bu Lastmi.
"Mungkin sebaiknya kamu istirahat di dalem aja, Sa." Jingga akhirnya memutuskan. Lalu membuka pintu.
Kucing Bu Lastmi menghambur ke arah pintu dan mengeong keras.
"Masuk, Sa!" kata Jingga setengah memekik. "Jangan sampe kucing ini keluar."
Yasa beranjak dari tempat duduknya, kemudian menggeliat meregangkan otot-ototnya.
Jingga berbalik dan memegangi pintu untuk Yasa.
Kucing Bu Lastmi sudah hampir keluar.
Yasa cepat-cepat masuk, lalu memandangi kucing di bawahnya.
Kucing itu langsung terdiam.
"Tumben lu gak galak," kata Jingga pada kucing itu. Kucing itu menggosokkan tubuhnya ke pergelangan kaki Jingga. Seakan berterima kasih karena Jingga tak jadi pergi. Jingga membungkuk untuk membelai kucing itu.
Yasa masih memandangi kucing itu dengan raut wajah datar.
Kucing itu balas memandangnya sambil berjalan melewatinya menuju ruang tamu. Ekornya bergerak-gerak seolah mengisyaratkan pada Yasa supaya mengikutinya.
__ADS_1
Yasa terkekeh tipis dan mengikutinya. "Terima kasih," katanya pada kucing itu.
Jingga terperangah.