Bebegig

Bebegig
Chapter 91


__ADS_3

"Kalian serius?" Bu Lastmi berseru sedikit terlalu antusias setelah Yasa selesai mengutarakan maksudnya.


Jingga mengangguk cepat-cepat sambil mengulum senyumnya.


"Gile lu, masih masih bocah anjir!" komentar Rogan sambil melotot pada Yasa. Tapi senyuman lebar dan sorot matanya menyiratkan kegembiraan.


"Oh, Sayang! Selamat, ya!" Bu Lastmi memeluk Jingga tanpa beranjak dari bangkunya karena mereka duduk bersisian.


Yasa tersenyum lebar menanggapi komentar Rogan, lalu melirik kedua wanita di seberang meja dengan perasaan berdebar-debar. Rasa bahagianya telah memupus rasa lelahnya.


"Gue ikut seneng dengernya," kata Rogan akhirnya sambil menepuk-nepuk punggung tangan Yasa sebagai balasan sewaktu di rumah makan.


Yasa tersenyum lagi.


"Ibu pasti ke sana," kata Bu Lastmi antusias. "Kalian udah Ibu anggap sebagai keluarga, terserah kalian mau jadi anak Ibu atau Cucu Ibu?"


Jingga balas memeluk wanita tua itu. "Kalo gitu aku mau jadi cucu Ibu aja. Kebetulan aku udah gak punya nenek," katanya polos.


"Please, kalian jadi anaknya aja!" sela Rogan. "Kalo kalian jadi cucunya juga, kakak pertama kalian masih jomblo," gerutunya sambil menunjuk hidungnya sendiri. "Gue gak mau dilangkahin!" erangnya.


"Gak!" tukas Jingga. "Gue gak mau jadi tante lu!"


Bu Lastmi tertawa menanggapi mereka.


Yasa hanya tersenyum tipis. Tapi hal itu tidak menutupi kebahagiaan sejati yang terus terpancar meski wajahnya terlihat lelah. "Gue jadi inget kakak gue," katanya pada Rogan. "Ampe nangis-nangis doi gak mau dilangkahin!" Yasa tertawa tanpa suara.


"Lu masih punya kakak yang belum nikah?" Rogan mengerutkan keningnya.


"Kakak gue satu-satunya," jawab Yasa. "Keluarga gue semata wayang tadi," ia mengingatkan.


"Oh, jadi kakak perempuan lu itu belum nikah?" komentar Rogan. "Kayaknya emang bukan kebetulan," katanya sambil cengengesan.


"Maksud lu?" Yasa mendelik pada Rogan.


Rogan tiba-tiba menggigit bibirnya, menutupi senyuman nakal. Lalu tiba-tiba ia membungkuk ke arah Yasa, "Kakak perempuan lu buat gue aja!" katanya dengan wajah semringah.


Jingga dan Bu Lastmi spontan menoleh pada mereka.

__ADS_1


Yasa mengetatkan rahangnya sambil menginjak punggung kaki cowok itu.


"Sakit, anjir!" Rogan meringis sambil tertawa dan membungkuk mengusap-usap punggung kakinya.


"Liat aja belon, maen buat gue aja!" gerutu Yasa.


Jingga dan Bu Lastmi tertawa.


"Gak—serius!" tukas Rogan dengan sungguh-sungguh. "Gue gak pengen tau kek mana komuk kakak lu. Tapi gue gak maen-maen soal permintaan gue."


Seisi ruangan spontan bergeming.


Bu Lastmi menatap Rogan dengan mata terpicing. Rogan tidak main-main! katanya dalam hati. Tapi tidak segera berkomentar untuk melihat reaksi Yasa.


Diam-diam Yasa melihat ke dalam diri Rogan melalui intuisinya. Getaran hatinya memang terasa bahwa Rogan sungguh-sungguh saat mengatakannya. "Lu gak jadikan ini sebagai pelarian dari patah hati lu, kan?" selidik Yasa.


Rogan mendesah pendek dan melipat kedua sikunya di meja, mengusap wajahnya sekilas, kemudian menautkan jemarinya di depan wajah. Tidak langsung menjawab untuk membuat kesan dramatis.


"Yah, gue tau ini kedengeran agak nekat dan terkesan… konyol," kata Rogan setelah sejenak terdiam. "Tapi gue punya hal lain yang jadi pertimbangan. Gue sama kayak lu, Sa. Gak punya orang tua. Lu masih beruntung punya sodara, gue nggak. Tapi bicara soal keluarga semata wayang, lu liat sendiri!" ia menunjuk ke arah Bu Lastmi dengan lirikan matanya.


Yasa mengikuti arah pandangnya dan tersenyum pada Bu Lastmi.


Yasa tersenyum sinis sembari mendelik pada Rogan, "Maksud lu cari istri cuma buat careworker?"


Rogan langsung menoleh, "Gak gitu, Sa!" tukasnya langsung khawatir.


"Lu gak usah kuatir, Jingga bakal jagain Nenek!" kata Yasa.


"Gue percaya," sergah Rogan. "Tapi punya istri dan keluarga yang bisa ramein rumah Nenek… udah jadi angan-angan gue dari sebelum gue pacaran sama si Vivi."


Bu Lastmi tersenyum sedih ke arah Rogan.


Yasa sebetulnya tidak keberatan soal niat dadakan Rogan yang tiba-tiba melintas dalam benaknya. Bagaimanapun ia pemegang teguh keyakinan bahwa perkara jodoh, rezeki dan maut sudah ada yang mengatur. Tapi bukankah kehidupan selalu memberi alasan untuk itu semua sebagai jalan. Dan ia hanya butuh mendengar alasan Rogan supaya ia bisa melihat ketulusannya. Dan ia menemukan ketulusan itu sampai sejauh ini.


"Tapi minimal ketemu dulu," kata Yasa. "Gak ujuk-ujuk 'kakak lu buat gue' kek minta sepatu."


Jingga terkekeh dan menggeleng-geleng. Dia baru pertama melihat Yasa mengomel.

__ADS_1


Ternyata wajah ketusnya tidak mengurangi ketampanannya!


"Kalo gitu, Rogan ikut kita!" Jingga mengusulkan. "Tapi kita pulangnya besok pagi aja. Biar Yasa kenyang tidur dulu," pinta Jingga pada Bu Lastmi sedikit manja.


"Kamu belum tidur?" Bu Lastmi bertanya khawatir.


"Semuanya di luar rencana," kata Yasa. "Sekarang kalian udah tau, punya kemampuan visi tidak menjamin seseorang terlibat masalah tak terduga," ia berkelakar.


"Kalo gitu kamu istirahat dulu, deh!" Bu Lastmi beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Yasa. Lalu memijat-mijat kedua bahu cowok itu. "Gan, tolong siapin kamar buat Yasa."


"Oke!" Rogan menjawab dengan antusias. Lalu beranjak berdiri dan memundurkan kursinya, lalu menepuk sekilas bahu Yasa, "Kakak ipar siapin, ya!" kelakarnya.


"Najis!" sembur Yasa sambil mendelik.


Jingga tergelak menanggapinya. Dia gemesin banget, sih! katanya dalam hati. Tatapannya tak mau lepas dari wajah Yasa. Matanya berbinar-binar tak dapat menutupi kekagumannya.


"Kamu juga harus istirahat," kata Bu Lastmi pada Jingga.


Jingga mengacungkan ibu jarinya pada Bu Lastmi sambil tersenyum lebar.


Pukul tujuh malam, mereka semua sudah berpencar dan memasuki kamarnya masing-masing, dan dalam sekejap suasana rumah menjadi hening.


Di tengah keheningan itu Jingga memekik ketika ia memasuki kamarnya.


Seseorang telah menunggunya di tempat tidur.


Seorang cewek… hanya mengenakan gaun tidur tipis, tengkurap di tempat tidurnya sambil membolak-balik halaman majalah mistis yang dipinjam Jingga dari perpustakaan Bu Lastmi beberapa waktu lalu.


Jingga hampir menjerit ketika cewek itu menoleh padanya dan menyeringai.


"Vivi? Ngapain lu di sini?" hardik Jingga dalam desisan tajam. "Gimana caranya lu bisa masuk ke sini?"


Violet berguling terlentang dan menyeringai sekali lagi, lalu mengerling ke arah jendela yang terbuka melalui bahunya.


Jingga tergagap dengan mata dan mulut membulat. Tentu saja, pikirnya. Ia belum masuk ke kamarnya sejak pulang kuliah. Seisi rumah mengobrol terlalu lama di ruang makan. Dari acara makan siang yang agak terlambat sampai ngopi bareng yang kemudian dilanjutkan acara masak-memasak untuk makan malam…


Belum ada yang meninggalkan dapur untuk mengecek pintu dan jendela!

__ADS_1


Sekarang semua orang sudah mengurung diri untuk beristirahat mengumpulkan tenaga untuk besok.


Bagaimana ini? pikir Jingga ketakutan.


__ADS_2