
Magenta menunggu dalam persembunyiannya hingga melihat Jingga dan Yasa naik ke kincir ria, mengawasi mereka yang sedang duduk berdampingan di dalam kereta logam itu. la mengikuti mereka di belakang kincir ria itu ketika mereka bergerak di sepanjang deretan kios permainan.
Sambil mengendap-endap membuntuti, tetap berada di sisi lain lorong lebar, Magenta mencoba tidak menghiraukan betapa mereka berdua tampak begitu dekat, betapa Jingga tampak begitu bahagia bersama Yasa, betapa mereka tampak serasi satu sama lain.
Semuanya itu akan berubah, segera sesudah mereka turun dan aku akan membuktikan siapa Yasa itu sesungguhnya, ia terus-menerus meyakinkan dirinya sendiri.
Perasaanmu akan lain begitu aku mengungkapkan kebenaran itu padamu.
Perasaanmu akan lain sesudah hidupmu kuselamatkan.
la tidak menyalahkan Jingga karena marah padanya.
Ia tak punya alasan apa pun untuk mencampuri urusan pribadi Jingga.
Tapi sekarang alasan itu sudah ada di dalam tangannya.
Ia melangkah ke tengah lorong yang ramai ketika carousel mulai bergerak.
Kemudian kereta itu terayun-ayun makin keras dan terangkat ke atas, hanya beberapa meter lalu berhenti tiba-tiba. Seseorang sedang menaiki kereta di bawah mereka.
"Aku gak bisa liat banyak dari sini," Jingga berkelakar.
Yasa tersenyum, senyum samar yang ganjil, seakan pikirannya sekali lagi melayang jauh.
Tiba-tiba Jingga teringat pada Magenta. Pasti saat ini dia sedang membungkuk di dekat api unggun bersama Kantata dan teman-temannya, duduk terpisah, mengasingkan diri dari yang lain meskipun dalam satu kelompok di atas alas yang sama.
Dan di sini Jingga bersama seorang cowok baru. Cowok aneh. Jingga menyadari ia tertarik pada cowok ini meskipun mereka nyaris tidak bercakap-cakap.
"Kamu sebenarnya punya pacar nggak, sih?" tanya Jingga, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya sebelum sempat dipikirkannya. Mungkin dia sedang membayangkan seseorang yang lainnya, pikir Jingga. Mungkin itulah sebabnya dia melamun terus-menerus, tampak banyak pikiran dan serius.
Tampaknya pertanyaannya berhasil menyen takkan Yasa dari lamunannya. "Udah," jawab Yasa.
Jingga langsung terdiam. Jadi, ciuman-ciuman itu… kebersamaan mereka selama beberapa waktu… apa artinya bagi Yasa?
Kereta mereka terayun lagi, bergoyang maju-mundur. Lalu terangkat ke posisi yang lebih tinggi sebelum mendadak berhenti lagi.
Udara di atas sini lebih dingin, batin Jingga, sambil berpaling membiarkan angin semilir meniup rambutnya. Memandang langit di atas, ia mencari-cari bulan, namun bulan tersembunyi di balik tirai awan yang merendah. "Moga-moga tak terlalu gelap, jadi laut masih bisa kelihatan," katanya pada Yasa, yang juga sedang memandangi langit.
__ADS_1
Begitu kami berada di tempat tertinggi, pikir Yasa, itulah saatnya.
Terlalu tinggi hingga orang orang tak bisa melihat ke dalam kereta ini.
Terlalu jauh hingga orang-orang tak heran, tak protes. Terlalu jauh hingga takkan ada orang yang menghentikanku.
Saat kami berhenti di tempat tertinggi, Jingga takkan berdaya.
Aku akan menyentuhnya, menyiksanya, memabukkannya dengan sentuhan yang manis dan berharga tanpa di ganggu, membuainya sampai ia menginginkan lebih, menyentuhnya sampai ia memohon-mohon untuk tak dilepaskan. Yasa tersenyum pada Jingga. "Kenapa kamu gak nanya siapa pacar aku?" katanya seraya meletakkan lengannya di punggung tempat duduk Jingga.
"Itu bukan ururan aku," kata Jingga sedikit ketus sementara kereta itu tersentak, lalu melayang ke atas menuju ke ketinggian.
Tiba-tiba semakin gelap.
Jingga mencondongkan badan ke depan, menumpukan lengannya pada palang pengaman, dan memandang ke arah lautan. Wisata air terjun terlihat seperti pita perak. Kegelapan biru-hitam yang misterius di atasnya adalah gua keramat.
Sekarang! seru Yasa dalam pikirannya. Sekarang!
la memalingkan wajah Jingga dan membungkuk, "Siapa bilang itu bukan urusan kamu?" bisiknya parau menggoda. "Pacar aku kan kamu," lalu mencium bibir gadis itu.
Jingga terkejut dan hampir menarik kepalanya. Tapi saat menatap ke dalam mata Yasa yang lebar berkilauan, ia merasa lemas, sama sekali tak berdaya menolaknya.
Mereka sudah pernah melakukannya beberapa kali. Bahkan yang lebih dari itu.
Dan jika ia tak salah dengar, Yasa baru saja mengatakan bahwa dialah kekasihnya. Itu terdengar seperti pernyataan cinta baginya.
Itu adalah sebuah pengakuan!
Pengakuan yang tidak pernah didengarnya dari si kembar.
Pengakuan yang selama ini didambakannya.
"Aku bahagia banget bisa pergi berdua sama kamu," bisik Yasa lagi.
"Aku juga," Jingga balas berbisik.
"Aku bahagia jadi pacar kamu," Yasa menambahkan, masih dengan berbisik sembari mengusap-usap leher Jingga dengan bibirnya.
__ADS_1
Aku pusing sekali, pikir Jingga.
Sangat pusing dan lemas.
Kepalanya miring ke belakang, wajah Yasa berada di atasnya sekarang, matanya berkilauan menatap mata Jingga.
Yasa mencium dagunya. Apakah aku pusing akibat ciuman? Akibat melihat pemandangan itu? Akibat berada di tempat yang sangat tinggi dalam kereta yang berayun pelan ini?
Ayolah–-cium aku lagi, harapnya.
"Sa… cium aku lagi," Jingga mendengar dirinya sendiri berbisik.
Yasa kembali menciumnya, mencium lehernya. "Abis ini kita pergi, yuk!" bujuknya.
"Ke mana?" Jingga bertanya tanpa berusaha melepaskan diri dari pagutan cowok itu.
"Kamu maunya ke mana?" Yasa balas bertanya, mencoba menawarkan pilihan, tapi mulutnya masih menyusur di leher gadis itu sementara tangannya mulai merayap ke bagian-bagian tubuh Jingga yang paling sensitif.
"Terserah kamu," jawab Jingga tak berdaya. Sudah pasrah sepenuhnya sesuai harapan Yasa.
Melihat Jingga merapatkan diri pada Yasa, jari-jari mereka bertautan, saling bersandar sementara carousel mulai berhenti, Magenta tahu ia harus bergegas.
Sambil memegangi botol cuka erat-erat di belakang tubuhnya, ia mengendap-endap di antara orang-orang yang berseliweran, sementara Jingga dan Yasa sudah berjalan menjauhi carousel.
Seseorang tiba-tiba memanggilnya—Kantata, mungkin—tetapi ia tidak berhenti ataupun menoleh, semangatnya memacunya saat ia berlari melewati pasangan-pasangan dan kelompok-kelompok kecil orang yang berjalan-jalan di sekelilingnya.
Hanya satu siraman dan mimpi buruk ini akan berakhir, pikirnya.
la menoleh meminta maaf kepada seorang pria paruh baya yang sedang memegang es krim yang telah ditabraknya tanpa sengaja, lalu ia membelok menyeberangi jalan raya tanpa berhenti di tikungan untuk memeriksa lalu lintas.
la melintasi tempat parkir, menyelinap di antara deretan mobil, dan berlari ke arah tikungan di sudut kios martabak langganan mereka, di mana terdapat jalan masuk ke arah wisata air terjun.
Jingga dan Yasa baru saja menghilang di sudut kios martabak itu.
Sebuah wagon biru berdecit-decit direm mendadak di tikungan. Si sopir meneriaki Magenta, hanya itu yang didengar Magenta.
Beberapa detik kemudian ia baru menyadari ia telah kehilangan jejak buruannya.
__ADS_1
Saat berlari ke sudut kios itu, tangannya tetap berada di belakang tubuhnya, menggenggam erat botol cuka.
Kabut telah mengendap turun ketika Magenta tiba di depan kios martabak itu, langit terlihat semakin mendung, udara terasa semakin dingin, dan potongan-potongan kabut mengambang di antara bangunan-bangunan rendah.