Bebegig

Bebegig
Chapter 18


__ADS_3

"Kamu rupanya!" seru Ragnala.


Empu Brajasena mengembangkan senyum. "Ya," ia berkata pada Ragnala.


"S—siapa dia?" tanya Jingga.


Ragnala menoleh dan merangkul bahu putrinya. "Jingga," ujarnya pelan. "Mama pindah kemari karena punya firasat dia masih di sini. Dan ya, ternyata firasat Mama bener. Dia masih di sini."


"Tapi—" Jingga tergagap-gagap. "Dia yang ngendaliin barisan orang-orangan sawah itu!" katanya seraya menunjuk kerumunan orang-orangan sawah di mulut gua. "Dia penyihir!" serunya.


Senyum Empu Brajasena semakin lebar. " Ya," katanya seraya melirik barisan orang-orangan sawah yang berderet kaku di mulut gua, berjejer rapi tidak bergerak seperti pagar pembatas. Mati. "Aku mengirim mereka untuk menyelamatkan kalian. Dan… ya, aku penyihir!" ia mengaku.


Ragnala meremas pundak putrinya dan menatap gadis itu sambil tersenyum. Matanya berkaca-kaca. "Jingga, dia… Lingga Arsena—ayahmu," bisiknya.


Jingga dan Empu Brajasena sama-sama memekik kaget.


Pria berjanggut putih itu meletakkan lampu petromax di atas sebongkah batu pipih, lalu bergegas maju dan langsung mendekap Jingga. Janggutnya yang panjang terasa menusuk-nusuk wajah Jingga ketika ia menempelkan pipinya ke pipi gadis itu. "Astaga!" ia berseru sambil melangkah mundur.


Jingga melihat sebutir air mata mengalir di pipi pria itu. "Sudah begitu lama aku sampai tidak mengenalimu, Jingga. Aku sangat gembira ibumu membawamu kembali ke desa ini."


Jingga menelan ludah dengan susah payah. "I—ini… beneran Papa?" ia tergagap-gagap.


Empu Brajasena tidak sempat menjawab.


Dewangga dan Magenta berlari menghampiri mereka. "Kalian gak apa-apa?" mereka berseru bersamaan.


Empu Brajasena menunjuk kedua cowok kembar itu. "Mereka dewa penolong kalian!" ia berkata pada Jingga dan Ragnala. "Mereka yang memberitahu kalau kamu mau ke gua keramat. Begitu aku mendengarnya, aku langsung menggunakan kekuatan gaibku. Aku menyuruh semua orang-orangan sawah menyusul kemari untuk menyelamatkan kalian."


Dewa membeku dengan mata dan mulut membulat ketika melihat barisan orang-orangan sawah yang berkerumun di mulut gua. Lalu keduanya memicingkan mata.


"Jangan khawatir, Jurig Bebegig sudah tidak ada. Tidak akan ada lagi orang-orangan sawah yang hidup," Empu Brajasena menjelaskan.


Dewangga dan Magenta maju sedikit, agar dapat melihat deretan orang-orangan sawah itu lebih jelas.


Barisan orang-orangan sawah itu tidak bergerak, kecuali jubah dan kain selubung yang tertiup angin.


"Dia takkan pernah lagi mengancam para penduduk desa," Empu Brajasena menambahkan.


Jingga berpaling pada ayahnya. "Aku gak ngerti," ungkapnya ragu-ragu. "Kenapa Papa tetep di sini waktu Mama sama Nenek pergi? Dan kenapa Papa malah milih tinggal di deket gua keramat?"


Dewangga dan Magenta serentak menoleh pada Jingga, kemudian menatap Empu Brajasena, lalu bertukar pandang. Papa? pikir mereka.


Empu Brajasena atau Lingga Arsena mengusap-usap janggutnya dan menghela napas. "Ceritanya panjang. Waktu kamu masih kecil, Papa sama nenek kamu giat mempelajari ilmu gaib. Tapi akhirnya kami kehilangan kendali. Dan tanpa sengaja kami menciptakan monster ini." Ia menggerakkan dagu ke arah jurang, lalu menggelengkan kepala. "Kami berhasil membekukannya dalam gua," ia menjelaskan. "Dan mama kamu–-dia ingin pergi. Dia begitu bingung dan ketakutan. Dia ingin pergi sejauh mungkin dari sini. Dan melupakan semua kejadian buruk yang terjadi di sini."

__ADS_1


"Tapi kenapa Papa tetep tinggal di sini?" tanya Jingga lagi.


"Papa tinggal karena merasa bertanggung jawab pada penduduk desa," jawab ayahnya. "Papa harus menjaga agar si orang-orangan sawah tetep terperangkap di dalam gua. Supaya dia tidak mencelakakan orang lain." la kembali menghela napas. "Dan karena itulah aku tinggal di atas gunung, di dekat monster ciptaan kami. Tapi... berpisah denganmu, Jingga, adalah cobaan paling berat yang pernah kualami!"


Sekali lagi Lingga Arsena memeluk Jingga. Dan sekali lagi wajah putrinya seperti ditusuk-tusuk oleh janggutnya yang kasar.


"Papa selalu berangan-angan suatu hari Papa bisa meninggalkan gunung ini dan mencarimu," kata Empu Brajasena dengan suara pelan. "Dan sekarang monsternya sudah mati. Kengerian yang ditimbulkannya sudah berakhir. Dan Ragnala telah membawamu kembali ke sini. Barangkali..." la terdiam. Ia tersenyum dan menatap Ragnala, lalu menatap putri mereka.


Kemudian Empu Brajasena menarik napas dalam-dalam, dan kembali bicara. "Barangkali... kita bisa mencoba jadi satu keluarga lagi."


Dewa dan Magenta kembali bertukar pandang, lalu tersenyum pada Empu Brajasena.


Pria berjanggut putih itu terus merangkul putrinya sementara mereka menuruni gunung.


.


.


.


Di sisi lain kaki gunung…


Kulit kayu pohon itu menggores tangan Yasa. Batangnya yang kurus bergoyang-goyang di bawahnya. Ia mengetatkan pegangannya pada cabang itu dan mengerjap-ngerjapkan matanya menatap anak-anak di bawah.


Tiba-tiba ia merasa pusing. Wajah nyengir teman-temannya jadi kelihatan buram dalam keredap cahaya obor yang berpendar-pendar.


Yasa mendengar Kantata memanggilnya.


Entah sudah berapa tahun ia terpaksa menerima panggilan satir itu.


Kuntet!


"Gue–-gak apa-apa," sahut Yasa tergagap. Tapi ia apa-apa. Ia sudah memanjat setengah tinggi pohon, dan tidak ada jalan sama sekali untuk turun.


"Butuh tangga buat turun?" ejek Anes.


"Apa perlu gue telepon unit pemadam kebakaran?" seru Reksa menimpali.


Anak-anak lainnya tertawa—seperti biasa.


Ingin sekali rasanya Yasa menutup kupingnya, tapi ia tak bisa melepaskan cabang pohon.


Alih-alih, dengan gemetar cabang itu dipeluknya erat-erat.

__ADS_1


Ia memejamkan matanya dan menggemeretakkan giginya. Aku benci mereka, batinnya. Termasuk Kantata, meskipun ia sahabatku.


Kantata selalu menantangnya untuk melakukan hal-hal yang berbahaya. Selalu membual di depan anak-anak lain bahwa ia pemberani dan Yasa penakut.


Tapi Yasa paling benci dirinya sendiri, karena terlalu lemah dan sangat penakut, hingga sering dijahili dan mau tak mau ia harus mendengar tawa ejekan seperti sekarang seumur hidupnya.


Yasa selalu menjadi anak yang terkecil di antara teman-temannya. Bahkan di sekolah ia kelihatan lebih muda dari semua anak.


Tubuhnya kurus dan kecil, tingginya setara dengan anak sekolah dasar, begitu juga wajahnya—lancip, putih dan berambut keriting. Sekilas penampilannya terlihat seperti boneka perempuan.


Itulah sebabnya ia dijuluki kuntet.


Mengapa hal itu membuat mereka merasa berhak menantangku berkelahi dan menertawakanku? pikirnya.


Ia masih ingat beberapa trik licik Kantata.


Ketika dalam pelajaran sains Kantata menjatuhkan gumpalan kapas besar ke punggung Yasa dan mengatakan itu tarantula.


Ketika Reksa menyemprotkan air dari botol minumnya ke bagian depan celana Yasa tepat sebelum Yasa harus berdiri di depan kelas dan membacakan laporan buku.


Ketika mereka nongkrong di air terjun pada malam hari, salah satu teman mereka membuat layangan warna hitam dan menerbangkannya diam-diam ke arah Yasa hingga ujungnya menancap di leher Yasa dan Yasa mengira itu kelelawar.


Dan semua tantangan konyol teman-temannya.


Menantang Yasa menyelam ke dalam sungai ketika airnya surut dan hanya beberapa inci dalamnya.


Melemparkan topi Yasa ke atas atap sekolah dan menantangnya memanjat ke sana untuk mengambilnya.


Mengatakan ruangan ganti pakaian murid cewek sedang kosong dan menantangnya menyelinap ke sana, padahal mereka tahu ruangan itu sedang penuh cewek.


Dan si Tolol Yasa selalu menerima tantangan itu. Si Tolol Yasa selalu menanggapi setiap tantangan mereka.


Dan sekarang mereka juga menantang Yasa untuk memanjat pohon sekurus pensil di tengah terpaan badai.


Pohon itu sebetulnya tidak seberapa tinggi. Tapi tetap terlalu tinggi untuk ukuran Si Kuntet Yasa.


Mengingat wajah-wajah cengengesan itu, Yasa tahu ia tak bisa lagi menerima perlakuan ini.


Aku tahu aku harus bertindak, tekadnya.


Tapi apa?


Tiba-tiba tawa teman-temannya terhenti.

__ADS_1


Yasa membuka matanya dan kehilangan keseimbangan, begitu menyadari teman-temannya sudah pergi.


Dan ia ditinggal sendirian di area persawahan yang jauh dari rumah penduduk pada malam hari.


__ADS_2