
Sepucat cahaya bulan, Jingga seolah melayang-layang melintasi halaman berumput. Rambutnya yang panjang melambai-lambai oleh kencangnya tiupan angin malam.
Pakaian tidur sutranya yang putih berkilauan dalam sinar lembut, berkibaran tanpa bunyi.
Dengan mata terpejam rapat, Jingga berjalan tanpa hambatan, bagaikan roh halus, kaki telanjangnya berada di atas rerumputan tinggi.
Paduan suara katak pohon mulai terdengar, tetapi keributan itu tidak mengusik tidurnya.
Sekejap kemudian nyanyian itu tiba-tiba berhenti seperti ketika mulai. Sekarang satu-satunya suara yang terdengar hanyalah napasnya, berat dan tak teratur, satu-satunya tanda bahwa ia masih hidup, berujud, dan bukan hantu.
la telah sampai di pagar rendah di sudut halaman, lalu membalikkan badan seakan ada radar yang mengendalikannya dari dalam.
Sebuah mobil berbelok dan melaju dengan cepat. Si pengemudi yang mengantuk bahkan tidak melihatnya.
Tersembunyi di balik bayangan malam yang bergerak perlahan, Jingga melayang-layang sepanjang pagar. Dengan rambut panjangnya yang berombak, kulitnya yang putih pucat, pakaian tidurnya yang berkilauan dan menggembung di sekeliling tubuhnya, ia tampak seperti sosok dalam lukisan, salah satu potret besar era Victoria yang tergantung di museum.
Ketika akhirnya matanya terbuka, ia tak tahu di mana dirinya berada.
Mula-mula ia menunduk dan melihat kakinya basah oleh embun musim panas yang tebal. Walaupun udara malam itu hangat, ia menggigil kedinginan.
Aku cuma memakai baju tidur, ia baru menyadari. Dan kemudian: aku ada di luar.
Tapi di luar mana?
Aku sedang mimpi aneh.
Rumah itu tiba-tiba muncul di depannya, seolah juga dapat melayang-layang melintasi rumput.
Aku ada di halaman rumah kost yang baru. Hanya dengan baju tidur.
Segumpal awan hitam menghalangi bulan purnama. Bayangan di sekitar Jingga sekonyong-konyong memudar dan berpindah.
Jingga menyadari bahwa rasa dingin yang menghinggapinya bukan karena udara, melainkan akibat ketakutan.
la memandangi rumah kostnya, tempat tinggal barunya. Kelihatan sangat lain, begitu besar dan asing. Jendela-jendelanya gelap. Tak seorang pun yang terjaga di sana.
Tak seorang pun tahu Jingga ada di luar, berdiri di antara rumput yang dingin dan basah.
Bagaimana caraku keluar ke sini? Aku terjaga atau tidur?
Apa yang sedang terjadi pada diriku?
Rumah ini tak beres! Jingga menyimpulkan, lalu bergegas ke dalam rumah.
__ADS_1
Rasanya lama sekali baru ia masuk kamar, mencoba tidur. Ia metutup matanya. Didengarkannya angin bertiup di antara pepohonan.
Berjam-jam lamanya ia bergerak-gerak gelisah di atas tempat tidur, sampai-sampai selimutnya kusut masai.
Ini adalah malam pertama Jingga tidur di rumah kostnya yang baru. Pemiliknya adalah seorang wanita tua yang hidup seorang diri, hanya ditemani seekor kucing berwarna hitam. Penyewanya juga hanya Jingga seorang, dan ia tinggal serumah dengan pemiliknya.
Rumah itu dilengkapi perabotan modern—kursi dan sofa dari bahan kulit hitam serta krom, meja tamu dari kaca. Dindingnya dipenuhi deretan rak buku dari lantai sampai langit-langit.
Yang menakjubkan Jingga di rumah itu adalah koleksi perhiasan kecil yang aneh-aneh. Benda-benda itu memenuhi meja tulis, meja pajang, dan bendul jendela; diatur dalam kotak pajang kaca khusus, dan diletakkan di samping buku-buku di rak.
Jingga juga menemukan vas warna-warni dan ukiran antik porselen berbentuk sosok aneh, peles antik berisi kulit kerang, bulu, atau bubuk berwarna, ukiran kucing dan burung dari kayu atau batu, sepasang sarung tangan putih kecil yang sudah kuning, kacamata tanpa bingkai dan berlensa tunggal, bunga kering yang sudah pudar, kaki ayam keramik, beberapa ukiran bulan sabit, burung hantu putih yang diawetkan.
Tidak ada papan iklan "TERIMA KOST" terpasang di depan rumah atau di pintu gerbang.
Tidak akan ada yang tahu bahwa rumah itu disewakan kecuali direkomendasikan secara khusus dari mulut ke mulut.
Jingga juga mengetahuinya dari teman dekatnya, Violet.
Menurut Violet, si pemilik rumah sebetulnya tidak berniat menyewakannya. Tapi dia tidak keberatan menerima beberapa anak kost wanita dengan syarat si penyewa bersedia menjadi bagian dari keluarganya dan memperlakukan rumah itu sebagaimana layaknya rumah sendiri—dalam arti merawat sebaik mungkin, dan memperlakukan pemilik rumah seperti orang tua sendiri.
Si pemilik rumah sangat suka membaca. Dan karena sekarang ia sudah tua, matanya terlalu letih untuk membaca, jadi ia lebih suka di bacakan orang lain.
Jingga sama sekali tidak keberatan dengan syarat itu, terutama karena rumah itu berdekatan dengan rumah Violet. Harga sewanya juga terbilang sangat murah.
Jingga mencoba menebak-nebak mengapa si pemilik rumah menyimpan semua barang-barang itu. Namun tak mudah menemukan alasan mengapa orang meletakkan tikus kecil yang diawetkan di atas piano di dekat topeng babi dari bubur kertas dan patung perunggu berbentuk anak laki-laki berlengan satu.
Mungkin sebaiknya aku bicara dengan ayahku! pikir Jingga sembari melayangkan pandang ke danau melalui jendela kamarnya.
Danau itu dikelilingi hutan yang lebat dan hijau.
Dan siapa itu yang sedang berenang di sana?
Jingga memicingkan matanya supaya bisa melihat lebih jelas.
Tidak.
Tak ada seorang pun di danau itu.
Cuma khayalannya.
Ia memang sering membayangkan yang tidak-tidak!
Ia berbalik dari jendela dan bersiap untuk kembali ke tempat tidur.
__ADS_1
Angin mulai menderu.
Jingga mendengar sesuatu seperti bunyi tamparan dan kepakan.
Pasti bunyi kerai menampar jendela, pikirnya. Tapi kemudian ia ingat di rumah ini tidak ada kerai di jendela.
Lalu ia mendengar jeritan. Matanya terbelalak. Lalu memandang ke sekeliling.
Kamarnya disirami cahaya bulan. Bayang-bayang jatuh di atas tempat tidur, di lantai, di mana-mana. Ia melempar selimutnya dan kembali melemparkan pandangan ke luar jendela.
Lalu menahan napas!
Langit penuh sesak oleh kelelawar-kelelawar!
Kelelawar-kelelawar itu berputar-putar di depan kamarnya.
Bercicit dan mendesis-desis dengan ributnya.
Seekor gagak yang sangat besar hinggap di bingkai jendelanya, menatap Jingga dengan matanya yang dalam dan hitam legam. Lalu dipatukinya kaca jendela.
Burung itu mencoba mengatakan sesuatu kepadaku, pikirnya.
Wah, benar-benar pikiran aneh.
Tapi semua ini memang aneh.
Kenapa kelelawar-kelelawar itu berputar-putar di depan kamarku?
Berdesis dan bercicit begitu ribut dan ngotot?
Mereka seperti sedang mencoba memperingatkan sesuatu---memperingatkanku.
Rumah ini sepertinya memang tak beres!
Aku harus pulang! Jingga memutuskan. Aku harus bicara pada ayahku!
Keesokan harinya…
Saat sarapan, Jingga berpamitan pada si pemilik rumah. "Ada barang yang harus diambil," ia beralasan.
Tapi sebelum ia pergi, terdengar ketukan keras di pintu depan.
"Siapa ya itu?" tanya si pemilik rumah. Dengan bertopang pada tongkatnya ia berusaha berdiri. Ketukan itu terdengar lagi, sedikit lebih keras. "Sabar, sabar. Kami datang."
__ADS_1
Jingga sampai di pintu lebih dulu dan membukanya. Seorang pria botak setengah baya dan berwajah merah, memandangnya dengan mimik marah.