
Perlahan-lahan, Yasa terbangun dari tidurnya, di malam yang sunyi.
Dengan lesu ia menyingkap selimut tipis berwarna hitam dari tubuhnya yang bertelanjang dada, memperlihatkan bagian perutnya yang rata dan putih lembut bertato hitam pekat berbentuk pembuluh darah.
Tato alami yang tercipta dari ketegangan urat-uratnya yang kian melebar.
Tato itu sekarang sudah mencapai setengah perutnya.
Kelelawar-kelelawar mengepak-ngepakkan sayap dan menyambar-nyambar di atas pepohonan di pulau kecil di seberang sana sungai, menembus kegelapan langit hitam.
Di bawah naungan pepohonan berdiri saung-saung Kanekes beratap rumbia, sudah lama ditinggalkan para penghuninya.
Kelelawar telah menghuni pulau itu sejak bertahun-tahun lalu, kemudian beberapa waktu lalu muncullah kelelawar raksasa itu. Kelelawar jadi-jadian, makhluk yang dapat berubah wujud, menjadi kelelawar ketika ia perlu bangun.
Pulau itu dapat dicapai hanya dengan menyeberang sungai dan mendaki bukit batu yang curam, dan ini membuat takut sebagian besar orang untuk mendirikan bangunan di sana.
Beberapa orang dari suku Baduy yang telah membangun saung sawah ada yang kabur karena takut pada kelelawar-kelelawar itu, terutama kelelawar raksasa, dibunuh oleh makhluk misterius yang menyamar sebagai kelelawar, atau menyerahkan raga mereka untuk dirasuki.
Sekarang Yasa menghuni sebuah rumah gelap bekas gubuk orang Baduy yang lama ditinggalkan itu.
la telah menganggap sebagian rumah itu sebagai miliknya, membuat peraduan nyaman di salah satu kamarnya, menata seluruh rumah dengan nuansa gothic yang didominasi kain berwarna hitam, dan meletakkan dua orang-orangan sawah berjubah hitam di dinding kamar sebagai hiasan.
Sambil bersandar pada bingkai jendela, ia memandang ke luar jendela yang terbuka ke arah kelelawar-kelelawar yang menukik di sinari cahaya bulan.
Yasa mendesah, tidak dapat menyembunyikan senyum senangnya. Udara dingin dan lembap, ia menyukai yang seperti ini. Bunyi kepak sayap kelelawar menjadi latar belakang yang menyenangkan bagi pikiran-pikirannya.
Pikiran-pikiran yang menyenangkan.
Pikiran-pikiran tentang bagaimana ia telah membuktikan siapa yang paling kuat.
la telah berhasil membuktikan bahwa ia bukanlah si kuntet lagi. Bukan si lemah yang itu lagi.
Tentang Jingga, tentang satu-satunya tempat untuk menyalurkan hasrat.
Meski gairahnya nyaris tidak terpuaskan.
Tetapi liburan masih panjang.
Ia punya alasan untuk bersabar.
Kasihan, mereka tak sabar. Kecemburuan si kembar telah mengantarkan salah satu dari mereka ke dalam kebinasaan. Mengantarkan nyawanya sendiri sebelum Yasa menginginkannya.
Itu bukan salahku, pikirnya tak peduli.
Tak peduli siapa yang mati!
__ADS_1
Entah itu Dewangga atau Magenta, kedua-duanya sama saja. Sama-sama penghalang antara Jingga dan dirinya.
Jangan salahkan aku kalau mereka mati.
Jingga akan jadi milikku, katanya dalam hati. Milikku selamanya.
.
.
.
Magenta sedang memikirkan Dewa ketika seekor kelelawar melayang turun ke pematang. Ia menarik kepalanya ke belakang saat makhluk itu, dengan suara melengking seperti alarm, terbang ke samping wajahnya.
Kelelawar itu mendarat dengan ringan di jalan setapak di belakangnya dan mulai berputar, semakin lama semakin cepat, sampai hanya berupa pusaran angin yang gelap.
Beberapa saat kemudian Yasa muncul dalam pusaran angin itu seraya tersenyum, senyum samar yang ganjil. Ia menyibakkan rambutnya ke belakang dengan jari tangannya dan mengekori langkah Magenta. Matanya menyala-nyala menatap tengkuk Magenta.
Seketika bulu kuduk Magenta meremang. Jalan setapak yang sempit itu seakan menghimpitnya dan seluruh tempat tertutup kabut.
Magenta menghentikan langkahnya dan mengedar pandang. Merasa tak asing dengan kabut itu. Sangat tebal, sangat gelap, sangat… mencurigakan. Ia dapat merasakan dirinya tengah berjalan menuju perangkap ketika ia melebur ke dalam dunia kabut yang semakin gelap.
Sambil membeku dalam ketakutan, Magenta terbelalak memandangi hamparan ilalang setinggi dada di sekelilingnya. Napasnya terengah-engah. Ia harus memaksa diri berbalik dan lari, tapi ia tahu ia harus melihat apa yang membungkuk di tengah ladang ilalang itu.
Entah kenapa ia juga merasa tak asing dengan sosok itu.
Ambu!
Sambil melangkah tak pasti, ia mencoba memfokuskan matanya dalam kegelapan, ia berjalan tersaruk-saruk menembus semak ilalang.
Yasa melihat Magenta bergegas dengan kedua tangannya terulur ke depan, jalannya tidak mantap seolah buta akibat selubung kabut.
Yasa membuntuti langkah Magenta, rambutnya yang panjang tergerai berkibar-kibar di belakangnya. Ia mengulurkan tangannya, menggapai pundak Magenta---dan menembusnya. Ia melompat terkejut. Mengerjap dan mengawasi tengkuk Magenta dengan mata terpicing.
Perlahan pria itu menoleh ke belakang, menatap Yasa sembari menyeringai, seringai ganjil yang mencurigakan.
Tiba-tiba Yasa melihat dua orang di pematang itu---kembar.
Magenta dan Dewangga!
Satunya berhenti dan menoleh, sementara yang lain tetap berjalan tersaruk-saruk menjauhi Yasa.
Jadi siapa yang mati?
Dan…
__ADS_1
Itu suara apa? Bunyi gaduh itu seperti riak arus di air terjun.
Apakah itu cuma bunyi gemericik air sungai?
Bukan.
Yasa mengangkat matanya ke langit ungu, dan melihat kelelawar melayang di atas kepala mereka.
Kelelawar itu melayang rendah, lalu menukik, mengepak-ngepakkan sayapnya yang gelap dan kaku. Suaranya berderak seperti ranting patah.
Bukan kelelawar.
Hanya layang-layang!
Layang-layang berwarna hitam.
Dewa! Yasa menyimpulkan. Lalu menatap wajah pria yang membeku di depannya.
Pria itu memutar tubuhnya menghadap ke arah Yasa. Wajahnya semakin jelas terlihat, wajah putih dipenuhi luka.
Dia hantu Dewangga!
Dia datang untuk menghalangiku.
Bahkan setelah jadi hantu?
Mata Yasa melebar, mengejek tanpa rasa bersalah. Lalu menyeringai.
Hapus senyuman menjijikkan itu dari wajahmu! Dewa memelototi Yasa dengan mata berkilat-kilat merah, mengepalkan tangannya, tapi terlalu marah hingga ia tak dapat bicara. Marah sekali pada Yasa. Ia mengangkat tangannya dan mencondongkan badannya ke depan dan mendorong Yasa sambil menggeram dengan marah.
Kelelawar dari layangan kertas mengepak-ngepakkan sayap dan berderak dengan suara ribut di atas kepala Yasa.
Yasa menanggapinya dengan tawa mengejek. "Lu udah kalah, Dewa!"
"Gua belum kalah," geram Dewangga. "Lu gak bisa bunuh gua lagi. Gua udah jadi hantu!"
Yasa tertawa, "Lu kira gua takut sama hantu?"
"Lu gak bisa bunuh gua untuk kedua kalinya! Gua gak bisa mati lagi," sergah Dewangga, mukanya hampir menyentuh muka Yasa, tapi kedua-duanya tetap tak mau mundur.
"Dan lu juga gak tersentuh," sahut Yasa dengan menyeringai. Ia berjalan dengan santai menembus tubuh Dewa dan melewatinya.
Tubuh hantu itu memburai seperti asap yang diterobos.
Yasa tertawa sambil berputar-putar, semakin lama semakin cepat, meninggalkan pusaran angin yang menguak semak ilalang. Suara tawanya membahana di udara, memantul di dinding tebing, dan merambat ke langit malam.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, dua kelelawar terbang dari jalan setapak itu, mengitari langit gelap sebentar, menukik rendah di atas hamparan ladang ilalang di kaki tebing. Lalu mereka saling mendesis marah, mata mereka yang berkilat-kilat merah bertautan saling menantang.
Lalu mereka membumbung tinggi, ditelan awan tebal, mengundurkan diri ke sarang masing-masing untuk menunggu, menyusun rencana, membayangkan bagaimana mereka saling baku hantam untuk membuktikan siapa yang paling kuat. Seperti ketika di sekolah.