
"Dia bilang silahkan duduk," kata Yasa pada Jingga, entah bercanda, entah serius, yang kemudian disimpulkan Jingga sebagai sindiran.
Jingga belum mempersilahkannya duduk.
Tapi ekspresi Yasa yang serius saat mengatakannya membuat Jingga tak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya, "Kamu bisa interaksi sama binatang juga, Sa?"
Yasa tersenyum lagi. Tipis sekali. "Semua orang bisa berinteraksi sama binatang," katanya. "Kayak kamu tadi!" Ia menambahkan, kemudian menjatuhkan dirinya di sofa.
Kucing Bu Lastmi melompat naik ke atas sofa dan meringkuk di sisi Yasa seperti kebiasaannya saat bersama Bu Lastmi.
Jingga menyalakan lampu ruang tamu.
Yasa mengedar pandang dengan waspada. Matanya terpicing saat mengawasi sekeliling. "Pemilik rumah ini kolektor sejati," komentarnya.
"Apa itu artinya dia bukan penyihir?" Jingga bergabung dengan Yasa dan Cakra di sofa.
Kucing itu mengeong pelan seperti sedang menggerutu.
"Bukan." Yasa menggeleng, kemudian tertunduk dan mengusap kepala Cakra.
Kucing itu merebahkan dirinya dengan nyaman.
Jingga mengerutkan keningnya. Menatap Yasa dan kucing itu bergantian.
Seolah bisa membaca pikiran Jingga, Yasa kemudian berkata, "Setiap binatang punya cara sendiri buat berinteraksi." Tatapannya tidak berpaling dari kucing Bu Lastmi, tangannya masih mengusap-usap kepala kucing itu.
"Aku gak ngerti," kata Jingga terus terang.
Yasa akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap Jingga. Lalu tersenyum tipis sekali lagi. "Gak usah dipikirin," tukasnya pelan.
Jingga mengawasi cowok itu beberapa saat, dan menyadari kerut-kerut kelelahan pada wajahnya. "Kamu istirahat dulu aja deh, Sa," katanya.
Yasa menguap dan melemaskan tubuhnya di sofa.
"Cakra, sini!" Jingga mengguncang tubuh kucing hitam itu sambil beranjak.
Kucing itu mengeong dan melompat turun dari sofa.
Jingga berjalan ke dapur, kucing itu tidak segera mengikutinya, ia memandangi Yasa sambil menelengkan kepalanya.
"Aku capek," kata Yasa.
Kucing itu mengeong lagi, suaranya terdengar lirih, kemudian dengan enggan mengikuti Jingga ke dapur.
Jingga menuangkan snack kucing dan menaruh piring khususnya di lantai, kucing itu menghampirinya. "Dasar gembul," gerutu Jingga. "Padahal barusan doang abis makan."
Kucing itu menanggapinya dengan gumaman rendah, lalu mulai melahap makanannya.
Jingga menyelinap ke dalam kamarnya, menaruh kembali ranselnya dan menggantung jaketnya di belakang pintu. Lalu kembali ke ruang tamu.
Yasa benar-benar langsung tertidur.
.
.
.
Hari ini benar-benar melelahkan…
Malam abu-abu keperakan turun menyelimuti bumi.
__ADS_1
Jingga pun jatuh tertidur.
Dalam tidurnya, Jingga bermimpi macam-macam. Suatu kali ia bermimpi kucing hitam Bu Lastmi tenggelam di danau. Ia terjun untuk menyelamatkannya. Tapi dari dasar kolam muncul gurita raksasa, membelit Jingga dengan tentakelnya yang besar-besar.
Jingga meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari belitan itu.
Tidak berhasil.
Seperti terseret oleh gelombang pasang-surut, Jingga merasa tidak berdaya melepaskan diri dari kekuatan yang lebih besar itu. Yang lebih mengerikan, dilihatnya dasar danau menganga, menampakkan lubang besar yang gelap gulita.
Gurita raksasa itu meloncat masuk ke dalam lubang gelap itu, menyeret Jingga yang meronta-ronta ke dalamnya. Jauh, jauh sekali ke dalam kegelapan.
Yasa terbangun. Ia duduk dengan perasaan bingung.
Kapan aku ketiduran?
Matanya melihat dalam kegelapan. Apa itu yang berkilau hijau?
Ternyata mata kucing Bu Lastmi.
Lambat laun matanya terbiasa melihat dalam gelap. Ingatlah Yasa di mana dia berada sekarang.
Di kostan Jingga.
Di mana dia sekarang?
Suasana hening. Hanya suara jangkrik yang terdengar, memecah kesunyian malam.
Yasa berdiri dan berjalan ke jendela. Cahaya bulan purnama yang putih pucat menyinari wajahnya.
Perutnya keroncongan. Mulutnya terasa kering. Aku mau minum, pikirnya. Sambil mengucek-ucek matanya, ia menyelinap ke lorong yang gelap.
Seisi rumah sunyi senyap. Jingga pasti sudah tidur, pikirnya. Tanpa bersuara, Yasa berjalan menyusuri lorong.
Apakah Jingga keluar?
Apa dia tidur berjalan lagi?
Hati-hati Yasa mengintip ke dalam kamar yang gelap itu.
Jingga berdiri di bawah sinar bulan yang berkilauan. Ia memakai gaun malam panjang tanpa lengan berwarna putih.
Dilihatnya gadis itu menyentakkan kepalanya ke belakang dan tertawa nyaring.
Kenapa dia kelihatan tinggi sekali? Yasa bertanya dalam hatinya, keheranan. Matanya memelototi kamar yang gelap itu.
Tipuan mata?
Atau aku sedang bermimpi?
Sekonyong-konyong Jingga merasakan kehadiran Yasa dan berbalik secepat kilat.
Yasa memicingkan matanya.
Di bawah sinar bulan yang pucat, wajah Jingga tampak berubah—sangat menyeramkan.
Jingga memelototi Yasa dan tertawa. Tawanya terdengar jahat dan keji.
Yasa ingin berbalik, tapi tak bisa.
Tatapan gadis itu seakan melumpuhkannya.
__ADS_1
Membekukannya. Menahannya.
Tinggi sekali…
Kenapa Jingga terlihat begitu tinggi?
Saat itu barulah tampak oleh Yasa.
Tidak! Ia menjerit tanpa suara, tidak percaya.
Tidak!
Tapi yang dilihatnya itu benar.
Jingga melayang setinggi lima belas senti dari lantai!
"Jingga!" Yasa memekik, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia melompat ke dalam dan mencoba menangkap pinggang gadis itu.
Tubuh Jingga melejit menjauhinya.
Yasa tersentak dan terhuyung.
Gadis itu tertawa lagi.
Sssssssssss!
Yasa menoleh mendengar suara itu.
Kucing Bu Lastmi berdiri di ambang pintu dengan cakar mengembang dan punggung melengkung tinggi. Bulunya yang gelap berdiri tegak.
Gadis itu berhenti tertawa. Ekspresi wajahnya berubah. Matanya menyipit.
Kucing Bu Lastmi mendesis lagi. Desisannya tajam dan menakutkan.
Bahu gadis itu membungkuk ke depan. Matanya menyipit lagi. Samar-samar terlihat kilauan kekuningan dari bagian putihnya.
Yasa terpekik pelan, terkejut melihat Jingga yang menyeringai, menampakkan gigi-giginya, dan mendesis ke arah kucing Bu Lastmi.
Jingga mendesis seperti bintang. Suaranya terdengar mengerikan, sama sekali tidak mirip suara manusia.
Yasa menjilat bibir bawahnya dan menelan ludah dengan susah payah. Lalu duduk bersila di lantai menghadap ke arah Jingga.
Gadis itu menyentakkan kepalanya ke samping, menghujamkan tatapan tajam ketika cowok itu merentangkan kedua tangannya ke samping lalu menarik keduanya ke depan dada. Jemarinya membentuk cakar yang saling berhadapan, kemudian berputar ke arah berlawanan. Satu tangan memutar ke bawah, satunya lagi memutar ke atas, seperti seseorang sedang membuka tutup stoples yang tidak terlihat. Matanya terpejam dan mulutnya komat-kamit.
Gadis itu tersentak menjauhinya. Matanya terbelalak lebar. Ia menaikkan kedua tangannya, membekap kedua telinganya.
Bercak-bercak ungu tua melayang di depan mata Yasa. Lambat laun bercak-bercak ungu itu memudar, berganti menjadi abu-abu.
Kabut menipis, dan muncul wajah Jingga. Mula-mula jauh sekali. Lalu semakin dekat.
Melayang ke arah Yasa seperti muncul dari dalam air. Rambutnya mengembang di sekeliling wajahnya, melecut pelan seperti riak air. Matanya terbelalak lebar. Gadis itu berteriak padanya tanpa suara.
Dia dirasuki! Yasa menyimpulkan.
Dia berjalan dalam tidur karena dirasuki. Gadis hantu itu mencoba menariknya ke danau.
Kegelapan menelan Yasa.
Terdengar suara kepakan.
Yasa tidak segera membuka matanya. Angin kencang melecut menerpa wajahnya. Lalu suara berdebam.
__ADS_1
Kucing Bu Lastmi mengeong keras.
Yasa membuka matanya dan menemukan Jingga tergeletak di lantai.