
Dalam keputusasaannya Jingga akhirnya melihat setitik cahaya dari kejauhan, cahaya putih yang berangsur-angsur membesar seiring ia mendekat.
Gardapati muncul dalam lingkaran cahaya itu dan melolong.
Lolongan nyaring serigala putih itu membangunkan Jingga dari ketidaksadarannya.
"Kamu memang gak bisa dilarang!" terdengar suara ayahnya menggerutu.
Lalu berangsur-angsur pandangan Jingga mulai pulih.
Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah ayahnya, lalu wajah ibunya, Magenta, Anes, Reksa dan Yasa.
Jingga mengerjap dan mengedar pandang dengan ekspresi kebingungan.
Lalu menyadari mereka sudah berada di rumahnya. Semua orang berkumpul di ruang tamu, bahkan Yasa yang tempat tinggalnya paling jauh dari desa mereka.
Apa yang terjadi? Jingga bertanya-tanya dalam hatinya.
Kenapa mereka semua ada di rumahku?
Dan… bagaimana caranya mereka sampai di sana?
Jingga tak ingat bagaimana mereka pulang lintang-pukang mendaki bukit batu yang licin dan menyeberangi sungai yang dingin pada tengah malam dengan menggamit seseorang yang terus mengamuk.
Jingga tak tahu bagaimana sulitnya berjalan menggandeng seseorang yang tidak stabil di pematang sempit yang di salah satu sisinya terdapat tebing curam sementara di sisi lainnya terdapat petak-petak sawah.
Jingga tak tahu betapa jauhnya jarak dari pulau terpencil menuju rumahnya.
Semua itu dilalui Magenta dan kedua temannya yang sadar dengan penuh perjuangan, bisa dikatakan berdarah-darah, sementara Jingga dan Yasa terus mengamuk sepanjang perjalanan.
Beruntung mencapai pertengahan jalan, Empu Brajasena berhasil menyusul mereka setelah menyelesaikan urusan terakhirnya dengan hantu Dewangga dan layangan hantunya.
Anes dan Reksa menjatuhkan dirinya di sofa sembari terengah-engah.
Magenta menghela napas berat dan duduk di lantai di sisi Jingga, sementara Yasa masih terbaring di sisi lain gadis itu.
Jingga menarik duduk tubuhnya dibantu Magenta. Lalu menoleh ke arah Yasa yang masih tergolek tak sadarkan diri.
"Kenapa dia?" tanyanya terkejut.
"Sama kayak kamu," jawab Magenta sambil tersenyum.
"Hah?" Jingga menoleh pada Magenta dengan mata dan mulut membulat. "Aku?"
Magenta dan teman-temannya terkekeh menanggapi kebingungan Jingga.
__ADS_1
"Emang aku kenapa?" Jingga bertanya lagi, lalu melirik ke arah Anes dan Reksa.
Magenta membungkuk dan mendekatkan mulutnya ke telinga Jingga, "Kamu kesurupan," bisiknya sambil cengengesan.
Jingga mencebik, tak terima dirinya dikatai kesurupan.
Ragnala mendesah pendek dan berbalik ke arah dapur, kemudian kembali lagi dengan membawa nampan berisi cangkir-cangkir minuman coklat panas dan sepiring umbi-umbian rebus. Lalu meletakkannya di meja di depan Anes dan Reksa.
Ayah Jingga masih membungkuk di atas tubuh Yasa, melayang-layangkan telapak tangannya di atas kepala Yasa.
"Celaka!"
Gumaman pelan Empu Brajasena menyentakkan seisi ruangan. Semua mata serentak terarah pada pria paruh baya itu dengan terbelalak.
Empu Brajasena mendesah pendek dan menggeleng-geleng. "Penglihatannya gak bisa dipulihkan," katanya.
"Penglihatan?" Jingga memekik tertahan. Mendadak teringat penglihatan-penglihatannya yang mengerikan. "Maksud Papa dia bakal tetep bisa ngeliat penampakan-penampakan itu?"
Ayahnya mengangguk mengiyakan.
"Hah?"
Semua orang sekarang terperangah.
"Aku juga?" Jingga bertanya dengan raut wajah ngeri.
"Maksudnya gak apa-apa?" desak Jingga.
"Papa jamin kamu gak akan melihat lagi penampakan-penampakan kecuali…"
"Kecuali apa?" potong Jingga tak sabar.
"Kecuali dalam situasi tertentu," jawab ayahnya.
"Apa maksudnya situasi tertentu?" tanya Jingga lagi.
"Misalnya, entitas terkait sengaja menampakkan diri," jelas ayahnya. "Maksud Papa, apa yang kamu lihat di hutan tadi bukan penampakan, tapi penglihatan kamu terbuka karena suatu hal. Papa kan udah bilang jangan nengok ke belakang!"
"Aku gak ngerti!" tukas Jingga—masih menuntut penjelasan.
"Sejujurnya Papa gak punya kemampuan untuk melihat makhluk gaib," tutur ayahnya. "Untuk bisa melihat sosok hantu yang harus Papa hadapi, Papa harus membaca mantra tertentu yang bisa membuat mereka terlihat. Itu sebabnya ketika kalian menoleh ke belakang, kalian bisa melihat sosok-sosok hantu di sekitar Papa."
Magenta termangu menyimak penjelasan Empu Brajasena. Anes dan Reksa mengangguk-angguk sembari bergumam pertanda mereka paham.
"Itu sebabnya Papa bilang kamu gak perlu kuatir soal penglihatan itu lagi, kamu gak punya bakat lahir yang memungkinkan kamu memiliki kemampuan untuk melihat makhluk gaib," ayah Jingga menambahkan. "Kamu gak ada keturunan!"
__ADS_1
"Terus maksud Papa apa---penglihatan dia gak bisa dipulihkan?" Jingga bertanya lagi sambil menunjuk ke arah Yasa dengan dagunya.
"Dia punya bakat lahir!"
Seisi ruangan memekik tertahan mendengar penjelasan Empu Brajasena.
"Kemungkinan anak ini memiliki kemampuan melihat makhluk gaib yang dibawanya sejak lahir, tapi seseorang telah menyegel kemampuannya." Ayah Jingga melanjutkan. "Seseorang telah menutup mata batinnya dengan mantera tertentu. Dan Papa membuka segelnya!"
"Hah?" Jingga kembali terperangah. Begitu pun semua orang dalam ruangan.
"Mantra itu…" kata ayah Jingga ragu-ragu. "Mantra yang bisa membuat makhluk-makhluk yang tak kasatmata menjadi kasatmata itu, adalah mantra pembuka portal gaib yang juga bisa membuka mata batin seseorang yang tertutup."
Seisi ruangan tercengang dalam kebisuan.
Lalu terdengar erangan dan gumaman pelan Yasa yang mulai siuman.
Empu Brajasena meminta Ragnala untuk membawakannya segelas air.
Ragnala bergegas ke dapur dan kembali lagi dengan segelas air putih.
Empu Brajasena membacakan sesuatu yang hanya bisa didengar Tuhan dan orang-orang tertentu dengan pendengaran istimewa. Lalu memberikan air itu pada Yasa.
Yasa menarik duduk tubuhnya sembari mengernyit, kemudian menerima air itu dan meminumnya.
Setelah itu, Magenta membantu Yasa berdiri dan menuntunnya ke sofa.
Seisi ruangan sekarang duduk di sofa, mendengarkan celotehan Empu Brajasena yang ditujukan pada Yasa. Menjelaskan situasi yang sebenarnya, dan memaparkan kemungkinan terburuk yang akan dihadapi Yasa setelah ini.
Yasa terlihat cemas dalam waktu yang lama.
"Tapi jangan khawatir," ayah Jingga menambahkan seraya menepuk pundak Yasa. "Saya akan membantu kamu melatih kemampuanmu dan mengarahkan ke mana kemampuan itu akan dibawa," katanya menenangkan Yasa. Entah benar-benar tulus, entah cuma modus menjaring penerus.
Bagaimanapun seorang ahli spiritual membutuhkan murid sebagai penerus.
Untuk pertama kalinya setelah ia sadarkan diri, Yasa akhirnya tersenyum. Lalu melirik ke arah Jingga sedikit tersipu.
Jingga mengulum senyumnya dan tertunduk. Sedikit merasa risih mengingat apa yang telah mereka lewati selama sepekan ini. Lalu melirik Magenta dengan intensitas tatapan menyelidik, seakan coba mempertimbangkan apakah ia akan memilih Yasa atau Magenta.
Tapi pada akhirnya ia mencoba mengenyahkan pikiran itu.
"Waktu selalu punya jawaban untuk setiap persolan!"
Itu adalah kutipan Penulis Keparat.
Kutipan favorit sejuta umat manusia di seluruh dunia di masa mendatang.
__ADS_1
Semoga!