Bebegig

Bebegig
Chapter 6


__ADS_3

"Tapi kamu belum jawab pertanyaan aku." Jingga tak mau menyerah, ia mengikuti Magenta.


"Aku gak bisa," bisik Magenta. "Karena Dewa... Dia terlalu takut."


"Tapi, Magenta," desak Jingga. Ia melihat Dewa memperhatikan mereka dari depan rumahnya.


"Pulang, gih!" seru Magenta ketus. "Udah magrib tau!"


"Aku cuma mau pulang kalo kamu udah jelasin apa maksud kamu tadi." Kadang-kadang Jingga memang keras kepala.


"Oke, oke," Magenta berbisik sambil melirik ke arah Dewa. "Temuin aku besok malem, oke? Kita ketemu di depan kantor pos yang ada di bawah, aku bakal ceritain semuanya."


Jingga akhirnya berhenti mengikuti Magenta dan pulang.


Ia bergegas ke dalam rumah. Ibunya sedang berada di dapur.


Ragnala sedang mengeluarkan cangkir-cangkir kopi dari kardus dan memindahkan semuanya ke lemari dinding. Ia berbalik begitu putrinya masuk. "Di luar lagi hujan, ya?" ia bertanya.


Jingga mengangguk keras-keras. Butir-butir air hujan di rambutnya berjatuhan ke lantai. "Hujannya lumayan deres," sahut Jingga.


Ragnala mengerutkan kening. "Saking sibuknya di sini, Mama sampe gak sempet lihat keluar jendela."


Jingga melepaskan mantel dan membawanya ke lemari di samping pintu depan. Tapi ternyata belum ada gantungan. Terpaksa mantelnya ia letakkan di atas tumpukan kardus. Kemudian ia kembali ke dapur sambil menggosok-gosok lengan sweater-nya. "Ma, Mama pernah denger nggak soal Jurig Bebegig?" tanya Jingga.


Jingga mendengar ibunya menarik napas pendek. Tapi ketika ia berpaling pada Jingga, raut wajahnya biasa saja.


"Jurig Bebegig?"


"Iya, Jurig Bebegig! Mama pernah denger gak cerita soal Jurig Bebegig yang katanya tinggal di puncak gunung?" Jingga kembali bertanya.


Ragnala menggigit bibir dan tampak berpikir keras. "Belum. Mama gak pernah denger! Mama gak tahu apa-apa soal itu, Jingga." Suaranya gemetaran.


Kenapa dia kelihatan gugup? pikir Jingga merasa curiga.


Ragnala membungkuk untuk mengambil beberapa cangkir lagi dari kardus.


Jingga berjalan melintasi ruangan untuk membantunya. "Tadi aku dikasih tau orang, katanya aku gak boleh naik ke puncak gunung karena di sana ada Jurig Bebegig," ujar Jingga. "Katanya Jurig Bebegig itu tinggal di puncak gunung."


Ragnala diam saja. Ia menyerahkan dua cangkir pada putrinya. Kedua-duanya Jingga masukkan ke dalam lemari.

__ADS_1


"Tadi ada orang tua yang ngasih tau aku, katanya aku gak bakal pernah balik lagi kalau aku ketemu Jurig Bebegig yang tinggal di puncak gunung itu," Jingga melanjutkan.


Ibunya tertawa pendek. "Ah, itu kan cuma takhayul," gumamnya.


Jingga menatap ibunya sambil memicingkan mata. "O, ya?"


"Ya, iya lah," sahut ibunya. "Semua desa kecil punya segudang cerita serem. Orang yang nyeritain kisah kayak gitu pasti cuma orang iseng yang pengen nakut-nakutin kamu."


"Iseng?" Jingga mengerutkan kening. "Tapi kayaknya dia serius, kok."


Empu Brajasena, laki-laki aneh berjanggut putih tadi, sampai berteriak melarangku naik ke puncak gunung. la tidak bercanda. Aku tahu ia tidak main-main. la serius. Ia mengancamku. Ia bukan sekadar iseng. Tidak mungkin cuma iseng, pikir Jingga.


"Ma, Mama inget sajak tentang orang-orangan sawah?" tanya Jingga. la menegakkan badan dan meregangkan otot-ototnya sambil bertolak pinggang.


"Sajak?"


"Iya, sajak. Aku tiba-tiba keingetan sajak itu hari ini. Sajak itu aku denger dari nenek waktu aku masih kecil."


Ragnala kembali menggigit bibir. "Kayaknya Mama gak tau sajak apa yang kamu maksud," katanya. Ia mengalihkan pandangan, dan menghindari tatapan putrinya.


"Aku cuma inget bait pertama," Jingga meneruskan. Lalu membacakan sajak itu, "Lamun hujan ngagelebug, komo wanci sambekala… Kade Bebegig, Anaking! Kade Bebegig! Bebegig mawa dodoja."


"Ma! Mama baik-baik aja, kan?" tanya Jingga. "Ada apa?"


"Nggak, kok! Gak ada apa-apa," sahut ibunya ketus dan sambil memalingkan wajah. "Gak ada apa-apa, Jingga. Tapi Mama gak inget sajak itu. Kayaknya Mama belum pernah denger."


Dengan gugup Ragnala mengotak-atik sanggul rambutnya yang tinggi.


"Mama yakin?" Jingga bertanya pelan-pelan.


Ya, iya lah. Mama yakin," balas ibunya dengan tajam. "Udahlah! Sekarang bantu Mama beresin barang-barang ini, biar Mama bisa mulai nyiapin makan malam."


Ada apa, sih? Jingga bertanya dalam hati.


Kenapa Mama tiba-tiba marah padaku?


Dan kenapa aku mendapat kesan bahwa ia sedang berusaha menutup-nutupi sesuatu?


Mama belum pernah bohong padaku.

__ADS_1


Kenapa sikapnya begitu aneh sekarang?


Malam itu Jingga tak bisa tidur. Kasur barunya terasa begitu keras. Dan ia terus-terusan membayangkan langit-langit yang rendah di kamarnya turun dan mengimpit tubuhnya.


Awan-awan tebal telah menyingkir, dan bulan sabit tampak melayang di langit malam. Cahayanya masuk melalui jendela Jingga yang bulat, dan menghasilkan bayangan-bayangan panjang yang terus bergerak.


Jingga menggigil di bawah selimutnya. Semua masih serbabaru dan asing baginya. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah ia akan bisa tidur di sini. Ia mencoba memejamkan mata dan berusaha memikirkan hal-hal yang menyenangkan.


Jingga teringat teman-temannya di Jakarta. Ia membayangkan wajah mereka satu per satu. Lalu bertanya-tanya apa saja yang mereka kerjakan di sana, sewaktu ia mengalami petualangan yang menakutkan di atas gunung. Ia juga bertanya-tanya apakah mereka rindu padanya.


Jingga baru saja tertidur ketika suara melolong membelah keheningan malam.


Lolongan serigala?


Jingga turun dari tempat tidurnya dan berjalan membungkuk menuju ke jendela.


Hamparan bunga akasia di luar tampak berkilau-kilau karena memantulkan sinar bulan. Terangnya hampir seperti pada siang hari.


Semak-semak terlihat bergoyang pelan karena tiupan angin. Lolongan tadi kembali terdengar.


Jingga memandang ke arah gunung. Tapi yang terlihat cuma rumah-rumah yang gelap dan sunyi, serta jalan yang berkelok-kelok sampai ke puncak.


Seluruh tubuh Jingga serasa ditusuk-tusuk. Gadis itu tahu ia tak akan bisa tidur lagi. Kamarnya begitu dingin, udaranya lembap dan pengap.


Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan-jalan saja. Barangkali itu akan membuatku lebih santai, pikirnya. Lalu cepat-cepat ia mengenakan celana jeans dan sweater. Kemudian ia menuruni tangga tanpa bersuara, tentu saja, soalnya ibunya tak boleh tahu ia keluar.


Jingga mengambil mantel dan sepatu bot. Ia menyelinap keluar. Perlahan-lahan ia menutup pintu depan. Pandangannya menyapu serbuk kuning bunga akasia yang menyelubungi pekarangan.


Sambil mengendap-endap gadis itu menuju ke jalan. Saking dinginnya, setiap embusan napasnya langsung berubah jadi embun.


"Wow!" Jingga bergumam takjub. Udara yang dingin dan segar terasa begitu nyaman di wajahnya.


Angin telah berhenti. Seluruh dunia terlihat diam dan hening.


Tidak ada kendaraan yang berlalu-lalang, Jingga menyadari. Tidak ada bunyi klakson. Tidak ada bus yang melaju berderu-deru. Tidak ada orang yang tertawa dan berseru-seru di jalan.


Aku benar-benar sendirian di luar sini, katanya dalam hati. Seluruh dunia jadi milikku.


Tapi lamunan gadis itu segera buyar akibat lolongan panjang yang membuat bulu kuduknya meremang.

__ADS_1


__ADS_2