
Jingga berjalan menuju lampu, lewat trotoar tanah di tepi jalan. Ia mengayunkan lengan kanannya, mula-mula perlahan, lalu makin cepat, sambil memegangi pakaian tidurnya di bagian pinggang dengan tangan kiri.
Apakah yang di dekat lampu itu papan nama jalan?
Ya.
la melewati satu lagi rumah tua yang gelap, jauh dari jalan. Rumput dan ilalang tinggi terbentang di halamannya bagai permadani.
Apa aku mengenal rumah itu? Apa aku mengenal jalan ini? Berapa jauh aku telah berjalan? Apakah aku telah berjalan memasuki mimpi lain?
la bergegas mendekati papan nama jalan.
la memandang ke kejauhan, kemudian membacanya lagi. Tidak berubah.
Kenapa aku ada di sini?
la berjalan dalam tidur ke danau, ke tepi hutan. Ke tepian, pikirnya. Ke tapal batas.
Melewati batas kewarasan. Aku sudah gila.
Kata-kata itu terus diulang dalam hatinya sampai kehilangan makna. la mendongak melihat tanda jalan itu lagi. Benar-benar ada. Bukan mimpi. la berada di danau dengan hanya berpakaian tidur di tengah malam. la berjalan dalam tidur ke sini... untuk mencari… apa?
Barangkali ia akan berdiri di sana selamanya, terpana memandangi papan nama jalan hitam-putih itu. Namun pendar-pendar sinar merah membawanya kembali ke alam nyata, dan ia sadar dirinya tidak sendirian lagi sekarang.
Ada pintu mobil dibanting.
Seorang laki-laki berjalan ke arahnya. Lampu merah berpendar-pendar. Seolah mengelilinginya. Jingga mengedipkan mata, berusaha menghindari sinar silau itu.
Ia tahu ini cuma mimpi, sekali lagi datang untuk menakut-nakutinya. Ia menunduk, berharap melihat air danau yang biru dingin. Tapi ia hanya melihat debu.
"Nona?"
Laki-laki itu berdiri tepat di hadapannya, disinari kilau cahaya merah.
"Nona? Apa yang kamu lakukan di luar sini?" la polisi. Di belakangnya Jingga melihat pendar-pendar lampu merah di atap mobil polisi itu.
"Hai. Saya... saya gak tau."
"Kamu baik-baik aja?"
"Ya, saya kira begitu."
"Apa kamu terluka? Apa ada orang yang bawa kamu kemari?"
"Nggak."
__ADS_1
Polisi itu memegang lengan Jingga dengan lembut. Jingga mengikutinya menuju lampu merah yang berpendar-pendar. "Boleh saya antar kamu pulang? Kamu tinggal di sekitar sini?"
"Terima kasih, Pak!"
.
.
.
"Jam berapa sekarang?"
Yasa mengangkat bahu. "Sori. Aku ada urusan mendesak." Ia memakai T-shirt hitam lengan panjang berleher tinggi dan celana jins sewarna, yang kemudian dilapisi jaket parka milik Jingga. "Aku gak bisa nunggu sampe pagi. Aku gak bisa tenang. Jingga mungkin dalam bahaya."
"Apa Empu Brajasena tau?" Nada melirik jam tangannya dengan gelisah, waktu menunjukkan pukul satu dini hari.
"Empu Brajasena lagi pergi, gak tau kapan pulangnya," kata Yasa. "Itulah sebabnya aku gak bisa tenang." Ia menutup ritsleting jaket Jingga, sedikit terkejut karena ukurannya pas di tubuhnya. Ini jaket cowok, ia menyimpulkan.
Nada menyerahkan kunci mobil pada Yasa. "Bensinnya masih penuh."
Yasa mulai melangkah keluar, lalu tiba-tiba kembali lagi. "Aku bener-bener minta maaf karena besok pagi kamu terpaksa harus jalan kaki ke puskesmas. Udah gak ada bus malem-malem gini."
"Kamu udah dewasa," sahut Nada cepat-cepat. "Emang udah waktunya kamu pake mobil itu buat ngapelin cewek. Tapi normalnya bukan pada jam satu dini hari."
"Please, jangan tempatin aku di posisi seolah-olah aku serakah sama warisan. Itu mobil Papa." Nada bermaksud hanya bergurau, namun suaranya terdengar serius.
Yasa menatap kakaknya dengan alis bertautan, ia memegangi pintu depan, badannya setengah di dalam dan setengah di luar rumah.
Nada melihat jam tangannya lagi, kemudian mendorong Yasa ke luar rumah. "Udah buru sana, ah! Aku mau lanjutin tidur," katanya sambil menguap.
"Hati-hati di rumah!" Yasa membuka pintu mobil dan duduk di balik kemudi.
"Oh, sialan!" Nada menutup pintu dan menguncinya sambil menggerutu. "Pake diingetin," gumamnya dengan muram sambil melirik jam tangannya lagi, menyadari dirinya sekarang hanya sendirian di rumah.
Ibu mereka meninggal saat melahirkan Yasa dan ayahnya meninggal saat Yasa masih kecil. Kalau dipikir-pikir, dari mana sebetulnya mereka memiliki keajaiban hingga mampu bertahan sampai sejauh ini.
Meski orang tua mereka meninggalkan warisan yang takkan habis hingga tujuh generasi, waktu itu Nada masih terlalu kecil untuk menjadi pengganti kedua orang tuanya.
Para tetangga bahkan kerabat tidak ada yang sudi mengulurkan tangannya untuk merangkul Nada dan Yasa. Bahkan untuk sekadar mengincar harta warisan orang tua mereka.
Semua orang memandang Yasa sebagai pembawa sial.
Dan sekarang Nada tahu persis apa sebabnya.
Yasa memang berbeda.
__ADS_1
Itulah sebabnya mereka mampu bertahan tanpa orang tua!
Dan mereka bilang Yasa pembawa sial?
Tentu saja Nada tak akan percaya!
Ia melihat adiknya sebagai keajaiban.
Nada tak tahu apa yang menimpa Yasa dua tahun lalu, karena ia harus mengenyam pendidikan keperawatan di luar kota.
Yang ia tahu, Empu Brajasena telah mengubah Yasa menjadi seorang pria. Dan ia sangat menghormatinya. Itulah sebabnya ia tidak keberatan untuk apa pun yang berkaitan dengan Jingga. Bahkan jika adiknya hanya kasmaran.
Seandainya Nada tahu…
Yasa bergegas ke kota Serang malam itu hanya mengandalkan visi.
Yasa tak pernah tahu di mana Jingga tinggal di kota Serang. Atau di mana Jingga kuliah.
Semua informasi yang dia miliki untuk mencari Jingga saat ini didapat dari visinya.
Yasa bahkan tak pernah pergi sejauh itu dari kampungnya.
Tapi inilah saat yang tepat untuk menggunakan apa yang diajarkan ayah Jingga, pikirnya. Tidak ada ruginya meski jika ia gagal.
Semuanya adalah pengalaman pertama baginya. Pertama kalinya mengikuti visi. Pertama kalinya meninggalkan kampung halaman menuju tempat yang sama sekali asing tanpa pemandu jalan kecuali visinya.
Tapi Yasa tidak merasa gentar. Kekhawatirannya pada Jingga jauh lebih besar daripada kekhawatiran pada hal lain—seperti kemungkinan ia tersesat di kota asing.
Bagaimanapun aku seorang laki-laki, tekadnya dalam hati.
Mobil itu mendadak terasa dingin. Hawa dingin yang sama dengan hawa dingin dalam visinya setiap kali ia menerawang jaket Jingga.
Tiba-tiba saja, seseorang tahu-tahu sudah duduk di bangku penumpang di samping Yasa.
Yasa menoleh ke samping dan menelan ludah ketika matanya menatap kursi penumpang di sampingnya.
Seorang gadis, mungkin sebaya dengan Jingga. Tatapannya keras. Matanya gelap dan berbahaya. Segelap warna rambutnya yang panjang sebahu. Ia mengenakan jaket yang sama seperti jaket yang dikenakan Yasa.
Pendaki itu, pikirnya. Pendaki wanita yang diserang kelelawar raksasa dalam visinya.
Yasa berdeham, "Jaket ini punya kamu, ya?" tanyanya sambil meluruskan kembali pandangannya ke depan, kembali fokus ke arah jalan.
Gadis itu memutar kepalanya, menghadapkan wajahnya ke arah Yasa.
Yasa menoleh sekali lagi ke arah gadis itu dan menyadari wajahnya berbeda dengan si pendaki wanita dalam visinya.
__ADS_1