
"Nada... kamu belum tidur?" Yasa terkejut menemukan kakak perempuannya berbaring di kursi kulit berlengan di ruang tamu. Ruangan itu gelap, hanya lampu koridor yang menyala.
"Uh. Oh... hai!" Nada terbangun dan tergesa-gesa bangkit berdiri. Ia masih mengenakan seragam putih perawat. "Pasti aku ketiduran di kursi. Aku udah pulang dua jam tadi."
"Kenapa kamu gak ke kamar?" Yasa menguap.
"Kupikir aku gak capek tadi." Nada meregangkan otot-ototnya. "Sekarang aku tahu aku capek. Kamu abis nganter cewek, ya?"
"Yah. Anak Empu Brajasena." Yasa menguap lagi.
Nada menggeleng-gelengkan kepala. "Bae-bae, Sa!"
Yasa tidak mengerti apa yang dimaksud kakaknya dengan ucapan itu. Tapi ia terlalu lelah untuk menanyakannya. "Aku mau tidur. Besok kamu juga kerja, kan?"
"Yah. Giliran yang paling pagi. Aku harus berangkat beberapa jam lagi, percaya nggak? Udah naik sono. Biar aku yang ngunci pintu."
Tiba-tiba Yasa melihat kakaknya tampak jauh lebih tua. Atau barangkali itu karena pengaruh lampu koridor yang tajam. Yasa mengucapkan selamat malam dan mulai menaiki tangga.
"Oya, aku ampir lupa!"
Yasa sadar, itu adalah satu kebiasaan kakaknya yang paling menjengkelkan. Dia selalu teringat sesuatu begitu orang sudah setengah jalan naik tangga, sehingga orang harus turun kembali. Tapi pada saat itulah ia akhirnya melihat jaket Jingga, tersampir pada sandaran kursi di ruang makan.
"Ada yang dateng nanyain kamu sekitar satu setengah jam lalu. Kalo gak salah temen kamu dari desa utara yang kembar itu."
"Magenta?"
"Bukan. Yang satunya lagi!"
"Maksud kamu Dewa?" Yasa mengerutkan kening.
"Nah, iya!"
"Dewa udah meninggal!" tukas Yasa.
Giliran kakaknya sekarang yang mengerutkan kening. "Dia yang bilang sendiri kok, namanya Dewa… apa gitu. Kalo gak salah Dewangga."
Yasa memandang kakaknya dengan tak yakin, tapi ia tak ingin membicarakan orang mati menjelang tengah malam. "Mau ngapain katanya?"
"Dia bilang cuma mau ngasih tau, hati-hati sama Magenta."
"Hah?" Yasa spontan terperangah.
"Masih mau bilang aku salah orang?" sindir kakaknya.
"Tapi Dewa emang udah meninggal," gumam Yasa.
Nada mengangkat bahunya dengan malas. Ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak percaya Dewangga sudah meninggal.
Dia terlihat yakin dengan apa yang dilihatnya, pikir Yasa. Dengan terkejut ia menyadari bahwa kadang-kadang sesuatu terjadi baik ia mempercayainya ataupun tidak.
__ADS_1
Tapi tetap saja yang ini terlalu janggal.
Dewangga selalu memusuhi Yasa selama hidupnya.
Kenapa dia tiba-tiba datang untuk memperingatkan supaya Yasa berhati-hati pada Magenta?
Apa itu ancaman?
Ya! Yasa akhirnya menyimpulkan. Magenta pura-pura menjadi Dewa untuk menggertakku.
Yasa sekali lagi mengucapkan selamat malam pada kakaknya. Sambil membawa jaket Jingga, ia naik ke kamarnya.
Malam itu, ia akhirnya melakukan meditasi dan menjadikan jaket Jingga sebagai media untuk menerawang.
Dalam visinya ia melihat: seorang pendaki berjalan sambil mengencangkan tali carrier-nya, kakinya terbenam di antara rumput di permukaan tanah basah. Ia mengamati cahaya yang pelan-pelan menghilang di atas puncak gunung ketika awan melayang melintasi bulan.
Temannya, seorang pendaki wanita, membungkuk untuk memperbaiki tali sepatunya yang terlepas.
"Aku kedinginan," si pendaki wanita mengeluh, sambil berlari kecil dengan cepat untuk mengejar si pendaki pria, lututnya terangkat tinggi seakan-akan dengan demikian tubuhnya akan tetap hangat.
"Aduh enaknya," kata si pendaki pria, sambil memejamkan mata. Semburan gerimis menempel pada rambut ikalnya yang panjang dan dikuncir ke belakang.
Si wanita menoleh melihat ke atas temannya dan berjalan mundur. Angin mengepak-ngepakkan jaket parkanya yang gombrong. "Kamu gak kedinginan?"
Si pria menggeleng, sambil melangkah, menikmati bunyi kakinya yang bergemeresik di atas rerumputan. Tiba-tiba ia berhenti.
Si wanita berhenti juga, dan mengikuti pandangan temannya ke atas ke langit biru gelap. "Oh!" pekiknya, sambil meraih lengan si pria. "Apa itu? Kelelawar?" ia menjerit lirih saat makhluk hitam melayang di atasnya. Sepasang sayapnya mengepak-ngepak seperti seprai pada tali jemuran.
Ini bukan kegelapan kamarnya.
la sudah terjaga sekarang. Visinya sudah berakhir.
Jadi mengapa ia tidak kembali berada di kamarnya?
Kakinya yang telanjang terasa sangat dingin, sangat basah. Ia menunduk, ternyata ia sedang berdiri di atas rumput yang tinggi dan basah. Jaket Jingga yang tengah didekapnya berkibar-kibar di sekeliling tubuhnya, tertiup angin. Bayangan bagian depan sebuah rumah tampak menjulang bagai makhluk raksasa yang membisu.
Di manakah aku?
Bagaimana aku bisa sampai di sini?
la mencengkeram jaket Jingga dan memandangi bangunan rumah di depannya. Apakah itu rumahnya? Mengapa kelihatan sangat lain?
Sangat gelap, sangat dingin dan sangat ganjil.
Kenapa aku berdiri di sini?
Pepohonan bergoyang dan seakan berbisik. Tanah seolah miring.
Kemudian ia melihat pintu depan rumah itu terpentang lebar. Jingga menghambur keluar dari pintu itu, ia mengenakan jaket yang sama seperti yang kini sedang didekap Yasa, jaket yang sama pula seperti yang dikenakan si pendaki wanita dalam visinya tadi.
__ADS_1
Tak jauh di belakang Jingga, seorang pria tinggi besar berambut gondrong keriting sedang mengejarnya dengan ekspresi marah.
Pendaki itu! pikir Yasa terkejut. Pria itu adalah pendaki dalam visinya tadi.
Kenapa dia mengejar Jingga?
Jingga sekarang berlari ke arahnya. Lalu tiba-tiba menghilang ketika Yasa coba menangkapnya.
Visinya masih berlangsung! Yasa menyadari.
Apa yang dialaminya sekarang masih bukan kenyataan.
Itu masih bagian dari visinya. Visinya yang paling terasa sangat nyata.
Apa artinya ini?
Apakah itu kejadian nyata yang dialami Jingga?
Kapan terjadinya?
Apakah ada hubungannya dengan jaket ini?
Apakah Jingga terancam karena jaket ini?
Apakah jaket ini bukan milik Jingga?
Dan… rumah siapa itu sebenarnya?
Apakah itu rumah kost yang baru ditempati Jingga?
Ada yang salah, pikirnya. Ada yang salah dan mengerikan.
Tiba-tiba Yasa merasa pusing. Ia melepaskan jaket Jingga dari genggamannya dan seketika dunia di sekitarnya berputar dan berhenti.
Yasa mengerjap dan mengedar pandang.
Ia kembali berada di kamarnya. Aku tidak ke mana-mana, katanya dalam hati. Ia tertunduk dan mendapati dirinya duduk bersila di lantai kamarnya, dikelilingi tiga batang lilin yang sudah habis terbakar setengahnya.
Aku harus menemui Jingga secepatnya! Ia memutuskan.
Yasa tak ingat berapa lama ia melakukan ritual itu, dan pukul berapa ia akhirnya naik ke tempat tidur. Tapi ketika ia bangun, Nada sudah berangkat ke puskesmas.
Sinar matahari menerobos tirai jendela dapur di atas bak cuci ketika Yasa tergesa-gesa menyelesaikan pekerjaannya mencuci piring. la ingin segera berangkat ke rumah Jingga.
Sejak bangun tidur tadi hal pertama yang dipikirkannya hanyalah menemui Jingga.
Pikirannya dipenuhi pertanyaan yang harus segera dijawab.
Ia merenungkan visinya, mencoba mengulangnya berkali-kali dalam benaknya, Ia masih tidak mengerti juga.
__ADS_1
Dan begitu ia sampai di rumah Jingga, Ragnala mengatakan bahwa gadis itu sudah berangkat lagi ke Serang.