
Yasa segera menghambur ke arah Jingga dan meraup tubuhnya, kemudian memindahkannya ke tempat tidur.
Kucing Bu Lastmi mengikutinya, melompat naik ke tempat tidur, memandangi Jingga dan Yasa secara bergantian.
Yasa tersenyum pada kucing itu.
"Boleh minta tolong?" Yasa bertanya pada kucing Bu Lastmi.
Kucing itu menanggapinya dengan menggumam seraya mendongak menatap Yasa.
Yasa merayap turun dari tempat tidur Jingga dan kembali duduk bersila di lantai, menghadap ke arah tempat tidur Jingga.
Kucing Bu Lastmi menelengkan kepalanya, seakan bertanya-tanya.
"Mau jadi pemandu jalan?" tanya Yasa lagi.
Kucing itu mengerang lirih, terdengar enggan, tapi lalu melompat turun dari tempat tidur. Kemudian merayap naik ke pangkuan Yasa.
Yasa tertunduk dan tersenyum pada kucing itu. "Terima kasih," katanya. Lalu memegangi kepala kucing itu dengan kedua tangannya, menghadapkan wajah si kucing ke wajahnya, kemudian menatap ke dalam mata kucing itu.
"Mata binatang buas adalah pintu akses menuju ruang waktu!" kata Empu Brajasena.
Kucing adalah binatang buas.
Tidak percaya?
Silahkan search di Google!
Kucing adalah spesies mamalia karnivora kecil dari keluarga felidae.
Tahu, kan, artinya karnivora?
Karnivora artinya kelompok binatang pemakan daging atau pemakan hewan lain.
Forget it!
Kembali ke alur cerita…
Kedua mata kucing itu menyala hijau terang. Menusuk ke dalam mata Yasa.
Detik berikutnya, cahaya putih terang menyilaukan meliputi seluruh tempat dalam pandangan Yasa.
Lalu cahaya warna-warni meledak memenuhi cahaya putih itu. Bola-bola cahaya berwarna-warni itu melayang dan berputar di sekelilingnya. Mula-mula pelan, lalu semakin lama semakin cepat.
Kabut putih terkuak. Bola-bola cahaya berwarna-warni itu berhenti berputar. Tapi masih melayang di sekelilingnya. Pelan dan ringan seperti gelembung sabun yang bercahaya.
Semburat jingga cahaya matahari menerobos masuk melalui jendela kamar Jingga. Mungkin cahaya matahari sore. Yasa tak yakin. Tapi ia tahu itu bukan waktu nyata.
Waktu nyata masih menunjukkan pukul dua belas tengah malam.
__ADS_1
Yasa mengedar pandang ke sekeliling ruangan. Lalu tertunduk untuk melihat kucing di pangkuannya. Kucing itu berbulu putih menyala dan tidak bersuara.
Yasa mengalihkan pandangannya ke tempat tidur. Yang berbaring di tempat tidur itu bukan Jingga. Tapi gadis yang tenggelam di danau itu.
Visinya sedang berlangsung. Lebih nyata dari biasanya.
Ini adalah lorong waktu.
Ia berhasil memasukinya.
Suara di sekelilingnya terdengar hampa. Hanya ada kekosongan dan kebekuan. Sangat hening. Lorong waktu memang sehampa itu. Selain penglihatan, yang lainnya tidak berfungsi. Seluruh energi dan konsentrasinya terpusat hanya pada penglihatan.
Seorang pria tinggi besar berambut ikal mendekat ke tempat tidur dalam gerak lambat.
Yasa mengenali wajahnya.
Pendaki itu!
Gadis di tempat tidur itu menarik bangkit tubuhnya seraya membekap mulutnya.
Pria itu duduk membungkuk di sisi tempat tidur, dan gadis itu menyusupkan wajahnya ke dada pria itu.
Beberapa saat kemudian, keduanya tersentak dan menoleh ke arah pintu, masih dalam gerak lambat.
Yasa mengikuti arah pandang mereka.
Pendaki wanita itu!
Gadis itu terlihat marah, dengan langkah-langkah lebar gadis itu menyeruak ke arah mereka dan meninju wajah si pria, kemudian menjambak rambut gadis yang sedang menangis dan menyeretnya keluar.
Pria itu berusaha memisahkan mereka. Tapi tampaknya si gadis pendaki itu sudah kehilangan kendali atas dirinya.
Yasa mulai merasa sesak. Ruang visi juga hampa udara. Sebagian dirinya ingin tenggelam lagi dalam cahaya putih terang yang menyilaukan, tapi sebagian dirinya yang lain berjuang keras untuk mempertahankan visinya.
Yasa memaksa dirinya bangkit berdiri dan mengikuti ketiga orang yang bersitegang itu keluar kamar. Lalu tersentak.
Entah bagaimana, gadis pendaki itu tahu-tahu sudah tergeletak di lantai di depan pintu.
Pecahan keramik terserak di sekeliling gadis pendaki itu.
Gadis yang tenggelam di danau itu membekap mulutnya dengan mata membulat. Memandang pria di seberang ruangan dengan ngeri.
Apa gadis pendaki itu mati? pikir Yasa.
Bagaimana bisa?
Bukan bagaimana bisa gadis pendaki itu terluka, tapi bagaimana bisa gadis pendaki yang terluka dan gadis lainnya yang jadi hantu.
Yasa masih penasaran bagaimana akhirnya bisa sampai gadis lainnya yang jadi hantu.
__ADS_1
Apakah gadis pendaki itu akhirnya sadarkan diri dan membalikkan keadaan?
Dan apa hubungannya semua ini dengan Jingga?
Arrrgh! Yasa sudah kehabisan napasnya sekarang. Dadanya serasa ingin meledak. Ia melepaskan visinya dan menarik dirinya keluar. Lalu menekuk perutnya dan terengah-engah. Tenaganya terkuras banyak.
Jika biasanya ia hanya menerawang untuk mendapatkan visi, kali ini dia memasuki alam visi---lorong waktu. Apa yang dilakukannya tadi berbeda dengan yang biasanya. Energi yang dikerahkan juga lebih banyak.
Aku butuh istirahat, pikirnya.
Lalu menghela tubuhnya berdiri dan menjatuhkan dirinya di sisi Jingga. Kondisi tubuhnya sudah tidak memungkinkan untuk berjalan keluar kamar.
Ia bahkan tak sanggup berpikir lagi. Ia hanya butuh memejamkan matanya sekarang. Ia juga sampai tak sadar bahwa ia berbaring di sisi seorang gadis. Gadis yang dicintainya secara diam-diam. Gadis yang selalu memicu penglihatannya mengenai adegan-adegan mesra mereka.
Semuanya terjadi begitu saja tanpa ia sadari karena terlalu lelah.
Tak sampai semenit ia pun jatuh tertidur.
Bersamaan dengan itu, Jingga yang merasa terusik akibat hempasan tubuh Yasa terbangun.
Mula-mula ia tersentak ketakutan, tapi kemudian membekap mulutnya, berusaha supaya ia tidak mengeluarkan suara begitu ia menyadari yang berbaring di sampingnya ternyata Yasa.
Kenapa dia bisa di sini? Jingga bertanya-tanya dalam hatinya. Lalu menoleh ke arah pintu.
Pintu kamarnya terbuka.
Mungkin aku tidur berjalan lagi, pikirnya. Dan Yasa berhasil menghentikannya.
Ada bagusnya juga dia menginap di sini.
Jingga tersenyum dan melemaskan tubuhnya. Berbaring lagi di sisi Yasa. Tatapannya melembut ketika ia memperhatikan wajah tampan yang sedang terpejam itu. Sangat tampan, pikirnya terpesona.
Bagaimanapun mereka pernah begitu dekat meski Yasa tidak menyadarinya. Tapi Jingga tahu persis, pria pertama yang mempesona dirinya adalah pria ini.
Jingga memang berpacaran dengan Magenta. Tapi entah kenapa hatinya merasa lebih dekat dengan pria ini.
Sekiranya tak ada hati yang harus dijaga, Jingga mungkin tak bisa menahan dirinya untuk tidak mengecup kening putih mulus di depan matanya sekarang. Mengecup bibir merah yang pernah mendominasi hampir seluruh bagian tubuhnya di masa lalu, hingga timbul rasa bersalah karena pernah mengabaikan pria itu ketika tubuhnya tidak setinggi sekarang.
Miris, batinnya getir. Ia pernah mengukur seseorang dari bentuk fisik. Ia pernah mempertimbangkan hal itu sebagai alasan untuk memilih Magenta.
Secara tak langsung, aku pernah meremehkan Yasa. Dan sekarang aku baru menyesal?
Benar-benar tak tahu malu!
Kalau Yasa mengetahui hal itu, apakah dia masih sebaik sekarang?
Maafin aku, Sa, katanya dalam hati. Lalu jatuh tertidur memeluk sebelah lengan Yasa.
Pada saat yang sama, Yasa sedang terjebak di alam mimpi.
__ADS_1